MasukStephanie is a brilliant but nerdy student who gets bullied for her academic success. Dubbed "Teacher's Pet" by her classmates, Stephanie hatches a plan to get back at her tormentors by trying to seduce and then get her teacher Mr. Richard fired. However, her scheme backfires when she finds herself actually falling for him. Their secret romantic relationship begins to bloom, but the school's queen bee and Stephanie’s longtime bully Stacy has always had a crush on Mr. Richard herself. When Stacy discovers the forbidden affair between Stephanie and the teacher, she is furious and makes it her mission to destroy them no matter the cost. Stephanie struggles to make it through the school year as her academic future, social standing, and forbidden love all hang in the balance while her vindictive bully threatens to reveal the scandalous relationship. Will Stephanie’s connection with Mr. Richard continues even as it puts both their reputations and livelihoods at risk? Can she triumph over her bully's cruel schemes, graduate with honors, and find a way for her forbidden romance to survive?
Lihat lebih banyakHari ini aku memutuskan pindah rumah lebih dekat dengan rumah makan milik mendiang ayahku yang sudah aku kelola usai perceraianku dengan Mas Bagas. Sengaja aku memilih pindah rumah dengan alasan supaya bisa cepat sampai ke restoran apalagi lokasi boarding school Ara juga tidak jauh dari sana. Aku menggunakan jasa sekaligus yang akan mengatur semua desain rumahku. Aku memilih rumah yang tidak terlalu besar, karena aku hanya tinggal bersama Ibuku saja.
“Ara, sudah disiapkan semua keperluannya?” tanyaku pada Ara, gadis kecilku yang kini sudah menginjak remaja. “Sudah, Ma. Tingga pembalut saja yang belum!” Sahut Ara sambil memainkan ponsel miliknya sebelum nanti akan diberikan padaku karena ada larangan membawa ponsel di asrama. Ara berusia 13 tahun dan kini masuk ke salah satu boarding school ternama di kota ini. Bukan tanpa alasan aku memilih sekolah berasrama karena aku ingin Ara menjadi wanita yang berakhlak yang baik dan wanita yang paham ilmu agama.Aku mampir sejenak ke sebuah supermarket terbesar di kota ini. Bukan karena hidupku berubah menjadi hedon, tetapi aku juga butuh beberapa barang yang harus aku beli untuk keperluan pribadi. Usai memarkirkan mobil hitamku, aku gegas mengambil troli yang sudah berjajar rapi di tempatnya.“Eh, ada si udik kampungan!” Aku sangat mengenali suara itu. Meski sudah lima tahun tidak bertemu namun suaranya masih sangat jelas ku kenali.“Ma, ada Papa disana! Kenapa harus bertemu Papa juga sih!” Aku berbalik menatap pemilik suara yang berada di belakangku. Sebenarnya aku juga sudah sangat kesal meski hanya mendengar suaranya. Sama seperti yang dirasakan Ara. Lima tahun lalu memang sangat menyakitkan, dimana kami berdua selalu dihina dengan alasan aku tidak bekerja dan miskin. Sedangkan Ara, dihina karena saat itu mengalami kesulitan dalam belajar sebab gangguan pada motoriknya, sehingga nilainya turun. Aku cukup menyadari dengan keterbatasan Ara. Setelah bercerai dengannya, aku berusaha keras supaya Ara bisa belajar dengan lancar meski aku tetap harus mengembangkan restoran milik mendiang ayahku yang dulunya hanya warung biasa.“Ara, kamu nggak salim?” Terlihat Mas Bagas mengulurkan tangannya kepada Ara. Aku melihat Ara mencium tangan Mas Bagas dengan wajah terpaksa. Bisa jadi karena ada aku, ibunya. Usai mencium punggung telapak tangan, Ara pun kembali di sampingku.“Penampilanmu tetap kampungan ya, Rista. Pakai jilbab besar kayak mau shalat saja!” Selalu saja penampilan berhijabku yang selalu dihina. Aku diam dan hendak berlalu meninggalkan ocehannya. Akan tetapi tangan kanannya dibentangkan untuk mencegahku pergi.“Rista, aku belum selesai bicara padamu! Kamu penampilan begini, memangnya mau pengajian di mall?” Semakin kesal karena hinaannya. Andai tidak ada orang, ingin aku tabrak saja dia pakai troli.“Pa. Ngapain hina kita terus! Papa nggak puas sudah menghina kita dan mengusir kita dulu?” Tatapan mata Mas Bagas berubah nyalang ke arah Ara. Tiba-tiba kedua mata Mas Bagas menatap almamater yang dikenakan Ara. Tertulis sebuah nama instansi pendidikan tergolong mahal. Mahal karena semua fasilitas serta sistem pendidikannya juga terkenal baik.“Attaqwa. Kamu sekolah disana?” Aku tersenyum melihat mantan suamiku sepertinya tidak percaya jika Ara bersekolah disana.“Iya, kenapa memangnya, Mas? Ada yang salah?” Aku melipat kedua tanganku di dada melihat wajah Mas Bagas yang terkejut.“Paling kamu minta keringanan, tidak mungkin kamu bisa menyekolahkan Ara di sana. Sekarang tinggal minta surat keterangan miskin bisa bersekolah dimana saja termasuk sekolah mahal pun!” Aku menggeleng pelan atas sikap mantan suamiku yang tidak terkendali dalam berucap. Aku maklumi, karena mertuaku juga gaya bicaranya sama dengan mantan suamiku.“Terserah kamu, Mas. Aku pergi dulu! Ayo, Ra!” Aku dan Ara memilih berlalu meninggalkan Mas Bagas dan memulai tujuan kami berbelanja.“Ma, mulut Papa kok tetep ember ya. Mirip sama Oma!” Tidak salah jika Ara bicara seperti itu. Bahkan setelah palu diketuk, Ara dimarahi habis-habisan sama neneknya tanpa sebab yang jelas. Setelah kejadian itu, aku memblokir semua nomor ponsel keluarga Mas Bagas tanpa terkecuali.Aku memilih beberapa cemilan untuk Ara sebagai bekalnya nanti di asrama, setelah selesai semua, kami segera membayar dan lagi-lagi kedua mataku mendadak jengah melihat tiga manusia ember di depanku.“Loh, Rista. Kamu ternyata belum berubah juga ya. Penampilan tetep kampungan juga!” Ingin rasanya aku sumpal mulutnya pakai kapas segede gaban. Sudah tua bukannya tobat, malah semakin ember.“Oh, Rista. Pantas saja Mas Bagas lebih memilihku daripada kamu. Habisnya kamu memang tidak bisa menjaga penampilan!” Kini kedua mataku beralih ke arah wanita seusiaku. Dia dulu sahabatku, namanya Dara. Setelah perceraianku, dia menikah dengan Mas Bagas. Itu pun aku dengar dari Ibuku yang mendapat undangan langsung dari Mas Bagas. Aku malas menanggapinya dan berlalu begitu saja. Aku biarkan dulu dia menghinaku habis-habisan karena setelah ini, mereka pasti akan tercengang dengan perubahanku.“Oma, penampilan Mama itu lebih baik daripada terbuka seperti tante ini. Ara malah seneng punya Mama yang menjaga auratnya. Ara saja ingin seperti Mama!” Aku meraih tangan Ara dan berlalu ke lantai dua untuk memeriksa restoran di sana. Aku membuka cabang di mall ini karena menurutku akan cukup menguntungkan.Aku duduk bersama Ara, karyawanku langsung menyuguhkan minuman untuk kami. Ternyata mereka juga datang ke restoran ini. Pasti mereka akan menghinaku dan Ara lagi.“Kamu ngapain makan disini. Restoran terbaik ini tidak cocok untukmu!” Dara melipat kedua tangannya di dadanya sembari menatap remeh ke arahku.“Memangnya tidak boleh makan di tempat seperti ini?” Sahutku sambil membenarkan hijab Ara yang miring sedikit.“Orang kampung tidak cocok makan disini!” imbuh mantan mertuaku.Tidak berapa lama, salah satu manajer datang membawa berkas untukku. Menurutku ini kebetulan sekali untuk membalas hinaan mereka.“Bu Rista. Semua laporan dua bulan sudah saya taruh di meja. Dan ini, dokumen perpanjangan sewa lokasi. Kita diberi harga khusus kalau mau perpanjang mulai sekarang!” Aku memeriksa berkas perpanjangan sewa lokasi.“Kenapa kamu memanggilnya seperti bos?” Dara sepertinya masih penasaran dengan karyawanku.Apa yang akan dikatakan karyawan itu?STEPHANIE’s POVI jumped on him,my straight long legs wrapped around his waist while my full soft breast rested on his rock hard chest.Oh! Richard was good with his tongue. His soothing touch managed to erase my anxiety in the twinkling of an eye. I was still wrapped Around his waist when he pinned me to the wall. His hands moved up and down my neck. It was barely two minutes but I could already feel myself getting wet. We moved away from the wall to his desk.Richard barely dropped me when I kissed him again. His soft lips were my favorite part of his body. I tightened my grip around his waist,making sure there was no escape. I began to unbutton his shirt without breaking the bond.His hands were moving all around my body. My soft buttock, my tiny waist, my full round breast which he kept on squeezing and pinching skillfully . When I had finished undressing him, he again raised me up and carried me to the couch at the side of his office. He placed me on the couch and shifted my sk
STEPHANIE’s POVTwenty hours had passed since the incident between me and Mr Richard. The blood in my veins was Turing cold. What if he had taken the video to Madam Chigi? What then?How was I going to prove myself innocent now that there was evidence that could be used against me ? I had so many questions.Throughout my entire stay in class, I struggled to swallow down a beating heart. When classes were over, I tried to avoid everyone including Stacy and her entourage who were patiently waiting for me to approach them but I simply took another path home.Forty Eight then Seventy two yet nothing. The fear of getting called out killed me faster than the guilt. It has been three days and I am yet to get any call from the principal.Mr Richard and I haven’t set eyes on each other in those three days as I always missed his classes intentionally.I came to the realization that Mr Richard didn’t tell the principal about what I had done. Maybe he accepted my offer? I was glad he did but what
RICHARD’s POVStephanie stood beside me. Her eyes were beautiful. Her full glossy lips, her glowing skin and the strawberry scent around her was just amazing.Yes she was my student. One of my favorites. Her innocence and charming personality was something I admire the most about her.“ You have been a really nice friend to me, I can thank you enough,” Her sweet voice echoed in my ear.I….emm I just thought I could come say thank you”. She moved her hands closer to mine.With every word Stephanie said, she moved a step closer to me.When I saw that she was almost a step away from where I was seated,I stood up.I had never seen Stephanie behaving In such a way. She was always that shy and innocent young woman but today……What are you doing ? I questioned her, still trying to be calm.What do you think I’m doing? She asked me ,holding unto my wrist and pulling herself closer to me. She leaned against the table while I stood in front of her.“It’s just me and you here, there is no need t
STEPHANIE’s POVI woke up to the first bang on my bedroom door.Stephanie! Stephanie! My mom called out my name. I woke up with teary eyes. The dark undereye I had was enough to let anyone know about my sleepless night. My face was swollen and my head was aching. After what Stacy did to me the previous day,I was bound to feel that way.“ I’m coming” I said softly searching for my slippers with my eyes half opened. I finally found it,walked up to the door and twisted the knob. My mother gave me no chance to let her in. She barged in herself.“What is the meaning of this?” She questioned me with an aggressive tone. Her tone immediately pulled me out of my sleep.“Mom?”“What is the meaning of this Stephanie?” She showed me her phone and behold it was the video Stacy and Daniella had recorded of me in the bathroom with the tag “Slut exposed by student for sleeping Around for grades.”My jaw dropped in disbelief. With quivering lips and teary eyes I stared at the phone. The worst kind of












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.