Share

Salah Paham

"Non Bella selama ini kemana aja?"

Selama di perjalanan, wanita yang mengaku bernama Mbok Minten itu terus memegangi tanganku sembari terus menanyakan hal yang sama. Sementara aku terus menoleh kanan kiri, memastikan taksi yang kami naiki telah melaju jauh meninggalkan restoran tempat Bu Linda berada.

"Bu atau Mbok, sebenarnya saya bukan Bella, jadi saya mau turun aja di sini."

Setelah menyadari bahwa kami telah melaju sangat jauh, aku memutuskan untuk keluar dari taksi ini.

"Non jangan seperti itu, Non. Kita harus pulang ke rumah keluarga suami Non. Den Leo pasti akan senang dengan kedatangan Non."

"Leo siapa?"

"Anaknya Non Bella."

"Anak?"

"Oalah, sepertinya Non mengalami hilang ingatan," ujarnya sembari menatapku dengan tatapan pilu.

"Em...tapi..."

"Non tenang aja, nanti simbok akan bantu Non Bella untuk mengingat semuanya."

"Tapi saya bukan Bella."

"Kamu itu Bella, nama suami kamu Mas Gio."

Kepalaku pusing saat mendengar ucapan Mbok Minten, mataku seketika berkunang-kunang, lalu semuanya serasa berputar-putar. Maka kuputuskan untuk diam dan mengikutinya. Lalu tidak lama setelah itu, taksi yang kami naiki melaju menuju sebuah gerbang yang menjulang tinggi. Kulihat seorang satpam menghampiri kami.

"Ayo kita turun!" ajak Mbok Minten setelah membayar ongkos taksi tersebut.

"T--tapi.."

"Ayo Non Bella, jangan takut, ini rumah Non juga."

Aku menghela napas, lalu akhirnya turun dari taksi.

"Astaga, Non Bella." Satpam itu tampak terkejut saat melihatku hingga mulutnya tak berhenti menganga.

"Udah, tutup tuh mulut, nanti cicak masuk, loh, bawain tuh koper Non Bella," ujar Mbok Minten hingga membuat satpam tersebut menutup mulutnya yang sejak tadi menganga, lalu segera meraih koper dariku.

Rasanya aku tak bisa lagi menjelaskan pada mereka, bahwa aku ini bukanlah Bella. Maka akhirnya aku terpaksa mengikuti Mbok Minten berjalan menuju sebuah rumah yang besar dan megah. Rumah itu lebih pantas disebut istana, karena tampak sangat besar dan megah.

Setibanya di dalam rumah, aku dipersilakan duduk di sebuah ruangan yang tampaknya ruang tamu, sementara Mbok Minten langsung masuk dan meninggalkanku.

"Bella, akhirnya kamu kembali juga." Seorang lelaki yang rambutnya telah memutih sebagian langsung menyambut hangat kedatanganku.

Sementara di belakang lelaki itu, kulihat seorang wanita paruh baya bersama wanita yang rambutnya telah memutih sebagian. Kedua wanita itu menatapku dengan tatapan dingin, seolah tak menyukai kedatanganku.

"Mamaaaaaaa!" teriak seorang anak lelaki yang tampaknya berusia 4 tahun sembari berlari ke arahku.

Anak lelaki yang wajahnya begitu tampan dan menggemaskan itu langsung memelukku dengan erat lalu menatapku dengan berkaca-kaca.

"Ma, jangan tinggalkan Leo lagi," ujarnya hingga membuatku semakin bingung.

Lalu tidak lama kemudian muncul seorang lelaki tampan bersama seorang wanita yang tampaknya seusia denganku.

"Selamat datang kembali di rumah ini, Bella, aku sangat senang akhirnya kamu pulang." Wanita itu menyambut hangat kedatanganku.

"Sepertinya kalian semua salah orang, saya bukan Bella."

"Saya bertemu dengan Non Bella di terminal, tapi sepertinya dia hilang ingatan," ujar Mbok Minten.

"Bella, saya adalah Opa William, sahabat kakek kamu. Ini Oma Sandra, Mama Clara, lalu itu Gio suamimu." Lelaki yang tampaknya berusia 70 tahun itu mengenalkan semua anggota keluarga ini satu persatu.

"Dia suamiku?" Aku menunjuk lelaki tampan yang sejak tadi menatapku dengan tatapan dingin.

"Iya, dia Gio, apa kamu tidak ingat dengan suamimu sendiri?"

Sejak tadi hanya lelaki yang bernama Opa William saja yang terus berbicara dan menyambutku dengan hangat, sementara yang lainnya hanya diam dengan tatapan dingin.

"Lalu dia siapa?" Aku menoleh ke arah seorang wanita cantik yang sejak tadi berdiri di samping Gio, wanita itu tersenyum hangat ke arahku, tampaknya ia memiliki kedekatan dengan wanita bernama Bella yang kemungkinan wajahnya mirip denganku.

"Bella, aku Vilia, aku istri kedua Gio, apakah kamu lupa padaku?" Ia menggenggam tanganku, lalu tersenyum hangat seolah ia dan Bella memiliki hubungan yang sangat baik.

"Sebenarnya dari mana saja kamu selama ini? Sadarkah kamu jika kepergianmu membuat Leo sempat di rawat di rumah sakit karena demam, ia terus memanggil namamu dan tak mau makan," ucap wanita yang kemungkinan adalah istrinya Opa Wiliam.

"Tapi aku bukan Bella."

"Bella, sepertinya kamu masih capek dan butuh istirahat, Gio bawa istrimu ke kamar," ujar Opa William.

Lelaki yang wajahnya mirip Justin Bieber itu menatapku lama, entah apa ia pikirkan.

"Ayo kita ke kamar," ajaknya sembari meraih tanganku.

"Tapi aku bukan Bella." Aku memghempaskan tangannya.

Tiba-tiba ia menggendong tubuhku hingga membuatku terkejut.

"Lepas!" Aku mencoba berontak dan memukuli dadanya.

Namun, ia tak memerdulikan teriakanku, ia tetap berjalan menaiki tangga sembari menggendong tubuhku, hingga tidak lama kemudian, kami tiba di sebuah kamar yang sangat luas. Kamar ini seukuran kamar majikanku saat manjadi TKW di Arab.

Setibanya di sebuah kamar yang begitu luas, ia menurunkan tubuhku di tempat tidur, lalu kembali menatapku.

"Aku harus pergi dari rumah ini, karena aku bukan Bella."

"Bella, maaf jika selama ini aku memiliki banyak kesalahan padamu, tapi aku mohon jangan lagi pergi dari rumah ini." Ia memelas.

"Bukankah kamu telah memiliki istri muda yang begitu cantik, jadi kamu tak perlu menahanku untuk berada di rumah ini."

"Tapi Leo sangat membutuhkanmu."

Leo, saat mendengar nama itu entah mengapa hatiku terasa bergetar. Wajah lugu anak lelaki berusia 4 tahun yang tadi menyebutku Mama tiba-tiba membuat perasaanku tak karuan. Lalu tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Lelaki berhidung mancung itu langsung berjalan menuju pintu, lalu tidak lama kemudian terdengar suara anak laki-laki yang baru saja mengganggu pikiranku. Ia datang bersama Mbok Minten.

"Mama, Leo kangen banget sama Mama." Ia langsung memghambur ke pelukanku.

"Tapi Mama harus istirahat dulu," ujar Gio sembari membelai lembut rambutnya.

"Gak apa-apa, aku ingin bersama Leo dan Mbok Minten, kamu pergi saja," ujarku.

"Baiklah, aku akan pergi, nanti kalau butuh apapun bilang saja sama Mbok Minten. Kamu pasti tak lupa, kan, pada orang yang telah mengasuhmu dari kecil?" tanyanya sembari melirik wanita paruh baya yang telah membawaku ke rumah ini.

"I..iya." Aku mengangguk.

Setelah itu Gio pergi, sementara Leo langsung berbaring di pahaku.

"Mama jangan lagi meninggalkan Leo, ya."

"Iya, Sayang, mama janji."

Entah mengapa kalimat tersebut meluncur secara spontan dari mulutku, rasanya aku tak bisa menolak permintaannya, meskipun suatu hari aku pasti mendapatkan masalah ketika Bella yang asli kembali ke rumah ini.

"Mbok akan membantu Non Bella untuk mengingat semuanya, kasihan sekali nasibmu, Non, apa yang terjadi padamu hingga kamu lupa dengan semua orang," ucap Mbok Minten sembari menatapku dengan tatapan nanar.

Aku tak menanggapi ucapannya, karena pikiranku terfokus pada sebuah foto sepasang pengantin berukuran besar yang terpajang di dinding kamar ini. Di foto itu tampak Gio bersama seorang wanita yang wajahnya sama persis denganku. Sepertinya dia Bella, pantas saja semua orang menyangka bahwa aku adalah Bella, karena wajah kami sangat mirip bak pinang dibelah dua. Namun, mengapa bisa ada seseorang yang wajahnya bisa sama persis denganku?

Bersambung

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status