Share

Bab 7 : Berbeda

Malam memihak pada kegelapan yang menyelimuti waktu, sunyi menerjang gelombang takdir yang dipermainkan bagai mainan anak kecil. Terkadang hanya terdengar suara serangga malam sekedar memecah sunyi atau menyorakkan kegembiraan karena habitat yang tidak terganggu, suara-suara yang mulai merambah kota terdengar sangat merdu. Sesekali masih terdengar suara teriakan manusia tidak terinfeksi yang terancam akan menjadi korban untuk dimakan organ dalam tubuh oleh manusia terinfeksi. Gelap menyelimuti setiap daerah karena fasilitas energi listrik dalam penerangan yang padam total, seolah kembali ke masa silam yang belum mengenal teknologi listrik. Langit masih saja berwarna kemerahan seperti senja menambah kesan angker suram, purnama kini menunjukkan estetikanya dengan  mulai merangkak merambah cahaya ke seluruh penjuru bumi. Sama seperti dalam buku yang berjudul bulan berwarna jingga memiliki kesan mistis tidak lagi mampu di tanya atau dijelaskan oleh akal maupun kata-kata.

Suhu ruangan yang selalu terasa panas menjadi hal biasa pada situasi yang terjadi. Gelap tanpa cahaya yang menerangi untuk memandu mata melihat kesekitar tidak berwarna dan tidak menjadi persoalan. Seakan panca indra telah beradaptasi dengan setiap pristiwa yang terjalani. Sati yang tertidur dengan nyaman di sofa dan Hans yang tertidur menatap langit-langit kosong hitam tanpa cahaya yang tertidur berada di sofa Sati.

"Hans sudah tidur?" Sati yang sedang gelisah tidak dapat tidur bertanya.

"Ada apa Sati?" Hans yang mendengar suara Sati langsung menjawab nada kegelisahan yang terdengar di telinga.

"Saya tidak bisa tidur." 

"Kenapa? Bukannya biasanya bisa tidur dengan baik?" Bertanya penuh heran karena biasanya Sati lelap tertidur hingga Hans sangat heran, dalam situasi seperti ini teman seperjuangan bertahan hidup selalu merasa tenang seperti tidak ada rasa takut atau beban yang ada. 

"Saya juga tidak tahu, kenapa tidak bisa tidur." 

"Apa kamu kefikiran sama pria itu?" Kembali meledek Sati agar fikiran di kepala Sati atas kekawatiran menghilang.

"Pria yang mana, hanya ada kamu disini." Merasa bingung dengan pertanyaan Hans.

"Saya akan berusaha keras mencari cara untuk membawa dia kesini." Mengucap janji yang hampir mustahil, sampai detik ini belum menemukan cara untuk membawa pria terinfeksi ke ruangan laboratorium.

"Siapa?" Berfikir keras pria yang dimaksud oleh Hans.

"Pria manusia terinfeksi yang tampan itu, jaket coklat dan topi hitam." Sambil tertawa kecil dengan meledek Sati.

"Apaan Hans, berhenti meledek saya." Nada sinis keluar tanpa disadari.

"Jika dia normal pasti banyak wanita yang menyukainya. Jangan galau terus Sati." Memuji pria yang tidak ada di ruangan.

"Siapa yang galau?" Nada sinis kembali keluar.

"Apa lalu?"

"Sebenarnya saya takut gelap, rasanya sesak jika tanpa adanya cahaya." Teringat masa kecil yang sangat takut gelap, karena ada trauma di dalamnya. 

"Benarkah Sati!? Kenapa tidak bilang ke saya dari kemarin?" Hans terkejut dan hampir jatuh dari sofa karena khawatir mendengar perkataan Sai.

"Saya berusaha baik-baik saja, karena tidak ingin merepotkan kamu terus-terusan. Jadi sebisa mungkin saya menahan semuanya." Merasa tidak enak karena Sati tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu mengatasi situasi yang sedang terjadi.

"Saya akan hidupkan saja lampu senter smarthpone saya. agar tidak gelap lagi. Tapi hanya sedikit jangkauan pencahayaannya." Hans menghidupkan senter smartphone sehingga ruangan kepala Laboratorium menjadi sedikit terang.

"Matikan saja Hans! Saya takut karena cahaya ini bisa mengundang manusia terinfeksi. Pasti terlihat dari luar ruangan ini terang diantara ruangan lain." Dengan nada membentak berbicara, rasa cemas mulai menghampiri.

Dengan buru-buru Hans langsung mematikan pencahayaan yang baru dimulai lima menit yang lalu.

"Kita masih belum tahu situasi di luar sana, karena kita belum keluar dan mengamati mereka semua. Beberapa data kita dapat ada sifat yang seperti manusia biasa berarti mereka memiliki sifat yang berbeda-beda. Jika mereka sampai melihat ada cahaya di ruangan dan ada yang memiliki kemampuan memanjat maka pasti mereka akan memanjat gedung, mereka terlalu refleks dengan cahaya. Kepekaan terhadap cahaya tidak bisa dihindari lagi. Kamu lihat lampu di pinggir jalan yang menggunakan sensor cahaya, apabila malam tidak ada lagi cahaya maka lampu akan hidup secara otomatis. Mereka berkumpul di bawah lampu jalan secara berkelompok dalam volume yang banyak." Mencoba mengingatkan kepada Hans atas kondisi yang terjadi di luar gedung.

"Kamu benar Sati." Mengingat kembali setiap perjalanan waktu hingga pada detik terakhir.

"Saya akan mulai terbiasa dengan situasi rumit, maka dari kemarin saya diam kalau saya sangat sulit bernafas dalam gelap. Saya tidak boleh jadi anak yang manja dan egois, saya harus bertahan hidup dalam situasi ini. Itulah yang ada dalam fikiran saya." Bersikap dewasa, tapi di dalam hati masih sangat ragu dan takut akan tindakan yang diambil.

"Kamu pasti berhasil Sati." Hans memberi semangat yang lebih kuat dari kata-katanya.

"Terima kasih Hans." Sati tersenyum, gelap menutupi senyum yang indah buat Hans.

"Kamu ingin saya temani berbicara sampai kamu tertidur?" Hans menawarkan dirinya untuk menemani Sati hingga terlelap tidur.

"Boleh saja."

"Jadi sekarang kita ngobrol soal apa?" Membuka percakapan yang lebih serius agar kebosanan tidak menghampiri keduanya.

"Apa saja, ada ide?" Kehabisan kata-kata untuk bercerita.

"Hmmm.... Apa yang menarik ya..." Berfikir topik apa yang menarik untuk didiskusikan.

"Hans!!!" Setengah berteriak karena seperti ada yang lain dengan perasaan. Seperti ada tapi tidak ada, tidak dapat dijelaskan dengan logika yang tidak mengalami.

"Ada apa?" Merasa heran, karena gelap takut terjadi hal yang tidak diinginkan yang menyakiti Sati.

"Saya De javu."

"De javu?" Nada suara bertanya mengidentifikasi pernyataan Sati.

"Saya merasa situasi ini pernah terjadi, saat seperti ini juga dalam gelap juga sama bersama seorang pria yang saya tidak kenal siapa pria itu." Mengatakan dengan intonasi terburu-buru.

"Mungkin kamu pernah mimpi seperti ini, dan ternyata terjadi di dunia nyata. Makanya seolah De javu." Menenangkan dengan kata-kata apa yang diketahui.

"Benar Hans, seakan saya mengulang kembali semua perjalanan hidup." Mencoba terus mengingat apa yang terjadi dalam De Javu.

"Kamu tahu akhir mimpinya?" Menggali informasi, mungkin ada jalan keluar dalam situasi yang rumit ini.

"Tidak ingat, tapi sepertinya bukan mimpi. Saya juga tidak bisa menjelaskan, hanya saja saya sudah pernah mengalami situasi seperti ini." Merasa bingung dengan kondisi yang terjadi karena tidak dapat menjelaskan dengan terperinci dengan apa yang dimaksud dalam fikiran.

"Hmm.... De Javu adalah fenomena merasakan suatu pristiwa atau pengalaman yang saat ini sudah dialami pernah dialami di masa lalu. Istilahnya mengetahui peristiwa dan mengingat kembali peristiwa yang dialami." Mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana agar mudah dimengerti. 

"Kita kan hanya hidup sekali lalu dari mana ingatan sebelum kita menjalani kehidupan?" 

"Mungkin dari mimpi, tapi ada juga yang bilang mungkin pristiwa renkarnasi, yang jelas masalah ini masih menjadi misteri. Ada beberapa orang yang mengalami De javu katanya tidak pernah mimpi yang sama seperti yang dialami. Masih belum diketahui kenapa pristiwa ini bisa terjadi pada manusia, dan apa keuntungan yang ada pristiwa ini." Hans menjabarkan yang diketahui, dengan memandang langit-langit berwarna hitam pekat.

"Saya pernah bertemu orang buta yang juga mengalami pristiwa De javu, padahal tidak memiliki penglihatan. Berarti pristiwa ini terjadi pada semua manusia tanpa memandang kekurangan fisik bukan?" Mengingat berbicara dengan orang buta di halte bis.

"Iya Sati, yang paling bahaya penyakit De javu. Mereka yang sering mengalami De javu tidak akan mampu lagi membedakan mana De javu, ilusi dan kehidupan nyata. Kasus ini langkah tapi saya pernah lihat dulu di bagian dokter jiwa menangani ini."

"Saya pernah iseng melakukan sedikit penelitian karena saya penasaran. Saya mengambil ratusan sampel manusia dan memberikan angket kepada mereka. Ternyata hasilnya semua orang dapat mengalami De javu. Ada yang aneh juga 10% dari sampel selalu mengalami De javu dengan pristiwa yang sama berulang-ulang." Sati baru ingat pernah melakukan penelitian sederhana karena penasaran dengan fenomena De Javu. Dengan nada serius mencoba menjelaskan yang pernah dilakukan.

"Berulang? Ini sangat mengerikan Sati, seperti tersesat pada waktu."

"Hmmmm.... Waktu ya, kamu percaya tidak ada manusia time traveling?"

"Saya juga belum pernah tahu Sati, tapi beberapa bukti yang beredar katanya memang ada." Mengingat foto yang di buka di internet saat jam istirahat kerja, seorang pria memakai baju modern di tengah orang-orang dahulu yang memakai baju zaman dahulu.

"Saya baru ingat manusia punya listrik di tubuhnya bukan?"

"Iya, manusia punya listrik di tubuhnya, cara membuktikan sederhana jika penggaris di gosok pada rambut lalu di dekatkan pada robekan kertas kecil  maka kertas kecil akan menempel di penggaris. Di dalam otak manusia juga ada aliran listrik yang mengalir pada syaraf, loncatan listrik pada syaraf terjadi pada lobus temporal yang menyimpan memori memiliki tugas dalam proses pengenalan dan kemiripan pada suatu objek yang terjadi secara tiba-tiba. Tapi tetap saja belum tahu cara menyimpan memori karena belum pernah dialami apa yang dilihat oleh memori. Belum ada penjelasan konkrit." Hans berbicara dengan lancar.

"Kalau saya hanya menyimpulkan dengan sederhana, karena sudah dijelaskan dengan pasti di dalam kitab suci. Ada penjelasan yang lengkap pada proses terciptanya manusia, di ilmu pengetahuan ada namanya proses pembentukan ovum yang sudah dibuahi menjadi zigot dan hasil akhirnya bayi.  Waktu manusia di dalam alam kandungan ketika ruhnya sampai pada raganya maka akan ditetapkan perkara yaitu rezeki, ajal, amal dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Hans bayi di dalam kandungan ada namanya masa tua dan muda kan?" Kembali bertanya untuk mengetahui Hans masih sadar atau tidak.

"Iya ada, waktu tujuh bulan semua organ sudah terbentuk, ini masa tua dan waktu delapan bulan ini masa muda lalu waktu sembilan bulan masa tua. Lalu apa hubungannya?" Hans bertanya apa hubungan ingatan dengan masa perkembangan bayi.

"Jadi ketika empat perkara di tetapkan manusia akan mengalami peristiwa penglihatan atau melakukan adegan perjalanan hidup sama seperti yang dialami masa hidup. Makanya janin bisa  tidur dan mengalami bermimpi, benarkan Hans?"

"Iya Sati. Tunggu jadi maksud kamu pristiwa De javu adalah pristiwa mengalami kembali dengan pristiwa yang dialami di alam kandungan?" Menyimpulkan dari penjelasan Sati dengan nada serius. 

"Iya Hans, itu kesimpulan sederhana saya. Jadi kita sudah mengalami kehidupan yang sama persis seperti kehidupan real kita di alam kandungan. Ketika otak merekam seluruhnya sehingga ingatan lari ke alam bawah sadar dan ketika kita membuka mata saat terlahir kita tidak ingat sama sekali tapi ingatan tetap ada. Ketika kondisi lingkungan mendukung maka aliran listrik di syaraf akan sinkron dan mengalami loncatan listrik jadi kepingan ingatan akan keluar jika kita mengalami pristiwa yang sama percis dengan yang disimpan di ingatan." Sati menjelaskan dengan penuh semangat.

"Hmmm.... Masuk akal juga penjelasan kamu, Sati." Berfikir keras untuk mencerna dengan penjelasan Sati.

"Tapi saya masih penasaran tentang perjalanan waktu, apakah ada manusia yang mampu melakukan perjalanan waktu ya?" Sati berfikir ulang mencari jawaban dari pertanyaannya.

"Saya tidak bisa menjawab pertanyaan kamu."

"Hans pernah nonton film Steins: Gate Fuka Ryouiki No Deja Vu?" Salah satu Film yang Sati sukai, film yang mengisahkan perjalanan antara dimensi.

"Film apa itu?" Hans penasaran, karena semua hal yang Sati bicarakan adalah ilmu pengetahuan yang banyak tidak diketahui.

"Flim tentang dunia garis lain, jadi di dunia kita memilki garis-garis kehidupan sendiri yang berjalan secara bersamaan. Kita bisa menyebrang ke garis dunia lain yang memiliki rupa sama seperti kita."

"Itu mustahil Sati." Suara Hans mulai menguap.

"Hans." Tidak ada jawaban dari panggilan Sati, mungkin Hans sudah terlelap tidur lebih dahulu.

"Katanya mau temani sampai saya tidur, ini malah tidur duluan." Merasa kesal dengan sikap Hans.

Sati mencoba memejamkan mata dan berhenti untuk berfikir. Sepuluh menit kemudian sangat gelisah, mungkin karena udara terasa semangkin sangat panas. Sati meraba kursi roda, mencoba naik ke kursi roda dalam keadaan gelap yang tepat berada di sampingnya, berjalan keluar dari ruangan kepala laboratorium dan berjalan di laboratorium menuju jendela. Mengintip di balik tirai jendela melihat keadaan di luar. Keadaan masih sama, manusia terinfeksi yang sama masih di tempat yang sama dalam keadaan istirahat memejamkan mata. Sepertinya berada pada posisi yang sama jika berpindah tidak sejauh seperti manusia normal. Sati memandang satu persatu manusia terinfeksi, terbayang wajah kedua orang tua yang merawat dari kecil hingga mampu berdiri sendiri menghadapi kehidupan. Mata Sati disajikan manusia terinfeksi yang dalam keadaan tidur berdiri. Cahaya bulan menciptakan dunia lain yang tidak mampu untuk dipahami.

"Tidur? Kenapa mereka bisa tidur? Jika mereka sudah mati seharusnya tidak perlu tidur." Berbicara dengan diri sendiri untuk mencari jawaban yang dilihat di luar gedung. 

Sati teringat dengan pria yang di bawah pohon, mata Sati melihat di bawah pohon dan pria yang dicari tidak ada di posisi awal tadi siang.

"Kemana dia?" Sati mulai resah,  mencoba mengamati lebih teliti dan pandangan yang lebih luas. Satu persatu manusia terinfeksi dilihat tapi tetap saja tidak ditemukan pria terinfeksi berjaket coklat.

"Aku kehilangan dia." Sati menunduk dan tangannya menutup mata, seakan ada penyesalan mendalam dari dalam dirinya.

Sati tidak putus asa dia mencoba mencari lagi, memandang satu persatu manusia terinfeksi yang dekat dengan pandangan mata maupun yang jauh dari pandangan mata.

Sati dikejutkan oleh sesosok pria yang berjalan dengan tertatih karena sulit berjalan dari arah utara. Dengan pandangannya Sati mengikuti jalan pria terinfeksi.

"Itu dia, habis dari mana dia?" Sati bertanya-tanya, apakah manusia terinfeksi memiliki aktivitas sama seperti manusia normal lainnya. Saat yang lain pada tidur berdiri, pria terinfeksi malah berjalan-jalan.

"Tidak salah lagi, dia berbeda dari yang lainnya." Terus memandang pria terinfeksi, dengan refleks pria terinfeksi berhenti dan menatap Sati yang mengintip dari balik tirai jendela. Mata keduanya bertemu dan melakukan kontak mata. Karena Sati terkejut saat terjadi kontak mata, dengan cepat tirai di tutup. Pria terinfeksi melanjutkan jalannya menuju di bawah pohon. Setelah sampai pada tujuannya di bawah pohon, pria terinfeksi berdiri dan tertidur. Sati mengintip kembali dari balik tirai jendela, melihat pria terinfeksi sudah berada di bawah pohon dan tertidur dengan hal yang sama dengan lainnya yaitu berdiri. Sati memandang dengan cermat untuk memastikan pria terinfeksi sudah berada di posisi awal, setelah puas memastikan kemudian menutup kembali tirai jendela.

"Warna langit masih tetap sama berwarna merah seperti senja, walau malam masih saja terlihat berwarna merah. Tapi yang membuat saya kaget kenapa tadi pria terinfeksi seperti melakukan kontak mata kepada saya. Apakah dia mampu melihat dengan teliti objek yang ingin dia lihat?" Di balik tirai jendela Sati terus beradu antara fikiran dan hati, keduanya tidak sinkron. Bingung harus mencari pembenaran dimana dan bagaimana. Malam menjadi lebih panjang dari biasanya akibat dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab secara langsung. Tanpa sadar Sati lelap tertidur di atas kursi rodanya. Akhir dari hari ini adalah pertanyaan yang sampai malam berakhir tidak pernah terjawab. Gelap selalu menemani langkah di malam hari, tidak malam ini rembulan menemani dengan purnamanya. Tapi tetap tidak bisa dipungkiri cahaya rembulan tidak mampu menerangi seluruh kegelapan yang kini menyelimuti kehidupan. 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status