LOGINThe continent of Revera was once a place of peace and harmony. This large piece of land was inhabited by mystical creatures, large military bases, and tribes of mages and witches— a perfect combination of extraordinary people. Different races from different nations coexist and never touched each other’s lands. Not until, Kanzeri, a military-based country decided to broaden their empire as they tried to invade all the countries in Revera, including the Sky City where mystical creatures reside. A small country called Magnusville has been caught in the crossfire and now suffering great losses. The war among nations takes place here and it became a battleground bathed with blood of mystical creatures from Sky City, warriors from Kanzeri, and mages from other countries. Meanwhile, in order to save his beloved country, a young man named Reign Fernandes and his mates began to search for power— a power not given to a mere human; a power that could change the world for good. Can they stop the war among nations and save Magnusville from brewing destruction before it's too late?
View More"Ibu minta tolong untuk kali ini aja Oncom nurut ya sama kami. Ini semua buat kebaikan Oncom, biar ibu sama bapak juga tenang kalau sewaktu-waktu pergi ninggalin, Oncom. Ustadz Naufal pasti bisa menggantikan ibu sama bapak nantinya," bujuk Sutirah pada hari ini.
Oncom sudah mengetahui akan adanya hari ini, karena kedua orang tuanya sudah mengatakan dari beberapa tahun lalu tentang dia yang sudah dijodohkan sedari dulu. Namun, Oncom masih tidak percaya dengan laki-laki calon suaminya itu. Rasanya tidak mungkin dengan perbedaan mereka yang sangat jauh bagaikan langit dan bumi. Bukan tentang harta, tapi lebih pada akhlak yang bagaikan cerminan antara surga dan neraka. Di mana laki-laki yang katanya calon suaminya itu cerminan surga, sedangkan dia sendiri bagaikan cerminan neraka.
Naufal nama laki-laki yang akan dijodohkan dengan Oncom. Anak seorang pemilik pondok pesantren yang ada di daerahnya. Seorang ustadz muda yang baru dua bulan lalu kembali dari menuntut ilmu. Oncom belum pernah melihatnya kembali setelah lulus sekolah dulu. Namun, ia sangat yakin tentang perbedaan mereka yang sangat jauh.
Seorang ustadz muda sudah pasti kalem berwajah adem dengan sopan santun yang sangat tinggi. Sedangkan Oncom dengan gaya berantakan dan apa adanya tanpa pakaian yang menutupi aurat sudah pasti menjadi bahan perbandingan masyarakat luas. Membayangkannya saja Oncom sudah merasa konyol dan untuk pertama kalinya ia memikirkan bagaimana omongan orang lain nanti.
"Bukan gitu, Bu. Cuma gini, apa ibu sama bapak terlebih keluarga Abah Yai enggak mikirin gimana perasaan ustadz Naufal? Enggak mikirin omongan masyarakat. Oncom cuma kasian sama ustadz itu kalau harus nikah sama Oncom. Oncom sih alhamdulillah dapetin suami yang kata orang spek surga. Nah ustadz Naufal yang istighfar nantinya kalau dapetin, Oncom. Jadi daripada malu nantinya mendingan enggak usah maksain. Lagian ibu sama bapak kayak udah tahu aja kapan mau ninggalin, Oncom."
Oncom menjabarkan apa yang ia pikirkan jika perjodohan itu benar-benar terjadi. Hidupnya memang berantakan dengan daya pikir yang terbilang lemah, dan ia tidak ingin mengajak orang lain untuk menemani hidup yang tidak terarah ini. Apalagi Naufal seorang ustadz yang kelak akan meneruskan kepimpinan pondok pesantren yang lumayan besar itu. Dan bukankan seharusnya seorang ustadz bersanding dengan seorang Ning dari kalangan pondok juga.
Oncom hanya takut perjodohan ini atas unsur politik, di mana bapak mantan Lurah Sukira yang akan maju sebagai calon anggota legislatif untuk daerah pilihan satu dan menekan Abah Yai agar mau menjodohkan Naufal dengannya. Pikiran Oncom sudah terlalu jauh jika hal itu memang benar-benar terjadi. Oncom takut rumah tangganya nanti seperti cerita pada novel-novel perjodohan karena terpaksa. Bagus jika berujung cinta tapi jika sebaliknya? Oncom tidak mau menjadi janda muda. Ia lebih memilih menjadi perawan tua dibandingkan harus menjadi janda muda.
"Kita emang enggak pernah tahu kapan Allah akan mengambil nyawa, tapi sebagai manusia kita wajib berikhtiar bukan? Lagipula umur Oncom udah dua puluh delapan, kapan mau ngasih cucu buat ibu? Gita aja udah punya Juragan ganteng," rayu ibu Sutirah dengan membawa nama sahabatnya.
"Ya mangkanya jangan suka ngomong mau ninggalin, Oncom. Satu pertanyaan Oncom, ini enggak ada kaitannya sama politik, 'kan?"
"Maksudnya?"
"Gini, Bu. Bapak 'kan mau nyalon DPRD nih, jangan-jangan bapak neken Abah Yai lagi buat jodohin Oncom sama anaknya, supaya Abah dapet suara banyak." Bukannya menjawab ibu justru tertawa dengan penjelasan ku.
"Enggak ada hubungannya, Sayang. Kalau misalnya bapak pengen dapetin suara banyak dari landasan Abah Yai yang ada bapak harus baik-baikin, bukan justru maksa Abah Yai buat jodohin kamu sama ustadz Naufal. Oncom 'kan tau sendiri bapak berani nyalon juga atas dukungan abah Yai sama Oncom. Kalau enggak di dukung kalian berdua bapak enggak mungkin maju, 'kan?"
Oncom berpikir sejenak dan membenarkan penjelasan ibunya. Memang otaknya tidak sampai untuk hal-hal yang menurutnya berat.
"Ya udah terserah kalian aja. Asal ntar malem Oncom mau ngomong itu sama si Ustadz, mau nanya emang dia beneran mau nikah sama Oncom. Sekarang ibu keluar aja Oncom mau tidur."
"Nanti kamu kabur."
"Ya Allah, Oncom mau kabur lewat mana coba? Jendela semua di tralis, pintu dikunci dari luar."
"Oke, tapi janji ya jangan kabur? Ibu mohon buat kali ini." Seketika ia merasa jahat karena membuat ibunya harus memohon seperti itu.
"Janji calon ibu Dewan."
Setelah itu Sutirah ke luar dan sepertinya mengunci pintu dari luar, mungkin takut ia kabur. Padahal Oncom sudah mengatakan iya yang artinya dia menerima dengan tidak akan melakukan hal yang membuat mereka malu.
Untuk menghilangkan rasa bosan yang mulai melanda Oncom mulai menyalakan handphone. Membuka aplikasi pemutar musik untuk menenangkan pikiran yang sejujurnya kacau.
Mungkin sekarang Oncom mulai pada tahap lelah menjalani hidup dan pasrah akan perjodohan yang sudah ditentukan. Sejak kembali ke kampung halaman hidupnya pun kembali pada kehampaan. Tidak ada teman berkeluh kesah, tidak ada teman untuk melakukan hal-hal menyenangkan, karena mereka semua yang mendekati hanyalah bentuk hormat pada orang tuanya, baik itu laki-laki maupun perempuan. Jika saja ia dari keluarga biasa sudah pasti akan selalu mendapatkan hinaan selama hidup.
Matanya hampir tertutup karena alunan musik dan juga rasa bosan. Namun, harus ia batalkan karena dering panggilan telepon dari salah satu sahabat gilanya yang bermata sipit. Seorang laki-laki keturunan Tionghoa yang tidak pernah malu menunjukkan kasih sayangnya di manapun pada Oncom. Namanya Kent, dia sering mengatakan jika Oncom Selir kesayangannya. Karena posisi ratu tetap pada Gita, sahabatnya juga.
Pertemanan mereka memang aneh, Oncom, Gita dan enam laki-laki dengan fisik dan materi nyaris sempurna yang mereka sebut anak Onta. Anak Onta yang menganggap mereka raja dengan satu ratu bernama Anggita Purnama. Sedangkan ia hanyalah selir untuk lima raja. Karena Andra tidak mau memiliki selir katanya.
Namun, walaupun posisinya hanya sebagai selir, perlakuan mereka tetap sama tanpa pernah membedakan antara dia dan Gita. Hal yang membuatnya merasa diterima atas semua kekurangan.
"Assalamu'alaikum. Selamat siang, Sayang."
Untung saja hatinya sekuat baja, jadi Oncom tidak kayang atas perlakuan satu rajanya itu. Laki-laki bermata sipit yang akan membuat perempuan melayang akan kelembutan sikapnya. Kenneth Arial Rasyad, pewaris dari Arial Life & Tools, perusahaan yang bergerak untuk bidang teknik dan pertukangan. Perusahaan yang berpusat di negeri sakura dengan anak cabang lebih dari dua puluh diberbagai negara.
"Alaika salam. Hati Oncom lemah, Ko. Tolong jangan terus dibombardir pake kata, Sayang. Oncom takut epilepsi kalo terus-terusan di sayang." Kent tertawa mendengar balasannya, tawa yang membuat matanya semakin tertutup.
"Selirnya Koko lagi apa?"
Ah sudahlah, jika ia tidak menggembok hati dengan kunci ganda sudah pasti Oncom akan terbang akan kelembutan sikap Kent.
"Lagi galau."
"Mau dikawinin ya?" ledek Kent tepat sasaran.
Gita pasti sudah memberitahu anak Onta tentang kabar perjodohannya.
"Iya, tolong bawa kabur Oncom dong, Ko. Oncom enggak mau ini sebenernya," pintanya dengan candaan.
"Yakin? Ntar di bawa kabur nangis pengen pulang," balas Kent membuat mereka sama-sama tertawa.
"Ah Koko mah! Oncom nangis beneran nih," rengek Oncom dengan manja.
Hanya pada Kent memang Oncom sangat manja, karena di antara anak Onta yang lain Kent lah yang paling memanjakannya.
Obrolan berlanjut hingga tanpa sadar Oncom terlelap dengan telpon yang masih terhubung. Kent yang melihat itu tersenyum dan membiarkan layar handphonenya penuh dengan wajah Oncom, dan harus ia akhirnya saat akan menghadiri meeting.
***
Suasana rumah cukup ramai malam ini, apalagi saat keluarga Ustadz Naufal datang dengan rombongannya. Bukan Oncom yang terlihat gelisah tetapi ibu Sutirah yang merasakan itu membuat Oncom tertawa pelan. Penampilan Oncom malam ini tertutup dan sebenarnya ia merasa gugup, tapi tetap bersikap santai seperti biasanya. Selain Gita dan anak Onta tidak akan ada yang tahu saat Oncom gugup."Ibu keluar duluan ya mau nyambut keluarga abah, Yai. Nanti ibu kesini lagi kalau bapak udah nyuruh kamu keluar," pesan Ibu Sutirah sebelum keluar dari kamar Oncom.
Kamarnya cukup jauh dari ruang tamu, sehingga Oncom tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Tidak ada yang menemaninya di dalam kamar itu karena ia memang tidak memiliki teman dekat di kampungnya. Oncom memiliki dua orang kakak perempuan, yang sayangnya tidak pernah menginginkan kehadirannya. Mereka menganggap Oncom hanyalah aib keluarga sehingga malu untuk mengakui Oncom sebagai adik mereka. Saat ini pun mereka tidak datang bahkan hanya untuk mengucapkan kata selamat. Dan Oncom tidak memperdulikan itu, bahkan Oncom memang meminta pada bapak dan ibunya untuk tidak mengizinkan mereka hadir pada malam ini.
ReignI put on my gears and wasted not a second and turned my engine on. I don’t want these scums to escape without me knowing where they are stationed in my city. I was about to follow them but Jon grabbed my arm.“Let’s wait a few minutes. I threw a tracker at the mecha. Don’t be impulsive, we might die there if we are not careful. They might lead us to a trap if we followed them now. Think, Reign!”For a moment, I was stunned at what I heard. The bookish dude actually said something with complete sense and understandable sentences. I mean, he got a point. I should not underestimate these people as they can manipulate my surroundings and such, also I am f*cked. I can barely stand now as the effects of my power surge cut short after I put my bracelet back on. But what should we do if those were true? I don’t have any guns with me, nor fired one. We have no such things as war gears, we
Reign After a few minutes, Mom called me. I immediately took my phone out to answer her call, and boy she sounds so worried. “Hey, Mom! Are you well? Where are you?” I asked like there was no tomorrow. “Honey, I am fine. You? How about you? Caelin? Are you all safe?” I can hear her voice tremble and how worried she is. “Of course we’re safe! We’re your kids after all. You wanna talk to Ashton? He’s here.” I didn’t even waited for her reply and gave the phone to my brother, which made him surprise for no apparent reason.“Uhm… hi, Mom. It’s me,” Ashton said, putting it on speaker mode. “Sweetheart! Oh my good lord, I am glad you are safe! I am very glad all of you are safe. I don’t want to lose anyone of you, you all are my precious treasures, you hear me? I love you all! I will be home with your grandfather, okay? I need to go. I love you. Tell Caelin that I
Reign Yrven As people tend to be gossiping about others instead of minding their own business, especially those really loud women, I got scolded. One of our neighbor’s daughter—which is also my classmate— have spoken ill of me while I was not home. And my grandfather who is known for his strict ways came to scold me, smacked my head, and prepared food and said good job. But he still scolded me and thanked god I had the bracelet or else I will be sleeping inside the friggin’ prison for years.Sometimes I think gramps has some loosed screws because… well, he can be serious and goofy at the same time. Like me. And I have a whole set of screws loosed so basically I am not even taking anything seriously unless necessary. “`Yrven, the guardian department asked for my assistance today. I need you to stay here, as I am expected to be home late.” Gramps then handed me a few bills. When I say few, like a hundred bucks few. That’s what few is to him.“Can I ask my friends to come here then, Gr
Reign Yrven The nights are hot, flames engulfed the city and only ruins, ashes, and screaming people are to be seen outside. But after a while, it became silent. The screaming, the people, gone. I have to peek from this wall that I am hiding, realizing that I have been alone all these time. I pull my gun out, making sure I have enough bullets to survive this day. My comrades, they got separated from me and I ain’t sure where the hell I should be going. “The time has come for you to die, guardian.” A voice called out to me from behind as I hear a gun cocks and swords being taken out from their scabbards. “If you had surrendered, you might still live. But you did not. And that’s why you need to die now!” I slowly turned around to see who these motherf*ckers are. And it’s them! These military bastards! War is your truest intent
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore