LOGINSore Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Pengunjung6442 dan Kak Sitoy Suwarto atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Akumulasi Gem: 7/15 Akumulasi Hadiah: 50/100 Yuk tambah Gem atau Hadiah untuk bab bonus (◍•ᴗ•◍) Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
Di Kota Futura, Ryan duduk di dalam sebuah ruang kerja yang seluruh permukaannya mengilap dan dipenuhi garis-garis bersih.Tidak ada satu pun sudut tajam di ruangan itu. Dindingnya melengkung halus, sementara cahaya turun dari langit-langit yang seolah menyala sendiri tanpa bantuan lampu.Di tangannya terdapat beberapa lembar foto.Ryan membolak-balik semuanya satu per satu.Di seberang meja, Radit Mahendra mengetuk permukaan meja dengan ujung jarinya.Permukaan meja di samping Ryan tiba-tiba bergerak seperti cairan.Beberapa detik kemudian, material itu membentuk sebuah cangkir. Teh hangat mengalir dari dasar cangkir sampai penuh, dan aroma lembut segera memenuhi ruangan.“Coba dicicipi,” kata Radit. “Ini teh khas Kota Futura. Dan tenang saja, yang satu ini sama sekali tidak melibatkan teknologi apa pun.”Ucapannya terdengar seperti gurauan, tetapi ada sedikit kebanggaan dalam nadanya.Ryan mengangkat cangkir. “Terima kasih.”Ia menyesap sedikit. Tehnya memang enak.Sayangnya, pikir
Bayu mengusap wajahnya yang basah oleh hujan, lalu berbalik menghadap seluruh personel militer yang masih berada di Bukit Palagan.Ekspresinya kembali tenang dan tegas, seolah kejadian beberapa menit sebelumnya tidak pernah mengguncangnya.“Kejadian hari ini tidak boleh dibicarakan di luar.”Suaranya terdengar jelas di seluruh area.“Siapa pun yang membocorkannya akan diadili dengan hukum militer!”“Siap!”Jawaban para prajurit menggema serempak.“Bubar!”“Siap!”Barisan mulai bergerak meninggalkan Bukit Palagan dengan tertib. Langkah mereka tetap teratur meskipun tanah sudah berubah becek akibat hujan.Namun hampir setiap orang sempat menoleh satu kali ke arah bagian terdalam bukit.Tatapan mereka tertuju pada nisan tua yang sebelumnya memancarkan cahaya putih, seolah ingin memastikan bahwa kekuatan mengerikan tadi benar-benar telah menghilang.Tidak butuh waktu lama sampai lapangan terbuka itu menjadi jauh lebih sepi.Bayu melirik Ryan yang masih berdiri sambil memandang ke arah bu
“Ryan, awas!”Bayu berteriak begitu melihat sosok putih itu berhenti tepat di samping keponakannya.Namun sosok tersebut hanya mengangkat tangan.Satu jentikan jari diarahkan kepada Bayu.Tik.Tubuh Bayu langsung membeku.Mulutnya masih terbuka, tetapi tidak satu pun suara bisa keluar. Bukan hanya itu, seluruh tubuhnya seperti dikunci dari dalam. Jangankan bergerak maju, menggeser telapak kaki setengah jengkal pun tidak mampu.‘Kekuatan macam apa ini?’Rasa tidak berdaya merambat ke seluruh tubuhnya.Bersamaan dengan itu, muncul sesuatu yang sudah sangat lama tidak Bayu rasakan.Takut.Sejak berhasil menjejak taraf Pembantai Negeri, sudah lama ia tidak pernah merasa begitu kecil di hadapan seseorang.Namun sosok putih tersebut sama sekali tidak memperhatikannya lagi.Ia menunduk menatap Ryan.Wajahnya tidak memiliki mata.Tidak ad
Di saat yang sama dengan munculnya mangkok itu, seluruh Bukit Palagan mendadak berguncang.Tanah bergetar tanpa henti. Batu-batu kecil di jalan setapak melompat, sementara bunga yang baru saja diletakkan di sekitar makam Laksmana Biru jatuh berserakan.“Ini...”Para personel militer yang hadir langsung terpaku.Selama Bukit Palagan digunakan sebagai tempat peristirahatan para pahlawan Negara Redwhite, belum pernah terjadi guncangan seperti ini dalam upacara pendirian nisan.WUNG!Sebelum siapa pun sempat memahami apa yang terjadi, cahaya putih menyilaukan meledak dari salah satu nisan di bagian terdalam bukit.Tekanan yang menyertainya begitu besar sampai tanah di sekitarnya langsung retak.Retakan itu menjalar ke segala arah, membelah rumput dan jalan setapak seperti jaring laba-laba.Bayu dan para jenderal lain langsung mengerutkan kening.“Siapa yang berani berbuat kurang ajar di t
Bukit Palagan Negara Redwhite, kalau dilihat dari bentuknya saja, sebenarnya tidak layak disebut bukit. Tempat itu hanya berupa gundukan tanah yang tingginya tidak seberapa. Namun puluhan tahun lalu, pahlawan pertama Negara Redwhite yang gugur demi mempertahankan negeri dimakamkan di sana. Setelahnya, semakin banyak pahlawan mengikuti jejak yang sama. Satu makam menjadi dua. Dua menjadi puluhan. Puluhan berubah menjadi ratusan. Lambat laun, gundukan tanah kecil tersebut menjadi tempat peristirahatan para pahlawan Negara Redwhite dan dikenal sebagai Bukit Palagan. Sejarah panjang negeri itu seolah terkubur bersama mereka. Kejayaan, kekalahan, kehormatan, pengorbanan, bahkan masa-masa paling kelam Negara Redwhite tersimpan di antara deretan batu nisan yang memenuhi bukit. Pagi itu, langit tampak kelabu dan berat. Ribuan prajurit berdiri dalam barisan rapi. Tidak ada yang berbicara. Wajah mereka kaku, punggung tegak, dan pandangan lurus ke depan. Di hadapan seluruh barisan ter
Bayu memandangi para bawahannya dengan mata setengah terpejam. Ia sudah terlalu hafal tabiat orang-orang Pasukan Tempur. Dari cara mereka berdiri dan menggeser kaki saja, Bayu bahkan bisa membedakan siapa yang benar-benar ingin pergi ke kamar kecil dan siapa yang sekadar sedang menahan angin di perut. Karena itu, ia sama sekali tidak percaya dengan alasan muluk para jenderal di depannya. “Sudahlah. Ryan benar-benar sudah pulang untuk beristirahat. Kalau ingin berterima kasih, lain kali saja.” “Siapa bilang Ryan sudah pulang?” Suara nyaring penuh kemenangan tiba-tiba terdengar dari belakang. Semua orang serentak menoleh. Rangga Wicaksana berjalan mendekat dengan senyum lebar. Satu lengannya merangkul bahu Ryan, sementara orang yang dirangkulnya jelas tidak terlihat sesenang itu. Ryan nyaris seperti sedang diseret kembali ke tengah kerumunan. Begitu bertemu tatapan Bayu, Ryan langsung memasang wajah memelas. Sayangnya, Rangga sama sekali tidak merasa bersalah. Ia malah menge







