Share

668.

Author: Lil Seven
last update publish date: 2026-06-02 22:46:29

Pagi berikutnya, sinar matahari menyusup melalui tirai apartemen Hana. Tubuh mereka masih saling menempel di tempat tidur yang berantakan. Aresh terbangun lebih dulu, menatap Hana yang tidur pulas dengan wajah lelah tapi puas. Bekas ciuman merah dan tamparan samar masih terlihat di kulit putihnya. Vagina Hana yang masih sedikit bengkak terlihat saat selimut melorot.

Penyesalan kembali menyergap Aresh, tapi kali ini bercampur dengan rasa posesif yang kuat. Ia mencium kening Hana pelan sebelum
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   697.

    Konvoi tiga SUV antipeluru itu membelah jalanan pesisir yang sunyi, meninggalkan Pelabuhan Lama dan segala kengeriannya di belakang. Di dalam kabin penumpang yang kedap suara, suasana terasa begitu kontras dengan kebrutalan setengah jam yang lalu. Alunan musik *jazz* klasik mengalun pelan dari sistem audio premium, berbaur dengan denting es batu di dalam gelas kristal. Nathan bersandar dengan santai di jok kulit *Nappa* berwarna krem. Ia memutar gelas berisi *Bourbon* perlahan, menikmati aroma *oak* dan karamel sebelum menyodorkannya ke bibir Nadine. Wanita itu menyesap cairan amber tersebut, membiarkan sensasi hangat membakar kerongkongannya. Ia telah membuang jaket kulitnya, menyisakan *tank top* hitam ketat yang kini mengekspos memar ungu kemerahan di bahu kirinya—sisa benturan saat ia menghindari tembakan Adrian. "Tato alamimu bertambah malam ini, Sayang," gumam Nathan, ibu jarinya mengusap lembut tepi memar itu. Alih-alih meringis, Nadine justru menyandarkan kepalanya ke ceru

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   696.

    Dengan dahi berkerut dan kewaspadaan yang memuncak, Adrian membuka sampul kulit buku tersebut menggunakan satu tangannya yang bebas. Matanya membelalak seketika, napasnya tercekat di tenggorokan. Di halaman pertama buku itu, tidak ada daftar nama politisi korup atau deretan sandi rekening bank Swiss rahasia milik mendiang ibu Nadine. Hanya ada sebuah cip pelacak GPS berkedip biru yang tertanam rapi di balik potongan kertas, dihiasi tulisan tangan Nadine menggunakan tinta merah darah: *Gotcha.* "Saat kelompok bayaranmu membobol brankas Aaron Corp, mereka tidak mencuri Buku Hitam ibuku. Mereka mencuri umpan busuk yang sengaja kusiapkan selama tiga tahun untuk memancingmu keluar dari lubang tikusmu," desis Nadine. Langkah kakinya mulai maju, memangkas jarak secara lambat namun penuh ancaman mematikan. "Dan soal bom C4 yang sangat kau banggakan itu..." *"Victor,"* panggil Nadine santai melalui komunikatornya. *"Sinyal detonator target telah di-jamming sepenuhnya sejak sepuluh meni

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   695.

    Dua jam sebelum tengah malam, ruang bawah tanah *penthouse* Aaron Corp telah berubah menjadi pusat komando taktis. Nadine berdiri di depan dinding baja yang perlahan bergeser terbuka, menampilkan deretan persenjataan kelas militer yang akan membuat iri sindikat mafia mana pun di daratan Eropa. Ia mengabaikan deretan senapan serbu otomatis maupun senapan runduk kaliber besar. Jemarinya yang lentik namun mematikan menari di atas meja kaca, lalu memilih dua buah belati *Karambit* hitam pekat. Senjata tajam melengkung itu diselipkannya ke dalam sarung khusus di kedua paha rampingnya. Sebagai pelengkap, sebuah pistol *Walther PPK* perak bertahtakan inisial namanya dimasukkan ke balik jaket kulit hitam yang membalut tubuhnya bagai kulit kedua. "Kau terlihat seperti malaikat maut yang bersiap turun ke bumi," suara bariton Nathan mengalihkan perhatiannya. Pria itu berdiri di ambang pintu. Ia telah berganti pakaian mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan tat

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   694.

    Cahaya pagi menembus kaca antipeluru *penthouse*, menyinari pecahan kristal dari lampu yang pecah semalam. Nadine baru saja mengikat tali jubah mandinya ketika pintu ganda ruangan itu diketuk dengan ritme darurat. "Masuk, Victor," suara bariton Nathan menggema dari arah bar mini. Pria itu sedang menuangkan *espresso* ganda, bertelanjang dada dengan celana bahan hitam yang melekat pas. Pintu terbuka. Victor, kepala keamanan bertubuh raksasa itu, melangkah masuk dengan setelan berantakan dan darah mengering di pelipisnya. Tangannya tidak membawa kepala manusia seperti yang Nathan minta semalam. Ia membawa sebuah kotak beludru hitam. "Di mana kepala bajingan itu?" tanya Nathan dingin, matanya menajam. "Maafkan saya, Tuan. Kami terlambat," Victor menunduk dalam. "Penembak jitu itu sudah mati saat kami tiba di atap seberang. Diracun dengan sianida murni." "Lalu apa yang ada di dalam kotak itu?" sahut Nadine. Ia melangkah maju, berdiri bersisian dengan suaminya. Victor membuka kotak

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   693.

    Suasana damai di depan cermin itu mendadak pecah oleh satu bunyi dengingan yang sangat pelan, namun mematikan. *Bip.* Sebuah titik merah sekecil ujung jarum menari di atas pantulan cermin, tepat menyasar dada Nadine. "Menunduk!" bisik Nathan tajam, suaranya berubah dari beludru hangat menjadi bilah pedang. Dalam hitungan sepersekian detik, lampu utama padam seketika seiring jentikan keras jari Nathan pada panel pintar di meja rias. Gelap gulita menelan mereka. Tubuh besar Nathan langsung menerjang, menindih Nadine di atas karpet tebal dan melindunginya secara total dari arah jendela. "Penembak jitu?" tanya Nadine. Suaranya tidak bergetar sedikit pun. Alih-alih panik, ada nada antusiasme yang gelap dan berani di sana. "Gedung seberang. Arah jam tiga," jawab Nathan cepat, matanya memindai kegelapan. "Sepertinya sisa-sisa loyalis ayahmu yang tidak terima dengan pemecatan massal tadi siang." "Amatir," desis Nadine meremehkan. "Mereka mengirim penembak jitu ke *penthouse* dengan kaca

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   692.

    Uap hangat mengepul perlahan di dalam kamar mandi berlapis marmer hitam itu. Wangi *lavender* dan *chamomile* seketika meredakan ketegangan di bahu Nadine. Lampu ruangan sengaja diredupkan, menyisakan pendar keemasan dari lilin-lilin aromaterapi yang berbaris di tepi *bathtub*. "Berputarlah sedikit," pinta Nathan pelan. Nadine menurut. Ia memunggungi suaminya, membiarkan jemari lincah Nathan menarik ritsleting tersembunyi di punggung gaunnya. "Gaun ini harganya setara dengan pulau pribadi, tapi aku sangat membencinya saat ini," keluh Nadine sambil menghela napas panjang. "Besok kita bakar saja," balas Nathan santai, membantu meloloskan kain berat itu dari bahu istrinya. "Atau kita jadikan keset di lobi kantor utama Aaron Corp. Pasti akan jadi karya seni kontemporer yang menarik." Nadine tertawa lepas. "Kau mulai terdengar gila, Sayang." "Gila karena terlalu mencintaimu? Aku terima tuduhan itu." Gaun seberat belasan kilogram itu akhirnya merosot ke lantai pualam. Nathan menuntun

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   258. Pecat Saja!

    “Tidak ada sekretaris yang memperlakukan bosnya seperti ini,” gerutu Aresh pelan sambil menatap sofa yang jelas terlalu kecil untuk tubuhnya. Nada suaranya mengandung keluhan, tapi juga kelelahan yang dalam. Hana melirik sekilas, lalu menjawab santai, hampir tanpa emosi, “Kalau begitu, pecat saja

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   261. Kenapa Tidak Aku?

    “Iya,” jawab Hana santai.“Teman saya yang mengatur. Katanya pria itu mapan, serius, dan sedang mencari pasangan.” Ada sesuatu yang mengeras di rahang Aresh saat mendengar hal itu. Ia sendiri tidak mengerti kenapa dadanya tiba-tiba terasa panas. “Kamu… mau pergi?” tanyanya, nadanya menurun.

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   269. Edward Sesat

    “Bro, kamu kelihatan kayak orang baru habis lihat hantu,” sapa Edward begitu Arsion membuka pintu apartemennya. Arsion masuk, menaruh tasnya di sofa, lalu menghela napas panjang. “Bukan hantu… tapi rasanya lebih mengganggu dari itu.” Edward, mahasiswa tampan berkacamata dengan kaus polos lan

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   257. Peluk Aku

    "Makan?"Aresh menatap sekretarisnya dengan ekspresi kebingungan, sedangkan Hana mengangguk dengan tanpa ragu."Iya, makan malam. Bapak terlihat sangat lemas dan tak bertenaga, apakah sudah makan?"Mungkin karena terbiasa menjadi sekretaris Aresh, di luar jam kerja seperti ini pun, Hana memikirkan

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status