แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: T. Hush
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-20 18:44:49

Sudut Pandang Tasha

Dunia di sekelilingku terasa gelap dan berat, seolah-olah aku sedang tenggelam jauh di dasar lautan.

Suara bip yang nyaring terdengar samar, menembus kabut kesadaranku dan perlahan menarikku kembali.

Aku mengerang pelan.

Dadaku terasa nyeri setiap kali menarik napas.

Di mana aku?

Hal pertama yang kurasakan adalah aroma khas cairan disinfektan.

Lalu terdengar dengungan lembut dari berbagai mesin medis.

Perlahan aku membuka mata.

Cahaya lampu putih yang menyilaukan di langit-langit sempat membuat penglihatanku kabur sebelum akhirnya semuanya menjadi jelas.

Dinding putih.

Peralatan medis.

Seprai rumah sakit yang kasar di bawah jemariku.

Seketika semuanya kembali ke ingatanku.

Aku berada di rumah sakit.

Aku mencoba bangun.

Namun rasa nyeri yang menusuk di dada membuatku meringis dan kembali bersandar.

Seorang wanita berjas putih berdiri di ujung ranjang sambil memeriksa catatan medis di tangannya.

Rambut pirangnya diikat rapi ke belakang.

Tatapannya yang semula tajam berubah lembut saat menyadari aku sudah sadar.

"Syukurlah, Anda sudah bangun," katanya dengan nada tenang dan profesional. "Saya Dokter Walsh. Bagaimana perasaan Anda, Nona...?"

Aku menelan ludah.

Tenggorokanku terasa sangat kering.

"Tasha," jawabku lirih. "Tubuh saya sangat lelah... Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Anda pingsan di jalan," jelas Dokter Walsh dengan lembut sambil meletakkan papan catatannya di sisi ranjang. "Seseorang melihat Anda lalu segera meminta bantuan. Anda mengalami stres yang sangat berat, dan tubuh Anda akhirnya tidak sanggup menahannya lagi."

Aku memejamkan mata.

Semua kejadian beberapa saat sebelumnya kembali memenuhi pikiranku.

Pertengkaranku dengan Daniel.

Semua tekanan yang terus menghimpitku.

Telepon dengan Stanley.

Lalu...

Aku pingsan di jalan.

Napas terasa tercekat saat kenangan itu kembali menghantuiku.

Namun suara Dokter Walsh kembali membuyarkan lamunanku.

"Pria yang menemukan Anda bernama Robbin," katanya. "Dia menemani Anda sampai ambulans datang. Bahkan sampai sekarang dia masih menunggu di luar."

"Robbin?"

Aku mengernyit bingung.

Aku sama sekali tidak mengenal seseorang dengan nama itu.

Sebelum sempat bertanya lagi, pintu kamar perlahan terbuka.

Seorang pria masuk ke dalam.

Tubuhnya tinggi.

Rambut cokelatnya sedikit berantakan hingga menutupi dahinya.

Pakaiannya terlihat santai, seolah dia memang tidak berencana datang ke rumah sakit hari ini.

Tatapannya langsung bertemu denganku.

Ada ketenangan yang sulit dijelaskan dalam sorot matanya.

"Itu saya," katanya sambil tersenyum tipis.

Dia melangkah mendekat dengan kedua tangan masih berada di dalam saku celananya.

"Saya yang menemukan Anda saat tidak sadarkan diri."

Aku berkedip pelan, berusaha mengingat wajahnya.

Namun semua yang terjadi setelah aku pingsan terasa begitu samar.

"Anda... yang menolong saya?"

Robbin mengangguk.

"Ya. Waktu itu saya sedang lewat dan melihat Anda tergeletak di jalan. Anda tidak sadarkan diri, jadi saya langsung menelepon ambulans dan tetap menemani Anda sampai petugas medis datang."

Dadaku dipenuhi rasa syukur.

Aku bahkan tidak mengenalnya.

Namun dia tetap berhenti untuk menolongku.

"Terima kasih," bisikku pelan.

Robbin hanya menggeleng sambil tersenyum.

"Tidak usah berterima kasih. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan siapa pun."

"Tidak semua orang akan melakukan hal yang sama," sela Dokter Walsh sambil mengangguk penuh penghargaan kepada Robbin.

Kemudian dia kembali menatapku.

"Anda sangat beruntung karena dia menemukan Anda tepat waktu. Tubuh Anda mengalami dehidrasi yang cukup parah dan berada di bawah tekanan yang berlebihan. Untuk sementara kami akan menahan Anda di sini semalaman agar kondisi Anda bisa terus dipantau."

Aku menarik napas panjang.

Baru sekarang aku benar-benar menyadari apa yang terjadi.

Aku pingsan.

Benar-benar pingsan karena stres.

Rasanya sulit dipercaya.

Robbin tampak sedikit canggung.

Dia menggeser posisi berdirinya seolah bingung apakah harus tetap tinggal atau pergi sekarang karena aku sudah sadar.

"Maaf kalau kehadiran saya mengganggu," katanya pelan. "Saya hanya ingin memastikan Anda baik-baik saja."

"Tidak sama sekali," jawabku cepat. "Justru saya sangat berterima kasih. Saya bahkan tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan Anda."

Dia hanya mengangkat bahu.

"Anda tidak perlu membalas apa pun. Yang paling penting sekarang adalah memastikan kondisi Anda membaik."

Aku hanya mengangguk pelan.

Suasana mendadak menjadi hening.

Tanpa sadar aku memperhatikannya lebih lama.

Entah kenapa, kehadirannya memberikan rasa tenang yang aneh.

Padahal kami benar-benar orang asing.

Dokter Walsh tersenyum kecil sebelum berkata,

"Nona Tasha, sekarang Anda sebaiknya beristirahat. Kalau membutuhkan sesuatu, tekan saja tombol panggil perawat."

Setelah dokter keluar dari ruangan, Robbin kembali menatapku.

"Apa ada seseorang yang bisa Anda hubungi?"

Aku menggeleng pelan.

"Tidak."

Suaraku hampir tak terdengar.

"Aku tidak punya siapa-siapa."

Wajah Robbin langsung berubah lembut.

Alisnya sedikit berkerut.

Dia menarik kursi lalu duduk di dekat ranjangku.

Kedua sikunya bertumpu di atas lutut saat dia menatapku cukup lama.

Seolah sedang mencoba memahami sesuatu.

"Tidak ada siapa pun?" tanyanya hati-hati.

Tidak ada nada menghakimi dalam suaranya.

Hanya kepedulian.

Aku kembali menggeleng.

Benjolan di tenggorokanku terasa semakin besar.

"Sebenarnya ada..." bisikku pelan. "Hanya saja... semuanya sangat rumit."

Robbin tidak mendesakku untuk bercerita lebih jauh, dan aku sangat bersyukur akan hal itu.

Dia hanya menyandarkan tubuhnya di kursi, tetap menatapku.

"Kalau begitu, aku akan tetap di sini. Setidaknya sampai kamu diperbolehkan pulang."

Aku berkedip kaget.

"Kamu tidak perlu melakukan itu. Kamu sudah banyak membantuku."

Robbin mengangkat bahu santai.

"Tidak masalah. Lagi pula, rasanya tidak enak meninggalkanmu sendirian di sini."

Tatapan kami kembali bertemu.

Untuk sesaat, ada sesuatu di matanya.

Kehangatan.

Ketulusan.

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Sebagian dari diriku ingin menolak.

Ingin mengatakan bahwa aku tidak membutuhkan siapa pun.

Namun kenyataannya...

Aku memang tidak ingin sendirian.

Tidak sekarang.

Dan entah mengapa, kehadiran Robbin membuatku merasa tenang, meskipun kami baru saja saling mengenal.

"Kenapa?" tanyaku lirih.

"Kenapa apa?" balasnya sambil bersandar di kursinya, tetapi tatapannya tetap tertuju padaku.

"Kenapa kamu begitu baik padaku? Padahal kamu bahkan tidak mengenalku."

Robbin terdiam beberapa saat.

Seolah sedang memilih kata-kata yang tepat.

Lalu senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Mungkin karena aku tahu bagaimana rasanya sendirian ketika kita sangat membutuhkan seseorang. Dan... aku tidak ingin kamu merasakan hal itu."

Jawabannya menghantam hatiku jauh lebih dalam daripada yang kuduga.

Ada sesuatu dalam kata-katanya yang menyentuh bagian terdalam dari diriku.

Aku membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu.

Namun tidak ada satu kata pun yang keluar.

Aku hanya mampu mengangguk pelan.

Perlahan, kehangatan yang asing memenuhi dadaku.

"Terima kasih," bisikku.

Kali ini...

Aku benar-benar mengatakannya dengan tulus.

Robbin mengangguk kecil.

Ekspresinya menjadi semakin lembut.

"Beristirahatlah. Aku akan tetap di sini kalau kamu membutuhkan sesuatu."

Aku kembali membaringkan tubuhku.

Dengungan mesin-mesin medis memenuhi keheningan ruangan.

Namun pikiranku justru kembali dipenuhi semua kejadian beberapa bulan terakhir.

Beban itu kembali menekan dadaku.

Membuatku sulit bernapas.

Robbin tidak tahu apa pun.

Dia tidak tahu bahwa aku sedang mengandung.

Dan memang, bagaimana mungkin dia tahu?

Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Bahkan aku sendiri baru berusaha menerima kenyataan itu.

Aku belum sempat memberi tahu Daniel sebelum kami resmi bercerai.

Aku tidak sempat.

Semuanya hancur terlalu cepat.

Pertengkaran demi pertengkaran menghancurkan pernikahan kami hingga yang tersisa hanyalah kebencian dan sikap dingin.

Daniel bahkan tidak pernah tahu bahwa aku sedang mengandung saat kami menandatangani surat perceraian.

Dan sekarang...

Aku sendirian.

Dengan seorang bayi yang terus tumbuh di dalam rahimku.

Bayi yang mungkin tidak akan pernah diketahui keberadaannya oleh ayahnya sendiri.

Aku melirik ke arah Robbin.

Dia masih duduk di kursi di samping ranjang.

Tatapannya kini tertuju ke lantai, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Andai saja dia mengetahui seluruh kebenarannya...

Mungkin dia sudah pergi sejak tadi.

Bukan tetap tinggal di sini menemaniku.

Rasa bersalah perlahan menggerogoti hatiku.

Aku menggigit bibir, berusaha mengusir semua pikiran itu.

Sampai kapan aku akan terus berpura-pura semuanya baik-baik saja?

Padahal aku bahkan tidak mampu mengendalikan hidupku sendiri.

Sampai kapan aku bisa menyembunyikan kehamilan ini?

Dari semua orang.

Bahkan dari diriku sendiri.

Aku memejamkan mata, berharap bisa beristirahat.

Namun rasa kantuk tak kunjung datang.

Semua luka beberapa bulan terakhir terus menghantuiku.

Pengkhianatan Daniel.

Semua kebohongan.

Perceraian kami.

Dan rahasia yang kini tumbuh di dalam tubuhku.

Semuanya datang bergelombang, seolah ingin menenggelamkanku.

Saat aku mulai terlelap dalam tidur yang gelisah, suara Robbin memecah keheningan.

"Tasha... kamu yakin tidak apa-apa?"

Nada suaranya terdengar ragu.

Seolah dia bisa merasakan bahwa aku sedang menyembunyikan sesuatu.

Aku menelan ludah.

Tetap memejamkan mata.

Aku belum sanggup menatapnya.

Belum sanggup menghadapi semua kenyataan yang berputar di kepalaku.

"Aku... baik-baik saja," bisikku pelan, hampir tak terdengar.

Aku berharap dia berhenti bertanya.

Namun jauh di lubuk hatiku...

Aku tahu aku tidak bisa terus lari dari kenyataan.

Dan tepat ketika kupikir aku masih bisa menyembunyikan semuanya sedikit lebih lama...

Tiba-tiba rasa nyeri yang tajam menusuk perutku.

"Ngh..."

Mataku langsung terbuka.

Aku terengah-engah sambil memegangi perutku.

Rasa takut seketika mencengkeram seluruh tubuhku.

Robbin langsung berdiri dari kursinya.

Wajahnya berubah panik.

"Tasha! Ada apa? Apa yang terjadi?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 29

    Sudut Pandang Daniel Stanley keluar dari kantorku dengan seringai sombong masih menempel di wajahnya. Begitu pintu tertutup di belakangnya, aku bersandar di kursi, menatap langit-langit, tenggelam dalam pikiran. Tasha. Di sini, di New York. Kerja di proyek yang persis sama dengan yang sudah aku investasikan, Belvoir Couture. Ironinya nyaris tidak tertahankan. Aku pikir dia sudah pergi selamanya. Waktu dia keluar dari hidupku, tidak ada jalan kembali. Aku yakin soal itu. Tapi, di sinilah dia. Di kotaku. Setelah sekian tahun, dia kembali, dan entah bagaimana, dia berhasil menyelinap ke duniaku lagi tanpa berusaha sekalipun. Kenangan-kenangan itu membanjir kembali—pertengkaran, kesalahpahaman, tamparan itu. Aku tidak pernah peduli. Harusnya aku peduli. Tapi aku terlalu terjebak dalam kebohongan dan manipulasi masa laluku, terlalu buta untuk melihat kebenaran di depan mataku. Dan kemudian… dia pergi, meninggalkanku di reruntuhan hidup kami, tidak bisa memperbaiki apa yang sudah aku

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 28

    Daniel menggeleng, tapi rasa ringan di dadanya tidak bisa dipungkiri. Stanley benar soal satu hal: dia penasaran. Dan rasa penasaran itu bakal bikin dia gila. *** Senyum Robbin hangat saat mereka semua masuk ke apartemen. Ethan berlari ke arahnya penuh semangat, ingin pamer gadget-gadgetnya. “Lihat, Pa! Aku udah belajar cara pakai laptop yang Papa kasih!” Ethan menyeringai, jari-jari kecilnya bergerak di atas keyboard. Tasha berdiri di dekat meja dapur, mengamati kedekatan mereka berdua. Dia tidak bisa memungkiri kehangatan yang dia rasakan melihat Ethan begitu bahagia. Robbin selalu baik ke dia dan Ethan, tapi setiap kali dia terlalu dekat, Tasha merasa dorongan untuk menarik diri. Bayangan masa lalunya, Daniel, terus melayang di atasnya, membayangi segalanya. Saat Robbin meletakkan laptop Ethan di meja dan berbalik ke arahnya, Tasha bisa merasakan tatapannya bertahan sedikit terlalu lama. “Boleh ngobrol sebentar?” tanya Robbin, suaranya pelan, tapi ada ketegasan di baliknya. T

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 27

    Daniel berjalan masuk ke kantornya, pikirannya masih memutar ulang pertemuan singkat dengan Ethan dan Ms. Taylor yang misterius itu. Dia tidak bisa menepis perasaan kalau ada lebih banyak cerita di balik ini, tapi untuk sekarang dia harus menepisnya dulu. Ada urusan-urusan di kantor yang menuntut perhatiannya. Begitu dia melangkah masuk gedung, asistennya, Emma, sudah menunggu di dekat pintu kantornya, tablet di tangan. Dia mendongak dan memberi senyum sopan, meski ada sedikit kekhawatiran di matanya. “Pak Sterlings, selamat pagi. Jadwal Bapak padat hari ini. Rapat dewan direksi dimajukan jadi besok, dan ada setumpuk laporan yang harus Bapak review sebelum itu,” katanya, menyerahkan daftar janji temunya. Daniel mengambil tablet itu dan mengangguk, ekspresinya berpikir. “Makasih, Emma. Aku bakal cek ini sekarang. Stanley udah balik?” “Dia lagi otw ke atas, Pak. Dia bilang mau mampir buat kasih laporan soal presentasinya.” “Bagus,” jawab Daniel setengah sadar, sudah membolak-balik

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 26

    Seharusnya Daniel hadir di presentasi itu. Itu bagian penting dari perannya, momen untuk menunjukkan fokus di dunia bisnis. Tapi sebaliknya, dia memilih melimpahkan tanggung jawab itu ke Stanley. Lagipula, Stanley bisa mengurusnya, seperti biasa. Dan ada hal lain yang terus mengganggu pikiran Daniel sejak Venessa jadi bagian dari tim Paris. Hubungan itu terus menggerogotinya, dan meski begitu, ada gangguan lain, yang baru sepenuhnya dia sadari sekarang. Dia belum dengar kabar dari bocah kecil itu. Pikiran itu mengganggu, dan Daniel tidak bisa menepisnya. Ada sesuatu tentang anak itu yang menariknya, sesuatu yang familiar tapi sulit dijelaskan. Saat dia berjalan keluar apartemen, Daniel berhenti di lantai lima belas. Dia menekan bel pintu, sedikit bergeser sambil menunggu. Seorang wanita membuka pintu, dan sesaat, jantungnya berdebar penuh harap, berharap itu ibunya Ethan. Tapi bukan. “Kamu ibunya Ethan?” tanya Daniel, berusaha menutupi kekecewaan dalam suaranya. Wanita itu mengge

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 25

    Stanley. Pria yang dulu jadi sahabat Daniel. Pria yang terakhir kali bicara dengannya lima tahun lalu, malam sebelum dia pergi tanpa sepatah kata pun. Jantung Tasha berdegup, dan sesaat, dia terpaku, tatapannya bertemu dengan Stanley saat dia melangkah santai masuk ke ruangan, kehadirannya dengan mudah menarik perhatian. Dia terlihat sama persis, dengan aura percaya diri yang sama itu. Robbin, yang berdiri di dekat belakang ruangan, langsung menyadari keraguan mendadak Tasha. Dia diam-diam bergeser mendekat, siap turun tangan kalau diperlukan, tapi Tasha menarik napas, menguatkan diri. Dia harus terus lanjut. Ini terlalu penting untuk dibiarkan dikacaukan masa lalu. Stanley menemukan kursi di tengah ruangan, matanya tidak pernah lepas dari Tasha. Percakapan terakhir mereka terngiang di pikiran Tasha, suaranya yang khawatir menanyakan ada apa, kebingungannya saat Tasha menghindar untuk mengatakan yang sebenarnya soal Daniel, dan rasa bersalah yang dia tanggung karena pergi tanpa p

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 24

    Tepat saat Tasha hendak menjawab pertanyaan Robbin, ponselnya berbunyi. Dia melirik layarnya, wajahnya langsung berubah serius. “Aku harus angkat ini,” gumamnya, melangkah menjauh untuk privasi. Tasha menghela napas pelan, bersyukur atas jeda sementara itu. Pikirannya berkecamuk saat dia melihat Robbin menghilang ke ruangan lain, suaranya pelan saat menjawab panggilan. Dia belum siap membicarakan Daniel. Lima tahun berlari, bersembunyi, dan menyimpan rahasia tidak bisa begitu saja terurai dalam satu percakapan, apalagi sekarang, dengan Robbin. Beberapa saat kemudian, Robbin kembali, ekspresinya sulit dibaca. Dia menyelipkan ponselnya ke saku, melirik ke arahnya dengan campuran kekhawatiran dan sesuatu lain yang tidak bisa dia pahami dengan pasti. “Aku harus keluar sebentar,” katanya, nadanya singkat. “Ada urusan mendadak.” Tasha mengerutkan kening. “Ada apa? Semuanya baik-baik aja?” Robbin mengangguk, tapi matanya mengkhianatinya. “Iya, cuma… urusan kerjaan. Aku bakal balik s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status