แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: T. Hush
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-20 18:42:13

Kata-katanya menghantamku begitu keras hingga dadaku terasa sesak. Namun aku tetap berdiri tegak, menolak menunjukkan betapa dalam luka yang ditinggalkannya.

Aku tidak mengatakan apa pun.

Aku hanya berbalik, lalu melangkah keluar dari rumah sakit.

Keputusan yang baru saja kuambil terasa begitu berat, tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

Aku merasa bebas.

Aku berjalan menuju area parkir. Dunia di sekelilingku tiba-tiba terasa berputar. Refleks, tanganku menyentuh perutku saat rasa pusing menyerang. Jantungku berdegup begitu cepat setelah pertengkaran tadi.

Aku mengeluarkan ponsel dari tas.

Jemariku gemetar ketika mencari sebuah nama di daftar kontak.

Stanley.

Sahabat sekaligus pendamping Daniel saat pernikahan kami.

Dia selalu bersikap baik kepadaku.

Saat Daniel bersikap dingin, Stanley adalah salah satu dari sedikit orang yang masih peduli. Dia tidak pernah menghakimiku. Dia hanya mendengarkan.

Dan saat ini, hanya itu yang kubutuhkan.

Panggilan itu berdering dua kali sebelum akhirnya diangkat.

"Tasha? Kamu baik-baik saja?"

"Halo, Stanley," ucapku pelan. Suaraku terdengar begitu lemah. "Apa kamu sedang senggang? Maaf mengganggumu. Aku ada di Central Hospital sekarang. Kondisiku kurang baik, dan sepertinya aku tidak sanggup pulang sendirian."

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Lalu suara Stanley terdengar jauh lebih lembut.

"Aku akan sampai dalam sepuluh menit. Jangan khawatir, Tasha. Tunggu aku di sana."

"Terima kasih, Stanley."

Aku menyandarkan tubuh pada mobil di belakangku.

Rasa pusing itu masih belum juga hilang.

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depanku.

Stanley segera keluar dan menghampiriku dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Tasha, ada apa? Wajahmu pucat sekali."

Aku memaksakan sebuah senyum.

Sayangnya, senyum itu bahkan tidak sampai ke mataku.

"Tidak apa-apa," jawabku berbohong sambil memijat pelipis. "Aku hanya datang untuk kontrol. Akhir-akhir ini kepalaku sering sakit. Dokter bilang aku akan baik-baik saja."

Stanley mengernyit.

Raut cemasnya tidak juga menghilang.

"Kamu yakin? Wajahmu benar-benar pucat. Suaramu juga terdengar aneh waktu menelepon tadi."

Aku segera mengangguk.

"Aku baik-baik saja. Aku hanya tidak ingin mengambil risiko menyetir sendirian dalam kondisi seperti ini."

Dia menatapku cukup lama.

Seolah tahu aku sedang menyembunyikan sesuatu.

Namun dia tidak memaksaku untuk bercerita.

"Baiklah. Kalau memang begitu. Tapi ingat, kamu bisa menghubungiku kapan saja kalau membutuhkan bantuan."

Aku tersenyum tipis.

"Aku tahu. Terima kasih sudah datang, Stanley."

Stanley membalas senyumku, lalu membukakan pintu mobil untukku.

"Ayo. Aku antar kamu pulang. Kamu harus banyak istirahat."

Aku masuk ke dalam mobilnya.

Aku bersyukur bisa meninggalkan rumah sakit itu.

Namun pikiranku terus dipenuhi rahasia yang belum sempat kukatakan kepada siapa pun.

Tentang bayi kami.

Setelah Stanley mengantarku pulang, keheningan rumah langsung menyelimutiku.

Aku berdiri cukup lama di dekat pintu.

Tubuhku tidak bergerak.

Namun pikiranku terus berputar.

Pertengkaran di rumah sakit.

Sikap Daniel yang terus mengabaikanku.

Dan kata-kata yang tadi keluar dari mulutku.

Cerai.

Aku benar-benar mengatakannya.

Aku bahkan menuntutnya.

Namun kini, saat berdiri sendirian di lorong rumah yang remang-remang, beratnya keputusan itu mulai menghimpit dadaku.

Apa aku benar-benar menginginkan perceraian ini?

Apa aku sanggup menjalaninya?

Jika kami bercerai, berarti aku harus membesarkan anak ini seorang diri.

Apa aku mampu?

Apa aku bisa menjadi ibu yang baik ketika aku sendiri merasa begitu kehilangan dan sendirian?

Bayangan harus menghadapi semuanya seorang diri, tanpa tempat bergantung dan tanpa siapa pun yang bisa kuandalkan, membuat bulu kudukku meremang.

Daniel memang sudah berubah menjadi pria yang dingin dan kejam.

Namun membayangkan harus meninggalkannya tanpa membawa apa pun, lalu menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian bersama bayi ini, tetap membuatku ketakutan.

Perlahan kusentuh perutku.

Gerakan itu terjadi begitu saja, seolah menjadi naluri.

Bayi ini.

Anak kami.

Aku bahkan belum sempat memberi tahu Daniel.

Kalau nanti dia tahu...

Apa dia akan peduli?

Apa dia akan berjuang mempertahankan kami?

Atau dia akan kembali mengabaikannya, seperti semua hal lain yang bukan tentang Vanessa?

Saat aku masih tenggelam dalam pikiranku, suara pintu depan terbuka memecah keheningan.

Aku tersentak.

Jantungku kembali berdegup kencang.

Tak lama kemudian, suara Daniel terdengar dari arah ruang depan.

"Tasha."

Suaranya dingin.

Setajam biasanya.

Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah menuju ruang tamu.

Daniel berdiri santai sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.

Seolah beberapa jam yang lalu kami tidak baru saja menghancurkan rumah tangga kami.

Aku menghampirinya.

Jantungku berdetak semakin keras.

"Jadi, kamu benar-benar meminta cerai?"

Nada suaranya terdengar sinis, bahkan seperti sedang mengejek.

Seolah dia tidak percaya aku benar-benar berani melakukannya.

Dia memasukkan tangan ke dalam saku jasnya.

Sesaat kemudian, dia mengeluarkan setumpuk dokumen.

Tanpa ragu, dia melemparkannya ke atas meja di depanku.

Aku menatap dokumen-dokumen itu. Tenggorokanku terasa tercekat, sementara mataku mulai dipenuhi air mata yang berusaha keras kutahan.

"Kamu pikir dirimu pintar?" katanya dengan nada penuh hinaan. "Biar aku permudah semuanya."

Dia melempar sebuah kartu ke atas meja. Kartu itu meluncur dan berhenti tepat di samping berkas perceraian.

"Itu untukmu, Tasha. Pakailah untuk mengurus hidupmu yang menyedihkan."

Aku tersentak mendengar ucapannya.

Namun sebelum sempat berkata apa pun, dia kembali melemparkan sebuah kartu lain ke atas meja.

"Kalau yang itu," katanya sambil menyeringai sinis, "imbalan untuk donor darahmu. Jangan bilang aku tidak pernah memberimu apa-apa."

Aku hanya bisa terdiam.

Aku tidak mengerti.

Bagaimana mungkin dia bisa bersikap sedingin dan sekejam ini?

Sebelum aku sempat mengumpulkan pikiranku, Daniel sudah berbalik dan melangkah keluar.

Brak!

Pintu depan tertutup dengan keras.

Aku tahu ke mana dia pergi.

Kembali ke rumah sakit.

Kembali menemui Vanessa.

Tubuhku langsung kehilangan tenaga.

Aku menjatuhkan diri ke kursi terdekat.

Berkas perceraian itu masih tergeletak di atas meja.

Tanda tangan Daniel sudah terpampang jelas di bagian bawah halaman.

Berarti dia sudah mengambil keputusan sejak awal.

Dia sudah siap meninggalkanku.

Baginya, aku hanyalah beban.

Seseorang yang bisa disingkirkan kapan saja.

Seseorang yang hanya menjadi penghalang dalam hidupnya.

Tanganku gemetar saat mengambil pena.

Jantungku berdetak begitu keras hingga terasa menyakitkan.

Air mata membuat pandanganku mulai kabur.

Namun aku menahannya.

Aku belum boleh hancur.

Belum.

Tatapanku kembali jatuh pada surat perceraian itu.

Segala pengorbananku untuk Daniel kembali memenuhi pikiranku.

Semua saat ketika aku selalu mengutamakannya.

Semua usaha yang kulakukan untuk menjadi istri yang dia inginkan.

Menjadi wanita yang dia butuhkan.

Dan sekarang...

Inilah balasannya.

Dengan tangan yang masih gemetar, kutorehkan tanda tanganku di bagian bawah dokumen itu.

Rasanya seperti menutup lembar terakhir dari kehidupan yang selama ini terus kupaksakan.

Babak yang hanya dipenuhi luka dan air mata akhirnya benar-benar berakhir.

Saat pena itu terlepas dari genggamanku, perasaan lega yang aneh perlahan memenuhi dadaku.

Semuanya sudah selesai.

Tidak ada jalan untuk kembali.

Aku berdiri perlahan.

Keputusan yang baru saja kuambil terasa begitu berat, namun aku tidak menyesalinya.

Aku berjalan menuju lemari, mengambil mantelku, lalu terdiam sejenak.

Aku tidak membutuhkan apa pun lagi.

Bukan pakaian-pakaian itu.

Bukan kenangan-kenangan itu.

Bukan kehidupan yang sudah lama hancur dan tak mungkin diperbaiki lagi.

Aku mengenakan mantelku.

Entah kenapa, rasanya begitu asing di tubuhku.

Seolah mantel itu milik seseorang yang bukan lagi diriku.

Aku menatap rumah itu untuk terakhir kalinya.

Rumah yang dulu pernah menjadi tempatku pulang.

Lalu aku melangkah keluar.

Aku meninggalkan semuanya.

Semuanya...

Kecuali kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimku.

Begitu keluar, udara malam yang dingin langsung menyambutku.

Rasanya menusuk kulit.

Namun aku terus berjalan.

Aku tidak tahu akan pergi ke mana.

Aku juga tidak tahu apa yang harus kulakukan setelah ini.

Yang kutahu hanya satu.

Aku tidak bisa terus tinggal di sini.

Tidak bersama Daniel.

Tidak bersama semua rasa sakit ini.

Aku terus berjalan tanpa tujuan menyusuri jalanan malam.

Pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan.

Aku tidak punya rencana.

Tidak punya tempat tujuan.

Namun aku masih memiliki diriku sendiri.

Dan aku masih memiliki bayiku.

Entah bagaimana caranya, itu harus cukup.

Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga.

Membasahi pipiku tanpa henti.

Aku segera mengusapnya dengan punggung tangan.

Aku tidak boleh hancur.

Belum sekarang.

Aku harus kuat.

Untuk diriku.

Dan untuk anakku.

Tiba-tiba ponsel di sakuku bergetar.

Aku tersentak dan segera mengeluarkannya.

Kupikir Daniel yang menelepon.

Namun ternyata bukan.

Stanley.

Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.

"Halo..."

Suaraku terdengar begitu lemah.

"Tasha? Bagaimana keadaanmu sekarang?"

Suara Stanley dipenuhi kekhawatiran.

Namun sebelum sempat menjawab, rasa nyeri yang luar biasa tiba-tiba menghantam dadaku.

"Ngh..."

Aku terengah-engah sambil memegangi dada.

Ponsel di tanganku terlepas dan jatuh menghantam trotoar.

Brak!

Pandanganku mulai kabur.

Detak jantungku berdentum keras di telingaku.

Dunia di sekelilingku terasa berputar.

Penglihatanku perlahan menggelap.

Dan sebelum aku sempat memahami apa yang sedang terjadi...

Sambungan telepon itu terputus.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 29

    Sudut Pandang Daniel Stanley keluar dari kantorku dengan seringai sombong masih menempel di wajahnya. Begitu pintu tertutup di belakangnya, aku bersandar di kursi, menatap langit-langit, tenggelam dalam pikiran. Tasha. Di sini, di New York. Kerja di proyek yang persis sama dengan yang sudah aku investasikan, Belvoir Couture. Ironinya nyaris tidak tertahankan. Aku pikir dia sudah pergi selamanya. Waktu dia keluar dari hidupku, tidak ada jalan kembali. Aku yakin soal itu. Tapi, di sinilah dia. Di kotaku. Setelah sekian tahun, dia kembali, dan entah bagaimana, dia berhasil menyelinap ke duniaku lagi tanpa berusaha sekalipun. Kenangan-kenangan itu membanjir kembali—pertengkaran, kesalahpahaman, tamparan itu. Aku tidak pernah peduli. Harusnya aku peduli. Tapi aku terlalu terjebak dalam kebohongan dan manipulasi masa laluku, terlalu buta untuk melihat kebenaran di depan mataku. Dan kemudian… dia pergi, meninggalkanku di reruntuhan hidup kami, tidak bisa memperbaiki apa yang sudah aku

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 28

    Daniel menggeleng, tapi rasa ringan di dadanya tidak bisa dipungkiri. Stanley benar soal satu hal: dia penasaran. Dan rasa penasaran itu bakal bikin dia gila. *** Senyum Robbin hangat saat mereka semua masuk ke apartemen. Ethan berlari ke arahnya penuh semangat, ingin pamer gadget-gadgetnya. “Lihat, Pa! Aku udah belajar cara pakai laptop yang Papa kasih!” Ethan menyeringai, jari-jari kecilnya bergerak di atas keyboard. Tasha berdiri di dekat meja dapur, mengamati kedekatan mereka berdua. Dia tidak bisa memungkiri kehangatan yang dia rasakan melihat Ethan begitu bahagia. Robbin selalu baik ke dia dan Ethan, tapi setiap kali dia terlalu dekat, Tasha merasa dorongan untuk menarik diri. Bayangan masa lalunya, Daniel, terus melayang di atasnya, membayangi segalanya. Saat Robbin meletakkan laptop Ethan di meja dan berbalik ke arahnya, Tasha bisa merasakan tatapannya bertahan sedikit terlalu lama. “Boleh ngobrol sebentar?” tanya Robbin, suaranya pelan, tapi ada ketegasan di baliknya. T

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 27

    Daniel berjalan masuk ke kantornya, pikirannya masih memutar ulang pertemuan singkat dengan Ethan dan Ms. Taylor yang misterius itu. Dia tidak bisa menepis perasaan kalau ada lebih banyak cerita di balik ini, tapi untuk sekarang dia harus menepisnya dulu. Ada urusan-urusan di kantor yang menuntut perhatiannya. Begitu dia melangkah masuk gedung, asistennya, Emma, sudah menunggu di dekat pintu kantornya, tablet di tangan. Dia mendongak dan memberi senyum sopan, meski ada sedikit kekhawatiran di matanya. “Pak Sterlings, selamat pagi. Jadwal Bapak padat hari ini. Rapat dewan direksi dimajukan jadi besok, dan ada setumpuk laporan yang harus Bapak review sebelum itu,” katanya, menyerahkan daftar janji temunya. Daniel mengambil tablet itu dan mengangguk, ekspresinya berpikir. “Makasih, Emma. Aku bakal cek ini sekarang. Stanley udah balik?” “Dia lagi otw ke atas, Pak. Dia bilang mau mampir buat kasih laporan soal presentasinya.” “Bagus,” jawab Daniel setengah sadar, sudah membolak-balik

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 26

    Seharusnya Daniel hadir di presentasi itu. Itu bagian penting dari perannya, momen untuk menunjukkan fokus di dunia bisnis. Tapi sebaliknya, dia memilih melimpahkan tanggung jawab itu ke Stanley. Lagipula, Stanley bisa mengurusnya, seperti biasa. Dan ada hal lain yang terus mengganggu pikiran Daniel sejak Venessa jadi bagian dari tim Paris. Hubungan itu terus menggerogotinya, dan meski begitu, ada gangguan lain, yang baru sepenuhnya dia sadari sekarang. Dia belum dengar kabar dari bocah kecil itu. Pikiran itu mengganggu, dan Daniel tidak bisa menepisnya. Ada sesuatu tentang anak itu yang menariknya, sesuatu yang familiar tapi sulit dijelaskan. Saat dia berjalan keluar apartemen, Daniel berhenti di lantai lima belas. Dia menekan bel pintu, sedikit bergeser sambil menunggu. Seorang wanita membuka pintu, dan sesaat, jantungnya berdebar penuh harap, berharap itu ibunya Ethan. Tapi bukan. “Kamu ibunya Ethan?” tanya Daniel, berusaha menutupi kekecewaan dalam suaranya. Wanita itu mengge

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 25

    Stanley. Pria yang dulu jadi sahabat Daniel. Pria yang terakhir kali bicara dengannya lima tahun lalu, malam sebelum dia pergi tanpa sepatah kata pun. Jantung Tasha berdegup, dan sesaat, dia terpaku, tatapannya bertemu dengan Stanley saat dia melangkah santai masuk ke ruangan, kehadirannya dengan mudah menarik perhatian. Dia terlihat sama persis, dengan aura percaya diri yang sama itu. Robbin, yang berdiri di dekat belakang ruangan, langsung menyadari keraguan mendadak Tasha. Dia diam-diam bergeser mendekat, siap turun tangan kalau diperlukan, tapi Tasha menarik napas, menguatkan diri. Dia harus terus lanjut. Ini terlalu penting untuk dibiarkan dikacaukan masa lalu. Stanley menemukan kursi di tengah ruangan, matanya tidak pernah lepas dari Tasha. Percakapan terakhir mereka terngiang di pikiran Tasha, suaranya yang khawatir menanyakan ada apa, kebingungannya saat Tasha menghindar untuk mengatakan yang sebenarnya soal Daniel, dan rasa bersalah yang dia tanggung karena pergi tanpa p

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 24

    Tepat saat Tasha hendak menjawab pertanyaan Robbin, ponselnya berbunyi. Dia melirik layarnya, wajahnya langsung berubah serius. “Aku harus angkat ini,” gumamnya, melangkah menjauh untuk privasi. Tasha menghela napas pelan, bersyukur atas jeda sementara itu. Pikirannya berkecamuk saat dia melihat Robbin menghilang ke ruangan lain, suaranya pelan saat menjawab panggilan. Dia belum siap membicarakan Daniel. Lima tahun berlari, bersembunyi, dan menyimpan rahasia tidak bisa begitu saja terurai dalam satu percakapan, apalagi sekarang, dengan Robbin. Beberapa saat kemudian, Robbin kembali, ekspresinya sulit dibaca. Dia menyelipkan ponselnya ke saku, melirik ke arahnya dengan campuran kekhawatiran dan sesuatu lain yang tidak bisa dia pahami dengan pasti. “Aku harus keluar sebentar,” katanya, nadanya singkat. “Ada urusan mendadak.” Tasha mengerutkan kening. “Ada apa? Semuanya baik-baik aja?” Robbin mengangguk, tapi matanya mengkhianatinya. “Iya, cuma… urusan kerjaan. Aku bakal balik s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status