Share

Tanda Itu Lagi

Author: Agnes Jocelyn
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-06 21:33:47

Cahaya matahari yang masuk dari jendela kaca besar itu menyilaukan mataku.

Kepalaku sakit sekali. Seperti dipukul dengan palu dari dalam. Mulutku kering dan pahit. Bau alkohol masih samar di tubuhku.

Aku mengerjap beberapa kali. Pandanganku yang tadinya kabur perlahan menjadi terang dan jelas. Langit-langit tinggi. Lampu gantung kristal. Dinding berwarna elegan.

Ini bukan kamarku.

Kamar pelayan di sayap timur tidak pernah memiliki langit-langit setinggi ini. Tidak pernah memiliki selimut sehalu
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Tuan Muda Tidak Akan Melepaskanku   Jangan Terluka Tanpa Izin Tuan Muda

    Darah di jariku sudah berhenti, tapi genggaman Orion masih belum lepas.Bibi Marie sudah pergi dari dapur sejak tadi, seolah menyadari sesuatu, ia berpura-pura sibuk dan menyerahkan urusanku pada Orion. Dapur yang biasanya ramai dengan suara panci dan kompor, kini hanya menyisakan suara napas kami berdua. Dan detak jantungku yang berisik.Orion masih memegang tanganku. Matanya menatap luka sayatan di telunjukku dengan tatapan yang begitu dalam, begitu tajam, seolah luka kecil itu adalah sebuah kesalahan besar yang tidak termaafkan."Kau ceroboh sekali, Aurora," katanya datar. Tidak marah, tapi nadanya memberi tahu bahwa ia tidak menyukai apa yang ia lihat.Aku menunduk. "Maaf, Tuan Muda. Saya hanya melamun.""Melamunkan apa?" tanyanya cepat.Aku terdiam. Tidak mungkin aku mengatakan hal yang sejujurnya.Orion seolah tahu tanpa perlu aku bicara. Ia mengambil plester dari kotak P3K kecil yang ada di atas lemari es, lalu menempelkannya di jariku dengan hati-hati. Gerakannya terkontrol, p

  • Tuan Muda Tidak Akan Melepaskanku   Syarat Pembatalan Itu

    Jemarinya menyentuh bibirku.Bukan ciuman kali ini. Orion hanya menempelkan ibu jarinya di bibir bawahku, mengusapnya dengan lembut namun tegas. Gerakannya pelan, seolah ia sedang memastikan bahwa bibir ini masih ada di tempatnya. Masih miliknya."Bibirmu hanya boleh tersenyum padaku, Aurora. Hanya padaku. Mengerti?"Kalimat itu masih menggantung di udara taman kampus. Aku tidak bisa menjawab. Napasku tercekat.Sentuhan di bibirku itu membuat seluruh wajahku panas seketika. Pipiku memerah tanpa bisa kutahan. Dan sialnya, otakku langsung berkhianat. Ingatanku kembali menyeretku ke malam kemarin. Ke dinding marmer yang dingin di punggungku. Ke ciuman posesifnya yang dalam dan menuntut. Ke tangannya yang mengunci pergelanganku dan meremas pinggangku. Ke aroma parfum kayunya yang memenuhi hidungku sampai membuat lututku lemas.Aku pasti terlihat seperti kepiting rebus sekarang. Aku langsung menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata birunya yang tajam itu.Orion tersenyum miring. Sen

  • Tuan Muda Tidak Akan Melepaskanku   Senyum Itu Milikku

    Bibir itu masih menempel di bibirku.Orion menciumku dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Bukan ciuman manis seperti di drama, tapi ciuman yang posesif, dalam, menuntut, seolah ia ingin memastikan bahwa aku tidak akan pernah bisa melupakan rasa ini. Tangannya yang satu masih mengunci pergelangan tanganku di atas kepala, yang satu lagi meremas pinggangku dengan kuat, menarikku semakin rapat ke tubuhnya.Aroma parfumnya yang mahal, wangi kayu yang lembut dan maskulin, memenuhi seluruh rongga hidungku. Dinding marmer di belakang punggungku terasa begitu dingin, kontras dengan panas yang menjalari seluruh tubuhku.Aku seharusnya mendorongnya.Otakku berteriak untuk mendorongnya. Untuk mengatakan bahwa dia tidak seharusnya terus-menerus melakukan ini padaku. Karena setiap sentuhannya, setiap ciumannya, hanya akan membuatku semakin salah paham. Membuatku semakin lupa siapa aku dan siapa dia."Tuan Muda... jangan..." suaraku lolos di sela ciumannya, hampir seperti bi

  • Tuan Muda Tidak Akan Melepaskanku   Ciuman Posesif Tuan Muda

    "Makan malamnya belum dimulai. Jangan buat tamuku tidak nyaman."Kalimat itu meluncur dari bibir Orion dengan nada yang sangat dingin, sangat singkat, sangat padat, dan tanpa celah untuk dibantah.Ruangan di L'AMOUR yang sejak tadi dipenuhi denting sendok dan tawa pelan dari meja-meja lain mendadak terasa jauh lebih senyap di meja kami, seolah semua udara tertahan hanya untuk mendengar kalimat itu.Nyonya Vans mengerjapkan matanya perlahan, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Tuan Vans yang sejak tadi berusaha menjaga wibawanya sebagai kepala keluarga terpandang hanya menarik napas panjang dan menyesap wine merahnya dengan gerakan yang terlihat dibuat tenang. Sedangkan Caitlin, wajahnya yang tadi sudah merah karena marah kini pucat pasi dengan bibir yang bergetar menahan amarah dan rasa malu yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.Aku tetap menunduk. Tanganku yang berada di atas pangkuan meremas ujung gaun dusty blue pinjaman ini begitu erat sampai buku-buku jariku

  • Tuan Muda Tidak Akan Melepaskanku   Makan Malam Terakhir

    Cahaya dari jendela kecil di sayap Timur terasa berbeda dengan cahaya di kamar Tuan Muda.Tidak sehangat tadi. Tidak selembut tadi.Aku sudah kembali di kamarku. Kamar pelayan dengan ranjang single yang sempit, lemari kayu yang catnya sudah mengelupas di sudut, lantai yang dingin dan tidak ada karpet beludru, dan selimutku tipis serta agak kasar.Aku melepas kemeja putih selutut milik Orion dengan hati-hati, seolah takut merusaknya. Aku melipatnya dengan sangat rapi, bahkan lebih rapi dari biasanya. Ujung-ujungnya kusamakan. Wangi kayu cendana dan parfum mahalnya masih tertinggal kuat di kain itu. Wangi yang membuat kepalaku pusing. Aku meletakkannya di atas bantal, tidak berani memasukkannya ke dalam lemari kecil milikku.Lalu aku memakai kembali seragam pelayanku, kemeja dan rok selutut yang sudah aku seterika sampai tidak ada satu lipatan pun. Ini pakaianku. Ini tempatku.Hari ini tidak ada jadwal mata kuliah. Papan tulis kecil di dekat dapur yang biasanya ditempel jadwal kuliahku

  • Tuan Muda Tidak Akan Melepaskanku   Tanda Itu Lagi

    Cahaya matahari yang masuk dari jendela kaca besar itu menyilaukan mataku.Kepalaku sakit sekali. Seperti dipukul dengan palu dari dalam. Mulutku kering dan pahit. Bau alkohol masih samar di tubuhku.Aku mengerjap beberapa kali. Pandanganku yang tadinya kabur perlahan menjadi terang dan jelas. Langit-langit tinggi. Lampu gantung kristal. Dinding berwarna elegan.Ini bukan kamarku.Kamar pelayan di sayap timur tidak pernah memiliki langit-langit setinggi ini. Tidak pernah memiliki selimut sehalus ini. Tidak pernah memiliki wangi kayu cendana dan parfum mahal seperti ini.Jantungku berdegup kencang.Aku menoleh dengan panik dan melihat sosok yang sedang duduk di sofa beludru tidak jauh dari ranjang. Orion Thorne.Ia tampak santai dengan kaos polos berwarna hitam pekat, berbahan katun premium yang pas di badan, dan rambutnya masih sedikit basah. Di tangannya ada laptop yang terbuka, tetapi tatapannya tidak di laptop itu. Tatapannya ada padaku.Dingin. Dalam. Menilai.Aku langsung duduk,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status