Beranda / Fantasi / Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang / Bab 005 : Bertemu Tokoh Utama Wanita

Share

Bab 005 : Bertemu Tokoh Utama Wanita

Penulis: Xiao Chuhe
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-20 12:26:42

Lengang.

Bahkan Marchioness Saffron sendiri tidak menyangka Esther akan menyentuh punggung tangannya dengan begitu ringan. Sehingga ia hanya mengira ini salah satu bentuk penghinaan yang baru.

"Saya senang akhirnya mendapat kesempatan untuk hadir di acara mulia ini setelah bertahun-tahun hati saya tertutup kabut hitam." Esther tersenyum. "Terima kasih karena Marchioness sudah bersusah hati menyimpan satu undangan untuk saya."

Marchioness yang baru menegakkan kembali tubuhnya, membelalak terkejut dengan mulut terbuka yang segera ia tutupi dengan kipasnya. "I-itu adalah sebuah kehormatan, Yang Mulia. Saya merasa sangat terhormat karena Yang Mulia membaca undangan saya dan hadir. Mari, saya antarkan ke kursi Anda."

"Terima kasih."

Marchioness Saffron tertegun. Orang yang jarang membalas sapaan orang lain ini bahkan berterima kasih sebanyak dua kali padanya.

Esther berjalan di belakang Marchioness sambil memasang wajah tersenyum manis pada setiap orang yang menatapnya dengan ekspresi terkejut.

Berada di kursi itu, Esther mulai didekati oleh beberapa wanita bangsawan yang sengaja menunggu waktu yang tepat untuk menyapanya secara pribadi.

Ia mulai menghafal nama-nama orang yang mengucapkan salam padanya. Countess Nerida, wanita yang memiliki bisnis butik terbesar dan paling terkenal di Kekaisaran, menyapanya lebih dulu.

"Wah …, gaun ini mencapai level tertinggi kemewahannya sejak Yang Mulia Permaisuri mengenakannya." Countess Nerida, selaku pencetus model itu tersenyum hangat yang penuh penghormatan.

Esther tersenyum. "Saya merasa gaun-gaun yang saya pesan dari tempat Countess adalah yang terbaik. Bukan hanya dari segi kualitas kain, dan model, saat memakainya pun terasa sangat nyaman."

Countess Nerida terdiam dengan mata berbinar. "Benarkah? Yang Mulia …, astaga, saya senang sekali mendengarnya, terima kasih."

Lalu Duchess Luthadel mendekat, ia tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan kipas. Wanita usia lima puluhan itu tersenyum. "Pelanggan setia seperti Yang Mulia Permaisuri selalu bisa membuat Nyonya Countess tersipu dengan pipi merah muda, ya."

"Yang Mulia Duchess juga sedikit-banyak mengerti makna di balik pujian beliau, bukan? Saya yakin Anda berpendapat sama dan memaklumi reaksi berlebihan saya." Countess Nerida tersenyum menggoda. "Kalau begitu saya permisi dulu, selamat menikmati waktu Anda, Yang Mulia Permaisuri, Yang Mulia Duchess."

Esther tertawa pelan. "Saya berkata jujur karena pengetahuan Countess seputar dunia fashion memang sangat tinggi, Duchess."

"Saya menyetujui pendapat Anda yang itu, Yang Mulia. Jarang ada tempat terbaik untuk menempa pakaian terbaik selain butik milik Countess Nerida." Duchess Luthadel menarik kursi di seberang Esther.

Tatapan matanya berubah setelah obrolan ringan itu berakhir. Ia mulai memasang wajah serius setelah mendudukkan dirinya di seberang meja Esther.

"Yang Mulia, saya merasa senang dan terhormat akhirnya bisa bertatap wajah dengan Anda." Duchess Luthadel berkata penuh hormat.

Esther menyadari bahwa pembicaraan ini akan berat beberapa menit ke depan. Ia memperbaiki posisi duduk dan menyeruput teh di hadapannya.

Sementara Countess Nerida berkumpul dengan wanita bangsawan lainnya, mereka menutupi mulut dengan kipas sambil melirik diam-diam Duchess Luthadel yang mulai mengobrol akrab dengan Esther.

“Ternyata Permaisuri bisa memasang ekspresi seperti itu juga, ya.”

Countess Nerida menyahut, “Saya mendengar rumor istana dari suami saya, katanya Permaisuri bahkan mau menyentuh pekerjaannya, loh.”

“Permaisuri yang itu? Bekerja? Hei …, mendengarnya bekerja tidak begitu sulit dipercaya jika dibandingkan dengan pemandangan yang kita lihat saat ini.” Viscountess Grover mengangguk setuju.

Kembali kepada Esther yang sedang menyeruput tehnya dengan anggun. Ia menjawab, "Karena orangnya adalah Duchess Luthadel, maka pembicaraan ini pastilah tentang anggaran rumah sakit yang Anda bangun atas nama saya tiga tahun yang lalu, bukan?"

Duchess Luthadel terdiam. "Anda mengetahuinya?"

"Bahwa itu dibangun atas nama saya?" Esther menatapnya dengan tenang, "Tentu saja. Saya sudah membuat Duchess menderita karena tidak bertanggung jawab sama sekali dalam pembangunannya, hingga pengoperasiannya, anggaran setiap bulannya, saya mengabaikan semuanya dan terus merepotkan Duchess." Esther tersenyum pahit sambil berusaha menyembunyikan raut wajahnya.

"Saya sudah membalas surat-surat Anda tiga tahun terakhir. Itu mungkin tidak cukup untuk menebus semua kesalahan saya. Tapi mungkin sedikit meringankan beban Duchess beberapa tahun terakhir. Untuk ke depannya, saya berharap Anda mengizinkan saya untuk bertindak langsung di lapangan." Senyum Esther berubah menjadi senyum tulus.

Duchess Luthadel terdiam sejenak, ia tidak tahu harus bagaimana mengawali kalimatnya untuk menjawab penyesalan panjang itu.

Akhirnya ia hanya tersenyum lega. "Saya senang sejak tahu Yang Mulia mulai mengalirkan dana lagi. Berkat itu obat-obatan dan peralatan medis akan segera diperbarui. Pasien dengan penyakit berat akan mendapat perawatan yang lebih layak. Saya sudah cukup berterima kasih hanya dengan surat Anda yang menyatakan akan secara konsisten mengalirkan dana."

"Tapi untuk bekerja di lapangan …, Yang Mulia, saya membangun rumah sakit itu di permukiman Distrik Utara Kekaisaran. Tempat itu mungkin tidak cukup layak untuk Anda datangi."

"Tidak apa. Kalau sekiranya menurut Anda itu akan mengundang rumor yang tak nyaman, saya bisa datang sebagai orang biasa."

"Orang …, biasa?" Duchess Luthadel membulatkan matanya, separuh masih terkejut, separuh lagi merasa kagum.

Countess Nerida hampir tersedak ludahnya sendiri setelah mendengar perkataan itu dari mulut Esther, ia saling menatap dengan mata membulat antusias dengan teman-temannya.

“Menjadi orang biasa? Permaisuri bahkan sudi menjadi orang biasa?!” mereka berseru tertahan hampir bersamaan.

Esther memejamkan mata dengan gugup, ia mendengar seruan para wanita bangsawan itu. “Ba-bagaimana, Duchess?”

"Dengan senang hati, Yang Mulia …." Duchess Luthadel tersenyum hangat. "Kalau begitu, izinkan saya mengundang Anda ke wilayah saya untuk menghadiri pesta teh berikutnya."

Esther mengangguk. "Saya akan meluangkan waktu segera setelah Anda mengirim undangannya."

Obrolan itu ditutup setelah Claire, Saintess yang diundang untuk memberkati acara sudah berdiri di atas panggung lelang untuk memulai acaranya.

Wanita itu sangat lembut, anggun, dan memancarkan aura yang sulit dimengerti, padahal ia hanya memakai gaun putih seragam kuil yang biasa saja, namun jelas sangat mahal, dengan mantilla yang menutupi kepalanya dan rambut peraknya yang tergerai lurus. Esther duduk di tempatnya dengan wajah datar sambil sesekali menyeruput tehnya.

Dominasi tokoh utama wanita mulai merebut ketenaran Esther dalam sekejap. Setelah Claire muncul, Esther tak berencana untuk menjadi lebih bersinar dari ini.

Para bangsawan yang hadir berdiri dan membungkuk untuk menyambut pemberkatan itu, seolah-olah Dewa benar-benar akan turun untuk mengusap kepala mereka satu-persatu.

Saat melirik Emma yang ikutan membungkuk, Esther berbisik pelan padanya. "Apakah aku perlu membungkuk juga?" Ia merasa cemas, takut salah langkah.

Emma tersenyum tipis. "Pemberkatan yang dilakukan Saintess tidak cukup untuk membuat Anda membungkuk, Yang Mulia. Tetapi pejamkanlah mata sesaat setelah pemberkatan dimulai untuk menghormati kedatangan Dewa."

"Oh …." Esther memalingkan wajah yang menunjukkan semburat merah halus, kembali duduk dengan tenang.

Wanita itu menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Matanya terpejam dengan senyum hangat yang menghiasi.

"Wahai Dewa Matahari yang Maha Pengasih, kiranya cahaya-Mu turun memenuhi aula ini. Biarlah setiap keping harta yang berpindah tangan malam ini menjadi jembatan keselamatan bagi mereka yang menderita. Sucikanlah niat kami, dan berkatilah setiap benda yang ada di sini agar membawa kedamaian bagi pemilik barunya."

Muncul cahaya keemasan yang berpendar lembut dari langit, turun ke bawah seperti hujan salju kecil, namun terasa hangat saat menyentuh kulit.

Esther termangu. 'Ini adalah sihir suci Saintess yang dipilih Dewa ….'

Claire tersenyum lembut dengan mata berbinar sambil mengangkat kedua tangannya, menyambut 'hujan berkat' itu dengan berkata. "Dengan restu Dewa, lelang amal ini resmi dibuka. Semoga kemurahan hati Anda sekalian menjadi pelita bagi Kekaisaran Ravenshire yang Agung."

Juru lelang kemudian maju satu langkah dan berseru. "Atas restu Yang Mulia Saintess, kita mulai lelang hari ini, barang pertama adalah Vas Porselen Blue Willow yang disumbangkan Viscountess Grover. Dibuka dari harga 500 keping emas."

Countess Nerida adalah orang pertama yang mengangkat kipasnya. "700 keping emas."

Lalu menyusul bangsawan lain. "750 keping emas."

Marchioness Saffron mengangkat kipas. "900 keping emas."

Bangsawan lain menyusul. "1000 keping emas!"

Marchioness Saffron mengangkat kipasnya."1200 keping emas."

Lengang sejenak. Juru lelang kembali bicara. "Apakah ada yang menawar di atas 1200 keping emas?"

Tidak ada tangan lain yang terangkat. Esther masih melipat lengan di depan dada dengan raut wajah tenang. Emma melirik pelan, bermaksud ingin menanyai ketidak tertarikan Esther kepada benda lelang pertama ini.

Lalu Claire tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, memberinya curtsy yang indah. “Apakah vas itu tidak menarik minat Yang Mulia?”

Esther menahan napas, bola matanya mengecil, ia mendongakkan kepalanya perlahan. Claire, dengan senyum hangat bak matahari terbit, menatapnya dengan lembut dari celah-celah dinding pertahanan yang kokoh.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 006 : "Apa Yang Kau Lakukan?"

    “Apakah vas itu tidak menarik minat Yang Mulia?” Claire berdiri di samping Esther, melakukan curtsy yang sangat indah. Suara riuh rendah pelelangan itu menjauh entah ke mana. Esther menelan ludah. “Nona Saintess?” "Apakah itu lebih bagus dari guci yang ada di kamarku?" Esther bertanya pelan, menyadarkan diri dari keterkejutannya.Claire menundukkan kepala sedikit, menunjukkan senyum lembutnya. “Tidak sebagus itu …, yang dihargai adalah sejarah barang tersebut.”"Aku tidak membeli barang yang tidak kusukai, Nona Saintess.” Esther tersenyum kaku, ia menyadari para wanita bangsawan melihat mereka sudah seperti melihat pertunjukan drama di gedung teater.Claire masih menatapnya. "Meski berpotensi memenangkan semua barang dan menjadi terkenal sebagai donatur terbanyak?" Claire menatap penasaran."Ya, aku bisa memberikan donasi sebanyak yang kumau tanpa harus memenangkan semua barangnya. Lalu kelihatannya Marchioness Saffron lebih menginginkan vas itu daripada aku. Aku menghargai keingin

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 005 : Bertemu Tokoh Utama Wanita

    Lengang. Bahkan Marchioness Saffron sendiri tidak menyangka Esther akan menyentuh punggung tangannya dengan begitu ringan. Sehingga ia hanya mengira ini salah satu bentuk penghinaan yang baru. "Saya senang akhirnya mendapat kesempatan untuk hadir di acara mulia ini setelah bertahun-tahun hati saya tertutup kabut hitam." Esther tersenyum. "Terima kasih karena Marchioness sudah bersusah hati menyimpan satu undangan untuk saya." Marchioness yang baru menegakkan kembali tubuhnya, membelalak terkejut dengan mulut terbuka yang segera ia tutupi dengan kipasnya. "I-itu adalah sebuah kehormatan, Yang Mulia. Saya merasa sangat terhormat karena Yang Mulia membaca undangan saya dan hadir. Mari, saya antarkan ke kursi Anda." "Terima kasih." Marchioness Saffron tertegun. Orang yang jarang membalas sapaan orang lain ini bahkan berterima kasih sebanyak dua kali padanya. Esther berjalan di belakang Marchioness sambil memasang wajah tersenyum manis pada setiap orang yang menatapnya dengan ekspres

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 004 : Pesta Amal

    Kekaisaran Ravenshire berdiri di atas daratan benua yang luas, dianugerahi pertambangan tembaga dan batu bara yang melimpah, tanah yang subur, habitat yang nyaman bagi para satwanya, dan ilmu pengetahuan yang mendasar bagi para ilmuwannya. Negeri sebesar ini dipimpin oleh Kaisar yang menjabat sejak usia dua puluh lima tahun, sekarang sudah berjalan tiga tahun sejak pelantikannya. Tiga tahun yang lalu, perang saudara menyebabkan Kaisar Sebelumnya terbunuh, Kaisar itu adalah tiran yang bahkan dianggap sampah oleh rakyatnya sendiri. Dan orang yang membunuhnya adalah Duke Ernest, ayah Esther sendiri. Yang kemudian mengangkat William sebagai kaisar yang baru dengan syarat putri mereka harus menjadi Permaisurinya. William menerima itu karena faktanya dia membutuhkan penyeimbang untuk memperkuat pemerintahannya. Lalu Esther menjadi seorang Ravenshire meski William tak mencintainya. Ia memerintah negeri ini sebagai Permaisuri dan tak membiarkan siapapun meragukan keberadaannya.Keberadaa

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 003 : Yang Benar-benar Berbeda

    Begitu jam kerjanya selesai, karena sebuah keharusan, William pergi ke Istana Permaisuri untuk tidur. Ia melakukannya setiap hari karena ia harus menginap di kamar Esther setiap malam. Biasanya, karena hubungan mereka sangat renggang, William tidak tertarik untuk menyapa mau pun mengobrol dengan Esther, lebih tepat kalau menyebut Esther-lah yang selalu mencuri-curi kesempatan untuk bicara dengannya. Tapi malam ini, ada banyak hal yang ingin William pastikan sendiri, pertanyaan-pertanyaan yang menggebu-gebu seiring rumor yang menyebar dengan cepat sepanjang hari ini. Bahwa Permaisuri bekerja. Permaisuri yang selalu menghabiskan waktu untuk bersolek dan menggemakan kerusuhan di pesta teh para bangsawan itu tiba-tiba berhenti bersikap bodoh dan bekerja? William berjalan memasuki Istana Permaisuri dengan langkah yang cepat, kedua tangannya mengepal, mantel bulunya berkibar. Ia mengeraskan rahang, apa yang dipikirkan wanita itu sampai-sampai berubah sejauh ini?Tidak …, apa yang sedan

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 002 : Permaisuri Ingin Bekerja

    Seorang dayang yang melayani Esther—Emma Hudson, datang ke kamar seperti yang sudah terjadwal. Melayani Esther saat mandi, termasuk membersihkan punggung, keramas, hingga menggosok kuku kaki dan tangan, ia lakukan dengan wajah datar dan serius untuk menutupi kegelisahan.Esther teringat. Di novel ia tulis, pengabdian yang dilakukan pelayan terhadap keluarga kekaisaran dan bangsawan cukup berbeda. Meski begitu, merasakannya sendiri terasa cukup aneh karena Emma melayani dirinya hingga titik terpencil tubuhnya. "Emma," Esther memanggil, berusaha untuk tidak bergidik. "Ya, Yang Mulia Permaisuri." Emma menghentikan gerakannya, membungkuk takzim di belakang Esther sambil menunggu perintah.Esther menatap pantulan dirinya di cermin besar. Hiasan kepala yang berlebihan, gaun dengan warna merah yang mencolok, dan wajah yang dirias sedemikian rupa ini …, membuatnya terlihat seperti wanita yang angkuh dan berkuasa. Ia menertawai diri sendiri dalam hati. Karena telah menciptakan karakter deng

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 001 : Tragedi

    'Kalau begitu mati saja. Supaya kami bisa mengambil asuransi jiwamu.'Olivia membuka matanya dengan tatapan kosong. "Mimpi …, hal yang kualami beberapa hari yang lalu itu kini menjadi mimpi buruk." Olivia menatap laptopnya yang menyala dengan mata lelah. Suara napasnya bahkan terdengar sangat menyesakkan. Ia membaringkan tubuh perlahan. "Haah …," Olivia memandang langit-langit ruangan tempatnya dirawat. Sambil bertanya-tanya, apakah ia sudah tidak tahan lagi? Kanker darah yang menggerogoti tubuhnya sejak usia kanak-kanak, ia mampu bertahan hingga menginjak usia dua puluh enam tahun. Untuk mengisi waktu membosankan karena sulit mendapatkan pekerjaan yang mampu diterima tubuhnya, Olivia mulai menulis novel. Satu-satunya karya yang berhasil ia tulis hingga saat ini adalah Love in Disguise. Namun, hal yang ia lakukan dengan dasar rasa cinta terhadap sastra itu tak ada harganya di mata keluarganya. Olivia sudah sakit sejak masa kanak-kanak, ia menulis sejak remaja, penghasilnya tak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status