LOGINThe Vagabond Pack was destined to protect, be mate-less, and be unaffected by the heating season. When Alpha Ciandra's period arrived, she left immediately, leaving behind the pack under her beta's leadership. Aware of the cruelty of the alpha she was fated to protect, she was confident she would manage, after all, she was strong and focused, little did she know she was walking into forever damnation. With his cruel, noxious, and possessive traits, he needed a strong warrior to guard him and not some feeble wolf who would crumble under his command. Alpha Alphonso got more though, a second chance mate, and hell, he couldn’t miss the opportunity of turning her into a mere wolf by defiling her against her wish. Once the elders learned of their ‘relationship’, Alpha Alphonso blamed and rejected her. The elders cast her out, turning the once great Alpha Ciandra into a broken wolf. With her previous pack shunning her, she fled only to be captured by Alpha Alphonso's men and went through hell inside the Dark Shadow Pack. Once she managed to escape, she promised herself to return to avenge herself and make everyone pay, even the moon goddess who betrayed her by giving her a mate she never asked for. She was going to, no matter what it took.
View MoreTiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.
Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa.
"Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Sayang," kata Roman suatu malam, sambil mengusap rambut Sabiya yang hitam pekat.
"Mereka tidak segan menculik orang yang kucintai. Aku tidak bisa mengambil risiko kehilanganmu."
Sabiya hanya mengangguk patuh, karena ia tak mampu menjawab dengan suara.
Roman selalu menjaganya. Memberinya rumah megah di pinggiran kota yang tenang, dikelilingi taman mawar yang Roman tanam sendiri.
Sang suami membelikannya gaun-gaun mahal, perhiasan, dan mobil mewah meski Sabiya tak pernah memintanya. Bahkan seluruh keluarga tahu betapa Roman memanjakannya.
Sabiya tidak pernah merasa kurang. Ia adalah gadis bisu yang beruntung karena dicintai pria sehebat Roman.
Namun, malam ini, Sabiya melanggar kepatuhannya untuk pertama kali. Ia ingin memberikan kejutan pada suaminya, di perayaan pengangkatan Roman sebagai pemimpin tertinggi keluarga Valeriano.
Sambil memegang kotak beludru berisi pin platina dengan ukiran nama Roman, Sabiya melangkah menyusuri koridor Hotel Victoria.
Dengan wajah yang tersamar di balik syal sutra dan topi hitam, Sabiya memilih memutari hotel menuju pintu belakang. Ia sengaja menghindari anak buah Roman yang berjaga di sekitar lobi utama.
Sambil berjalan cepat, Sabiya merasakan jantungnya berdebar kencang. Bukan hanya karena ia melanggar perintah untuk tetap diam di rumah, tetapi karena ia membawa hadiah yang jauh lebih besar dari sekadar perhiasan.
Setahun terakhir, Sabiya menjalani terapi wicara yang menyiksa secara diam-diam.
Dokter Evelyn, seorang spesialis terapi langka di kota Aldena, terkejut saat Sabiya menuliskan permintaannya.
"Anda ingin mencoba terapi pita suara? Tapi, prosesnya akan sangat menyakitkan."
Sabiya menulis : “Saya tidak peduli. Saya ingin suami saya mendengar suara saya.”
Akhirnya, dimulailah ritual bulanan yang mengerikan. Dokter Evelyn menyuntikkan cairan kortikosteroid langsung ke pita suara Sabiya, menimbulkan rasa terbakar yang menjalar dari tenggorokan hingga ke dada.
Ada kalanya Sabiya muntah-muntah di kamar mandi, menahan tangis agar asisten rumah tangga tidak mendengar. Terkadang, ia bahkan tidak dapat menelan apa pun selain bubur dan air hangat.
Meski begitu Sabiya tetap bertahan. Setiap kali rasa sakit itu datang, ia membayangkan wajah Roman saat pertama kali mendengar suaranya. Ia yakin sang suami akan terkejut, lalu memeluknya penuh rasa haru.
Malam ini, Sabiya akhirnya bisa mengeluarkan suaranya yang telah mati selama lima belas tahun, sebagai persembahan cinta untuk Roman.
Tanpa pikir panjang, gadis itu berjalan menuju ruang private party yang terletak di lantai paling atas. Sabiya cukup mengenali seluk-beluk Hotel Victoria, karena ia dan Roman pernah merayakan ulang tahun pernikahan di sini.
Sabiya tahu di area private party, Roman tidak mengizinkan anak buahnya berkeliaran. Meski begitu, tangan kanannya tetap meremas kotak hadiah dengan gugup,
Setelah menyusuri koridor yang sepi, Sabiya akhirnya tiba di ambang pintu ruang pesta. Namun, langkahnya terhenti sejenak.
Khawatir kehadirannya akan mengganggu, Sabiya memutuskan untuk mengintip lebih dulu melalui kaca kecil yang terletak di atas pintu.
Sedikit berjinjit, ia melayangkan pandangan ke dalam ruangan.
Mata Sabiya langsung tertuju pada sosok Roman yang menjadi pusat perhatian. Namun, suaminya itu tidak duduk sendirian sebagai pemilik pesta.
Di samping Roman, ada seorang wanita cantik yang menempati kursi kehormatan. Wanita itu mengenakan gaun merah marun yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sempurna.
Sabiya sempat menarik napas.
Ah, Roman mengajak Clara lagi. Wajar saja, sebab kakak tirinya itu masih berduka usai kehilangan suaminya enam bulan lalu. Roman hanya ingin menghiburnya.
Selain itu, Clara juga bekerja sebagai karyawan baru di Valeriano Corp. Tidak ada yang aneh bila dia ikut serta dalam pesta ini.
Sabiya sudah hampir mendorong pintu untuk memberi kejutan. Ia ingin Roman melihatnya di sini, melihat betapa ia berusaha keras untuk hadir di momen penting sang suami.
Akan tetapi, percakapan yang ia dengar dari dalam ruangan, membuat Sabiya membeku di tempat.
"Bersulang untuk Roman dan Clara! Pasangan paling serasi di kota Aldena!" seru Marco, rekan bisnis sekaligus teman baik Roman. “Sepertinya, takdir memang berpihak pada kalian."
Tawa riuh langsung memenuhi ruangan. Clara hanya tersenyum malu-malu, tanpa ada nada bantahan.
"Jangan bicara begitu," ucapnya lembut sambil melirik Roman, "Bagaimanapun, Roman ini adik iparku. Dia masih menikah dengan adikku, Sabiya."
"Ayolah, Clara! Untuk apa kalian membohongi diri lagi?" sela Dimitri, sahabat Roman sejak kecil. Ia menepuk bahu Roman penuh semangat.
"Jangan membuat diri kalian menderita hanya karena wanita seperti Sabiya. Kau pantas bahagia, Roman."
Ruangan menjadi hening sejenak. Roman menggenggam gelas wine-nya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Lutut Sabiya mendadak terasa goyah. Apa maksud perkataan teman-teman Roman itu?
"Benar," timpal Diana, adik sepupu Roman yang sejak dulu selalu bersikap sinis padanya.
"Kak Clara, kau tahu kenapa Roman tidak pernah mengajak adikmu ke pesta? Bukan karena dia bisu, tapi Roman tidak ingin orang-orang tahu kalau Sabiya adalah Nyonya Valeriano."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Sabiya. Ucapan Diana kali ini telah menghantamnya seperti pukulan telak di ulu hati.
"Sampai sekarang Roman juga tidak punya anak dengan Sabiya.” Diana melanjutkan dengan nada mengejek. "Itu karena dia selalu setia padamu, Kak Clara. Roman cinta mati padamu."
Clara tampak terkejut, matanya berkaca-kaca menatap Roman. "Roman, benarkah itu?"
Marco langsung menimpali sebelum Roman sempat menjawab. "Clara, kami akan memberitahumu sebuah rahasia besar. Roman menikahi Sabiya hanya agar dia bisa dekat denganmu.”
Beberapa teman Roman mengangguk bersamaan sebagai tanda persetujuan mutlak.
"Pengorbanan Roman selama tiga tahun ini sangat banyak. Sudah saatnya kalian berdua bersatu."
Saat itu juga, rongga dada Sabiya terasa sesak. Seluruh tubuhnya menggigil, meski udara di luar tidak terlalu dingin.
Ingatan demi ingatan berhamburan di kepalanya bagaikan serpihan kaca yang retak.
Setiap senyum Roman, setiap pelukan hangat di malam hari, setiap kali ia mengatakan "Aku mencintaimu", apakah semua itu hanya bagian dari sandiwara?
Di balik pintu, Sabiya masih menunggu Roman membela dirinya. Ia menunggu Roman mengatakan bahwa semua itu bohong.
Namun, suaminya hanya terdiam, membiarkan setiap kata hinaan itu menguliti harga dirinya di depan semua orang.
Roman justru menikmati setiap detik di mana ia menjadi bahan tertawaan dan olok-olok di antara teman-temannya.
The nights and the days lengthened. The nightmares came in full force. Every night, she woke up screaming bloody murder, as much as she hated it, it bridged the gap between her mother, the woman she never knew. Unfortunately, she didn’t like the relationship as she was selling it to everyone else in the pack. Alpha Ciandra couldn’t help but remember the son she had abandoned. Apart from Alpha Hunter and Felicia, no one else knew she bore a child at the lands of the human. They had agreed to keep it a secret after Alpha Ciandra told Alpha Hunter she didn’t want her son to know the supernatural existed until he became of the age of transformation. Until then, Alpha Ciandra wanted Hilla to enjoy his life with Mart Stone. Living and having fun like everybody else. The idea of Hilla being here made her shudder. “Alpha Ciandra, let us check out the borders,” Avery said from outside her bedroom. “Coming.” She replied. They got closer after Avery promised to work on making Ciandra for
“I, Alpha Ciandra of the Vagabond Pack strip you, Beta Garrick, your powers as the beta. I denounce you as both the beta and member of the pack.” Alpha Ciandra said, smirking on her face. Felicia took his wolf and cursed him to never be accepted in any pack. As extreme as it was, Ciandra didn’t care. She dragged him outside and said, “An eye for an eye. Don’t show your face here.” “Two down, one to go.” Alpha Ciandra whispered while walking away from a broken Garrick, begging for Ciandra to give him one more chance. What he received was fair, right? For a best friend who betrayed her, she did it right. Another week ended, and the news was still circulating but Alpha Ciandra hadn’t been seen by anyone. She was inside the Vagabond Pack, tending to her father. And for the first time, her and Felicia’s relationship strengthened. She released the warriors but not without a clear warning that they would be shot dead if they dared look at her in the wrong way or even think of running aw
The news of the attack on the Vagabond Pack spread like wildfire. The return of the outcast alpha was the talk of the packs.Alpha Ciandra was back, and she was out for blood.With no news from Beta Pierre or Garrick, Alpha Alphonso knew Alpha Ciandra was coming for him with all she got. But until then, he planned on putting up a tough front that he wasn’t scared of. That he still had the power over the broken alpha. Did he?He said to Avery, “let us attack her before she attacks us.” Avery huffed, “Let me meet up with her and try talking to her, for a truce, an apology from you of course, offer her a few packs.”Alphonso was staring at Avery as if she had lost her damn mind. They all knew Alpha Ciandra wouldn’t care about that. “Plan the attack, Avery.” He ordered. “Let us not think irrationally. Alpha Ciandra is a good alpha. You destroyed her, remember? For all, we know she can be suffering from amnesia from all the beatings she got from you, asshole. So, go back to your safet
Come rain, come sunshine, Alpha Hunter couldn’t help Beta Garrick. For all he cared, the pack could burn in hell. Why would he assist the same pack that abandoned his daughter without a second thought?Everyone stood by as Beta Garrick shunned her.No one asked her if what Alpha Alphonso said was true. No one wanted to hear the side of her story and watched as she was turned into nothing but a mere wolf on the brink of death. It had been more than one year and no one has heard about her. And since she was a powerful alpha who had fallen because she couldn’t close her legs, thus breaking the rules, her name was now known by everyone, everywhere. The old, the young, and the pups.Alpha Hunter was a hundred percent sure his daughter was long gone. And if it wasn’t for the fact that the tiny room he was in had nothing he could use to end his own life, he would have died long ago.How cruel of Garrick to ask him for help when he has been starving him?Alpha Hunter by now was used to Garri
The human city was not as she had imagined. It was something more. Something better.Alpha Ciandra loved this life more than anything. If anyone had told her this the day she left for the Dark Shadow Pack for her duty, she would have said, “are you crazy? I was born to protect. To fight, and to care
The unknown was beginning to get clearer now, she finally decided where she would stay until a shining armor would come searching for her rescue. And by shining armor, it was no one other than her father. Alpha Ciandra knew she was lying to herself but didn’t mind at all. It was far better thinking
All Alpha Ciandra was seeing now was Beta Garrick’s mouth moving; she was trying as much as possible to understand what he was saying but got lost. All she remained to do was watch his lips moving side to side. What was he saying? She wondered. It had been an hour, never in her life had she seen Bet
Staring at her gorgeous face, listening to her snores, he could tell she was tired. Even in her sleep, she looked as though she was fighting lots and lots of demons. Alpha Ciandra has slept for five hours straight and from the looks of things, if Beta Garrick didn’t wake her up, she would sleep for






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore