LOGINÀ la veille de mon mariage, la nouvelle selon laquelle la maîtresse de mon fiancé avait accouché s'est répandue partout. Alex Thomas n'a pas attendu que je l'interroge, il a parlé d'un ton désinvolte. « Ce n'est qu'un accident, occupe-toi d'abord de l'organisation de nos fiançailles. » « Et puis, ton père est atteint d'un cancer de l'estomac à un stade avancé, rompre l'alliance maintenant ne servirait ni ta famille ni la mienne. » Le soir même, il a brillé par son absence à la réception, mais il a publié sur Instagram une photo d'un nouveau-né emmailloté. Quand je l'ai appelé en visioconférence, il donnait le biberon à l'enfant. « Je m'occupe du bébé ces jours-ci, je n'ai pas le temps de t'accompagner. Tu le sais, je suis fils unique, l'enfant compte davantage. » En essuyant le lait au coin de la bouche du nourrisson, il a ajouté : « Mais rassure-toi, dès qu'il aura un mois, je l'enverrai à Solméra. » « Aux fêtes, il suffira que tu fasses semblant d'être sa mère devant les autres, et la place de jeune madame Thomas restera toujours la tienne. » J'ai fixé la bague assortie à la mienne qui brillait à son annulaire, puis j'ai éclaté de rire. « Alex, annulons nos fiançailles. » Il a soufflé avec mépris : « Pour si peu tu fais un caprice, ne sois pas si enfantine. » J'ai coupé net la communication, puis j'ai composé le numéro privé de son père. « J'ai entendu dire que vous cherchiez une nouvelle épouse, pourquoi ne pas songer à moi ? » En caressant mon ventre, j'ai souri doucement : « Après tout, la vie m'accorde une nature féconde, je pourrai vous donner autant de fils que vous voudrez. » La maison des Thomas, avec Alex comme unique héritier, paraissait bien vide. Moi, j'allais lui offrir quelques frères pour égayer le tout.
View MoreLagu Car’s Outside mengalun secara on-loop dari sebuah ponsel yang terletak di atas nakas. Menyamarkan suara desah dan lenguhan berisik dari sepasang manusia yang bergumul di kamar hotel yang remang dan hangat itu.
“Edgar…Oh my God…” Satu nama terdengar di antara desahan yang memenuhi kamar. Edgar Pradana Bumantara, seorang Chief Executive Officer di sebuah perusahaan konstruksi. Di usianya yang menginjak angka tiga puluh, Edgar belum memiliki keinginan untuk menjalin hubungan serius dengan perempuan. Laki-laki itu sangat mencintai kebebasan, enggan terbelenggu dalam ikatan konyol yang disebut dengan pernikahan. Toh, tanpa menikah pun, Edgar tetap bisa bersenang-senang dengan caranya sendiri. Seperti yang sedang dilakukan saat ini. Edgar mendesah saat telah tiba di puncaknya. Napasnya terengah-engah, dadanya yang bidang dibasahi keringat. Ia lantas duduk di tepi ranjang, menaikkan kembali celananya. Sementara itu, di atas ranjang ada seorang perempuan yang sedang menopang dagu dengan kondisi setengah telanjang. Matanya sayu, rambutnya sedikit berantakan. “Mau ke mana?” tanya perempuan itu. “Udah selesai, kan?” sahut Edgar dengan santai, disertai senyuman tipis yang terkesan hangat dan mempesona. Perempuan berambut panjang itu mengulurkan tangannya, menyentuh punggung Edgar dengan lembut. Meminta lelakinya untuk kembali berbaring di atas ranjang, barangkali mereka bisa tidur bersisian sampai pagi datang. “Stay here,” pintanya Edgar menyugar rambutnya, kemudian mengeluarkan sebatang rokok dari saku celana. Membakar ujungnya dengan pemantik hingga menimbulkan kepulan asap. Laki-laki itu lantas menoleh, menatap sosok perempuan yang masih berbaring di atas ranjang dengan sepasang mata sayunya yang menggoda. Edgar tak mengatakan apa-apa, hanya menyelipkan sebatang rokok di antara celah bibirnya. Jemarinya perlahan bergerak untuk menyentuh helaian-helaian rambut perempuannya yang agak basah akibat keringat. “Lupa kesepakatan kita?” tanya Edgar sambil mengepulkan asap putih ke udara. “One night stand. Setelah itu, semuanya selesai.” Perempuan itu tersenyum tipis, lalu merebut rokok dari jemari Edgar. “Aku mau coba ini,” ucapnya, kemudian menyelipkan rokok itu di antara celah bibirnya. Perempuan itu jelas tak tahu bagaimana cara merokok, hanya mencoba untuk menarik perhatian Edgar. Haruskah Edgar tinggal sebentar lagi? Barangkali menyelesaikan satu sesi lagi? “Kamu mau aku tetap di sini sampai besok pagi?” tanya Edgar sambil merebut kembali rokoknya. Mengisapnya secara perlahan, lalu mengepulkan asap putih ke udara. Perempuan berambut panjang itu langsung mengubah posisinya menjadi duduk, perlihatkan dadanya yang tak tertutup sehelai kain. Wajahnya mendekat, hendak berikan ciuman mesra di bibir Edgar. Sialnya, beberapa saat kemudian ponsel Edgar bergetar. Ada telepon masuk dari sang papa, Danuarta Bumantara. Jelas tak dapat diabaikan. Dengan berat hati, Edgar mengangkatnya. “Halo? Ada apa?” tanya Edgar. Edgar rasakan ada tangan ramping yang memeluknya dari belakang. Begitu erat, hingga posisi mereka terasa dekat dan intim. “Papa kirim alamat lewat chat. Datang ke sana sekarang juga, jemput Indira,” kata Papa Danu, serupa ultimatum yang tak boleh dibantah. Edgar mengerutkan kening, “Indira? Siapa?” “Nanti Papa jelaskan. Jemput dulu Indira di alamat yang sudah Papa kirimkan.” “Jelaskan dulu. Saya nggak bisa asal menjemput perempuan yang nggak jelas asal-usulnya.” “Cukup turuti perintah Papa, Ed. Jangan banyak bertanya.” Papa Danu mengakhiri telepon secara sepihak. Tak ingin dibantah atau didebat oleh sang putra. Edgar menghela napas, kemudian bangkit dari duduknya. Rokok dimatikan, puntungnya dibuang begitu saja ke atas lantai yang dingin. Laki-laki itu lantas melangkah keluar dari kamar hotel tanpa mengucapkan sepatah kata, tinggalkan partnernya bersama kekacauan yang tadi mereka ciptakan. *** Indira Kalani duduk seorang diri di halte. Membawa sebuah tas jinjing berukuran besar, serta sebuah ransel yang terlihat penuh. Gadis itu menatap rintikan hujan sambil sesekali menggosok kedua tangannya yang terasa dingin. Sudah hampir satu jam Indira menunggu. Meskipun sebenarnya Indira tak tahu siapa sosok yang sedang ditunggu. Tadi, Bu Ismi hanya meminta Indira untuk pergi ke halte karena ada seseorang yang akan menjemputnya. Kata Bu Ismi, ada orang baik yang ingin menanggung biaya hidup dan biaya kuliah Indira. Sehingga gadis itu tak perlu lagi pergi kesana-kemari mencari pekerjaan part time demi terus melanjutkan pendidikannya. Hujan semakin deras. Langit bergemuruh, kilatan petir terlihat mengerikan. Sesekali Indira memejamkan mata, dalam hati merapalkan doa, berharap hujan lekas reda. Sepatunya telah basah, bajunya juga sedikit basah akibat cipratan air. Tubuhnya mulai menggigil kedinginan. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kondisi jalanan mulai sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang melintas. Angkutan umum tak lagi terlihat, telah berhenti beroperasi karena sudah kelewat malam. Berbagai skenario mengerikan mulai bermunculan di dalam kepala Indira. Bagaimana kalau orang jahat tiba-tiba muncul untuk merampok atau berniat melakukan pelecehan? Apa yang harus Indira lakukan? Ponselnya mati, sehingga tak bisa menghubungi siapa pun. Suara teriakannya tak akan terdengar karena derasnya hujan. Lalu, tiba-tiba muncul sebuah mobil berwarna hitam. Berhenti tepat di depan halte. Sang pemilik mobil menurunkan kaca, mengamati Indira dengan ekspresi yang tak dapat diterjemahkan ke dalam kata-kata. “Indira?” Indira mengerjapkan mata saat namanya dipanggil. “Iya, saya Indira,” jawab Indira, sedikit mengeraskan suaranya. Si pemilik mobil terlihat sedang berpikir, seolah ingin mempertimbangkan beberapa hal sebelum memutuskan untuk mengajak Indira masuk. Sementara itu, Indira masih diam di tempatnya, tak tahu harus melakukan apa. “Masuk,” kata Edgar pada akhirnya. “Maaf, anda siapa, ya?” sahut Indira. “Saya diminta buat jemput kamu di sini.” “Oh, anaknya Pak Danuarta?” Edgar menganggukkan kepala. Indira lekas berdiri, mengangkat tasnya yang terasa cukup berat. Gadis itu lantas berlari kecil, menembus hujan yang semakin deras. Edgar memasang ekspresi datar ketika Indira masuk ke dalam mobil. Kondisinya basah, bajunya lusuh, bahkan tasnya juga hampir rusak. “Ini tasnya ditaruh di mana, Mas?” tanya Indira yang terlihat kebingungan, tak tahu harus menaruh tasnya di mana. “Bagasi,” jawab Edgar. “Bagasi?” “Iya, belakang. Tinggal buka, terus taruh tasnya di sana.” Indira mengangguk, lalu keluar dari mobil. Kembali berdiri di bawah derasnya guyuran hujan untuk meletakkan tasnya di bagasi mobil. Saat kembali ke dalam mobil, kondisi Indira semakin basah. Ia tak dapat duduk dengan nyaman, khawatir kalau pakaiannya yang basah membuat jok mobil kotor. Edgar menatap Indira dari ujung kepala hingga ujung kaki, menyadari kalau pakaian dalam gadis itu terlihat dengan jelas karena kaus putihnya telah basah kuyup terkena hujan. Edgar mengembuskan napas, lalu meraih jaketnya yang tergeletak di jok belakang. “Pakai ini,” kata Edgar sambil melemparkan jaketnya ke arah Indira. Indira mengerjapkan mata, menatap jaket berwarna hitam yang mendaat tepat di atas pangkuannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Indira langsung memakai jaket milik Edgar. Terlalu besar, tapi cukup menghangatkan. “Who are you? Kenal ayah saya dari mana?” tanya Edgar setelah hening yang cukup panjang di antara mereka. Indira terdiam selama beberapa saat, tak menemukan kalimat yang pas untuk mendeskripsikan dirinya sendiri. Ia hanya menundukkan kepala, mulutnya tetap terkunci rapat. Karena tak kunjung mendapat jawaban dari lawan bicaranya, Edgar akhirnya mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Menelepon Papa Danu untuk memberi kabar bahwa Indira sudah berada di dalam mobilnya. “Bagaimana, Ed? Sudah menjemput Indira?” tanya Papa Danu begitu mengangkat telepon dari putranya. “Yes, she’s here. Setelah ini harus saya bawa ke mana?” sahut Edgar sambil melirik sekilas ke arah Indira. “Pulang. Mulai sekarang, Indira tinggal bersama kamu.” “Apa?”Il a fixé Alex d'un regard enflammé.« Alex ! Tu es devenu complètement déchaîné ! Tu oses frapper ta femme ? As-tu encore un semblant d'humanité ? »« Papa ! Non ! C'est elle… elle m'a trahi ! »Alex s'est défendu de façon incohérente, en pointant Isabelle au sol, le visage déformé par la rage et l'humiliation.« Tu continues à mentir ! »Louis a levé la main et lui a assené une gifle retentissante.Le coup était si fort qu'Alex a vacillé.Blottie contre Louis, j'ai savouré la scène avec jubilation.« Dégage ! Sors de la famille des Thomas ! À partir d'aujourd'hui, tu n'es plus mon fils ! »Louis avait toléré ses échecs à maintes reprises.Mais qu'Alex ait blessé son enfant, ça, il ne pouvait pas le supporter.Ces deux enfants, il les avait attendus pendant des années.Louis a aussitôt fait venir le médecin de famille.Après un examen minutieux, le médecin a déclaré gravement à Louis :« M. Thomas, Mlle Laurent a sans doute subi un traumatisme. La situation est instable,
« Ce n'est pas vrai ! Alex, écoute-moi, laisse-moi t'expliquer ! L'enfant est forcément le tien ! »« Paf ! » Un claquement sec a retenti.« Salope ! Tu veux encore expliquer quoi ? Le résultat du test est sorti, jusqu'à quand comptes-tu me tromper ? »Les sanglots et les supplications d'Isabelle se sont mêlés aux bruits sourds de chutes.Moi, j'ai bu mon thé tranquillement au rez-de-chaussée, et j'ai savouré ce vacarme avec un plaisir certain.Quand les cris d'Isabelle sont devenus plus perçants, j'ai estimé qu'il fallait agir.Je suis montée lentement l'escalier, la main sur mon dos, l'air préoccupé.Arrivée devant la chambre d'Alex et d'Isabelle, j'ai élevé la voix pour les raisonner :« Alors, Alex, un couple peut se disputer, mais on ne lève pas la main ! »« Et puis Isabelle t'a quand même donné un enfant, comment peux-tu la frapper si violemment ? »Dans la chambre, les hurlements sont devenus plus atroces à mes paroles.« Ah ! Alex, j'ai tort, j'ai vraiment tort… »
Mais je ne m'étais pas attendue à ce qu'Isabelle m'aide à cause de sa stupidité.Pour accoucher avant mes fiançailles avec Alex, Isabelle avait pris en secret de l'ocytocine.Son enfant était non seulement né prématuré, mais il avait aussi hérité d'une santé fragile.Au changement de saison, au moindre malaise, il fallait aussitôt l'emmener à l'hôpital.Alex avait couru presque chaque jour à l'hôpital, les yeux pleins d'angoisse et de fatigue.Il n'avait évidemment plus le temps de s'occuper des affaires de l'entreprise.Louis s'était déjà montré mécontent de ses performances récentes, et maintenant Alex disparaissait sans cesse.Jusqu'au jour où un subordonné lui avait rapporté qu'Alex avait commis une grave erreur sur un projet.Il s'est mis hors de lui.« Alex ! Tu veux faire couler l'entreprise ? »« Si tu n'es même pas fichu de régler une broutille pareille, à quoi peux-tu bien servir ? »Lors d'une réunion de direction, Louis avait frappé la table et avait insulté Alex
« Alors, M. Thomas, cette surprise, vous en êtes satisfait ? »Louis a serré ma main avec force, sa voix tremblait d'émotion :« Sophie, tu m'as vraiment offert la plus belle des surprises ! »« Sophie, sais-tu qu'après tant d'années j'ai toujours souffert de ne pas avoir d'enfant ? »« Et maintenant, au moment où j'en avais le plus besoin, tu m'as donné deux enfants. »« J'ai pris ma décision : à partir d'aujourd'hui, six pour cent des parts du Groupe Thomas t'appartiendront ! »À ces mots, toute la salle a été saisie de stupeur.Six pour cent des parts du Groupe Thomas, c'était une fortune colossale !Le visage d'Alex est devenu encore plus sombre.Toutes ces années, il avait été formé comme héritier, mais Louis ne lui avait jamais confié la moindre part réelle.Alex a soudain pris la parole, la colère perçant dans sa voix :« Papa, tu en es sûr ? Comment sais-tu que l'enfant qu'elle porte est le tien ? »J'ai souri froidement en moi-même, il n'avait décidément pas pu se
« Quelle absurdité ! »Je me suis relevée du sol comme une folle et je me suis précipitée vers Isabelle, mais Alex m'a retenue de force.« Sophie ! Calme-toi ! »« Calme ? Comment je peux me calmer ? Mon père est en danger de mort ! »Je me suis débattue et mes ongles ont failli lui déchirer la
Je tremblais de tout mon corps de rage, si cela arrivait vraiment, ma famille, les Laurent, et moi-même ne serions plus qu'une risée.Alex semblait persuadé que son arrangement était irréprochable, son ton devenait de plus en plus assuré.« Sophie, je sais que ce n'est pas juste pour toi, mais Isa
La voix d'Alex est parvenue à travers le combiné, empreinte d'un ton condescendant et assuré :« Sophie, viens tout de suite, Isabelle Dubois ne va pas bien. Viens t'occuper du bébé pendant que je l'emmène à une vente aux enchères pour se changer les idées. »Il me demandait de m'occuper du bébé q
Au téléphone, la voix légèrement rauque de Louis Thomas s'est fait entendre : « Sophie Laurent, qu'est-ce que tu racontes ? »J'ai laissé échapper un léger rire, teinté d'une pointe de moquerie :« Vous avez vu les nouvelles vous aussi, votre fils est vraiment indécent. Je suis sérieuse, je veux c






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.
reviews