ログインMy twin sister Selena was the most troublesome grad student my fiancé, Professor Adrian Hall, had ever taken on. Skipping class, showing up late, doctoring observation curves. Every time she walked into his lab, the two of them seemed ready to set the whole college on fire. Even I couldn't stand it, and I told Adrian to stop using that tribunal tone with her. But he took off his silver-rimmed glasses and explained to me in a low voice, "Eve, if she keeps drifting like this, sooner or later she'll ruin herself." When he looked at Selena, his gray-blue eyes were as cold as a lake on a winter night. "Have every raw record and review report on my oak desk before eight tomorrow morning. One page short, and you don't set foot in the observation tower for the rest of the month." I felt embarrassed for Selena, and grateful that I'd fallen for the right man. Adrian Hall was the youngest tenured professor at St. George's College. He had the kind of professorial look women fell for most easily. Tall and lean, always in a dark gray cashmere coat, shirt buttoned to the very top, cuffs forever clean and crisp. He could dismantle an entire model in the calmest voice, and he could also hold an umbrella over me on a rainy night, so gentle it made me believe I was the one exception outside his academic world. Until the day we were preparing the wedding invitations. I borrowed his tablet to check the guest list, and my finger accidentally slipped into a document buried under layers of folders. Inside were five hundred and twenty memos, packed one after another. [Punishment No. 519: also the 519th time I lost control. Selena talked back to me again in the seminar today. I kept her in my office and fucked her until three in the morning; by the end she didn't have the strength left to even look up at me.] [Punishment No. 520: She got jealous. She insisted I leave something behind inside Eve's wedding dress, to prove that the white gown meant to symbolize purity could be dirtied by her t
もっと見る"Kau memang pantas untuk melakukan pekerjaan itu, Dasar Pria Ayu!"
Sosok yang dipanggil Pria Ayu itu menghentikan langkahnya. Dia melirik sebentar ke arah beberapa pemuda yang tengah menertawakan ia yang tengah memanggul dua kuali besar berisi air untuk keperluan memasak."Sudah sana segera isi penuh gentong sebelum koki masak untuk makan malam kami!" tukas pangeran yang memiliki badan paling tinggi dengan mendorong tubuh Jagat.Tubuh Jagat terdorong kebelakang hingga beberapa langkah membuat ketiga pangeran merasa bahagia. Tanpa dia sadari air dalam kuali semakin berkurang isinya."Kau harusnya tahu diri jangan sok kuat, pakai rayu gadis Pandan Alas. Lihat dirimu, berkacalah!" ujar Abimana."Gadis pandan alas, aku tidak kenal. Kalian saja yang tidak paham!"Ketiga pangeran terlihat murka, tatapan nyalang Abimana menghujam Jagat. Dia pun berkata, "Jangan kira kami tidak tahu, Pria Ayu! Dia yang sering memberimu sebungkus nasi sisa dari dapur."Jagat terdiam, dahinya berkerut mengingat sosok perempuan ayu yang selama ini sering membantunya. Lalu bibirnya mengulum senyum, "Ada apa dengan gadis itu?" tanya Jagat polos.Ketiga pemuda itu pun melihat Jagat dengan pandangan meremehkan. "Ingat namaku, Pria Ayu. Aku Abimana, putra mahkota Bumi Seloka. Maka jika aku memberimu perintah jangan menolak. Kelak di masa depan hidupmu akan layak!"Jagat tidak memedulikan apa yang dikatakan oleh Abimana, dia justru berusaha memperbaiki kualinya yang bocor akibat lemparan kerikil antek Abimana. Jemari Jagat sibuk menggulung daun lontar yang kebetulan tumbuh di sekitar sungai. Namun, saat beberapa lubang sudah tertutup menyisakan satu lubang tiba-tiba, pyar!Tawa terbahak terdengar dari kedua pemuda yang berdiri dibelakang Abimana. Jantaka berhasil melempar batu besar hingga dua kuali itu pecah tidak berbentuk.Sedangkan Abimana melotot dengan kedua telapak tangan yang mengepal. Buku jarinya sampai memutih, dia menahan gemuruh emosi yang menyapa jiwa. Pria yang berkuasa merasa direndahkan oleh seorang kasta rendahan."Kurang ajar, berani sekali kau tidak memerhatikan ucapan seorang Abimana, Bocah Tengik!"Jagat mengeram, dia berdiri menatap pada Jantaka yang sudah menendang dua kuali milik paman koki. Pria muda itu terbayang amarah paman itu padanya. Ketakutannya mulai menyapa, tubuh Jagat gemetaran. Hal ini semakin membuat Jantaka tertawa terbahak. "Lihat, tubuhnya bergetar. Dia pasti kena hukum paman koki. Kasian!"Tidak hanya Jantaka yang tertawa, satu pemuda lagi juga ikut tertawa. Agak berbeda cara tawanya membuat Jagat meliriknya. Dia sedikit takut untuk mengeluarkan tawa alhasil suaranya mengambang."Aku tidak takut akan amarah paman koki, dia pasti tahu siapa yang salah mengenai hal ini." Jagat mulai bersuara lantang setelah berhasil menetralkan perasaannya."Haha, di sini aku yang berkuasa. Bahkan pemilik padepokan ini harus bersujud di kakiku hanya sekedar meminta maaf, apalagi kau seorang hina!"Jagat menggeleng kepala melihat kesombongan Abimana. Lalu dia pun berjongkok mulai mengumpulkan pecahan kuali untuk dimasukkan ke dasarnya yang masih utuh. Tatapan nanar dan genangan air mulai tampak pada cokelat madu matanya. "Kasian sekali kamu kuali, tidak punya kuasa untuk membantah!"Abimana makin terbahak melihat sikap Jagat yang melonkolis. Dengan ujung kakinya, didorong Jagat hingga membuat pemuda itu jatuh terjengkag. Tawa mengelegar makin membuat hati Jagat serasa di hinakan, tetapi rasa rendahnya mengalahkan emosi.Jagat tetap bungkam, tidak satu dua kali Abimana dan kawan memperlakukan dirinya bak pelayan bahkan lebih hina pun juga pernah. "Apakah kalian sudah puas hari ini?""Hah, puas? Tentu saja belum, selagi kau masih ada di sekitar padepokan kata puas itu tidak ada." Abimana berkata sambil mendorong bahu Jagat.Akibat dorongan itu tubuh Jagat jatuh lagi dan semua pecahan kuali yang berhasil dia kumpulkan terjatuh. "Sebenarnya apa inginnya kalian, Hah?!""Haha, lihatlah! Si Pria Ayu mengeluarkan tanduk!" Ejek Jantaka"Tetapi mana tanduk itu, Jantaka?" tanya Kurubumi.Mendengar pertanyaan Kurubumi membuat Jantaka menoleh pada sahabatnya itu, "Apa kau tidak lihat di atas kepalanya mulai ada asap, Kurubumi?"Abimana tidak memedulikan keadaan kedua sahabatnya, pemuda itu pun melancarkan tendangan beruntun dengan sasaran bahu Jagat.Mendapat serangan tanpa jeda membuat Jagat tidak berkutik. Tubuhnya terhuyung ke belakang. "Ayo coba kau lawan aku, Jagat!" Pinta Abimana lantang.Jagat tidak mampu berdiri tegak, tulangnya terasa terlolosi sebelum bertarung. Dalam hati pemuda itu mengumpat dirinya sendiri yang nyata tidak bisa membela saat dihina."Tubuhmu lemah, bahkan struktur tulangmu tidak layak untuk padepokan ini. Maka sudah seharusnya kau mati saja, Jagat!""Hidup matiku bukan di tanganmu, Pangeran. Kelak di masa depan kau yang akan merangkak ke arahku untuk meminta maaf!""Kau berani mengancamku, Cunguk Busuk!" Abimana murka, dengan ganas dipukulnya perut Jagat.Pemuda itu meringis begitu pukulan dan tendangan Abamana bersarang di tubuhnya. Jagat tetap bungkam, bibirnya terkatup rapat tanpa sedikit pun berteriak kesakitan dan minta ampun."Ada apa dengan mulutmu, Cunguk? Ucap kata ampun!" kata Jantaka lantang sambil menendang tungkai Jagat."Be-berhenti-lah kalian sebelum ada yang tahu!" kata Kurubumi sambil melihat sekitar.Pemuda itu terlihat takut dengan perbuatan mereka yang sedang menghajar Jagat. Tidak hanya takut ketahuan saja, Kurubumi juga merasa miris dan ngeri melihat cara Abimana memukuli tubuh lemah Jagat."Pangeran Abi dan Jantaka, tolong he-hentikan!" kata Kurubumi yang sesekali masih gagu."Sudah kau diam di sana dan awasi kalau-kalau ada yang datang!" titah Abimana."Tapi Pangeran, lihatlah kondisi Jagat! Dia sudah babak belur," kilah Kurubumi.Abimana tidak memedulikan peringatan sahabat kecilnya, dia terus memukul dan menendang tubuh Jagat yang meringkuk melindungi dada dan perutnya yang mulai mual.Jantaka yang sesekali ikut menendang menjadi ikut emosi karena kebungkaman Jagat. "Dia tidak mengucap kata ampun sedikit pun, Pangeran. Tunggu, sepertinya dia pingsan! Bagaimana ini, Pangeran?""Buang saja dia ke jurang!" titah Abimana.Jantaka dan Kurubumi pun segera melakukan apa yang diperintah oleh Abimana. Tubuh Jagat mereka bawa ke tepian jurang Hutan Pandan Alas. Dengan wajah penuh bahagia, keduanya mulai berhitung untuk melempar tubuh tidak berdaya milik Jagat."Bagaimana, sudah siap?" tanya Jantaka."Tunggu, apakah ini tidak akan membuat nasib kita sila di masa depan?"Jantaka membeliakkan mata, dia paling tidak suka jika Kurubumi mulai jadi pria pengecut. Tubuh Jagat disentak keras oleh Jantaka membuat Kurubumi sedikit limbung dan hampir ikut terjatuh."Hai, ada apa dengan kalian? Cepat buang!" teriak Abimana.Kedua rekannya itu pun segera melempar tubuh Jagat ke jurang setelah hitungan ke tiga. Tubuh Jagat melayang terjun bebas masuk ke jurang. Namun, ada yang aneh dalam tubuh pemuda itu. Seberkas sinar seakan menyelimuti tubuhnya.That night, a rare storm broke over the city.Wild wind drove the rain against the car windows.Noah drove me back to the newly assigned expert apartment.The moment the car stopped downstairs, by the beam of the headlights I saw a figure kneeling out in the rain.It was Adrian.He hadn't even opened an umbrella, soaked through from head to toe.His white shirt clung to his body, smeared with mud.Seeing me get out, he scrambled toward me.Only then did I see clearly the sharp letter knife clenched in his hand.On his wrist, a horrifying gash had already been cut open.Rain mixed with blood dripped from his fingertips into a puddle, blooming into a glaring patch of red.He was trying, through this extreme act of self-harm, to draw out the last shred of softness in me.He crawled on his knees to me, wanting to hold my legs, yet not daring to touch the clean hem of my trench coat.He could only brace his hands in the muddy water, weeping without a scrap of dignity."Eve, I'm begging you,
The three years were up.The polar deep-sea exploration project was officially declassified, with breakthrough results that stunned the academic world.As the creator of the project's core data model, I came home with honors.The day I landed, the greeting sign read "Dr. Evelyn Winter," not "Adrian Hall's fiancée."I'd become the youngest leading figure in the field.On my third day back, I was invited to a top international academic summit.The summit was of the highest caliber, gathering the most eminent scholars.I was the keynote speaker on stage.The lights converged on me.I adjusted the microphone and began my presentation, composed and unhurried.Not a seat was empty in the hall.At a glance I spotted Adrian, seated dead center in the front row.He'd wasted away past recognition, his cheekbones jutting sharply, his once well-fitted suit now hanging loose on his frame.His eyes were badly bloodshot, his gaze on me looking like regret and like resentment both.He sat in the front
In three years, the polar wind never truly stopped for a single day.I'd severed all contact with the outside world.Every day I faced only the flood of data sent back by the deep-sea probes, and the long, grinding polar night.I packed my schedule as tight as it would go, and when I got sleepy I'd catch twenty minutes on the cot in the instrument room.In wind and snow like that, the word "love" seemed utterly trivial.Not until the eve of the project's declassification, when the communication controls were lifted.Only then, from the academic weeklies and internal college bulletins Noah forwarded me, did I piece together how things ended for Adrian and Selena.After losing me, his fiancée in name, the hypocritical shell Adrian wore peeled away completely.He'd once believed that as long as he chose to, he could move between the light and the dark with ease forever.But he'd overestimated himself.Without the light, even the dark became unbearably glaring.I heard that in the first mo
Half a month later came the day we were supposed to have held our wedding.Communication in the polar region was fully cut off, and I had no way of knowing anything from home.Later, a senior colleague, on one of the rare satellite calls that got through, passed on the rumors coming out of the college.That day, Adrian went ahead and booked out the oldest white-stone church downtown.The scene was set like a dream, all the white roses, silver candlesticks, and deep-green ribbons I'd once mentioned in passing.Every guest seat was filled, only the bride was missing.My parents didn't show.I heard my mother cried herself hoarse the night before, and my father sent only one line to the Hall family:The Winter family will have no such foolish son-in-law, and has no face left to plead for Selena either.The Hall relatives sat in the pews, their faces grimmer one than the next.Adrian, in his couture suit, stood at the church door, stubbornly greeting each and every guest.Everyone thought






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.