LOGINBlurb Carlos was forced to reject his mate who came to his pack as a rogue, he had no choice but to agree to reject his mate. His brother's life was on the line, he had to do whatever it takes to keep his brother safe. Mandy is the princess of the werewolves and also the heir to the throne. She doesn't accept her mate's rejection but you strive hard to be with him, she thought he is hungry for power and she wanted to tame him within a short period. Against all odds the both of them wanted to be together but due to the circumstances of his brother who was used to threatening him, he couldn't do a thing. Will the both of them be able to get together? Will his mate forget about him and move on with her life? What will happen to his brother, will he be saved or not?
View More[Aku jatuhkan talak padamu, Meira Althafunnisa binti Rahmat Hidayat. Mulai saat ini, kamu bukan istriku dan kita tak memiliki hubungan suami istri lagi. Kamu boleh pergi dari rumah yang kamu tinggali saat ini dan aku membebaskanmu untuk tinggal di manapun kamu suka. Bawalah Aldo, hak asuhnya akan kuserahkan padamu]
Meira, perempuan berhijab coklat pudar itu ternganga saat membaca pesan dari Ibrahim suaminya yang terkirim di layar handphonenya. Tangannya gemetar saat membaca ulang pesan itu. Rasa sesak dan sakit mulai terasa menyiksa. Air matanya pun luruh seketika. Meira terjatuh ke lantai karena tubuhnya terasa amat lemas seolah tulang-tulangnya dilolosi satu demi satu. Sakit, bingung, shock dan marah tercampur menjadi satu. Maira tak tahu mengapa suaminya yang baru tiga bulan bekerja di luar kota itu tiba-tiba menjatuhkan talak padanya. Dia yang sudah membersamai Ibrahim dari nol hingga kini memiliki jabatan penting di perusahaannya. Meira tak percaya apakah pesan itu benar-benar ditulis suaminya. Suami yang selama ini begitu mencintai dan setia, mengapa tiba-tiba menjatuhkan talak padanya. Sepuluh tahun bersama dan dikaruniai seorang anak lelaki yang tampan, rasanya tak membuat Ibrahim berpikir ulang atas apa yang diucapkannya. Belum sempat membalas pesan talak itu, lagi-lagi Meira tampak shock saat melihat video suaminya. "Maafkan aku, Mei. Aku tak bisa bersamamu lagi. Terlalu banyak perbedaan di antara kita dan aku ingin kita mencari kebahagiaan masing-masing. Kamu tenang saja, aku akan mengurus perceraiannya. Jika kamu tak ingin menghadiri sidang perceraian kita, kamu boleh absen. Dengan begitu justru memudahkan proses cerai kita dan akta cerai itu lebih cepat kita dapatkan. Kamu masih muda, bisa mencari lelaki lain yang pas untukmu." Meira menutup mulutnya dengan telapak tangan. Dia benar-benar tak menyangka jika suaminya sedzalim itu. Baru saja menjatuhkan talak tanpa ada masalah apapun dalam rumah tangganya, kini justru memberikan opsi yang teramat menyakitkan. Bagaimana mungkin secepat itu Meira berpaling, sementara pernikahan pertamanya saja masih menyisakan luka yang belum terobati. Semudah itukah lelaki melupakan wanitanya? Apakah Ibrahim sudah memiliki perempuan lain di sana hingga tega menjatuhkan talaknya pada Meira tanpa ada masalah serius di antara mereka? "Aku mencintaimu, Mei. Maukah kamu menikah denganku setelah lulus SMA nanti? Aku takut kamu berpaling pada lelaki lain jika menunggumu lulus kuliah. Usiaku sudah cukup matang dan kini aku mulai bekerja. InsyaAllah aku bisa memenuhi kebutuhanmu dari gajiku." Kata-kata yang diucapkan Ibrahim sepuluh tahun lalu sebelum Meira ujian akhir itu kembali terngiang di kepala. Ibrahim yang saat itu sudah lulus kuliah dan baru bekerja empat bulan di kantornya mendadak melamar Meira dengan penuh keseriusan. Meira yang saat itu tinggal di panti asuhan begitu terharu karena dilamar lelaki tampan dan memiliki keluarga yang utuh seperti Ibrahim. Ibu panti pun mengizinkan Mei menikah muda karena dia tahu Ibrahim bukanlah orang yang asing. Laki itu sering mengadakan bakti sosial di panti bersama teman-teman kuliahnya dulu. Sejak itulah dia sering bertemu dengan Meira lalu akrab dengannya. Jarak usia lima tahun terasa ideal bagi mereka. Meira yang cantik dengan lesung pipinya dan Ibrahim yang tampan dengan rahang tegas, hidung bangir dan alis tebalnya. Mereka tampak begitu serasi dengan senyum bahagia menghiasi pipi. Siapa sangka kisah cinta sederhana tapi istimewa itu berakhir di tahun kesepuluh pernikahan mereka. Mei masih bergeming. Dia tak tahu harus berbuat apa sekarang, terlebih untuk menjelaskan semuanya pada Aldo, anak lelakinya yang kini berusia sembilan tahun. Anak itu sudah cukup kritis. Mei yakin Aldo akan bertanya banyak hal tentang ayah bundanya dan alasan mereka berpisah. Meira tergugu di lantai kamar. Tak peduli suara ketukan di pintu dari ibu mertuanya itu. Pintu terbuka lebar, tapi Meira tetap terdiam di tempat sembari melipat lutut. Pikirannya kacau. Dia benar-benar tak mengerti mengapa Ibrahim bisa menjatuhkan talak itu padanya. "Apa salahku?!" lirihnya di sela isak. "Apa salahku sampai kamu menjatuhkan talak itu padaku, Mas?!" Lagi, dia menggumam sembari mengepalkan tangannya hingga kuku-kuku jemarinya tertancap di telapak tangan. "Kamu kenapa, Mei?!" Soraya melangkah perlahan lalu berdiri di samping Meira. Perempuan yang duduk di lantai itu pun mendongak. Wajahnya basah oleh air mata, sementara mertuanya hanya mengernyit tak mengerti. "Bu, Mas Ibrahim menalakku. Aku tak lagi menjadi istrinya mulai hari ini." Meira berucap lirih di sela-sela isaknya. Wajah wanita paruh baya di depannya terlihat kaget, tapi tak Alma kemudian tampak senyum tipis di sudut bibirnya. "Maafkan ibu, Meira. Ibu tak bisa menghentikan rencana Ibrahim untuk menceraikanmu. Keputusan anak itu untuk menikah lagi ternyata sudah bulat. Ibu nggak bisa mencegahnya. Maaf." Balasan mertuanya membuat Meira semakin ternganga. Dia sedikit mengurai pelukan lalu menatap ibu mertuanya lekat. "Jadi, ibu sudah tahu kalau Mas Ibrahim akan menceraikanku? Ternyata dugaanku benar jika Mas Ibrahim memiliki wanita idaman lain. Aku benar-benar tak menyangka jika dia bisa mengkhianati pernikahan ini. Janji setia yang selalu diucapkannya ternyata hanya omong kosong belaka." Soraya bergeming, tapi jelas dia menghembuskan napas panjang. Seolah begitu lega dengan keputusan anak lelaki satu-satunya. "Ibrahim bilang, dia tak mengizinkanmu membawa satu barang pun keluar dari rumah ini, Mei. Dia bilang semua yang ada di sini hasil kerja kerasnya, jadi kamu tak berhak mengambilnya setelah perpisahan kalian berdua." Mei kembali terkesiap mendengar ucapan mertuanya. Dia bergeming, kembali berpikir mungkinkah suaminya setega itu padanya? Atau semua itu hanya akal-akalan ibu mertuanya saja? Sekalipun Meira tak ikut andil membeli barang-barang itu, bukankah harta yang dimiliki pasca pernikahan masuk harta gono-gini? Mei paham, tapi dia memilih diam. Sepuluh tahun menikah dengan Ibrahim, Soraya memang sering kali mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Dia merasa Ibrahim dan Meira tak serasi dan terlalu jomplang dari segi apapun. Baginya, Meira yang hanya tamatan SMA dan sebagai ibu rumah tangga biasa, terlalu beruntung mendapatkan Ibrahim yang sarjana bahkan kini memiliki jabatan penting di tempatnya bekerja. Sering kali terdengar percekcokan antara Soraya dan Ibrahim soal ketidakcocokan itu. Namun, Meira tak bisa menuduh mertuanya sebagai dalang talak itu bukan? Tak ada bukti yang menguatkan argumentasinya. "Kamu harap maklum, Mei. Ibrahim itu tampan dan mapan, tentu dia memiliki ekspektasi cukup tinggi pada seorang wanita untuk menemaninya hingga menua. Perempuan cantik, berpendidikan dan berasal dari golongan berada, sementara kamu-- "Aku juga cantik dan berpendidikan andai Mas Ibrahim tak memohon padaku untuk menikah muda dan memintaku untuk fokus menjadi ibu rumah tangga saja, Bu. Ohya, katakan pada anak ibu, aku dan Aldo akan pergi tanpa membawa barang apapun dari rumah ini kecuali baju yang melekat di badan. Semoga anak ibu puas dan tak ada penyesalan di kemudian hari atas keputusan dadakannya." Meira yang sebelumnya terlihat lemah saat membaca talak suaminya, kini berusaha bangkit dan menekan segala rasa yang berkecamuk dalam dada. ***There will be a sequel to this story which will be posted around mid-October, and I bet you wouldn't want to miss it. It would be much more better than this. I thank you all for staying with me from the beginning of the story till the end, I know it might not be the best story that you have read so far but I promise to write better with all your support. I know it has been a long ride and I don't wanna end it now but sadly I have to because I have new ideas about a new book, which can be integrated into this and I bet you wouldn't wanna miss the epic story. Thanks🙇♀️🙇♂️🙇
CarlosI was happy about the whole thing I couldn't believe that he and Mendy would latte be together, vertime I woke up I woke up with nothing bout happiness no word could describe how happy I'm, I couldn't believe that there would be a day that I would leave happily like this, I was excited that I was blessed with a beautiful wife and kindhearted wife, and she was now pregnant for me, I can't wait to carried my own child, I wanted nothing but happiness I knew that, no matter what I would be happy, if the child is born and I would be happy, I had been buying things for our baby like clothes and other stuff. I can't wait for the child to be born. I wanted to do everything to make sure the child would be happy no matter what. I was in the sitting room when one of the pack member rushed in and he said that Mendy was in the labor, I was and I rushed towards the hospital but upon reaching there, she started shouting, and I can't stand it when she started shouting, I don't know what to
Danielle My eyes were filled with anger and unwillingness as I knew that my mate had been taken away from me. I feel angry about that but there is nothing I can do about it. It turned out that all my plans had become unfruitful, and the thought alone made me want to spit out a mouthful of blood. I feel angry but I know that there is barely anything that I can do about it now and although it hurts I still wanted to make things right but I haven't had the chance yet. I used almost all my life trying to make Carlos fall for me because I am in love with him but I couldn't because of many obstacles which make me abduct his brother. I had thought that I'm at the pinnacle of being about to be with Carlos but it seems like I'm not. The higher I climb the harder I fall. I feel sad about not being able to be with him even after sacrificing all that I had. I knew that I will have to get revenge. I will only be able to rest in peace by killing Mendy. I knew that they just had forgotten a mus
Mendy It had been a month now since thing had been going smoothly, we accepted each other, I couldn't forget how happy when we get back with each other, in happy because things is going as h supposed to, I was excited because of this, no word could, I was excited that we had planned on making mating ceremony I was happy, that everything was going as planned no word could describe how happy I’m, I couldn't believe that all this would happen I was happy because of all this.I couldn't stop the bright smile on my face as I watched him eat on the dining table, I couldn't stop smiling, the more I looked at him and he became more and more handsome, I wanted to see see face every morning I wanted to see handsome face, no world could describe how happy I'm, I couldn't even eat I just stared at him, and I was full by just looking at his face, I want to kept on looking at his face, I don't want nothing to push us apart, I would do anything I could do to make sure, it never happened again. I
Carlos After the conversations I had with Danialla, I don't think that was a conversation. I couldn't believe that she would mention my brother, I knew that that only means one thing and that is she knows what happened to my brother, I mean she was the one behind, because
Brian My eyes fluttered open and I was met with a bright light which shone directly on my face. I closed my eyes immediately to stop the light from blinding me. I opened my eyes slightly as I adjusted to my new environment with a frown on my face. I was met with a white ceiling which shone brightly
Carlos My life as been a mess since Danialla as given birth to my child, I don't know what to do dangsin I knew that I had to take responsibility, for that, but it makes me sad that I had to take responsibility for what had happened, I couldn't believe all this I couldn't b
DanielleMy eyes were filled with anger and hatred and all I could think of was what to do. I can't believe such a thing can happen. It isn't what I had expected. I had thought that Mendy would be torn apart by what happened but it seems like she isn't. I couldn't help but wonder what was going on i
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews