The Rejected Luna’s Rise

The Rejected Luna’s Rise

last updateLast Updated : 2026-06-30
By:  Bibi_WritesCompleted
Language: English
goodnovel18goodnovel
10
3 ratings. 3 reviews
271Chapters
11.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

They were already married for three years when Alpha Damian Zeus’s long-lost first love, Lily, returned bringing along a five-year-old pup. Luna Ariana Volkstane slid the formal rejection request across the table. "Let's end this bond. It's better for you, me, and your first love." He just smirked. "You want me to reject you? You think you can break our bond that easily?" So she did. Ariana cut ties with him completely, poured herself into her career, and rose to global fame as a legendary healer, her knowledge of rare herbs, wolf anatomy, and ancient magic sought after across continents. The powerful suitors lined up. The Alpha of an overseas empire whispered, "Ariana, hurry up and perform the severing ritual. I can't wait to claim you." A powerful pack leader vowed, "I'll be there with you the day you break the bond." A legendary wolf attorney promised, "I'll handle your rejection case with the pack council myself." Ariana just rubbed her temples. It's not that she didn't want the split, she wanted it more than anything, it's just that the Alpha she was mated to refused to let go. Finally, she announced, "Whoever can officially get me rejected, I'll put you at the head table of my bond-breaking celebration." Not long after, Alpha Damian was served the official rejection request right in the middle of an emergency pack council meeting. That same afternoon, he was attacked by rogues at the gates of his own territory. When Ariana showed up at the pack infirmary with healing herbs, she repeated calmly, "Let's sever the mate bond. It's better for you, me, and everyone else." But the cold, untouchable Alpha pulled her into his arms, his eyes blood-red with fury. "You want me to reject you? Over my dead body."

View More

Chapter 1

Chapter 1: I Just Knew It Was Over

“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!”

Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari.

Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar, seorang pria tampan dan tegap tiba-tiba menarik pinggang Karin. Tangan pria itu membekap mulut Karin dan tubuhnya menekan tubuhnya. Mereka berhimpitan dan berpelukan.

“Shhhhhttt jangan lari!” bisik Arlan, nama pria itu.

Sontak saja Karin makin gelagapan, pria yang menahannya itu adalah Arlan Pradipta.

Tepatnya, dr. Arlan Pradipta, Sp.OG-KFER,M.Kes.

Ia terkenal dingin, selalu menyulitkan koas dan terkenal dengan kesempurnaannya.

Dan, tentu saja, semua orang tahu betapa mengerikan jika berada satu ruangan bersamanya.

Apalagi… dalam pelukannya!

“Aku sudah tidak sabar memilikimu!”

Kata-kata sang dokter senior itu segera membuat Karin sadar kembali. “I–itu, dr. Mikael…”

Dokter senior itu segera saja mencium bibir koas yang ia giring masuk. Terdengar decak dari tautan bibir mereka.

Karin menahan napas di celah balik lemari. Mata Arlan menatap wajah Karin ketika wajah wanita itu kehilangan warna. Dada Karin naik-turun menabrak dada Arlan. Keringat menetes di pelipis Karin. Tangan Arlan menetap di mulut Karin.

“Sudah, Dok! Ahhhh nanti ada orang. Dokter nakal ihhh,” ucap koas itu.

Ini sering terjadi terjadi. Orang-orang sering melakukan hal ini saat jam jaga malam di ruangan spesialis. Suara-suara desahan selalu menyela waktu istirahat Karin.

Karin mengepalkan tangan. Kukunya menekan telapak tangan.

"Sialan!" desis Karin.

Desahan terdengar.

“Ahhhh. Enak banget Dok, punya Dokter besar banget. Eumphhh!”

Tapi bukan itu yang sekarang membuat Karin bingung. Dia penderita Haphephobia dan sekarang dia bisa baik-baik saja dipeluk oleh Konsulennya.

Seharusnya perut Karin mual. Seharusnya kulitnya meremang dan napasnya tercekat akibat serangan panik, reaksi tubuhnya setiap kali kulitnya bersentuhan dengan manusia lain.

Namun, terkurung di antara dinding lemari dan dada bidang Arlan, penyakitnya itu seolah lenyap.

“Hemm, cepet banget sih padahal aku masih mau dok,” ucap koas itu setelah mereka menyelesaikan percintaan dengan cepat.

“Aku masih ada operasi malam ini, besok malam tunggu aku lagi, kita main lebih lama.”

“Oke, sayang. Muaaah.”

Setelah mereka selesai, ruangan itu kembali sepi dan tidak dikunci. Arlan cepat-cepat mengajak Karin untuk keluar dari ruangan.

“Kau tidak akan bicara tentang malam ini pada siapapun, kan?” tanya Arlan dengan ketus.

“Nggak dok,” jawab Karin sambil menggigit kuat bibirnya. Karin masih ingin selesai kuliah kedokteran dan mungkin Arlan tidak tahu, setelah ini Karin masuk stase ditempatnya.

“Bagus!”

Dengan santai Arlan meninggalkan Karin tanpa merasa berdosa mendekapnya selama itu, tubuh mereka berhimpitan, jantung mereka sama-sama berdebar dan Karin bisa merasakan itu.

“Kenapa aku nggak ketakutan dipeluk olehnya, ya?”

Karin bukan main herannya, Tidak seharusnya dia kuliah kedokteran dengan penyakit yang dideritanya seperti ini.

Haphephobia.

Orang lain mungkin menganggapnya lucu tapi tidak untuk Karin, ini seperti Bom waktu yang kapan saja bisa meledak dan membuatnya hancur.

***

“Ginekologi,” gumamnya sambil merapikan buku-buku di ruang istirahat Internal Medicine, Karin baru saja melewati stase itu dan sekarang dia harus beralih ke bagian Ginekologi. Membayangkannya saja sudah menakutkan.

Dan Karin baru saja bertemu dengan Konsulennya.

“Dia biasa aja lihat gituan, seolah gak terjadi apapun. Jangan sampai dia sama seperti dr. Mikael,” gumam Karin.

Karin memasang earphone di telinganya cepat-cepat dan berlari dari ruangan itu.

Malam ini Karin berjaga sampai pagi, dia mulai membuat daftar visit. Di stase ini, Karin harus berjuang keras. Ini adalah ujian sesungguhnya.

“Dokter, ada pasien pendarahan Dok, cuma Dokter yang lagi jaga,” ucap perawat saat Karin baru saja masuk.

Karin menelan salivanya dan melirik ke arah pasien, dia bergegas menuju ke pasien sambil bertanya ke perawat yang berjaga.

“Sejak kapan pendarahannya?” tanya Karin sambil menggunakan sarung tangan lateksnya.

“Sudah dari satu jam yang lalu Dokter,” jawab perawat dengan cepat.

“Dokter sakit banget Dokter, aku udah ngak tahan,” keluh pasien dengan keringat yang bercucuran sedangkan Karin pun ikut panik. Penyakitnya kambuh, memikirkan harus menyentuh pasien dengan tangannya, membuat Karin membeku.

Tapi kenapa, tadi dia berpelukan dengan dr. Arlan. Karin tidak mempermasalahkan itu.

“Dokter kenapa kau diam? Anakku sudah kesakitan!” Teriak orang tua pasien.

Karin tidak ada pikiran untuk menyentuh organ intim pasien karena Karin sudah mulai gemetar, dia panik, gelisah dan berkeringat hebat. Berulang kali Karin melirik ke perawat dan perawat juga merasa bingung dengan sikap Karin.

Karin mundur selangkah demi selangkah. Karin tidak bisa menutupi rasa paniknya, dia harus menyentuh pasien itu. Memikirkannya saja sudah membuat Karin gila.

“Aku gak bisa,” gumam Karin dalam hati.

“Aku gak sanggup, aku bener-bener gak bisa.” Karin menggigit kuat bibir bawahnya sementara pasien dan keluarganya menunggu Karin melakukan sesuatu.

“Dokter, ayoooo cepat! Sakit dokter, sakit banget. Toloongggg!!!”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Joy
Joy
Loved this book ...️ I enjoyed Cassius and Riley’s story too. Knox was my favorite character after Ariana and I wished we got to see more of him. Damian can kick rocks. Good job
2026-08-15 18:22:48
3
1
Bibi_Writes
Bibi_Writes
Thank you guys for reading ...🫶 You can check out my new books too if you loved this book.
2026-07-15 02:03:30
6
0
Patience Daniel
Patience Daniel
Best book on this platform right now
2026-07-02 22:02:39
5
1
271 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status