LOGIN“Apakah vas itu tidak menarik minat Yang Mulia?” Claire berdiri di samping Esther, melakukan curtsy yang sangat indah.
Suara riuh rendah pelelangan itu menjauh entah ke mana. Esther menelan ludah. “Nona Saintess?” "Apakah itu lebih bagus dari guci yang ada di kamarku?" Esther bertanya pelan, menyadarkan diri dari keterkejutannya. Claire menundukkan kepala sedikit, menunjukkan senyum lembutnya. “Tidak sebagus itu …, yang dihargai adalah sejarah barang tersebut.” "Aku tidak membeli barang yang tidak kusukai, Nona Saintess.” Esther tersenyum kaku, ia menyadari para wanita bangsawan melihat mereka sudah seperti melihat pertunjukan drama di gedung teater. Claire masih menatapnya. "Meski berpotensi memenangkan semua barang dan menjadi terkenal sebagai donatur terbanyak?" Claire menatap penasaran. "Ya, aku bisa memberikan donasi sebanyak yang kumau tanpa harus memenangkan semua barangnya. Lalu kelihatannya Marchioness Saffron lebih menginginkan vas itu daripada aku. Aku menghargai keinginannya." Esther mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Claire kembali berdiri tegak. “Saya tidak menyangka Yang Mulia Permaisuri memiliki sisi peka yang seperti ini. Sungguh baik jadinya bila Anda sudah bersikap sebaik ini sejak awal.” Esther meliriknya. Ia tahu kenapa Claire bersikap seperti ini padanya. Jawabannya pastilah karena ia adalah Esther Belliana Ravenshire. Esther tersenyum tipis. “Saya tidak banyak berubah …, ini hanya proses kedewasaan seseorang yang sebelumnya terlalu dimanja saja. Siapa pun akan mengerti setelah melewati pengalaman pahit dalam hidupnya.” “Apakah Yang Mulia tertarik bersaing dengan mereka untuk mendapatkan barang lelang milik saya?” tanya Claire. Claire menatap ke depan. Barang lelang ketiga dibuka. Sebuah mantilla—kerudung renda—yang berwarna putih terlihat setelah kain dibuka. “Barang ketiga adalah Mantilla Yang Diberkati Dewa, kepemilikan Yang Mulia Saintess Claire saat memberkati Pesta Perayaan Pendirian Negara tahun lalu, dibuka dengan harga 1000 keping emas!” Juru lelang berseru kencang. Lady Ernest, kakak perempuan Esther mengangkat tangannya. “1500 keping emas.” Seluruh pasang mata menoleh ke sudut taman. Melihat sosok berambut hitam yang panjang mengkilap, yang duduk santai sendirian. Esther membulatkan matanya. ‘Itu …, Marianne Ruth Ernest!’ Esther kembali fokus, menatap Duchess Luthadel yang menyusul mengangkat tangan. “2000 keping emas.” “3000 keping emas!” Marianne tidak menyerah. Situasi menjadi panas ketika Duchess Luthadel juga tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah. “7000 keping emas.” Tanpa sadar ia bersungut-sungut pelan, “Hanya sehelai kerudung brokat saja.” Claire mendengarnya tanpa sengaja, ia tersenyum hangat. “Yang Mulia …, umat manusia memang selalu berebut meminta berkat dari Dewa.” “10.000 keping emas!” Marchioness Saffron ikut mengangkat tangan. Esther menautkan alis dengan tatapan serius. Ia menoleh ke belakang, menatap Marianne yang menyeringai tipis. “12.000 keping emas.” Senyap. Angka yang disebut Marianne sudah menjadi tidak masuk akal. Esther ingin segera menyudahi ini. Ia menatap Duchess Luthadel yang duduk di depannya, terlihat gelisah, sebagai seorang religius, tampak ia menginginkan mantilla itu. “15.000 keping emas.” Esther akhirnya mengangkat tangannya. Semua orang mematung mendengar angka fantastis yang keluar dari mulut Esther, bahkan Duchess Luthadel sampai membulatkan matanya. “Mantilla milik Yang Mulia Saintess terjual dengan harga 15.000 keping emas di tangan Yang Mulia Permaisuri!” Semua orang bertepuk tangan, riuh rendah, membuat Esther mengembuskan napas lega. Claire tersenyum menatapnya. “Apakah mantilla saya adalah barang yang diinginkan Yang Mulia?” Esther menatap lurus ke depan. “Entahlah …, aku hanya melakukannya berdasarkan intuisiku saja.” “Meski begitu, tawaran Anda benar-benar sangat tinggi, Yang Mulia …, saya merasa terhormat mantilla milik saya bisa terjual setinggi itu di tangan Yang Mulia.” Claire membungkuk, mengucapkan terima kasih. “Semoga hasilnya bisa membahagiakan lebih banyak orang di luar sana. Esther memalingkan wajah. ‘Tentu saja tidak setinggi itu sampai bisa mengalahkan barangku nanti.’ Ia melirik ke belakang, Marianne sedang mengedipkan mata sambil mengacungkan ibu jari. ‘Jadi dia ikut menawar karena ingin memancing tindakanku, ya ….’ Ia kembali menghadap ke depan. “Barang selanjutnya adalah lukisan Hutan Eldervale! Disumbangkan oleh Nyonya Rumah, Marchioness Saffron, dibuka dengan harga 2000 keping emas!” Juru lelang berseru penuh semangat. Kotak berisi barang selanjutnya dibuka. Mata Esther membulat senang melihat barang itu. "Aku mau itu ….” Esther menggigil bibir. Bagaimana ini? Ia ingin sesegera mungkin mengangkat tangan. Tapi kalau langsung menawar dengan harga tinggi, tak akan ada yang berani menawar lebih tinggi lagi. Esther mengembuskan napas panjang. ‘Aku akan menunggu.’ “3000 keping emas!” Countess Nerida mengangkat tangannya. “6500 keping emas!” Duchess Luthadel pun turut serta. Claire, dengan percaya diri, tersenyum sambil mengangkat tangan. “10.000 keping emas.” ‘Apa-apaan Nona Karakter Utama ini! Sengaja, ya?!’ Ia mengepalkan tangan. “13.000 keping emas!” Di belakang sana, Marianne mengangkat tangannya lagi, sambil menyeringai menyebalkan menatap Esther. Esther mendengus. Mengangkat tangannya. “15.000 keping emas!” Senyap. Setiap kali Esther mengangkat tangan, suara riuh rendah di sekitar entah kenapa lenyap begitu saja seolah tersedot ke dalam dimensi yang berbeda. “17.000 keping emas!” Marianne mengangkat tangannya lagi. ‘Sialan ….’ Ia kembali mengangkat tangan. “20.000 keping emas!!!” Palu diketuk tiga kali. “Terjual seharga 20.000 keping emas, dimenangkan oleh Yang Mulia Permaisuri.” Semua orang bertepuk tangan. Esther tersenyum puas. Di samping Esther, Claire tersenyum hangat sambil menatapnya. “Ternyata benar, ya …. Yang Mulia akan menggenggamnya kalau memang suka, tanpa peduli apa pun.” Claire melanjutkan kalimatnya. Esther meliriknya. “Tentu saja, Nona Saintess.” “Barang berikutnya, sekaligus yang terakhir, set perhiasan Blood-Drop Ruby dengan 500 butir permata ruby berkualitas tinggi yang disumbangkan Yang Mulia Permaisuri Esther Belliana Ravenshire! Dibuka dengan harga 2000 keping emas!” Suasana tiba-tiba senyap. Semua orang tahu barang apa itu. Set perhiasan yang dihadiahkan Baginda Kaisar di hari pernikahan keduanya. Esther menutup mata sambil tersenyum. “Emma, kau harus menawar barang itu seharga 5000 keping emas.” Emma menelan ludah, mengangkat tangan. “5000 keping emas!” “Lady Hudson memulai!” “10.000 keping emas.” Duchess Luthadel mengangkat tangan. “Duchess Luthadel menyusul!” “13.000 keping emas!” Marianne di belakang sana mulai kembali mendominasi. Esther melotot, masih tidak tahu apa motif orang itu. “15.000 keping emas!” Duchess Luthadel kembali mengangkat tangannya. “18.000 keping emas.” Marianne tidak menyerah. “20.000 keping emas.” Claire mengangkat tangannya. Claire hanya tersenyum dengan mata menyipit saat Esther—bahkan semua orang—menatapnya dengan heran. “Saya membalas kebaikan Yang Mulia Permaisuri.” “25.000 keping emas!” Duchess Luthadel mengangkat tangannya dan menyebut angka yang benar-benar fantastis. Claire menatap Duchess Luthadel, separuh terkejut, kemudian kembali tersenyum tenang. “Ini benar-benar di luar dugaan!” Juru lelang berteriak penuh semangat. Palu sudah diketuk. “Terjual dengan harga tertinggi, 25.000 keping emas dan kemenangan didapatkan oleh Yang Mulia Duchess Luthadel! Selamat, selamat!” Tepuk tangan kembali menggema. Esther menghela napas panjang. ‘Gila, harga tertinggi!’ Di akhir acara, Claire mengucapkan salam padanya, “Senang akhirnya memiliki kesempatan untuk mengobrol lama dengan Yang Mulia Permaisuri.” Esther menjawab, “Kalau mau, kau bisa datang kapan pun ke istanaku saat aku senggang, Nona Saintess.” Esther terkekeh dalam hati. ‘Itu karena kau karakter utama.’ Duchess Luthadel juga memberikan salam secara pribadi, menantikan pertemuan selanjutnya. Esther merasa dirinya perlu meninggalkan istana agar bisa menjaga jarak dari kedua karakter utama. Emma tersenyum lebar saat keduanya pergi menuju Kereta Kuda Kekaisaran. Esther terkekeh pelan. Sifat Emma menjadi sedikit lebih ceria setelah pengalaman pertama bersosialisasi ini. Sekarang masalah pesta amal sudah selesai. Esther duduk tenang di dalam kereta. Matanya terpejam. Satu hal muncul di pikirannya. ‘Bagaimana aku akan meminta izin padanya untuk pergi ke Luthadel?!’ * * * Malam itu, Esther berpura-pura terpaku pada lembaran buku di tangannya, meski matanya tak benar-benar membaca. Pikirannya bising, menyusun strategi untuk membujuk William agar mengizinkannya pergi ke Luthadel. Krieet. Engsel pintu berderit. Sosok yang sedari tadi menghantui pikirannya melangkah masuk. Sebuah sengatan aneh menjalar di benak Olivia, jiwa yang kini terjebak di tubuh Esther. 'Sial, aku tidak menyangka pernah menciptakan pria seberbahaya dan setampan ini,' batinnya. Namun, ia segera menepis pemikiran itu. Jatuh cinta pada ciptaannya sendiri adalah malapetaka, itu akan mengubah naskah aslinya! Esther berdiri dan memberikan curtsy. “Selamat malam, Baginda ….” William berhenti. Tatapannya tajam, menyelidiki setiap inci wajah istrinya. "Kau …, membaca buku?" Esther mengernyit, "Tentu saja. Apa ada yang salah …." Kalimatnya menggantung. Ia baru teringat satu detail fatal, Esther yang asli membenci pengetahuan. Namun, sebelum ia sempat mengarang alasan, William sudah bergerak. Pria itu mendekat, menanggalkan jubahnya hingga menyisakan tubuh bagian atas yang kokoh. Otot-ototnya yang keras tampak berkilat oleh sisa keringat, memancarkan aroma maskulin yang memabukkan, campuran antara wangi kayu cendana dan hawa panas tubuh pria dewasa. Esther terdesak mundur hingga tungkainya membentur pinggiran dipan. Ia terperangkap. "Ba-Baginda, a-apa yang Anda lakukan?!" Tanpa sepatah kata, William merunduk. Jemarinya yang kasar dan hangat menyusuri garis rahang Esther, lalu menekan dagunya perlahan, memaksa wanita itu mendongak. Napas William yang berat kini menyapu permukaan kulit leher Esther, memicu gelombang desir yang tak tertahankan. Mata gelap pria itu berkilat, mengunci manik mata Esther dengan tajam. "Apa yang aku lakukan?" bisik William, suaranya rendah dan dalam, bergetar tepat di depan bibir Esther. "Harusnya aku yang bertanya ….” William menipiskan jarak, membiarkan dadanya yang bidang bersentuhan dengan napas Esther yang memburu.“Apakah vas itu tidak menarik minat Yang Mulia?” Claire berdiri di samping Esther, melakukan curtsy yang sangat indah. Suara riuh rendah pelelangan itu menjauh entah ke mana. Esther menelan ludah. “Nona Saintess?” "Apakah itu lebih bagus dari guci yang ada di kamarku?" Esther bertanya pelan, menyadarkan diri dari keterkejutannya.Claire menundukkan kepala sedikit, menunjukkan senyum lembutnya. “Tidak sebagus itu …, yang dihargai adalah sejarah barang tersebut.”"Aku tidak membeli barang yang tidak kusukai, Nona Saintess.” Esther tersenyum kaku, ia menyadari para wanita bangsawan melihat mereka sudah seperti melihat pertunjukan drama di gedung teater.Claire masih menatapnya. "Meski berpotensi memenangkan semua barang dan menjadi terkenal sebagai donatur terbanyak?" Claire menatap penasaran."Ya, aku bisa memberikan donasi sebanyak yang kumau tanpa harus memenangkan semua barangnya. Lalu kelihatannya Marchioness Saffron lebih menginginkan vas itu daripada aku. Aku menghargai keingin
Lengang. Bahkan Marchioness Saffron sendiri tidak menyangka Esther akan menyentuh punggung tangannya dengan begitu ringan. Sehingga ia hanya mengira ini salah satu bentuk penghinaan yang baru. "Saya senang akhirnya mendapat kesempatan untuk hadir di acara mulia ini setelah bertahun-tahun hati saya tertutup kabut hitam." Esther tersenyum. "Terima kasih karena Marchioness sudah bersusah hati menyimpan satu undangan untuk saya." Marchioness yang baru menegakkan kembali tubuhnya, membelalak terkejut dengan mulut terbuka yang segera ia tutupi dengan kipasnya. "I-itu adalah sebuah kehormatan, Yang Mulia. Saya merasa sangat terhormat karena Yang Mulia membaca undangan saya dan hadir. Mari, saya antarkan ke kursi Anda." "Terima kasih." Marchioness Saffron tertegun. Orang yang jarang membalas sapaan orang lain ini bahkan berterima kasih sebanyak dua kali padanya. Esther berjalan di belakang Marchioness sambil memasang wajah tersenyum manis pada setiap orang yang menatapnya dengan ekspres
Kekaisaran Ravenshire berdiri di atas daratan benua yang luas, dianugerahi pertambangan tembaga dan batu bara yang melimpah, tanah yang subur, habitat yang nyaman bagi para satwanya, dan ilmu pengetahuan yang mendasar bagi para ilmuwannya. Negeri sebesar ini dipimpin oleh Kaisar yang menjabat sejak usia dua puluh lima tahun, sekarang sudah berjalan tiga tahun sejak pelantikannya. Tiga tahun yang lalu, perang saudara menyebabkan Kaisar Sebelumnya terbunuh, Kaisar itu adalah tiran yang bahkan dianggap sampah oleh rakyatnya sendiri. Dan orang yang membunuhnya adalah Duke Ernest, ayah Esther sendiri. Yang kemudian mengangkat William sebagai kaisar yang baru dengan syarat putri mereka harus menjadi Permaisurinya. William menerima itu karena faktanya dia membutuhkan penyeimbang untuk memperkuat pemerintahannya. Lalu Esther menjadi seorang Ravenshire meski William tak mencintainya. Ia memerintah negeri ini sebagai Permaisuri dan tak membiarkan siapapun meragukan keberadaannya.Keberadaa
Begitu jam kerjanya selesai, karena sebuah keharusan, William pergi ke Istana Permaisuri untuk tidur. Ia melakukannya setiap hari karena ia harus menginap di kamar Esther setiap malam. Biasanya, karena hubungan mereka sangat renggang, William tidak tertarik untuk menyapa mau pun mengobrol dengan Esther, lebih tepat kalau menyebut Esther-lah yang selalu mencuri-curi kesempatan untuk bicara dengannya. Tapi malam ini, ada banyak hal yang ingin William pastikan sendiri, pertanyaan-pertanyaan yang menggebu-gebu seiring rumor yang menyebar dengan cepat sepanjang hari ini. Bahwa Permaisuri bekerja. Permaisuri yang selalu menghabiskan waktu untuk bersolek dan menggemakan kerusuhan di pesta teh para bangsawan itu tiba-tiba berhenti bersikap bodoh dan bekerja? William berjalan memasuki Istana Permaisuri dengan langkah yang cepat, kedua tangannya mengepal, mantel bulunya berkibar. Ia mengeraskan rahang, apa yang dipikirkan wanita itu sampai-sampai berubah sejauh ini?Tidak …, apa yang sedan
Seorang dayang yang melayani Esther—Emma Hudson, datang ke kamar seperti yang sudah terjadwal. Melayani Esther saat mandi, termasuk membersihkan punggung, keramas, hingga menggosok kuku kaki dan tangan, ia lakukan dengan wajah datar dan serius untuk menutupi kegelisahan.Esther teringat. Di novel ia tulis, pengabdian yang dilakukan pelayan terhadap keluarga kekaisaran dan bangsawan cukup berbeda. Meski begitu, merasakannya sendiri terasa cukup aneh karena Emma melayani dirinya hingga titik terpencil tubuhnya. "Emma," Esther memanggil, berusaha untuk tidak bergidik. "Ya, Yang Mulia Permaisuri." Emma menghentikan gerakannya, membungkuk takzim di belakang Esther sambil menunggu perintah.Esther menatap pantulan dirinya di cermin besar. Hiasan kepala yang berlebihan, gaun dengan warna merah yang mencolok, dan wajah yang dirias sedemikian rupa ini …, membuatnya terlihat seperti wanita yang angkuh dan berkuasa. Ia menertawai diri sendiri dalam hati. Karena telah menciptakan karakter deng
'Kalau begitu mati saja. Supaya kami bisa mengambil asuransi jiwamu.'Olivia membuka matanya dengan tatapan kosong. "Mimpi …, hal yang kualami beberapa hari yang lalu itu kini menjadi mimpi buruk." Olivia menatap laptopnya yang menyala dengan mata lelah. Suara napasnya bahkan terdengar sangat menyesakkan. Ia membaringkan tubuh perlahan. "Haah …," Olivia memandang langit-langit ruangan tempatnya dirawat. Sambil bertanya-tanya, apakah ia sudah tidak tahan lagi? Kanker darah yang menggerogoti tubuhnya sejak usia kanak-kanak, ia mampu bertahan hingga menginjak usia dua puluh enam tahun. Untuk mengisi waktu membosankan karena sulit mendapatkan pekerjaan yang mampu diterima tubuhnya, Olivia mulai menulis novel. Satu-satunya karya yang berhasil ia tulis hingga saat ini adalah Love in Disguise. Namun, hal yang ia lakukan dengan dasar rasa cinta terhadap sastra itu tak ada harganya di mata keluarganya. Olivia sudah sakit sejak masa kanak-kanak, ia menulis sejak remaja, penghasilnya tak







