LOGINMalam itu, Callista Wiranata baru saja menerima penghargaan untuk kesekian kalinya sebagai penyanyi solo terbaik. Namun, dalam satu malam semuanya berubah setelah dia bertemu dengan wanita tua misterius. Callista terbangun di kehidupan lain sebagai seorang istri dari musuh bebuyutannya, juga ibu dari tiga anak yang dia telantarkan. Semakin dia mencoba memahami kehidupan ini, semakin banyak rahasia yang terungkap. Rahasia tentang pernikahannya, juga tentang kesuksesan karir yang dia jalani. Dia berteriak dengan kesal. " Dari sekian banyak pria, kenapa harus Aldiksa yang menjadi suamiku! “ Ig Author: sunny_dhemiree
View MoreCallista masih berdiri di tempatnya, dia tidak bisa mendapatkan informasi apapun dari nomor ini. Tidak ada informasi kontak ataupun foto profil yang digunakan.Sibuk dengan lamunannya, Callista sampai tidak sadar Aldiksa sudah berdiri di ambang pintu. “ Dia tidak berulah lagi? “ tanya Aldiksa pada Bu Yu yang biasa menyambutnya pulang.Bu Yu menggelengkan kepala, dia mengulas senyum. “ Tidak, Tuan. Sepertinya nyonya sudah mulai kembali berubah. “ ucap Bu Yu.Dia sudah bertahun-tahun bekerja sebagai kepala pelayan di kediaman Aldiksa, dia tahu banyak tentang hubungan tuan dan sang nyonya.Aldiksa diam, dia menatap lurus ke arah Callista yang masih berdiri melamun. Mata tajam Aldiksa tidak sengaja melihat ponsel istrinya yang masih menampilkan pesan.Dia bersikap seolah tidak peduli dan melewati Callista begitu saja. “ Eh, kau sudah pulang? “ tanya Callista berbasa-basi.Pada akhirnya Aldiksa menghentikan langkah sejenak, dia menoleh ke arah Callista seraya mengangguk.Melihat pandangan
Callista berjalan gontai untuk kembali ke kamar, fakta baru itu benar-benar mengejutkannya dan membuat dia hilang semangat. “ Penghargaan ku, ketenaran ku... “ lirih Callista.“ Sakit... Kakak... “ Sebelum Callista tiba di tangga, dia melihat Briell yang sedang menangis disana. Anak kecil itu sendirian terduduk di bawah tangga, wajahnya sudah basah dengan air mata.Segera Callista menghampiri, tidak biasanya anak kecil itu sendirian. “ Briell, kenapa? Mana yang sakit? “ tanyanya, dia juga tampak khawatir.Akan tetapi, saat Callista mendekat secara naluriah Briell langsung mundur. Dia menggeleng cepat, tapi rasa sakitnya tidak bisa ditutupi.Briell masih sesegukan kesakitan, tapi dia menolak pertolongan Callista. “ Ayo mama bantu. “ ucap Callista berusaha meyakinkan.“ Mama tidak akan marah pada Briell? “ tanyanya begitu polos.“ Tidak, mama akan bantu Briell mengobati luka. “ Dia akhirnya mau berbicara lagi. Callista tersenyum, dia mengangguk pelan sebelum menggendong Briell dan mem
Pukul empat sore, Callista melihat belum ada tanda-tanda Aldiksa pulang. Dia keluar dari kamarnya dan mendapati anak ketiganya Gabriella, atau yang sering disapa Briell.Anak itu tampak sedang bermain dengan seorang pelayan yang menemani di ruang keluarga. Callista berinisiatif untuk mendekat dan ikut bermain. “ Briell sedang main apa? “ tanya Callista.Akan tetapi, seperti anak lainnya. Briell langsung bangun dan berlindung di balik tubuh pelayan yang mengasuhnya. “ Nona sedang main boneka, Nyonya. “ sahut pelayan tersebut.“ Kakak Ema...” lirih Briell, dia menarik ujung baju pengasuhnya. Wanita muda yang mungkin baru berusia dua puluhan itu dipanggil Ema, Callista ingat saat awal dia membuka mata disini pelayan itu selalu ada disisi Briell jika Aldiksa tidak ada.Ema tersenyum pada Briell, mengusap pelan kepala gadis kecil tersebut. “ Ayo duduk lagi. “ ucapannya begitu lembut berbeda ketika berbicara dengan Callista.Ada rasa kesal dalam hati Callista saat pelayan itu mencoba menja
Setelah semuanya pergi, keadaan kediaman tersebut begitu sepi. Para pelayan sibuk dengan tugas mereka masing-masing, Callista memilih untuk berkeliling.Kediaman ini begitu besar dan mewah, merupakan salah satu kawasan elit di kota Eclypsia. “ Tidak menyangka, aku benar-benar tinggal disini. “ gumam Callista.Akan tetapi, entah mengapa rasanya dia seperti orang asing yang ditinggalkan di rumah orang lain. Pelayan disana bahkan selalu begitu menundukkan kepala saat berpapasan dengannya.Foto-foto besar terpajang di beberapa dinding kediaman. Yang paling menarik perhatian Callista, ialah foto pernikahannya. “ Lihat, disana aku bahkan tersenyum lebar saat berada di pelukan Aldiksa. “ Selepas menatap foto-foto tersebut, Callista masuk ke kamar anak kembarnya. Kamar Theo begitu tertata rapi, sementara kamar anak keduanya lebih berwarna dan berantakan.Dia bahkan banyak menyimpan mainan-mainan jahil. Callista terkekeh, dia jadi ingat dirinya dulu yang selalu mengoleksi mainan jahil seperti












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.