로그인Après dix ans d’amour avec Livio, il a officiellement annoncé qu’il était en couple avec quelqu’un d’autre. La petite amie qu’il a dévoilée au public n’étais pas moi, c’était une actrice montante. Les fans ont explosé de joie, inondant les réseaux de plus de 10 mille commentaires sous l’annonce, faisant de cette nouvelle l’une des plus populaires du moment. De mon côté, j’ai publié une photo d’une bague en diamant et ai annoncé fièrement mon mariage. Aussitôt, mon téléphone a vibré : un appel de Livio. « Efface ton tweet, ne cherche pas à me forcer à t’épouser de cette façon. Tu sais très bien que ma carrière est en plein essor et que je viens d’annoncer ma nouvelle petite amie au monde. Il n’y a aucune chance que je t’épouse… » « M. Breguet, vous n’êtes pas mon marié. Si vous voulez, vous pouvez venir à mon mariage. » J’ai raccroché sans attendre, et Livio est devenu fou, appelant sans cesse, encore et encore, toute la nuit. Mais je ne répondais pas. Le jour de mon mariage, alors que je m’apprêtais à dire « oui », il est arrivé en trombe, les yeux rouges, et m’a demandé, presque désespéré : « Tu veux bien t’enfuir avec moi ? » Moi : « Quoi ? » Comment il peut être aussi effronté ? S’enfuir avec la femme d’un autre, après tout ce qu’il venait de me faire ?
더 보기“Gimana Na, sudah isi apa belum?” ujar Ayu dengan tatapan tajamnya pada menantu perempuannya.
Ia seringkali menanyakan pertanyaan itu dan berharap mendapat jawaban yang memuaskan ambisinya, memperolah cucu laki-laki dari anak lelaki kesayangannya. “Belum bu, doakanlah kami, lagipula saya masih ingin fokus mengasuh Arini dan Aruna, mereka sebentar lagi masuk Sekolan Dasar dan pasti semakin banyak keperluannya,” jawab Anna dengan helaan nafas panjang. Sebenarnya pertanyaan itu cukup mengganggunya, ia sudah berusaha semaksimal mungkin namun jika takdir tak berpihak padanya, dia bisa apa? Ibu Mertua mengernyitkan dahinya yang sudah penuh dengan goresan-goresan kehidupan dan berucap dengan penuh penekanan, “Apa? kamu gimana sih Na? Justru karena anakmu sudah besar, sudah saatnya mereka punya adik, dan adiknya harus laki-laki! Kasian Arka tidak punya anak laki-laki, apa kata orang nanti? Aura saja sudah punya anak laki-laki dan perempuan. Kamu jangan mau kalah sama dia!” “Bu, kami pasti akan berusaha lagi, ibu tidak perlu khawatir, aku dan mas Arka pasti akan berusaha semaksimal mungkin.” balas Anna dengan lembut meski hatinya terasa seperti diiris-iris, perih. Mendenger suara ibunya yang mulai meninggi, Arka yang sedang bermain dengan anak-anaknya mulai beranjak menuju ruang tamu untuk menenangkan ibunya yang mulai mengintimidasi Anna. “Ibu sudah bu, jangan tanya itu lagi pada Anna, kasihan dia sudah lelah mengurus aku dan si kembar,” terdengar suara Arka dengan penuh penekanan pada ibunya. Dia nampak menahan emosi saat ibunya terus memberondong Anna dengan pertanyaan kapan punya anak laki-laki. “Arka, Ibu tidak ingin kamu menjadi bahan gosip tetangga, kamu sudah lama nikah, apa susahnya punya anak laki-laki? Mending kamu cari istri lagi!” Ketus ibu mertua dengan sorot mata tajamnya pada Anna, seolah-olah Anna penyebab semua kegagalan itu. “Ibu, kami akan berusaha lagi dan ibu jangan pikir aku akan menikah lagi, itu tidak akan terjadi karena aku sangat mencintai Anna!” Balas Arka dengan tegas. “Anna, ayo kita pulang, sudah cukup kita berkunjung kerumah ibu.” Ajak Arka kepada istrinya dengan meraih tangannya menuju kamar untuk segera beberes, daripada berdebat tanpa ujung, lebih baik pulang saja, itu yang dipikirkannya. Hari itu cuaca sedikit mendung, tak mengurungkan niatnya untuk segera pulang, apalagi mobil sewaan mereka telah bertengger dihalaman sejak pagi. sebelum pulang tak lupa mereka mencium tangan Ayu dengan takzim, kemudian Anna memberikan sebuah amplop berisi nominal yang mungkin tidak seberapa bagi mertuanya. “Punya duit kamu? Gaji guru honorer berapa sih,” ketus Ayu Sang Ibu Mertua. “Ada bu, meski tidak banyak, semoga bisa sedikit meringankan ibu.” Ucap Anna lembut dengan senyum dibibir merahnya. Di sepanjang perjalanan, semua diam membisu seperti terhanyut dalam pikiran masing-masing. Sepasang suami istri itu nampak memperhatikan lalu lalang kendaraan yang melaju dengan kecepatan sedang, belum ada yang memulai perbincangan sampai akhirnya Aruna mulai mengeluhkan keluh kesahnya pada bunda yang teramat disayanginya. “Bunda, aku tidak suka dirumah nenek, tadi Runa dengar nenek marahin ibu, kenapa sih nenek kok jahat?” celotehnya pada Anna. Anna yang sedang melamun segera tersadarkan, dipandanginya anak kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang, sambil tersenyum ia menjawab, “Nenek tidak jahat nak, dia hanya mengingatkan bunda untuk lebih berusaha lagi, Runa tidak boleh menuduh nenek jahat ya, nenek tidak jahat kok.” Mendengar jawaban itu, Runa mulai memejamkan matanya mencoba mencernanya meski seperti tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya. Melihat sikap Runa yang seolah abai, Anna hanya tersenyum lalu menoleh ke sebelah kirinya, terlihat Rini menarik tangan bundanya seolah-olah ingin mengajaknya mengobrol, “Bund, tadi Kak Vina ngejek Rini, katanya Rini tidak punya adik laki-laki, tidak seperti kak Vina yang punya adik, padahal Rini tidak mau punya adik, Rini sudah senang punya Runa.” Celotehnya sambil cemberut, menunjukkan kekesalannya pada sikap Vina, anak dari Aura sang kakak ipar Anna. Anna hanya tersenyum dan memeluk Rini dengan harapan agar Rini lebih tenang. Setelah si kembar terlelap, Anna mulai terdiam dalam lamunannya, tiba-tiba dia teringat pada kenangan yang membuatnya akhirnya setuju untuk dinikahi Arka. Kenangan yang membuatnya begitu mencintai Arka yang hanya seorang kurir pengantar bunga. Perihal perjuangan mereka untuk mendapat restu dari orang tua Anna yang seorang PNS yang tentunya tidak mudah karena cinta mereka ibarat cinta beda strata sosial. Orang tua Anna berharap anaknya bersuamikan lelaki yang mapan bukan lelaki yang tidak jelas masa depannya seperti Arka. “Na, sudah hampir sampai, tolong bangunin si kembar.” Ucapan Arka menyadarkan Anna dari lamunannya. Anna bergegas membangunkan si kembar dengan perlahan. Ia tersenyum melihat suaminya yang cekatan menurunkan barang-barang mereka, kemudian menggandeng Runa. Terlintas dipikirannya alasan masih mempertahankan pernikahannya meski sang mertua selalu membuatnya sedih. Arka adalah lelaki yang bertanggung jawab, setia dan begitu menyayangi keluarganya. Meski tak semapan mantannya dulu, itu bukanlah masalah penting baginya karena uang bisa dicari, pikir Anna. Tak terasa waktu telah menunjukkan Pukul 21.00 WIB. Terlihat si kembar sedang bermain di ruang TV sambil diawasi Anna, sedangkan Arka di ruang tamu memainkan ponselnya. “Aruna, Arini, ayo tidur sudah malam, mainnya besok lagi.” Titahnya pada si kembar, meski terlihat ogah-ogahan, mereka tetap mulai mengemasi mainannya dan bergegas menuju kamarnya. “Mas, ayo istirahat, kamu belum mengantuk?” sapa Anna pada suaminya yang sedang asyik bermain ponsel. “Kamu tidur terlebih dahulu saja, aku masih main game.” Balas Arka tanpa menoleh sedikitpun pada istrinya. Anna hanya terdiam dan langsung menuju ke kamarnya. Ia mulai memikirkan perkataan mertuanya, sambil berbaring diatas ranjangnya dan mengharap suaminya segera menemaninya beristirahat namun lelaki itu tak kunjung datang. Ia mulai memejamkan matanya namun ketakutan itu muncul lagi di pikirannya, bagaimana jika mereka tidak punya anak laki-laki? bagaimana jika Arka menikah lagi demi punya anak laki-laki? “Belum tidur kamu, masih kepikiran omongan ibu?” tanya Arka seolah mampu menerobos apa yang dilamunkan istrinya sejak tadi. “Iya mas, aku takut kamu mulai terpengaruh dengan omongan ibu, apalagi ibu keras kepala, dia pasti akan terus memaksa kita untuk memiliki anak laki-laki,” ungkap Anna dengan nada sedih, seolah-olah hal yang telah terpikirkan akan segera terjadi. “Sudahlah Na, kamu tahu kalau aku begitu mencintaimu apa adanya, nanti aku akan bicarakan lagi pada ibu, agar dia tidak terus menerus mendesakmu,” ujar lelaki itu sambil memeluk mesra istrinya agar lebih tenang. “Mas, kamu jangan meremehkan ibu, ibu pasti tidak gampang dibujuk, sebaiknya kita mulai program seperti dulu tapi bedanya kita akan program bayi laki-laki. Aku akan mulai ambil pekerjaan sampingan untuk menambah pemasukan kita,” ujar Anna semangat dan mulai membalas pelukan suaminya itu. Mendengar jawaban istrinya, Arka seolah abai, dia mulai memejamkan matanya, pikirannya melayang-layang, batinnya berbicara, bagaimana mungkin mereka harus mulai punya anak lagi. Pasti nanti kebutuhan semakin banyak, kehadiran si kembar saja sudah cukup membebani hidup mereka, lama kelamaan Anna pasti akan mendesaknya untuk dapat pekerjaan yang lebih layak, hal inilah yang dikhawatirkan Arka. Awalnya ia mengira dengan menikahi Anna, hidupnya akan mapan karena orang tua Anna yang seorang PNS, ternyata hingga kini orang tua Anna tidak setuju. Orang Tua Anna hanya mau menerima si kembar dan Anna saat berkunjung, sedangkan Arka seolah-olah dianggap orang asing. Tanpa Anna ketahui, Arka sebenarnya menyesal menikahi Anna karena tidak mendapat fasilitas dari orang tuanya seperti perkiraannya namun Anna tidak pernah tahu perasaan Arka yang sebenarnya. Beberapa hari kemudian … Arka terlihat berjalan dengan perlahan menuju rumahnya sambil menundukkan kepala. Tatapannya terlihat kosong. Melihat suaminya pulang dengan tidak memiliki semangat, Anna segera menyiapkan kopi kesukaan suaminya. Waktu itu sore hari, cuaca nampak sedikit mendung, alam seolah memberi petanda pada Anna bahwa sebentar lagi hujan. Bukan sekedar hujan biasa tapi hujan yang berakibat pada goyahnya perekonomian mereka. Dengan perlahan namun pasti akhirnya Arka berucap, “aku dipecat Na, toko bunga bangkrut karena bos terlibat investasi bodong,” Dengan senyum yang dipaksakan Anna menjawab, ”sudahlah mas, rejeki bisa dicari, mas tidak perlu khawatir, aku bakal cari tambahan sambil menunggu mas dapat kerja lagi.” Anna mencoba membesarkan hati suaminya, ia sendiri sebenarnya sangat terkejut dengan ucapan suaminya. Bagaimana dengan biaya sekolah si kembar? Bagaimana pula dengan rencana mereka memiliki anak laki-laki? Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di hati dan pikirannya. Ia tidak mengetahui bahwa ujian besar menghampirinya, tidak hanya persoalan ekonomi atau mertuanya, namun kesetiaan suaminya juga dipertaruhkan. .Boda s’est effondré, violemment.Mon père a tout perdu du jour au lendemain. Non seulement il s’est retrouvé ruiné, mais il devait encore des milliards de dettes.Il a disparu, introuvable.Et moi, je n’ai pas hésité une seconde : j’ai porté plainte contre lui pour détournement des biens de ma mère.Je voulais le voir tomber définitivement, ne lui laissant aucune chance de revenir.Marie et Julia ne l’ont jamais retrouvé.Même divorcer était devenu impossible pour Marie.Ils ont dû fuir leurs créanciers, abandonnant leur immense villa pour se terrer ailleurs.Le Triomphe de Marion.Pendant ce temps, Joseph et moi avons solidement implanté Marion sur le marché.Quand est venu le moment d’ouvrir notre propre tour de financement, nous avons enfin révélé nos identités.En une nuit, je suis devenue l’étoile montante du monde des affaires.Les médias ont lancé une nouvelle vague de glorification, bâtissant mon image de businesswoman d’élite.Mais tout cela ne me faisait plus rien.J’avais vu
Les années que j’avais passées chez Boda n’avaient pas été vaines.J’avais rassemblé un dossier solide sur toutes les failles et irrégularités observées dans leur gestion.La veille du deuxième tour de financement, j’ai envoyé ces documents à tous les investisseurs potentiels.Boda s’était développé trop vite.Et l’argent avait toujours coulé à flots.Dès son premier jour d’exploitation, le manque de fonds n’avait jamais été un problème.Tout le monde dépensait sans compter.Les budgets publicitaires atteignaient des sommes astronomiques.La corruption et le détournement d’argent en interne étaient purement scandaleux.Mais le pire restait l’expansion incontrôlée, qui avait entraîné une nette dégradation de la qualité des produits.Résultat ?Boda avait certes conquis rapidement le marché, mais les consommateurs l’avaient tout aussi vite abandonné.Les clients s’étaient tournés vers Marion, Grue, Pavane et d’autres marques émergentes, bien plus fiables.Les chiffres d’affaires de Boda
J’ai gagné mon procès contre les fans de Livio. Ils ont dû s’excuser publiquement en ligne.J’ai payé pour que l’affaire devienne un sujet tendance, propulsant leurs excuses en haut des recherches.Officiellement, ils ont présenté leurs excuses, mais dans leurs groupes de fans, ils ont continué à m’insulter comme si de rien n’était.Pour calmer la situation, Julia leur a envoyé de l’argent, sous forme d’enveloppes rouges.Ils étaient ravis, l’appelant « belle-sœur » avec un enthousiasme écœurant.J’ai capturé les messages avec un faux compte, ajouté d’autres preuves et posté un tweet bien senti :« Soyez cohérents. Ceux qui disent une chose et en font une autre méritent d’être punis. »Livio s’est retrouvé en tendance numéro un, mais cette fois, ce n’était plus seulement une affaire de fans ou de cadeaux en argent.Les internautes ont découvert qu’il couchait avec ses propres fans.Et pas avec n’importe qui.Avec Julia.La même Julia qui était partout dans les médias économiques, prése
Le jour du mariage a été d’un luxe inouï.La mariée était resplendissante.Le marié, élégant.Malgré son handicap, il avait une prestance qui imposait le respect.Mais à ce stade, je n’osais même plus le considérer comme un homme en fauteuil roulant.Le soir venu, comment étions-nous censés nous comporter ?Après la cérémonie, une fois ma douche prise, je me suis installée sur le canapé et j’ai commencé à faire défiler mon téléphone.Notre mariage a fait la une des journaux.Sur les photos, je souriais tendrement à ses côtés, tandis qu’il me regardait avec une douceur évidente.Les internautes ont écrit qu’il était amoureux de moi.J’ai réfléchi un instant, puis j’ai mis un "je n’aime pas" à ce commentaire avant de poser mon téléphone et de me diriger vers la chambre d’amis.L’amour, j’en avais déjà fait l’expérience.Mais savourer la victoire dans le monde des affaires, je n’en avais pas encore eu l’occasion.Et c’était cette sensation-là que je voulais découvrir.Alors que je me lais
Il ferait bien de se taire. Dès qu’il ouvrait la bouche, il disait des choses que je ne supportais plus entendre. Je l’ai interrompu, d’une voix calme, presque glaciale : « M. Breguet, vous n’êtes pas mon marié. Si vous voulez, vous pouvez venir à mon mariage. »« Qu’est-ce que tu veux dire ? »« Me
Livio était injoignable depuis trois mois. Il ne répondait ni à mes appels, ni à mes SMS. Un jour, j’ai fini par comprendre qu’il m’avait mise sur sa liste noire.Le dernier jour de ce troisième mois, après mûre réflexion, j’ai finalement accepté la bague en diamant de Joseph.Joseph était là, assis
Toutes ces années, à part mon apparence qui ressemblait à celle de ma mère, j’avais aussi hérité de sa malchance.Après l’université, Livio est entré dans le monde du divertissement, tandis que moi, j’ai choisi l’entrepreneuriat.Au début, c’était de petites affaires sans grande envergure.Puis j’ai
J’ai décidé de ne plus y penser et suis rentrée chez moi. À peine avais-je franchi le couloir qu’une silhouette a surgi brusquement.Il m’a plaquée contre le mur, une main sur ma bouche.Mon regard s’est durci. Instinctivement, mon poing a fusé droit vers son visage, et dans la foulée, j’ai levé le






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.