Se connecterIn the late stages of her pregnancy, my wife slipped away into the mountains with her childhood sweetheart, seeking some reckless thrill under the open sky. Fate, however, had other plans. She suffered a massive hemorrhage, and the two were rushed to the hospital. As a doctor, I took one glance at her condition and instructed the nurse to prepare for the cremation. In my previous life, I had risked everything to save her. On that very operating table, she and the child inside her perished together. Her childhood sweetheart, overcome with grief and fury, rallied others to accuse me of seeking personal revenge. Their rage was relentless, and they broke my hands. "A butcher like you, without medical ethics, deserves nothing less than eternal damnation!" they shouted, their words burning like brands on my soul. Yet I distinctly remembered—the surgery had been a success. Her vital signs had stabilized. Clinging to hope, I begged my in-laws to conduct an autopsy, to uncover the truth buried beneath the accusations. Instead, they called the police, who swiftly charged me with performing surgery under the influence of alcohol. Stripped of my rights, I was thrown into prison, where suffering became my only companion. Years later, upon release, I stumbled across a sight that tore what was left of my heart to shreds—my wife, alive and well, behind the wheel of a luxury car, accompanied by her childhood sweetheart and their child, living off the fortune I had worked tirelessly to build. Their betrayal didn't end there. Coldly and methodically, they lured me into a trap, casting me into a cement mixer to erase every trace of my existence. When I next opened my eyes, time had rewound itself. I was back on that fateful day, the one when her hemorrhage began.
Voir plusGaun pengantin ini seharusnya menjadi simbol harapan… omong kosong. Bagi Vera Thorne, gaun satin putih itu hanyalah jerat yang dingin, sangkar emas yang dipaksakan. Dia memandang bayangannya di cermin besar. Bukan air mata yang menghiasi matanya, melainkan api dingin amarah dan perhitungan.
Sepuluh menit. Hanya tersisa sepuluh menit di neraka kecil ini sebelum dia harus melangkah keluar dan menggadaikan kebebasannya kepada pria bernama Kaelan Sterling… si iblis berwajah malaikat itu. “Aku menikahinya,ya,tapi bukan sebagai istrinya.” Batinnya tajam. “Aku ini tawanan; ini hanya perjanjian damai yang kupaksakan.” Dia merapikan sarung tangan renda putih yang menyembunyikan memar samar di pergelangan tangannya.... Kenangan-kenangan dari 'negoisasi' paksa Kaelan dua hari lalu. Kaelan tidak menculiknya untuk menuntut uang tebusan. Dia menculiknya untuk menuntut hal yang jauh lebih berharga: legitimasi dan kontrol atas bisnis Thorne. "Menikahlah denganku,Vera. Kau akan menyelamatkan keluargamu, dan aku akan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku. Menolak, dan saksikan kekaisaran Ayahmu runtuh sebelum matahari terbit," ancam Kaelan dengan suara selembut sutra tetapi sekuat baja. Vera, seorang CEO yang otak strategisnya dikenal kejam,tahu dia tidak punya pilihan. Dia memilih menyelamatkan aset keluarganya. Dia memilih untuk menikah dan mengarungi neraka, karena dia tahu satu hal: Tahanan yang cerdas akan menggunakan penjaranya sebagai senjata. Dia menyentuh liontin kecil yang tergantung di lehernya. Di dalamnya, tersembunyi sebuah tracker dan microphone mikro....hadiah dari tim keamanannya yang loyal. Dia tidak pasrah. Dia sedang bersembunyi di balik peran istri yang baru dinikahi. "Kaelan ingin aku tunduk. Dia ingin aku menjadi bonekanya. Tapi aku akan menghancurkannya dari tempat tidurnya sendiri,"janji Vera, tatapannya kini memancarkan tekad. Pintu besar gereja katedral bergaya gotik itu terbuka. Lorong karpet merah terbentang seolah-olah jalan menuju kehancuran yang mewah. Vera tidak berjalan digandeng Ayahnya; di sisi kanannya, berdiri Marco, kepala keamanan Kaelan yang bertubuh raksasa, wajahnya tanpa ekspresi, menekankan bahwa Vera adalah barang curian yang dijaga ketat. Vera berjalan pelan, namun setiap langkahnya memancarkan kekuatan yang kontras dengan gaun lembutnya. Dia mengabaikan bisikan-bisikan tamu undangan...para elit kota yang bingung dengan pernikahan mendadak ini. Lalu, dia melihatnya. Di ujung altar, di bawah cahaya jendela kaca patri yang menawan, Kaelan Sterling berdiri. Tuxedo hitamnya menekankan setiap otot berbahaya di tubuh atletisnya. Dia berdiri di sana,diselimuti aura dingin yang mematikan. Dia bukan hanya pusat perhatian; dia adalah gravitasi yang menarik mangsanya. Kontak mata mereka bertemu. Tidak ada cinta, tidak ada kebahagiaan. Hanya sebuah tantangan yang terang-terangan. Kaelan tersenyum.... senyum yang tidak mencapai matanya, melainkan janji gelap tentang obsesi. Vera merasakan sesuatu yang berdenyut di perutnya, bukan kegembiraan, melainkan pengakuan jujur dari insting survival-nya: Pria ini adalah bahaya yang paling indah dan paling mematikan yang pernah dia hadapi. Ini adalah musuhnya. Musuhnya yang paling menarik. Perasaan "kesemsem" yang singkat ini membuat Vera marah. Dia segera menutup emosi itu. "Fokus, Vera. Dia adalah iblis, tidak peduli seberapa indah bungkusnya," tegurnya pada diri sendiri. Ketika Marco menyerahkan tangannya, Kaelan mengambilnya dengan genggaman yang kuat, dingin, dan sangat posesif. Itu bukan genggaman suami;itu adalah ikatan seorang pemilik. "Kaelan ingin aku tunduk. Dia akan mendapatkan wanita yang menandatangani perjanjian dengan niat untuk melanggarnya. Aku akan masuk sebagai istri, dan keluar sebagai pemenang," janji Vera dalam hati. Mereka berdiri di altar. Kaelan mencondongkan tubuh sedikit, suaranya pelan dan mengancam, hanya untuk di dengar oleh Vera. "Senyum, Sayang. Ini adalah hari pernikahanmu. Jangan biarkan orang-orang berfikir Nyonya Sterlingku tidak bahagia." bisik Kaelan. Vera memaksakan sudut bibirnya terangkat sedikit, senyum yang sama dinginnya dengan batu nisan. "Saya tidak punya alasan untuk bahagia, Tuan Sterling. Saya hanya menjalankan khusus kontrok yang Anda paksa. Jangan khawatir, akting saya selalu memenangkan penghargaan." balas Vera. "Begitu? Kau pikir ini hanya akting? Aku akan membuatmu merasakan bahwa ini lebih dari sekedar kontrak, Vera. Ini adalah kepemilikan. Permanen." Upacara berlanjut. Saat pendeta mulai membacakan sumpah, Kaelan dan Vera melanjutkan dengan perdebatan bisik mereka. Pendeta: ".... hingga maut memisahkan?" "Maut yang akan memisahkan, Kaelan. Dan saya tidak yakin itu menjadi maut saya," Vera berbisik. "Provokasi yang menarik. Tapi jika kau mencobanya, aku akan memastikan kematianmu tidak hanya lambat, tapi juga menyakitkan... setelah aku mematikan bahwa kau adalah milikku seutuhnya," Kaelan membalas dengan seringai. Pendeta: "Apakah Anda bersedia menerima pria atau wanita ini, untuk memiliki dan memegang, dari hari ini dan seterusnya, dalam keadaan baik, buruk, kaya, miskin..." Vera berbisik tajam, "Anda tidak menerima. Anda mengambil. Anda sudah terbiasa mencuri, Kaelan. Tapi hati-hati, barang curian seringkali membawa racun." "Aku suka tantangan, Sayang. Dan aku benci hal-hal yang mudah. Kau adalah perhiasan paling sulit untuk dibeli, Vera. Itulah mengapa aku mengambilnya dengan paksa. Aku akan mengukir namaku di dirimu." Ritual pernikahan berjalan cepat dan formal. Pendeta mengucapkan janji suci, tetapi di antara Vera dan Kaelan, ada janji yang lebih gelap yang diucapkan tanpa suara. Ketika tiba saatnya mengucapkan "Aku bersedia" Vera mengucapkannya dengan suara yang stabil. Matanya tidak beralih dari Kaelan, seolah berkata: Aku berkata 'ya' pada perjanjian ini, Kaelan, tapi tunggu saja perlawananku. Kaelan membalas dengan tatapan gelap yang sarat makna. Dia tahu dia belum benar-benar menang. "Anda boleh mencium pengantin wanita,"kata pendeta. Kaelan meletakkan tangannya di pinggang Vera, menariknya dengan kekuatan yang tidak meninggalkan ruang untuk bernafas. Vera merasakan aroma maskulinnya yang mahal: tembakau, rempah, dan sebuah janji buruk yang terasa seperti ancaman di tenggorokannya. Ciuman itu bukan ciuman lembut. Itu adalah tuntutan. Bibirnya menekan Vera, dan dia mencicipi kemenangannya. Dia ingin Vera hancur di bawahnya. Tetapi Vera adalah wanita ahli strategi. Dia tidak mendorong menjauh, yang akan menunjukkan kepanikannya. Sebaliknya, dia membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, perlawanan dalam kepasrahan. Kaelan sedikit terkejut, ciuman dominannya melunak sedikit karena terkejut. Pada celah singkat itu, Kaelan berbisik dengan suara rendah dan serak: "Kau milikku sekarang, sayang. Jangan mencoba lari. Aku benci pengejaran yang membosankan." Saat Kaelan menarik diri sedikit, dengan cepat Vera menggunakan kesempatan itu. Dia mengumpulkan semua kekuatan yang dia miliki, mengarahkan tumitnya yang runcing ke sepatu kulit mahal Kaelan, dan menginjaknya dengan sekuat tenaga. Kaelan mengeluarkan desisan tajam yang nyaris tak terdengar di tengah gemuruh tepuk tangan. Dia menahan erangannya, tetapi cengkraman di pinggang Vera mengerat hingga menyakitkan. Kaelan memandang Vera, matanya menyala. Itu bukan marah karena kesakitan... itu adalah kesenangan karena penemuan. Dia tersenyum gelap, menundukkan kepalanya, dan berbisik ditelinga Vera, suaranya dipenuhi janji yang kejam: "Permainan yang bagus, Nyonya Sterling. Malam pertama kita baru saja dimulai."The flood of online comments poured in relentlessly, one after another, their venom unmistakable even through the screen. [And those vile in-laws—have old people always been this wicked, or is this a new development?][Even a tiger doesn't eat its cubs! That woman is a disgrace to the sacred name of 'mother'—her death is far too lenient!][Curse this entire family to reincarnate as beasts in their next lives!] Reading these vitriolic words, I couldn't help but recall the past life where the tide of public outrage had turned against me instead. A bitter smile tugged at my lips. To let Clara escape so easily through death—how laughably merciful I was. No, she didn't deserve such a simple end. She should have lived on. Only by staying alive could she taste the full extent of the anguish and despair I had endured in my previous life. As for Simon, his punishment for "intentional framing" resulted in a five-year prison sentence. While that was only a third of the suffering I had
"It's easy for him to make baseless accusations. It's not like my poor dead Clara could defend herself at this point," Georgie spat.I chuckled. "Georgie, don't get so worked up just yet. Let's wait until Leslie presents all the evidence. If you still have questions then, feel free to ask." Leslie remained unaffected by the outburst, proceeding methodically to reveal the second piece of evidence: a surveillance recording from the cameras installed in my home. The footage was clear and damning, showing Clara pouring vodka into the bottle of nutritional supplement. As the recording played, the expressions on Simon's and my in-laws' faces grew darker with each passing second. Still clinging to his defiance, Simon gritted his teeth and said, "If it really was Clara, why would she do it so blatantly under surveillance? And why wouldn't she delete the footage afterward? Wasn't she afraid you'd discover it?"I scoffed. "Because she knew I never check the surveillance footage at home.
"Ben, if you had confessed earlier, perhaps this matter wouldn't have blown up on the internet. In the press conference later, you'd better show some genuine remorse. Who knows? Maybe you'll win a shred of public sympathy," Simon said sarcastically. I didn't respond. I merely observed him with a cold detachment. Inside, though, I was laughing—darkly, bitterly.Last time, in the life I left behind, Clara and Simon had orchestrated the same scheme. They used the internet to ruin me, dragging my name through the mud until I became a pariah. Every whisper of scandal they manufactured clung to me like oil, ensuring my social and professional annihilation. Not content with my public disgrace, they also pressured the courts, leaving me with a harsh prison sentence. Even behind bars, the nightmare continued. Fellow inmates despised me; the guards turned a blind eye to my suffering. By the end, I was hollow, barely human. Not this time. This time, I would make sure the poison they ha
The police escorted me to have my blood tested. During the wait for the results, my mother-in-law unexpectedly approached me and sat down beside me. Her tone had shed the sharpness of the morning, replaced by an unusual warmth and sincerity. "Ben," she began softly, "listen to me. Before the results come out, confess voluntarily. About Clara and the baby—I know you didn't mean for things to turn out this way." Her voice faltered for a moment before steadying. "Don't worry. As long as you confess, your father-in-law and I will write a letter of forgiveness for you." I turned to look at her, my eyes searching hers. Her plea echoed words she'd spoken in another lifetime—another me, another her, before the results had come back. Back then, I was frantic but steadfast in my refusal to admit to something I hadn't done. I knew I hadn't been drinking and trusted that the test would clear me. This time, my resolve was even stronger. But there was a question gnawing at me now that ha
I quickly spotted something suspicious. Pointing at the issuing institution on the death certificate, I said calmly, "Simon, the patient passed away in our hospital. The death certificate should have been issued by us. Even if you distrust this hospital, you'd at least need to consult another top-ti
The pale, lifeless figure of Clara lay on the bed before me, her face ashen and still. My chest tightened involuntarily at the sight. For years, I had treated her like a precious gem, indulging her every whim and desire. Yet, for Simon, she had faked her death and turned her schemes against me wit
The surge of anger that had erupted within me burned away any restraint. Without thinking, I stormed forward to confront the woman who had single-handedly ruined my life. But instead, I found myself overpowered—pushed into a cement pool by Clara and Simon. The suffocating sensation of cement flood
"Dr. Kingsley, an emergency case just came in—severe hemorrhage in a pregnant woman. Please head to the operating room immediately." The voice of the on-call nurse jolted me, sending a chill down my spine. I turned to glance at the electronic clock in the hospital corridor. It was the exact time
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.