Home / Fantasi / Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang / Bab 006 : "Apa Yang Kau Lakukan?"

Share

Bab 006 : "Apa Yang Kau Lakukan?"

Author: Xiao Chuhe
last update Last Updated: 2026-01-28 18:06:09

“Apakah vas itu tidak menarik minat Yang Mulia?” Claire berdiri di samping Esther, melakukan curtsy yang sangat indah.

Suara riuh rendah pelelangan itu menjauh entah ke mana. Esther menelan ludah. “Nona Saintess?”

"Apakah itu lebih bagus dari guci yang ada di kamarku?" Esther bertanya pelan, menyadarkan diri dari keterkejutannya.

Claire menundukkan kepala sedikit, menunjukkan senyum lembutnya. “Tidak sebagus itu …, yang dihargai adalah sejarah barang tersebut.”

"Aku tidak membeli barang yang tidak kusukai, Nona Saintess.” Esther tersenyum kaku, ia menyadari para wanita bangsawan melihat mereka sudah seperti melihat pertunjukan drama di gedung teater.

Claire masih menatapnya. "Meski berpotensi memenangkan semua barang dan menjadi terkenal sebagai donatur terbanyak?" Claire menatap penasaran.

"Ya, aku bisa memberikan donasi sebanyak yang kumau tanpa harus memenangkan semua barangnya. Lalu kelihatannya Marchioness Saffron lebih menginginkan vas itu daripada aku. Aku menghargai keinginannya." Esther mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.

Claire kembali berdiri tegak. “Saya tidak menyangka Yang Mulia Permaisuri memiliki sisi peka yang seperti ini. Sungguh baik jadinya bila Anda sudah bersikap sebaik ini sejak awal.”

Esther meliriknya. Ia tahu kenapa Claire bersikap seperti ini padanya. Jawabannya pastilah karena ia adalah Esther Belliana Ravenshire.

Esther tersenyum tipis. “Saya tidak banyak berubah …, ini hanya proses kedewasaan seseorang yang sebelumnya terlalu dimanja saja. Siapa pun akan mengerti setelah melewati pengalaman pahit dalam hidupnya.”

“Apakah Yang Mulia tertarik bersaing dengan mereka untuk mendapatkan barang lelang milik saya?” tanya Claire.

Claire menatap ke depan. Barang lelang ketiga dibuka. Sebuah mantilla—kerudung renda—yang berwarna putih terlihat setelah kain dibuka.

“Barang ketiga adalah Mantilla Yang Diberkati Dewa, kepemilikan Yang Mulia Saintess Claire saat memberkati Pesta Perayaan Pendirian Negara tahun lalu, dibuka dengan harga 1000 keping emas!” Juru lelang berseru kencang.

Lady Ernest, kakak perempuan Esther mengangkat tangannya. “1500 keping emas.”

Seluruh pasang mata menoleh ke sudut taman. Melihat sosok berambut hitam yang panjang mengkilap, yang duduk santai sendirian.

Esther membulatkan matanya. ‘Itu …, Marianne Ruth Ernest!’

Esther kembali fokus, menatap Duchess Luthadel yang menyusul mengangkat tangan. “2000 keping emas.”

“3000 keping emas!” Marianne tidak menyerah.

Situasi menjadi panas ketika Duchess Luthadel juga tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah. “7000 keping emas.”

Tanpa sadar ia bersungut-sungut pelan, “Hanya sehelai kerudung brokat saja.”

Claire mendengarnya tanpa sengaja, ia tersenyum hangat. “Yang Mulia …, umat manusia memang selalu berebut meminta berkat dari Dewa.”

“10.000 keping emas!” Marchioness Saffron ikut mengangkat tangan.

Esther menautkan alis dengan tatapan serius. Ia menoleh ke belakang, menatap Marianne yang menyeringai tipis.

“12.000 keping emas.”

Senyap. Angka yang disebut Marianne sudah menjadi tidak masuk akal. Esther ingin segera menyudahi ini.

Ia menatap Duchess Luthadel yang duduk di depannya, terlihat gelisah, sebagai seorang religius, tampak ia menginginkan mantilla itu.

“15.000 keping emas.” Esther akhirnya mengangkat tangannya.

Semua orang mematung mendengar angka fantastis yang keluar dari mulut Esther, bahkan Duchess Luthadel sampai membulatkan matanya.

“Mantilla milik Yang Mulia Saintess terjual dengan harga 15.000 keping emas di tangan Yang Mulia Permaisuri!”

Semua orang bertepuk tangan, riuh rendah, membuat Esther mengembuskan napas lega.

Claire tersenyum menatapnya. “Apakah mantilla saya adalah barang yang diinginkan Yang Mulia?”

Esther menatap lurus ke depan. “Entahlah …, aku hanya melakukannya berdasarkan intuisiku saja.”

“Meski begitu, tawaran Anda benar-benar sangat tinggi, Yang Mulia …, saya merasa terhormat mantilla milik saya bisa terjual setinggi itu di tangan Yang Mulia.” Claire membungkuk, mengucapkan terima kasih. “Semoga hasilnya bisa membahagiakan lebih banyak orang di luar sana.

Esther memalingkan wajah. ‘Tentu saja tidak setinggi itu sampai bisa mengalahkan barangku nanti.’

Ia melirik ke belakang, Marianne sedang mengedipkan mata sambil mengacungkan ibu jari. ‘Jadi dia ikut menawar karena ingin memancing tindakanku, ya ….’ Ia kembali menghadap ke depan.

“Barang selanjutnya adalah lukisan Hutan Eldervale! Disumbangkan oleh Nyonya Rumah, Marchioness Saffron, dibuka dengan harga 2000 keping emas!” Juru lelang berseru penuh semangat.

Kotak berisi barang selanjutnya dibuka. Mata Esther membulat senang melihat barang itu. "Aku mau itu ….”

Esther menggigil bibir. Bagaimana ini? Ia ingin sesegera mungkin mengangkat tangan. Tapi kalau langsung menawar dengan harga tinggi, tak akan ada yang berani menawar lebih tinggi lagi.

Esther mengembuskan napas panjang. ‘Aku akan menunggu.’

“3000 keping emas!” Countess Nerida mengangkat tangannya.

“6500 keping emas!” Duchess Luthadel pun turut serta.

Claire, dengan percaya diri, tersenyum sambil mengangkat tangan. “10.000 keping emas.”

‘Apa-apaan Nona Karakter Utama ini! Sengaja, ya?!’ Ia mengepalkan tangan.

“13.000 keping emas!” Di belakang sana, Marianne mengangkat tangannya lagi, sambil menyeringai menyebalkan menatap Esther.

Esther mendengus. Mengangkat tangannya. “15.000 keping emas!”

Senyap.

Setiap kali Esther mengangkat tangan, suara riuh rendah di sekitar entah kenapa lenyap begitu saja seolah tersedot ke dalam dimensi yang berbeda.

“17.000 keping emas!” Marianne mengangkat tangannya lagi.

‘Sialan ….’ Ia kembali mengangkat tangan. “20.000 keping emas!!!”

Palu diketuk tiga kali. “Terjual seharga 20.000 keping emas, dimenangkan oleh Yang Mulia Permaisuri.” Semua orang bertepuk tangan. Esther tersenyum puas.

Di samping Esther, Claire tersenyum hangat sambil menatapnya. “Ternyata benar, ya …. Yang Mulia akan menggenggamnya kalau memang suka, tanpa peduli apa pun.” Claire melanjutkan kalimatnya.

Esther meliriknya. “Tentu saja, Nona Saintess.”

“Barang berikutnya, sekaligus yang terakhir, set perhiasan Blood-Drop Ruby dengan 500 butir permata ruby berkualitas tinggi yang disumbangkan Yang Mulia Permaisuri Esther Belliana Ravenshire! Dibuka dengan harga 2000 keping emas!”

Suasana tiba-tiba senyap. Semua orang tahu barang apa itu. Set perhiasan yang dihadiahkan Baginda Kaisar di hari pernikahan keduanya.

Esther menutup mata sambil tersenyum. “Emma, kau harus menawar barang itu seharga 5000 keping emas.”

Emma menelan ludah, mengangkat tangan. “5000 keping emas!”

“Lady Hudson memulai!”

“10.000 keping emas.” Duchess Luthadel mengangkat tangan.

“Duchess Luthadel menyusul!”

“13.000 keping emas!” Marianne di belakang sana mulai kembali mendominasi. Esther melotot, masih tidak tahu apa motif orang itu.

“15.000 keping emas!” Duchess Luthadel kembali mengangkat tangannya.

“18.000 keping emas.” Marianne tidak menyerah.

“20.000 keping emas.” Claire mengangkat tangannya.

Claire hanya tersenyum dengan mata menyipit saat Esther—bahkan semua orang—menatapnya dengan heran. “Saya membalas kebaikan Yang Mulia Permaisuri.”

“25.000 keping emas!” Duchess Luthadel mengangkat tangannya dan menyebut angka yang benar-benar fantastis.

Claire menatap Duchess Luthadel, separuh terkejut, kemudian kembali tersenyum tenang.

“Ini benar-benar di luar dugaan!” Juru lelang berteriak penuh semangat. Palu sudah diketuk. “Terjual dengan harga tertinggi, 25.000 keping emas dan kemenangan didapatkan oleh Yang Mulia Duchess Luthadel! Selamat, selamat!”

Tepuk tangan kembali menggema.

Esther menghela napas panjang. ‘Gila, harga tertinggi!’

Di akhir acara, Claire mengucapkan salam padanya, “Senang akhirnya memiliki kesempatan untuk mengobrol lama dengan Yang Mulia Permaisuri.”

Esther menjawab, “Kalau mau, kau bisa datang kapan pun ke istanaku saat aku senggang, Nona Saintess.”

Esther terkekeh dalam hati. ‘Itu karena kau karakter utama.’

Duchess Luthadel juga memberikan salam secara pribadi, menantikan pertemuan selanjutnya. Esther merasa dirinya perlu meninggalkan istana agar bisa menjaga jarak dari kedua karakter utama.

Emma tersenyum lebar saat keduanya pergi menuju Kereta Kuda Kekaisaran. Esther terkekeh pelan. Sifat Emma menjadi sedikit lebih ceria setelah pengalaman pertama bersosialisasi ini.

Sekarang masalah pesta amal sudah selesai. Esther duduk tenang di dalam kereta. Matanya terpejam. Satu hal muncul di pikirannya.

‘Bagaimana aku akan meminta izin padanya untuk pergi ke Luthadel?!’

*

*

*

Malam itu, Esther berpura-pura terpaku pada lembaran buku di tangannya, meski matanya tak benar-benar membaca. Pikirannya bising, menyusun strategi untuk membujuk William agar mengizinkannya pergi ke Luthadel.

Krieet.

Engsel pintu berderit. Sosok yang sedari tadi menghantui pikirannya melangkah masuk.

Sebuah sengatan aneh menjalar di benak Olivia, jiwa yang kini terjebak di tubuh Esther.

'Sial, aku tidak menyangka pernah menciptakan pria seberbahaya dan setampan ini,' batinnya.

Namun, ia segera menepis pemikiran itu. Jatuh cinta pada ciptaannya sendiri adalah malapetaka, itu akan mengubah naskah aslinya!

Esther berdiri dan memberikan curtsy. “Selamat malam, Baginda ….”

William berhenti. Tatapannya tajam, menyelidiki setiap inci wajah istrinya. "Kau …, membaca buku?"

Esther mengernyit, "Tentu saja. Apa ada yang salah …." Kalimatnya menggantung. Ia baru teringat satu detail fatal, Esther yang asli membenci pengetahuan.

Namun, sebelum ia sempat mengarang alasan, William sudah bergerak. Pria itu mendekat, menanggalkan jubahnya hingga menyisakan tubuh bagian atas yang kokoh.

Otot-ototnya yang keras tampak berkilat oleh sisa keringat, memancarkan aroma maskulin yang memabukkan, campuran antara wangi kayu cendana dan hawa panas tubuh pria dewasa.

Esther terdesak mundur hingga tungkainya membentur pinggiran dipan. Ia terperangkap.

"Ba-Baginda, a-apa yang Anda lakukan?!"

Tanpa sepatah kata, William merunduk. Jemarinya yang kasar dan hangat menyusuri garis rahang Esther, lalu menekan dagunya perlahan, memaksa wanita itu mendongak.

Napas William yang berat kini menyapu permukaan kulit leher Esther, memicu gelombang desir yang tak tertahankan. Mata gelap pria itu berkilat, mengunci manik mata Esther dengan tajam.

"Apa yang aku lakukan?" bisik William, suaranya rendah dan dalam, bergetar tepat di depan bibir Esther. "Harusnya aku yang bertanya ….”

William menipiskan jarak, membiarkan dadanya yang bidang bersentuhan dengan napas Esther yang memburu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 087 : Gaun Merah

    Setelah menentukan rencananya, Esther segera menulis undangan untuk William dan Claire di sela-sela pekerjaannya. Undangan itu menuliskan bahwa ia mengundang Claire untuk makan malam dengannya di Istana Utama.Esther mengirim surat pada William untuk memberitahukan bahwa dirinya ingin makan malam di Istana Utama tanpa memberitahu bahwa Claire akan ikut dengannya. Emma bertanya penasaran saat diminta untuk menyerahkan undangan-undangan itu. "Yang Mulia, kenapa Anda mengajak Nona Saintess juga? Bukankah lebih baik kalau makan malamnya hanya berdua saja?"Esther berdeham pelan. "Aku hanya ingin melaporkan pekerjaanku saja. Ini bukan hal romantis." Emma tersenyum jahil. "Baiklah, Anda mungkin masih merasa malu untuk mengakuinya, tapi sebenarnya saya tahu, Anda senang menghabiskan waktu bersama Baginda, bukan?" Esther melotot kesal. "Itu sungguh tidak seperti yang kau bayangkan, Emma …."Esther kembali melanjutkan pekerjaannya hingga pukul dua siang. Hingga jam itu, ia harus memenuhi

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 086 : Kembali Seperti Dulu

    "Lalu apa yang Anda inginkan dari saya?" tanya Esther malas. William berdiri, menatap Esther tanpa berkedip. Ekspresi wajahnya begitu licik."Berikan aku perlakuan yang seperti dulu juga." Esther mengernyit dalam. "H-hah?!" "Kau ingin aku memperlakukanmu seperti dulu, bukan? Aku ingin kau pun melakukan hal yang sama." William tersenyum tipis. Esther membalikkan tubuhnya, mendengus kesal. Permintaan orang ini sungguh sulit dikabulkan. Yang benar saja. William ingin ia menjadi Esther yang sebenarnya, dalam artian, Esther yang selalu mengejar cintanya dan rela mempermalukan diri sendiri demi mendapatkan perhatian William. Dengan kondisi yang seperti ini, bukankah itu tidak mungkin? Esther yang sekarang adalah Olivia. Janganlah menempel terus-menerus pada William, berperilaku tidak sopan di depannya pun ia tak sepenuhnya berani. "Bagaimana, Permaisuri?" William bertanya lagi. Esther terdiam sejenak. Ia memikirkan apa yang akan terjadi kalau ia melakukan itu. "B-biarkan saya mem

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 085 : Berterima Kasih

    Esther terdiam mematung di tengah pintu kamarnya sendiri. Matanya berkedip beberapa kali untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Di belakangnya, Emma melongokkan kepala untuk melihat apa yang membuat Esther tiba-tiba terdiam.Lalu matanya menatap William yang duduk di tepi ranjang, bergeming. Ia membulatkan mata. Segera berjalan mundur setelah William melemparka tatapan mengusir padanya. Esther menoleh ke belakang dan melotot saat tahu Emma sudah pergi lebih dulu. Ia melangkah mundur pelan-pelan, lalu tertawa hambar. "Ah, hahaha …. S-sepertinya saya melupakan satu pekerjaan lagi—""Sudah melihat suamimu menunggu pun kau masih memilih pekerjaan, ya? Haah …, padahal aku berharap kau sedikit menyapaku." William melipat lengan di depan dada, sengaja menyindir. Esther menghentikan langkah dan berbalik dengan rahang mengeras, merasa cukup kesal. "Baginda …, saya hampir melupakan betapa pentingnya menyapa Baginda saat kita sudah saling berhadapan karena pekerjaan itu benar-benar pen

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 084 : Tiara Emerald

    Semua orang duduk di kursi yang telah disediakan, melingkari meja makan dengan diameter satu meter berisi masing-masing empat kursi. Jumlahnya ada lima belas meja makan. Berpasang-pasang bangsawan mengambil tempat duduk masing-masing. Esther berada di meja yang sama dengan Duchess Luthadel dan Duchess Evander, hanya berisi tiga kursi. Emma berdiri di belakangnya. Lucien bersama teman-teman lamanya, sesekali masih melirik Raymond yang duduk berjarak darinya. Dame Charina dan Tuan Muda Isaac berdiri di depan para tamu undangannya. Lalu sebuah pidato pendek tentang betapa bersyukurnya mereka akan hari ini pun menciptakan gemuruh tepuk tangan penuh antusias dari para tamu. Esther tersenyum senang, akhirnya mereka bisa berkumpul bersama dan mengadakan acara kecil di musim sosial, musim di mana semua bangsawan di seluruh penjuru negeri kembali ke Ibukota untuk berpartisipasi. Setelah pidato pendek itu, Isaac memegang tangan Charina. Senyumnya terlihat tulus, ia mengangkat tangannya da

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 083 : Perdebatan Kecil

    Raymond sempat terkejut saat melihat Lucien berada dua meter di depannya. Ia mendengus malas, memalingkan wajah, terlihat begitu enggan berurusan dengannya. Lucien sendiri memasang ekspresi wajah serupa. Ia menatap Isaac yang sebelumnya jelas-jelas mengatakan bahwa dia tidak mengundang Raymond. Matanya melotot, seolah mengatakan, "Apa ini? Bukankah katamu dia tidak datang?" Isaac memasang ekspresi wajah bingung sambil tertunduk. "Saya yakin tidak mengundang beliau …, tapi tunangan saya mengundang ibunya." Lucien menepuk dahinya pelan. Tidak berkata apa-apa lagi. Tapi ia jelas tahu bahwa maksud dari memberitahu bahwa ibu Raymond diundang adalah untuk menegaskan bahwa pria itu bisa berada di sini selama ibunya mengajaknya. Lagipula, Duchess Luthadel adalah salah satu orang terpandang yang bahkan sangat dihormati oleh Yang Mulia Permaisuri. Lucien mendengus kencang, Ia mengalihkan pandangan untuk memperbaiki suasana hatinya yang hampir kacau. Ia melambaikan tangan pada Esther sambi

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 082 : Bukan Karena Cemburu

    Orang itu adalah Raymond. Melambaikan tangan dengan santai sambil tersenyum lebar. Esther menelan ludah, sungguh mengejutkan melihat Raymond yang baru beberapa hari lalu megirim surat bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju Ibukota, tiba-tiba telah berada di lokasi yang sama dengannya. "I-Ibu?!"Esther terkesiap, lamunannya buyar, ia menatap Raymond yang nyaris berteriak sambil memegangi telinganya dengan ekspresi kesakitan. Duchess Luthadel menarik telinganya dengan wajah ketus. "Di mana sopan santunmu, Bocah?!" Esther tersenyum kikuk. Raymond meringis sambil mengusap telinganya yang merah. Lalu ia menatap Esther yang berdiri mematung tak jauh di depannya, ia menyeringai lebar, lalu melakukan bow dan menyapa lebih baik. Entah situasi canggung macam apa ini. Raymond benar-benar merusak suasana tenang yang sedang coba ia bangun. "Mohon maafkan kekonyolan putra saya, Yang Mulia …." Duchess Luthadel membungkuk dengan penuh sesal. "Eh? Kurasa itu bukan masalah besar." Esther mengeli

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status