MasukAt the age of twenty, Alex became an stripper in King's cove. The reason why she became an stripper is to find the treasure of her father's diary that will lead to and use it to get out the hell out of the country.What else she supposed to do with fifty bucks of her name, an old coded diary and a body full of bruises?She only have one problem that is to avoid the four boys from her past that she hated at the same time. But that was the perfect opportunity for her to take what she owned. Once upon a time they betrayed her.The four boys she once knew don't just live in that twin anymore, they run it.The gang, nightlife and the violence. It's all theirs.All she have to do is to slip past them, do her things and get out.
Lihat lebih banyakBab 1.
Hans berlari cepat menyusuri lorong rumah sakit yang sudah sepi. Laki-laki itu tak peduli jika langkah kaki panjangnya yang berisik akan mengganggu waktu istirahat pasien di sana, karena di pikirannya sekarang hanya ingin segera bertemu dengan Nida dan memastikan bagaimana keadaan wanita itu.
Beberapa saat yang lalu, Hans mendapatkan telepon dari Bi Retno, wanita paruh baya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di kediamannya dan Nida. Bi Retno bilang Nida jatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan.
Hans tentu saja terkejut mendengar kabar itu. Ia bahkan tak tahu jika istrinya sedang hamil, tapi tiba-tiba saja ia mendapatkan kabar jika wanita itu mengalami pendarahan.
BRAK!!
Hans yang sudah diliputi rasa cemas berlebih, tanpa sadar membuka kasar pintu ruang rawat VIP tempat istrinya berada. Hal itu tentu saja membuat Nida dan Bi Retno yang berada di dalamnya terlonjak kaget.
"Dek, kamu nggak apa-apa, 'kan? Bi Retno bilang kamu hamil dan pendarahan. Apa itu benar?" Hans yang sudah mendekat ke sebelah ranjang Nida langsung memberondong istrinya itu dengan banyak pertanyaan. Kekhawatiran jelas tergambar di wajah rupawan itu.
Nida tampak risi dengan sikap suaminya, sementara Bi Retno yang tak ingin mengganggu pembicaraan kedua majikannya langsung pamit keluar dari ruang rawat tersebut.
"Untuk apa kamu ke sini, Mas?" Nida bertanya seraya melirik suaminya dengan tatapan tak suka.
"Tentu saja aku khawatir dengan keadaan kamu, Dek. Apa kata dokter? Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau sedang hamil? Lalu sekarang bagaimana keadaan anak kita?" tanya Hans lagi, kali ini tangannya bahkan tanpa izin sudah terulur ke perut Nida dan mengusapnya dengan lembut.
Nida yang terkejut dengan perbuatan suaminya, refleks langsung menepis tangan pria itu. Hans tentu saja merasa tersinggung dengan sikap istrinya. Namun, karena sadar Nida sedang tidak dalam keadaan yang baik, lelaki itu memutuskan untuk tak terlalu memusingkan sikap tak ramah istrinya.
"Lebih baik kamu kembali ke rumah istri keduamu saja, Mas. Aku sedang sakit. Aku merasa nggak punya tenaga untuk melawan istri kesayanganmu itu jika dia datang ke sini dan membuat keributan," kata Nida dengan nada suara yang terdengar dingin.
Hans hanya bisa menghela napas berat mendengar ucapan istrinya itu.
Memang sejak satu tahun lalu ia telah menduakan Nida dan menikah lagi dengan perempuan yang usianya berada di bawah istri pertamanya tersebut. Sejak saat itu, sikap Nida yang dulunya begitu hangat, kini telah berubah menjadi dingin. Hans pun akhirnya lebih banyak menghabiskan waktunya bersama istri barunya karena merasa tak nyaman dengan perubahan sikap Nida, meski ia tahu itu juga terjadi karena perbuatannya.
"Diaz nggak akan menyusul ke sini karena aku nggak bilang mau menemuimu, Dek. Aku tadi bilang mau bertemu dengan rekan bisnis yang baru datang dari luar kota," ujar Hans, berharap Nida tak perlu khawatir dengan kemarahan adik madunya.
Nida terkekeh sinis mendengar ucapan laki-laki yang berada di sisinya tersebut. Padahal di sini posisi Nida adalah istri pertama, tapi untuk mendapatkan waktu bersama suaminya kenapa harus sesusah ini? Bahkan Hans harus membuat kebohongan pada istri keduanya hanya untuk bertemu dengannya, seolah ikatan mereka adalah hubungan haram yang harus disembunyikan dari semua orang.
"Dek, kamu dan kandunganmu baik-baik saja, 'kan?" Hans kembali mengulang pertanyaan tersebut, karena sejak tadi Nida tak mau menjawab saat ia bertanya soal keadaan wanita itu dan kehamilan yang baru hari ini Hans ketahui.
"Baik. Dia masih selamat karena Bi Retno cepat-cepat membawaku ke rumah sakit," sahut Nida tetap dengan nada dingin. Ia mengusap-usap lembut perut tempat calon anaknya bersemayam, merasa begitu bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk menjaga buah hatinya tersebut.
"Kalau boleh Mas tahu, sudah bersama bulan kandunganmu?" tanya Hans pelan. Ada sedikit rasa bersalah yang hinggap di hatinya karena satu tahun belakangan ia sangat sedikit memberikan waktu untuk Nida.
"Hampir tiga bulan," jawab Nida datar.
"Hampir tiga bulan?" Hans berseru karena merasa terkejut. Sudah hampir tiga bulan usia kandungan Nida, tapi baru hari ini ia mengetahuinya? Benar-benar kejam Nida memperlakukannya.
Hans merasa kecewa pada Nida karena telah menyembunyikan kehamilannya, tapi juga sadar jika ia memang sangat jarang memiliki waktu untuk sekedar berbicara dengan istri pertamanya tersebut. Mungkinkah hal itu yang membuat Nida memutuskan untuk menyembunyikan kehamilan ini dari suaminya sendiri?
"Kenapa kamu terkejut seperti itu? Apa kamu ragu kalau anak yang aku kandung ini anakmu?" tanya Nida dengan menatap tak suka pada suaminya.
Tampaknya wanita itu salah paham saat mendapati respons terkejut yang suaminya tunjukkan.
"Maksud kamu apa, Dek?" tanya Hans yang merasa tak paham kenapa Nida bisa bertanya seperti itu padanya.
"Kamu kan jarang mengunjungiku, mungkin saja kamu ragu jika anak ini adalah anakmu," ujar Nida ketus.
"Aku tidak ragu sama sekali. Aku percaya kamu tidak akan mungkin mengkhianati pernikahan kita," ujar Hans bersungguh-sungguh. Ia juga memperlihatkan senyum terbaiknya pada sang istri agar wanita itu membuang keraguannya. "Sekarang kamu istirahat. Mas akan menjagamu di sini. Kalau kamu butuh apa-apa, jangan ragu bilang saja sama Mas ya," ujar Hans melanjutkan.
Nida sebenarnya tak setuju dengan ide suaminya itu. Tak ada sedikit pun keinginannya untuk bersama Hans di tempat ini. Ia justru akan lebih senang jika Hans entah dari hadapannya sekarang juga. Namun, karena sadar penolakannya hanya akan menciptakan perdebatan, sementara ia sedang tidak punya tenaga untuk berdebat, dengan terpaksa akhirnya Nida hanya bisa pasrah dan membiarkan Hans menungguinya malam ini.
Tak menunggu waktu lama, Nida langsung menutup matanya agar bisa lebih cepat pergi ke alam mimpi. Ia belum merasa mengantuk sebenarnya, tetapi demi menghindari obrolan apa pun dengan suaminya, Nida merasa harus melakukan hal itu. Sungguh, Nida merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan di mana ada Hans yang menungguinya saat sedang sakit seperti ini.
Sejak Hans menikah lagi, waktu kebersamaan mereka memang menjadi sangat terbatas. Hans hanya akan datang pada Nida saat Diaz si istri kedua sedang marah dan melarang Hans tidur di rumah mereka atau saat Diaz sedang mendapatkan siklus bulanannya, sementara laki-laki itu sedang ingin melepaskan hasrat biologisnya. Ya, seperti itulah, Nida memang merasa jika dirinya kini hanya diperlakukan sebagai penampungan hasrat dan ban serep saja oleh Hans . Jadi tak heran jika Nida semakin merasa asing dengan suaminya sendiri dari hari ke hari dan mulai tak nyaman jika terlalu lama berdekatan dengan laki-laki tersebut.
Di samping Nida, Hans yang mengira jika istrinya sudah tertidur, perlahan menggenggam tangan wanita itu. Lagi-lagi rasa bersalah menyusup di dalam hatinya. Laki-laki itu merasa begitu jahat karena selama satu tahun ini selalu mengabaikan Nida dan hanya memberikan waktu sisa untuk istri pertamanya itu, karena memang kini perasaannya lebih condong ke arah Diaz. Namun, sekarang Hans berjanji pada dirinya sendiri akan berusaha adil untuk kedua istrinya. Meskipun soal perasaan ia tak bisa mengatur pembagiannya secara adil, tetapi untuk pembagian waktu dan juga perhatian, ia akan berusaha agar tak berat sebelah.
Sementara Nida yang sebenarnya belum terlelap, mati-matian menahan tangisannya saat ia merasakan telapak tangannya digenggam oleh sang suami dengan begitu lembut. Wanita itu berusaha keras menahan keinginannya untuk melepaskan genggaman itu. Ia benar-benar sudah merasa asing dengan sosok suaminya dan merasa tak nyaman setiap kali mereka bersentuhan. Namun, mengingat status pernikahan yang masih mengikat mereka hingga sekarang, membuat Nida mau tak mau harus tetap menerima kehadiran laki-laki tersebut.
Bersambung
Alexa "Give me a smile, gorgeous, and I'll let you in. The bouncer to the lion's roar grins proudly at me. His eyes travel up and down my body, lingering on my chest. Widening my stance and bending my knees lightly i glare up at the large man. "How about! Just let myself in?" crack. The heel of my palm connects with the underside of his nose: continue the movement up into his face, forcing him to bend backwards and expose his throat to me. The gun is cool and heavy in my hand as I press the barrel beneath his chin. "Still want that smile?" I raise my brows at the bouncer as he glowers at me. My eyes drop to the door expectantly and with a huff pif initation he fumbles for the handle. I'm not sure his ego will survive being overpowered by a woman half his size. Honestly, men are so stupid. Will they never learn not to underestimate women? One of these days it will be their downfall. Seems that day has come early for the Pride's bouncer. "Hurry up, I haven't got all day." I tut at hi
Shade "You lost her? You fucking lost her?" Ryder screams in the man's face. Ten minutes ago, we got a call from the guys watching one of the roads out of kings cove saying a blonde on a motorcycle got through and shot at them. "Sorry, boss" Vincent lowers his head, shoulders slumping forward "Sorry? You're fucking sorry? Oh, well then, that's alright." Sarcasm drips from Ry's words making the men flinch. "I don't want your fucking sorrys, I want her back here!" "Ry," Jem says carefully knowing full well he's not in the man's good graces at the moment, "we know where she's headed. It's more than we had fifteen minutes ago Ryder turns his back on Jeremy freezing him out. It's not Jems fault she ran but he did let her out of his sights knowing she's a flight risk. So, Ryder's giving him the silent treatment which is far worse than being yelled at by him. After By yells and throws a punch or two, he forgives and moves on. When he doesn't... that anger festers and turns into something
AlexaMy what now? A warm hand covers mine as old lady Ravens wait patiently for my mind to reconnect with my body. Mouth hanging open I sit frozen staring unseeingly ahead as I try to wrap my mind around this new information. "How-why did how do how do you know?" i stutter while slipping my hand out from beneath hers. Hurt flashes across her face before she pushes it away. Not wanting to be touched or comforted right now I get to my feet and start pacing. "It's a long story," she sighs deeply shaking her head. "I've got time." I snap back frustrated with everything. The answers are so close and if she deffects or straight up refuses to tell me, then screw her age il punch the old woman. My grandmother. "Of course," she shifts in her seat getting more comfortable as she settles in to tell me everything. "Amerie didn't live here, as a child she did but when she got older, we sent her to my brother who lived closer to better schools. When she turned eighteen, she came back here. She
Ryder "What do you mean she's fucking gone?" I bite out through clenched teeth. Trying my hardest not to smash everything in dad's apartment to pieces: Michael, one of Alex's guards, quickly breathes out how she played them and took the first opportunity to run. Somehow evading them. I'm going to fucking kill Jem. He wasn't supposed to let her out of his sights, but because he's gotten into her bed, she pulled his strings. Played him like a guitar. And now, she's out there alone and unprotected when not only Sebastian Gild knows where she is and is coming for her but for some reason unknown to us the Pride is after her too. Running a hand through my hair I pace the length of the room. Back and forth, as dad, Sonya and the other highly ranked betas watch, "Keep looking. Call Jeremy and let him know, I'll deal with the rest"With that I hang up resisting the urge to throw my phone across the room. Taking a deep breath, I slowly turn my eyes on the betas. "Send everyone out, and I mea






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan