LOGINLengang.
Bahkan Marchioness Saffron sendiri tidak menyangka Esther akan menyentuh punggung tangannya dengan begitu ringan. Sehingga ia hanya mengira ini salah satu bentuk penghinaan yang baru. "Saya senang akhirnya mendapat kesempatan untuk hadir di acara mulia ini setelah bertahun-tahun hati saya tertutup kabut hitam." Esther tersenyum. "Terima kasih karena Marchioness sudah bersusah hati menyimpan satu undangan untuk saya." Marchioness yang baru menegakkan kembali tubuhnya, membelalak terkejut dengan mulut terbuka yang segera ia tutupi dengan kipasnya. "I-itu adalah sebuah kehormatan, Yang Mulia. Saya merasa sangat terhormat karena Yang Mulia membaca undangan saya dan hadir. Mari, saya antarkan ke kursi Anda." "Terima kasih." Marchioness Saffron tertegun. Orang yang jarang membalas sapaan orang lain ini bahkan berterima kasih sebanyak dua kali padanya. Esther berjalan di belakang Marchioness sambil memasang wajah tersenyum manis pada setiap orang yang menatapnya dengan ekspresi terkejut. Berada di kursi itu, Esther mulai didekati oleh beberapa wanita bangsawan yang sengaja menunggu waktu yang tepat untuk menyapanya secara pribadi. Ia mulai menghafal nama-nama orang yang mengucapkan salam padanya. Countess Nerida, wanita yang memiliki bisnis butik terbesar dan paling terkenal di Kekaisaran, menyapanya lebih dulu. "Wah …, gaun ini mencapai level tertinggi kemewahannya sejak Yang Mulia Permaisuri mengenakannya." Countess Nerida, selaku pencetus model itu tersenyum hangat yang penuh penghormatan. Esther tersenyum. "Saya merasa gaun-gaun yang saya pesan dari tempat Countess adalah yang terbaik. Bukan hanya dari segi kualitas kain, dan model, saat memakainya pun terasa sangat nyaman." Countess Nerida terdiam dengan mata berbinar. "Benarkah? Yang Mulia …, astaga, saya senang sekali mendengarnya, terima kasih." Lalu Duchess Luthadel mendekat, ia tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan kipas. Wanita usia lima puluhan itu tersenyum. "Pelanggan setia seperti Yang Mulia Permaisuri selalu bisa membuat Nyonya Countess tersipu dengan pipi merah muda, ya." "Yang Mulia Duchess juga sedikit-banyak mengerti makna di balik pujian beliau, bukan? Saya yakin Anda berpendapat sama dan memaklumi reaksi berlebihan saya." Countess Nerida tersenyum menggoda. "Kalau begitu saya permisi dulu, selamat menikmati waktu Anda, Yang Mulia Permaisuri, Yang Mulia Duchess." Esther tertawa pelan. "Saya berkata jujur karena pengetahuan Countess seputar dunia fashion memang sangat tinggi, Duchess." "Saya menyetujui pendapat Anda yang itu, Yang Mulia. Jarang ada tempat terbaik untuk menempa pakaian terbaik selain butik milik Countess Nerida." Duchess Luthadel menarik kursi di seberang Esther. Tatapan matanya berubah setelah obrolan ringan itu berakhir. Ia mulai memasang wajah serius setelah mendudukkan dirinya di seberang meja Esther. "Yang Mulia, saya merasa senang dan terhormat akhirnya bisa bertatap wajah dengan Anda." Duchess Luthadel berkata penuh hormat. Esther menyadari bahwa pembicaraan ini akan berat beberapa menit ke depan. Ia memperbaiki posisi duduk dan menyeruput teh di hadapannya. Sementara Countess Nerida berkumpul dengan wanita bangsawan lainnya, mereka menutupi mulut dengan kipas sambil melirik diam-diam Duchess Luthadel yang mulai mengobrol akrab dengan Esther. “Ternyata Permaisuri bisa memasang ekspresi seperti itu juga, ya.” Countess Nerida menyahut, “Saya mendengar rumor istana dari suami saya, katanya Permaisuri bahkan mau menyentuh pekerjaannya, loh.” “Permaisuri yang itu? Bekerja? Hei …, mendengarnya bekerja tidak begitu sulit dipercaya jika dibandingkan dengan pemandangan yang kita lihat saat ini.” Viscountess Grover mengangguk setuju. Kembali kepada Esther yang sedang menyeruput tehnya dengan anggun. Ia menjawab, "Karena orangnya adalah Duchess Luthadel, maka pembicaraan ini pastilah tentang anggaran rumah sakit yang Anda bangun atas nama saya tiga tahun yang lalu, bukan?" Duchess Luthadel terdiam. "Anda mengetahuinya?" "Bahwa itu dibangun atas nama saya?" Esther menatapnya dengan tenang, "Tentu saja. Saya sudah membuat Duchess menderita karena tidak bertanggung jawab sama sekali dalam pembangunannya, hingga pengoperasiannya, anggaran setiap bulannya, saya mengabaikan semuanya dan terus merepotkan Duchess." Esther tersenyum pahit sambil berusaha menyembunyikan raut wajahnya. "Saya sudah membalas surat-surat Anda tiga tahun terakhir. Itu mungkin tidak cukup untuk menebus semua kesalahan saya. Tapi mungkin sedikit meringankan beban Duchess beberapa tahun terakhir. Untuk ke depannya, saya berharap Anda mengizinkan saya untuk bertindak langsung di lapangan." Senyum Esther berubah menjadi senyum tulus. Duchess Luthadel terdiam sejenak, ia tidak tahu harus bagaimana mengawali kalimatnya untuk menjawab penyesalan panjang itu. Akhirnya ia hanya tersenyum lega. "Saya senang sejak tahu Yang Mulia mulai mengalirkan dana lagi. Berkat itu obat-obatan dan peralatan medis akan segera diperbarui. Pasien dengan penyakit berat akan mendapat perawatan yang lebih layak. Saya sudah cukup berterima kasih hanya dengan surat Anda yang menyatakan akan secara konsisten mengalirkan dana." "Tapi untuk bekerja di lapangan …, Yang Mulia, saya membangun rumah sakit itu di permukiman Distrik Utara Kekaisaran. Tempat itu mungkin tidak cukup layak untuk Anda datangi." "Tidak apa. Kalau sekiranya menurut Anda itu akan mengundang rumor yang tak nyaman, saya bisa datang sebagai orang biasa." "Orang …, biasa?" Duchess Luthadel membulatkan matanya, separuh masih terkejut, separuh lagi merasa kagum. Countess Nerida hampir tersedak ludahnya sendiri setelah mendengar perkataan itu dari mulut Esther, ia saling menatap dengan mata membulat antusias dengan teman-temannya. “Menjadi orang biasa? Permaisuri bahkan sudi menjadi orang biasa?!” mereka berseru tertahan hampir bersamaan. Esther memejamkan mata dengan gugup, ia mendengar seruan para wanita bangsawan itu. “Ba-bagaimana, Duchess?” "Dengan senang hati, Yang Mulia …." Duchess Luthadel tersenyum hangat. "Kalau begitu, izinkan saya mengundang Anda ke wilayah saya untuk menghadiri pesta teh berikutnya." Esther mengangguk. "Saya akan meluangkan waktu segera setelah Anda mengirim undangannya." Obrolan itu ditutup setelah Claire, Saintess yang diundang untuk memberkati acara sudah berdiri di atas panggung lelang untuk memulai acaranya. Wanita itu sangat lembut, anggun, dan memancarkan aura yang sulit dimengerti, padahal ia hanya memakai gaun putih seragam kuil yang biasa saja, namun jelas sangat mahal, dengan mantilla yang menutupi kepalanya dan rambut peraknya yang tergerai lurus. Esther duduk di tempatnya dengan wajah datar sambil sesekali menyeruput tehnya. Dominasi tokoh utama wanita mulai merebut ketenaran Esther dalam sekejap. Setelah Claire muncul, Esther tak berencana untuk menjadi lebih bersinar dari ini. Para bangsawan yang hadir berdiri dan membungkuk untuk menyambut pemberkatan itu, seolah-olah Dewa benar-benar akan turun untuk mengusap kepala mereka satu-persatu. Saat melirik Emma yang ikutan membungkuk, Esther berbisik pelan padanya. "Apakah aku perlu membungkuk juga?" Ia merasa cemas, takut salah langkah. Emma tersenyum tipis. "Pemberkatan yang dilakukan Saintess tidak cukup untuk membuat Anda membungkuk, Yang Mulia. Tetapi pejamkanlah mata sesaat setelah pemberkatan dimulai untuk menghormati kedatangan Dewa." "Oh …." Esther memalingkan wajah yang menunjukkan semburat merah halus, kembali duduk dengan tenang. Wanita itu menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Matanya terpejam dengan senyum hangat yang menghiasi. "Wahai Dewa Matahari yang Maha Pengasih, kiranya cahaya-Mu turun memenuhi aula ini. Biarlah setiap keping harta yang berpindah tangan malam ini menjadi jembatan keselamatan bagi mereka yang menderita. Sucikanlah niat kami, dan berkatilah setiap benda yang ada di sini agar membawa kedamaian bagi pemilik barunya." Muncul cahaya keemasan yang berpendar lembut dari langit, turun ke bawah seperti hujan salju kecil, namun terasa hangat saat menyentuh kulit. Esther termangu. 'Ini adalah sihir suci Saintess yang dipilih Dewa ….' Claire tersenyum lembut dengan mata berbinar sambil mengangkat kedua tangannya, menyambut 'hujan berkat' itu dengan berkata. "Dengan restu Dewa, lelang amal ini resmi dibuka. Semoga kemurahan hati Anda sekalian menjadi pelita bagi Kekaisaran Ravenshire yang Agung." Juru lelang kemudian maju satu langkah dan berseru. "Atas restu Yang Mulia Saintess, kita mulai lelang hari ini, barang pertama adalah Vas Porselen Blue Willow yang disumbangkan Viscountess Grover. Dibuka dari harga 500 keping emas." Countess Nerida adalah orang pertama yang mengangkat kipasnya. "700 keping emas." Lalu menyusul bangsawan lain. "750 keping emas." Marchioness Saffron mengangkat kipas. "900 keping emas." Bangsawan lain menyusul. "1000 keping emas!" Marchioness Saffron mengangkat kipasnya."1200 keping emas." Lengang sejenak. Juru lelang kembali bicara. "Apakah ada yang menawar di atas 1200 keping emas?" Tidak ada tangan lain yang terangkat. Esther masih melipat lengan di depan dada dengan raut wajah tenang. Emma melirik pelan, bermaksud ingin menanyai ketidak tertarikan Esther kepada benda lelang pertama ini. Lalu Claire tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, memberinya curtsy yang indah. “Apakah vas itu tidak menarik minat Yang Mulia?” Esther menahan napas, bola matanya mengecil, ia mendongakkan kepalanya perlahan. Claire, dengan senyum hangat bak matahari terbit, menatapnya dengan lembut dari celah-celah dinding pertahanan yang kokoh.Setelah menentukan rencananya, Esther segera menulis undangan untuk William dan Claire di sela-sela pekerjaannya. Undangan itu menuliskan bahwa ia mengundang Claire untuk makan malam dengannya di Istana Utama.Esther mengirim surat pada William untuk memberitahukan bahwa dirinya ingin makan malam di Istana Utama tanpa memberitahu bahwa Claire akan ikut dengannya. Emma bertanya penasaran saat diminta untuk menyerahkan undangan-undangan itu. "Yang Mulia, kenapa Anda mengajak Nona Saintess juga? Bukankah lebih baik kalau makan malamnya hanya berdua saja?"Esther berdeham pelan. "Aku hanya ingin melaporkan pekerjaanku saja. Ini bukan hal romantis." Emma tersenyum jahil. "Baiklah, Anda mungkin masih merasa malu untuk mengakuinya, tapi sebenarnya saya tahu, Anda senang menghabiskan waktu bersama Baginda, bukan?" Esther melotot kesal. "Itu sungguh tidak seperti yang kau bayangkan, Emma …."Esther kembali melanjutkan pekerjaannya hingga pukul dua siang. Hingga jam itu, ia harus memenuhi
"Lalu apa yang Anda inginkan dari saya?" tanya Esther malas. William berdiri, menatap Esther tanpa berkedip. Ekspresi wajahnya begitu licik."Berikan aku perlakuan yang seperti dulu juga." Esther mengernyit dalam. "H-hah?!" "Kau ingin aku memperlakukanmu seperti dulu, bukan? Aku ingin kau pun melakukan hal yang sama." William tersenyum tipis. Esther membalikkan tubuhnya, mendengus kesal. Permintaan orang ini sungguh sulit dikabulkan. Yang benar saja. William ingin ia menjadi Esther yang sebenarnya, dalam artian, Esther yang selalu mengejar cintanya dan rela mempermalukan diri sendiri demi mendapatkan perhatian William. Dengan kondisi yang seperti ini, bukankah itu tidak mungkin? Esther yang sekarang adalah Olivia. Janganlah menempel terus-menerus pada William, berperilaku tidak sopan di depannya pun ia tak sepenuhnya berani. "Bagaimana, Permaisuri?" William bertanya lagi. Esther terdiam sejenak. Ia memikirkan apa yang akan terjadi kalau ia melakukan itu. "B-biarkan saya mem
Esther terdiam mematung di tengah pintu kamarnya sendiri. Matanya berkedip beberapa kali untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Di belakangnya, Emma melongokkan kepala untuk melihat apa yang membuat Esther tiba-tiba terdiam.Lalu matanya menatap William yang duduk di tepi ranjang, bergeming. Ia membulatkan mata. Segera berjalan mundur setelah William melemparka tatapan mengusir padanya. Esther menoleh ke belakang dan melotot saat tahu Emma sudah pergi lebih dulu. Ia melangkah mundur pelan-pelan, lalu tertawa hambar. "Ah, hahaha …. S-sepertinya saya melupakan satu pekerjaan lagi—""Sudah melihat suamimu menunggu pun kau masih memilih pekerjaan, ya? Haah …, padahal aku berharap kau sedikit menyapaku." William melipat lengan di depan dada, sengaja menyindir. Esther menghentikan langkah dan berbalik dengan rahang mengeras, merasa cukup kesal. "Baginda …, saya hampir melupakan betapa pentingnya menyapa Baginda saat kita sudah saling berhadapan karena pekerjaan itu benar-benar pen
Semua orang duduk di kursi yang telah disediakan, melingkari meja makan dengan diameter satu meter berisi masing-masing empat kursi. Jumlahnya ada lima belas meja makan. Berpasang-pasang bangsawan mengambil tempat duduk masing-masing. Esther berada di meja yang sama dengan Duchess Luthadel dan Duchess Evander, hanya berisi tiga kursi. Emma berdiri di belakangnya. Lucien bersama teman-teman lamanya, sesekali masih melirik Raymond yang duduk berjarak darinya. Dame Charina dan Tuan Muda Isaac berdiri di depan para tamu undangannya. Lalu sebuah pidato pendek tentang betapa bersyukurnya mereka akan hari ini pun menciptakan gemuruh tepuk tangan penuh antusias dari para tamu. Esther tersenyum senang, akhirnya mereka bisa berkumpul bersama dan mengadakan acara kecil di musim sosial, musim di mana semua bangsawan di seluruh penjuru negeri kembali ke Ibukota untuk berpartisipasi. Setelah pidato pendek itu, Isaac memegang tangan Charina. Senyumnya terlihat tulus, ia mengangkat tangannya da
Raymond sempat terkejut saat melihat Lucien berada dua meter di depannya. Ia mendengus malas, memalingkan wajah, terlihat begitu enggan berurusan dengannya. Lucien sendiri memasang ekspresi wajah serupa. Ia menatap Isaac yang sebelumnya jelas-jelas mengatakan bahwa dia tidak mengundang Raymond. Matanya melotot, seolah mengatakan, "Apa ini? Bukankah katamu dia tidak datang?" Isaac memasang ekspresi wajah bingung sambil tertunduk. "Saya yakin tidak mengundang beliau …, tapi tunangan saya mengundang ibunya." Lucien menepuk dahinya pelan. Tidak berkata apa-apa lagi. Tapi ia jelas tahu bahwa maksud dari memberitahu bahwa ibu Raymond diundang adalah untuk menegaskan bahwa pria itu bisa berada di sini selama ibunya mengajaknya. Lagipula, Duchess Luthadel adalah salah satu orang terpandang yang bahkan sangat dihormati oleh Yang Mulia Permaisuri. Lucien mendengus kencang, Ia mengalihkan pandangan untuk memperbaiki suasana hatinya yang hampir kacau. Ia melambaikan tangan pada Esther sambi
Orang itu adalah Raymond. Melambaikan tangan dengan santai sambil tersenyum lebar. Esther menelan ludah, sungguh mengejutkan melihat Raymond yang baru beberapa hari lalu megirim surat bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju Ibukota, tiba-tiba telah berada di lokasi yang sama dengannya. "I-Ibu?!"Esther terkesiap, lamunannya buyar, ia menatap Raymond yang nyaris berteriak sambil memegangi telinganya dengan ekspresi kesakitan. Duchess Luthadel menarik telinganya dengan wajah ketus. "Di mana sopan santunmu, Bocah?!" Esther tersenyum kikuk. Raymond meringis sambil mengusap telinganya yang merah. Lalu ia menatap Esther yang berdiri mematung tak jauh di depannya, ia menyeringai lebar, lalu melakukan bow dan menyapa lebih baik. Entah situasi canggung macam apa ini. Raymond benar-benar merusak suasana tenang yang sedang coba ia bangun. "Mohon maafkan kekonyolan putra saya, Yang Mulia …." Duchess Luthadel membungkuk dengan penuh sesal. "Eh? Kurasa itu bukan masalah besar." Esther mengeli







