LOGINKeheningan menggantung di udara setelah pertanyaan Chelyna terucap. Tatapan Chelyna tidak memelas, tidak memohon, dan tidak pula memaksa. Ada keberanian dalam pernyataannya, namun di baliknya tersembunyi ketakutan yang tidak dibuat-buat, ketakutan seorang gadis yang telah mempertaruhkan harga dirinya, namun masih ingin mendengar kepastian dengan kepala tegak. Nathan terdiam. Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, pikirannya benar-benar kembali tenang. Tidak ada kemarahan, tidak ada kebingungan, hanya satu kenyataan sederhana bahwa gadis di hadapannya tidak sedang bermain-main. Ia menarik napas panjang. “Chelyn,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan tenang. “Aku tidak bisa menjanjikan hubungan yang sederhana.” Chelyna mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban itu. “Hidupku tidak akan pernah normal,” lanjut Nathan. “Di masa depan, aku mungkin punya terlalu banyak musuh, terlalu banyak rahasia, dan terlalu banyak masalah yang akan menghantui setiap langkahku. Jika kau ingin p
"Eh, dari mana kau tahu kalau kami ada lima?" tanya Mila bingung. "Maaf kak Mila, aku sudah menyelidiki semua tentang kalian, dan aku memiliki data lengkap kalian. Karena itulah aku tahu jika kalian semua layak untuk menjadi para istri Kak Nathan, sekaligus menjadi kakak-kakakku," jawab Chelyna tampak tulus. "Hemh... jangan terlalu percaya padanya, dia itu rubah licik yang punya segala cara untuk memanipulasi seseorang," cibir Nasha. "Kak Nasha, kali ini aku serius. Kakak kenapa masih membenciku? Padahal kakak sendiri tahu, tiga tahun lalu tidak terjadi apa-apa antara aku dan Kak Nathan. Aku melakukannya karena aku benar-benar menyukai Kak Nathan dan ingin berada di sisinya. Bukankah kalian berlima juga melakukan hal yang sama? Jadi... di mana liciknya aku?" tanya Chelyna sambil menekankan beberapa kata, yang seketika membuat pipi kelima gadis itu kembali memerah. "Baiklah... baiklah, aku tidak akan menyebutmu rubah licik lagi. Tapi apa kau yakin tidak akan membuat masalah untuk N
Nathan melangkah santai, perlahan mendekati kedua gadis itu. “Aku suka kalian terus meningkatkan kemampuan bertarung, tapi aku tidak ingin kalian menggunakan senjata untuk saling menyakiti satu sama lain.” Nathan melambai ke arah Rania, dan ia segera mendekat. Nathan merengkuh pinggang rampingnya dan berkata, “Karena kita semua adalah keluarga.” Nathan melirik semua orang, dan perlahan ia tersenyum. “Mulai sekarang aku ingin kalian semua fokus berlatih kultivasi. Karena Marco, Roger, dan Chelyna juga sudah ada di sini, jadi akan ada lima mentor yang akan membimbing kalian semua untuk berlatih.” Ia melirik sekali lagi, lalu mulai membagi tugas mereka. “Rania, Mila, Alana, dan Alena, akan berlatih bersamaku. Billy akan berlatih dengan Roger, kalian berdua adalah saudaraku, jadi belajarlah untuk merasakan keakraban satu sama lain dan jadilah saudara. Marila, Mathilda, Laras, dan Bella berlatihlah dengan Nasha dan Chelyna. Braga, Richie, Reno, dan Seno, kalian ikuti Marco dan berla
“Aku pikir setelah tiga tahun berlalu, sikap tegasmu akan sedikit berubah, kak,” ujar Roger sambil tertawa kecil. “Kau sengaja mengejekku, kan?” omel Nathan. “Cepat katakan bagaimana kau bisa tiba dengan begitu cepat saat aku baru saja memanggilmu?” “Apa lagi, kak, tentu saja karena kekasih kecilmu memaksaku menemaninya untuk bertemu denganmu,” jawab Roger sembarangan. Saat itu mata Nasha langsung menyipit. Rania, Mila, Alana, dan Alena saling berpandangan dengan bingung. Menyadari dirinya salah bicara, Roger buru-buru memperbaiki kalimatnya. “Maksudku, adik kecilku mengajakku bertemu penyelamatnya.” “Sudahlah, Roger. Kau lihat tatapan mata Nasha,” ujar Nathan. “Apa kau kira penjelasanmu masih berguna?” “Hehehe… maaf, kak, aku keceplosan,” ujarnya canggung sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. “Di mana Chelyna?” tanya Nathan. Sebuah belati hitam dengan ukiran naga dan gantungan dua bunga merah muda tepat melesat ke arah Nathan pada saat itu. Tanpa menoleh, Nathan mengge
Gudang tua di Kota Heaven akhirnya benar-benar sunyi. Api telah padam, jeritan telah hilang, dan yang tersisa hanyalah noda darah yang mengering di lantai beton retak. Namun kesunyian itu bukanlah kedamaian, melainkan sisa getaran dari kemarahan besar yang baru saja dilepaskan ke dunia. Nathan berdiri sendirian di lantai utama gudang, punggungnya tegak, sorot matanya tenang. Amarahnya telah mereda, disegel rapi seperti pedang yang kembali ke sarungnya. Saat itulah Ravina kembali berbisik di dalam kesadarannya. “Masih ada satu orang tersisa.” Nathan tidak menoleh, tidak bereaksi berlebihan. “Dia bersembunyi di lantai paling atas,” lanjut Ravina. “Dialah pelaku utama. Yang mengeksekusi penculikan kekasih kecilmu.” Langkah Nathan beralih ke tangga besi di sudut gudang. Tangga itu berderit pelan saat ia menaikinya, setiap langkah terdengar jelas di kesunyian yang mencekam. Di lantai paling atas, sebuah ruangan kecil terbuka, gelap, sempit, penuh dengan ketakutan. Di sana
Gudang itu bergetar. Bukan karena ledakan. Bukan pula karena helikopter yang masih meraung di langit. Melainkan karena dua aura yang saling menekan, saling menguji, seperti dua bencana alam yang dipaksa berada dalam satu ruang sempit. Pria itu berdiri santai di hadapan Nathan, tangan dimasukkan ke saku celana, seolah puluhan mayat di sekeliling mereka hanyalah dekorasi tak berarti. “Dendam,” ulang Nathan pelan. “Dendam siapa?” Senyum pria itu melebar tipis. “Dendam keluarga,” jawabnya. “Hatani.” Udara langsung membeku. Nama itu jatuh seperti palu godam. Nathan tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Namun di balik ketenangannya, sesuatu bergerak… dan bangkit. “Jadi kau putra pertama keluarga Hatani,” ucap Nathan datar. “Benar.” Pria itu melangkah perlahan. “Elang Hatani adalah adikku. Yang kau hancurkan. Yang kau buat kehilangan segalanya.” Nathan menatapnya tanpa berkedip. “Salahkan dirinya karena berani mengusik gadis yang tak seharusnya ia dekati sejak awal,” balas Natha







