LOGINBorn wolfless and branded a sinner, I was Bisclaveret pack’s greatest disgrace. They feared me for only two nights every month; when I lost control and went feral, the beast inside me slaughtering without mercy. It wasn’t my fault. It was my curse. A curse only my mate could tame. But my mate, Alpha Kestrel, hated me and rejected me. Instead, he marked my stepsister, Adira, as his Luna, leaving me to rot as a maid, a worthless monsterous Omega, only seeking me out when his body ached for what only I could give. And still, my curse raged on. Betrayed and discarded, I was sold to Kestrel’s greatest enemy, Alpha Thor—a ruthless, blood shedding Alpha, whose command is next to the Lycan King's. He expected a broken Omega, a powerless servant, until he witnessed my darkest truth. On the fifteenth lunar month, my beast broke free, and instead of being hated or killed, Thor offered me a deal: to be his, to serve him, and in return, he would keep me sane. But fate is cruel. When Kestrel returns, begging for what he once threw away, I am torn between two ruthless Alphas. Bound by an unbreakable oath, hunted by my past, and cursed by fate, I must decide whether to break my promise or lose myself forever.
View MoreDi sebuah perumahan mewah di Kemang Residence,
seorang pria muda bernama Farez Keil terlihat berdiri di depan cermin besar di kamar pribadinya. Mengenakan kemeja biru tua yang dipadukan dengan celana hitam formal, dia tampak rapi dan siap untuk menghadiri acara reuni sekolahnya, SMA Cipta Nusantara. Wajah tampannya yang dihiasi senyum tipis menunjukkan antusiasme yang jarang terlihat darinya. Setelah memastikan rambutnya tersisir rapi, Farez meraih kunci mobil dan jam tangannya di meja. Langkahnya mantap menuju pintu keluar kamarnya. Dia melewati ruang keluarga yang luas dan elegan dengan sofa empuk berwarna krem serta karpet Persia yang mahal. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara Papi Deron, ayahnya. “Farez, duduk dulu sebentar. Ada yang ingin Papi dan Mami bicarakan,” ucap Papi Deron dengan nada serius. Farez menghela napas pelan, jelas tidak ingin terlibat percakapan panjang saat ini. “Papi, aku lagi buru-buru. Kalau penting, bisa kita bicarakan nanti?” Mami Ester yang duduk di samping suaminya menyela, “Tidak, Farez. Ini sangat penting. Duduklah dulu sebentar.” Dengan malas, Farez melempar pandangan sekilas ke jam tangannya sebelum akhirnya menuruti permintaan mereka. Pria itu menjatuhkan diri ke sofa empuk di hadapan kedua orang tuanya, seraya memasang ekspresi enggan. “Ada apa, Papi, Mami? Aku ada acara reuni sekarang, dan waktuku nggak banyak. Tentunya aku tidak mau datang telat di acara tersebut,” ujar Farez sambil menyilangkan tangannya di dada. Papi Deron menarik napas panjang, jelas mencoba memilih kata-kata yang tepat. “Sabtu ini, tolong kosongkan jadwalmu. Papi ingin mengenalkanmu pada seorang gadis.” Farez langsung mengernyitkan dahi. “Apa maksudnya? Gadis siapa?” Mami Ester menimpali, “Anak sahabat Papi. Dia gadis yang baik, pintar, dan cocok untukmu. Kami ingin kamu bertemu dengannya.” Mata Farez menyipit, tanda dia mulai kehilangan kesabaran. “Mami, Papi, kalian serius? Aku sudah bilang aku nggak mau dijodohkan! Aku bisa mencari calon istriku sendiri.” “Kamu selalu bilang begitu, tapi hasilnya apa?” balas Papi Deron dengan nada tegas. “Sudah berapa kali kamu berjanji akan serius soal pernikahan, tapi nyatanya Papi nggak pernah lihat buktinya. Pokoknya, Sabtu ini kamu harus ada di rumah!” “Papi, ini hidupku! Aku yang menentukan siapa yang akan jadi istriku!” sergah Farez dengan suara meninggi. Mami Ester mencoba meredam suasana, “Farez, dengarkan dulu. Kami hanya ingin yang terbaik untukmu. Gadis ini sudah kami kenal sejak lama. Dia akan membawamu ke jalan yang lebih baik.” “Tapi aku nggak butuh pilihan kalian, Mi, Pi! Ini hidupku, bukan hidup Papi dan Mami!” Farez berdiri, pandangannya tajam ke arah ayahnya. Namun, Papi Deron tidak mundur. “Pokoknya Papi nggak mau tahu. Sabtu ini kamu harus ada di rumah. Jangan mempermalukan kami!” Farez mengepalkan tangan, menahan amarahnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berjalan cepat keluar dari ruang keluarga, meninggalkan kedua orang tuanya yang hanya bisa saling memandang. Setibanya di garasi, dia masuk ke dalam mobil sport hitamnya, menyalakan mesin dengan kasar, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dalam perjalanan menuju lokasi reuni, pikirannya terus dipenuhi kemarahan. “Kenapa sih mereka nggak pernah percaya sama aku?” gumam Farez sambil menggenggam setir erat. Di lain sisi, keinginannya untuk menghadiri reuni bersama teman-teman SMA-nya tetap ada, meski semangatnya telah pudar. Baginya, reuni ini adalah kesempatan untuk kembali bernostalgia, mengenang masa-masa sekolah yang penuh kenangan. Farez terus melajukan mobil sport hitamnya di jalanan Jakarta dengan kecepatan cukup tinggi. Udara pagi masih terasa segar, dan meski hatinya sedikit kesal setelah percakapan panas dengan kedua orang tuanya, dia berusaha mengalihkan pikiran ke acara reuni sekolahnya. “Sudah lama banget nggak ketemu mereka,” gumam Farez sambil melirik kaca spion. Sang pria berharap reuni ini akan menjadi momen yang menyenangkan, tempat di mana dia bisa mengenang masa-masa SMA bersama teman-teman lamanya. Ada sedikit rasa penasaran juga, apakah semua orang sudah banyak berubah, atau masih sama seperti dulu. Namun, harapannya untuk sampai lebih awal di lokasi reuni mulai pudar ketika Farez melihat deretan kendaraan yang tidak bergerak di jalan tol. Jakarta pagi itu ternyata tidak bersahabat. “Ah, macet lagi, macet lagi,” keluh Farez, mengetuk-ngetuk setir dengan kesal. Pria itu lalu membuka aplikasi peta di layar mobilnya, mencari jalur alternatif. Namun, seperti biasa, kemacetan Jakarta tidak memberikan banyak pilihan. Farez hanya bisa menghela napas panjang sambil memutar musik di dalam mobilnya. Setelah hampir tiga puluh menit terjebak di kemacetan, kendaraan di depannya mulai bergerak perlahan. Tapi, masalah baru muncul. Tiba-tiba, mobilnya terasa miring ke satu sisi. “Apa lagi ini?” Farez meminggirkan mobilnya ke bahu jalan, lalu keluar untuk memeriksa. Dia melihat ban depan kanan mobilnya kempes. “Hebat. Hari ini benar-benar nggak bersahabat,” gerutunya sambil mengacak rambutnya. Beruntung, Farez melihat ada bengkel kecil tidak jauh dari tempat dia berhenti. Dengan hati-hati, sang CEO lalu mengemudikan mobilnya menuju bengkel tersebut. Begitu sampai, seorang pria paruh baya dengan seragam mekanik menghampirinya. “Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” tanya mekanik itu ramah. “Ban depan sebelah kanan mobil saya kempes. Bisa dibantu ganti ban?” ucap Farez, mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang meskipun hatinya kesal. “Bisa, Tuan. Silakan parkir di sana,” ujar mekanik itu sambil menunjuk area khusus di bengkel. Farez mengangguk dan membawa mobilnya ke tempat yang ditunjukkan. Dia lalu turun dan berdiri di samping mobilnya, memperhatikan mekanik mulai bekerja. “Butuh waktu berapa lama, Pak?” tanya Farez, berharap prosesnya cepat. “Kalau cuma ganti ban, sekitar dua puluh menit, Tuan. Tapi, kebetulan ban ini perlu diganti dengan yang baru. Harus kami pasang ulang juga, jadi mungkin sekitar tiga puluh sampai empat puluh menit,” jawab mekanik itu sambil memeriksa kondisi ban. Farez menghela napas panjang. “Okay, cepat ya, Pak. Saya ada acara penting.” Mekanik itu mengangguk dan langsung bekerja. Farez berjalan ke ruang tunggu bengkel yang sederhana, lalu duduk di salah satu kursi plastik. Dia melirik jam tangannya, berharap waktu berjalan lebih cepat. Sambil menunggu, Farez membuka ponselnya dan masuk ke grup reuni SMA-nya di aplikasi chat. Grup itu dipenuhi pesan-pesan antusias dari teman-temannya yang sudah tiba di lokasi. Joseph :“Bro, gue udah sampe nih. Tempatnya keren banget!” Arnold :“Ayo cepat datang, Farez! Kita udah pada nunggu nih.” Farez :“Ban mobil gue kempes. Gue lagi di bengkel. Gue bakal telat, tapi pasti nyusul.” Pesan terakhir itu mengundang berbagai balasan. Arnold :“Ha-ha-ha, klasik Farez! Selalu ada aja dramanya.” Joseph :“Santai saja, Farez. Yang penting Lo datang.” Farez tersenyum tipis, sedikit terhibur dengan candaan teman-temannya. Tapi di dalam hati, dia tetap merasa kesal karena harus terlambat ke acara yang sudah dirinya tunggu-tunggu. Setelah hampir empat puluh menit menunggu, mekanik itu menghampirinya. “Tuan, ban mobil sudah selesai diganti. Silakan diperiksa,” ucap mekanik itu dengan sopan. Farez berdiri dan berjalan ke mobilnya. Ban baru sudah terpasang dengan rapi. “Terima kasih, Pak. Berapa semuanya?” Mekanik itu menyebutkan jumlahnya, dan Farez segera membayar dengan kartu debitnya. Setelah itu, dia masuk ke mobil dan kembali melajukan kendaraannya menuju lokasi reuni. Namun, meski jalanan mulai lancar, Farez tahu jika dia akan tiba lebih lambat dari rencana semula. “Yah, semoga mereka belum mulai acaranya,” gumamnya sambil menambah kecepatan mobilnya. Sepanjang perjalanan, pikirannya kembali melayang ke masa-masa SMA. Farez ingat bagaimana dia dulu sering bercanda dengan Joseph di kelas, atau bagaimana Arnold selalu menjadi pusat perhatian saat acara sekolah. Pria itu juga ingat beberapa momen indah yang dialami olehnya bersama sahabat-sahabatnya, yang membuat masa sekolah terasa begitu berharga. Namun ada satu nama gadis yang masih terpatri dalam hatinya saat ini. Farez berharap bisa menemui wanita impiannya itu di acara reuni kali ini. Setelah hampir satu jam perjalanan dari bengkel, Farez akhirnya tiba di lokasi reuni. Restoran rooftop yang elegan dengan pemandangan kota Jakarta tampak indah dari kejauhan. Dia memarkir mobilnya, merapikan kemejanya, dan melangkah masuk dengan sedikit gugup. Begitu masuk, suara tawa dan obrolan riuh menyambutnya. Farez melihat banyak wajah akrab yang dulu dia kenal. Beberapa temannya langsung melambaikan tangan ke arahnya. “Farez! Akhirnya Lo datang juga!” seru Joseph, yang segera menghampirinya. “Sorry, gue telat. Ban mobil gue tadi kempes,” jawab Farez sambil menjabat tangan Joseph. “Ah, nggak masalah. Yang penting lo datang,” tutur Joseph sambil menepuk bahunya. “Semua udah pada kumpul?” tanya Farez sambil melirik sekeliling. “Udah, sebagian besar. Ayo, gue kenalin lagi ke beberapa orang yang mungkin udah lama nggak Lo lihat,” jawab Arnold sambil menarik Farez ke tengah kerumunan. Meski pagi itu penuh hambatan, akhirnya Farez bisa menikmati momen reuni bersama teman-temannya. Dalam hati, dia bersyukur masih punya kesempatan untuk bertemu dan mengenang masa-masa indah di SMA Cipta Nusantara. Farez bertekad untuk melupakan semua kekesalan yang dia rasakan pagi tadi dan sepenuhnya menikmati hari ini.DEXTERAWas that a threat? That was the first thought to cross my mind after her strong utterance. The words hit harder than any slap ever could.Absolutely, she was right. Someone as influential and powerful as Thor wouldn't want a weakling up close. Yet, something in me wouldn't just settle for the fact that she blurted such statement to me in that manner.The audacity!However, instead of snapping back, I swallowed it all. Every sting. Every insult. Every doubt she tried to force into my bones.After all, she had just handed me something more valuable than pride; a challenge aimed to shape me into a better, more powerful person.“Fine,” I said at last. “Let’s see if I’m really as weak as you think.”Freya’s brow arched, like she hadn’t expected compliance so soon. But the smirk returned almost instantly.“Good,” she muttered. “Because I don’t train liabilities.”She turned around and began walking, motioning for me to follow. We reached the physical conditioning area and she took a
DEXTERAI straightened immediately, trailing after Freya as I forced myself to gather focus. Whatever had just passed between Deucalion and I, I shoved it aside. This wasn’t the place or time for it.Freya walked fast ahead without awaiting a response from me and I had to pace after her to catch up. The training ground stretched far wider than I initially noticed. What I thought was just an open sparring field revealed itself to be structured layers.Intentionally structured ones.Freya marched with purpose, her steps confident, as though she had memorized every inch of the place.“This,” she gestured, “is the primary combat ring.”The circular arena beneath our feet was marked with faint lines barely visible unless you looked closely. “Ranked matches happen here,” she continued. “Every fighter is assessed, documented, and placed accordingly. Strength without order is useless in Woodhound.”I blinked, glancing down again.Documented? Assessed? That alone was already different.In Bi
DEXTERAThe feeling of fear suddenly crept into me in fresh waves at the mysterious game playing out. “Who’s there?” I questioned again as I planted my feet firmly on the cold ground of the training arena, scanning every shadow and every rustle of leaves. Yet, there was no answer. I clenched my fists, crouching into a fight-ready stance. “Show yourself right now, or I swear, it won't bode well for you.” The familiar burn of adrenaline pulsed through me.From the corner of my vision, movement flickered as I raced stealthily around the wall backs on the training grounds which the person was shielding him or herself with. “I repeat, show yourself!” I tried to sound intimidating by deepening my voice which came out as a frustrated mewl instead.Before I could pass any more threats, a tall figure stepped behind me and I flinched, almost losing my footing.I spun around, and my gaze landed upon Deucalion.“Hell no! What are you doing here?” I nearly squealed in relief. In no thought of
DEXTERAI was momentarily dumbfounded at Freya’s out-of-the-blue question.“Train for what?” I asked flatly, making no effort to hide my irritation.She didn’t even blink. “Combat. Survival. The things you clearly lack.”A dry scoff slipped past my lips as I rolled my eyes. “I’m not interested in anything when you're involved.”Freya changed her position slowly, like a predator adjusting before a strike. “Careful,” she said coolly. “Refusal doesn’t make you untouchable. It just makes you unprepared.”I folded my arms tighter across my chest. “And trusting you makes me what? Stupid?”Her lips twitched—almost a smile, but not quite. “Alive.”I let out a humorless breath. “I’ve survived this long without your help. I think I’ll manage.”Freya tilted her head slightly, studying me like I was something she was still trying to figure out.“You’ve survived,” she admitted. “But survival isn’t power.” Her voice dropped. “And in this pack, power is the only thing that keeps you from becoming pr
DEXTERA The same maid who had brought me the uniform earlier returned to my side as soon as Sansa left for some duty. She had a blank expression on her face as usual. Is it some kind of rule not to smile here? Ever since I arrived, I haven't seen anyone smile.“The Alpha needs his maid.” Her word
DEXTERAGood goddess.Being around the Alpha is hell.Every second spent in his mansion was like walking a tightrope over fire. While getting him dressed, my fingers shook terribly, terrified of brushing too much skin, too little fabric, or offending him in any unforgivable way.Not knowing him wel
DEXTERA The room Sansa offered me wasn’t big—just a box-shaped space with the barest essentials a room could have. A bed, a tiny table, a worn-out stool. A small window.“This is where you’ll be staying,” Sansa said, her eyes raking over me one last time. “Rest for a while. Your first set of chore
DEXTERAI shook my head, unable to comprehend the whole thing. Is this some kind of drama?Adding to my dismay, he uttered with the deepest of masculine voices I've ever heard. “Get ready. Someone will come show you where you'll be staying.”I wanted to hold him down, ask him more questions of how
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews