Mag-log inMalam itu, Callista Wiranata baru saja menerima penghargaan untuk kesekian kalinya sebagai penyanyi solo terbaik. Namun, dalam satu malam semuanya berubah setelah dia bertemu dengan wanita tua misterius. Callista terbangun di kehidupan lain sebagai seorang istri dari musuh bebuyutannya, juga ibu dari tiga anak yang dia telantarkan. Semakin dia mencoba memahami kehidupan ini, semakin banyak rahasia yang terungkap. Rahasia tentang pernikahannya, juga tentang kesuksesan karir yang dia jalani. Dia berteriak dengan kesal. " Dari sekian banyak pria, kenapa harus Aldiksa yang menjadi suamiku! “ Ig Author: sunny_dhemiree
view more" Nominasi penyanyi solo terbaik diterima oleh... Callista Wiranata! "
Sorak sorai menggema, tepukan tangan meriah memenuhi panggung acara setelah pembawa acara menyebutkan nama tersebut. Callista Wiranata, wanita muda berusia 30 tahun yang berhasil sukses dan keluar dari dunia kemiskinan. Malam ini dia hadir untuk menerima penghargaan, senyum lebar mengembang diwajah cantiknya. Tropi penghargaan yang kesekian kali sudah dalam genggaman. Di hadapan semua orang dia tersenyum, berpidato singkat mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas pencapaian yang telah diraih. " Terimakasih atas dukungan kalian semua. " ucap Callista dengan tenang. " Waw, selamat ya Callista. " " Hebat, hebat! " " Ini baru temanku, selamat ya. " Masih banyak lagi ucapan selamat yang diberikan rekan sejawatnya, mereka ikut tersenyum bangga dengan pencapaian yang diraihnya. " Terimakasih teman-teman, kalian juga hebat. " balasnya. Akan tetapi, dalam lubuk hati terdalam Callista dia tersenyum getir. Senyuman yang ditampilkan hanyalah topeng yang menutupi rasa kesepiannya. Dan disinilah Callista berada sekarang, duduk di bangku taman seorang diri. Dia memakai topi yang menutupi setengah wajah. " Apa artinya penghargaan ini jika aku hidup sendiri? " tanya Callista yang berbicara pada diri sendiri. Lebih dari sepuluh tahun lamanya dia memulai karir sebagai penyanyi. Suaranya merdu, paras cantik, membuat siapa saja mudah terpikat oleh suara dan kecantikannya. Callista menatap sekeliling, dimana pasangan muda masih berada di taman tersebut. " Aku iri pada kalian. Semua temanku mendekat hanya karena uang. " lirihnya lagi. Dia meneguk minuman terakhir, menyandarkan punggung di bangku taman tersebut. " Andai aku memiliki keluarga... " Callista perlahan-lahan mulai tidak sadar, dia sudah tertidur pulas di tengah taman kota. “ Nyonya, nyonya! “ Mendadak tubuh Callista tersentak, seolah ada yang menariknya secara paksa. Kedua matanya terbuka lebar, keringat dingin bahkan mengucur dari pelipisnya. Dia memegangi dada yang terasa berdegup kencang, menghembuskan napas perlahan untuk menenangkan diri. “ Tenang Callista, tenang. “ gumamnya pelan. “ Itu hanya mimpi. “ serunya lagi menenangkan diri, menepis semua pikiran tidak masuk akal yang terlintas di benaknya. Callista seperti bermimpi, sebelum dia tak sadarkan diri ada seorang wanita tua yang menghampiri dan menanyakan keinginannya. " Nyonya, anda baik-baik saja? " " Oh astaga! " jerit Callista. Dia terhenyak saat melihat ada beberapa orang berpakaian seperti pelayan yang mengelilinginya. " Nyonya, lebih baik anda tidur di kamar. Disini dingin. " seru salah seorang pelayan lagi. Callista masih belum mengerti dengan apa yang terjadi, dia segera bangun dari duduk. " Tunggu, kalian memanggilku nyonya? " tanyanya sambil menunjuk diri sendiri. Mereka mengangguk bersamaan. Pikiran Callista masih mencerna apa yang terjadi sebenarnya. ' Kenapa aku tiba-tiba jadi nyonya? ' Dia menatap mereka satu persatu, mereka juga tampak sama bingungnya dengan pertanyaan Callista. " Kenapa kalian memanggilku nyonya? Memangnya aku nyonya di rumah ini? " tanyanya lagi memastikan. Para pelayan itu masih saling pandang sebelum menjawab. " Karena, anda istri tuan kami. " jawab salah satu dari mereka memberanikan diri. Kening Callista berkerut, dalam batinnya dia mulai menebak-nebak apa yang terjadi. ' Mungkinkah yang wanita tua itu katakan benar? Aku punya keluarga. ' Dia cukup tidak menyangka bahwa impiannya akan menjadi kenyataan. “ Mama! “ Suara seorang anak kecil yang memanggilnya pelan membangunkan Callista dari lamunan, dia segera menoleh ke sumber suara. " Ini anakku? " “ Mama, jangan pergi. Briell janji tidak akan nakal lagi, tidak akan mengganggu mama dengan paman. “ Anak kecil berusia empat tahun itu tampak bersungguh-sungguh saat berbicara, mata bulatnya memancarkan kesedihan dan ketakutan. Callista tersenyum, tangannya terangkat untuk menarik anak tersebut ke pelukannya. Namun, belum sempat meraih anak itu, seorang sudah menariknya kembali. " Nyonya, mohon maafkan nona Briell. Nona masih anak-anak jadi tidak paham. " seru seorang pelayan lainnya seolah berusaha melindungi sang nona muda. Kedua alis Callista saling bertaut dengan kening berkerut. Anak kecil dihadapannya masih diam menunduk, memilin ujung bajunya dengan tangan kecil yang gemetar. Callista berjongkok untuk mensejajarkan tingginya, dia tersenyum ke arah anak di hadapannya. ' Siapa anak ini, kenapa menyebutku mama? ' " Mama tidak marah, tapi lain kali jangan diulangi ya. " ucapnya dengan lembut. Dia mengangguk paham. Sejenak Callista memperhatikan wajah anak itu, begitu mirip dengan dirinya ketika masih kecil. Bermata bulat, dengan pipi yang berisi. ' Sebenarnya aku tidak tahu apa yang ditakutkan anak ini, apa aku begitu menyeramkan. Lagipula aku ini dimana. ' batin Callista. Anak perempuan tersebut kembali berlalu dengan pelayan yang mengasuhnya. Dia tampak tersenyum kembali, berbeda saat menatap Callista yang gemetar ketakutan. Pandangan Callista menyapu seluruh ruangan. Kediaman mewah berlantai keramik pola mosaik, dengan lampu besar yang tergantung mewah. Ornamen-ornamen antik juga furnitur kayu dengan ukiran sederhana menghiasi setiap sudut ruangan, Callista mulai berpikir andai dia pemilik kediaman mewah ini. " Ini terasa seperti mimpi bagiku. Awh! " dia meringis pelan setelah mencubit lengannya dan merasakan sakit. " Ini nyata. " Callista berjalan keluar, dia melihat rumah mewah ini. Dia seperti mengingat sesuatu. ' Ini kan kawasan elit di kota. ' Dirinya baru sadar saat melihat gaya rumah dan struktur bangunan dari kediaman ini. Dulu Callista sempat berpikir akan membeli rumah di kawasan elit ini, dia masih ingat jelas bangunannya seperti apa. “ Tunggu, apa ada yang menculikku? Tidak mungkin kan aku ada di dunia lain. "Suasana di dalam mobil sudah cukup hangat, Ethan memang lebih terbuka pada Callista juga Sophie. Hanya dua teman lamanya, yang sampai sekarang masih dia percaya.Obrolan mereka mengalir dengan nyaman, sampai tidak terasa mobil sudah tiba di depan gerbang kediaman Marvenda. Penjaga segera membuka gerbang setelah melihat Callista, mobil masuk dan berhenti di depan pekarangan kediaman tersebut." Xavier pasti kesepian di rumah, jika Valerie sibuk dia bisa datang kesini. " ucap Callista menawarkan, dia tahu anak laki-laki itu menjadi pendiam karena tidak ada teman untuk berinteraksi." Terimakasih, Callista. Kau dari dulu masih sama. " balas Ethan, dia tersenyum tipis ke arah teman lamanya ini." Iya, terimakasih juga untuk tumpangannya. " tambah Callista. Dia segera menggendong Briell, anak itu terlihat begitu lelah sampai tidak sadar mereka sudah tiba.Ethan mengangguk, mengangkat satu tangannya seolah mengatakan bahwa itu bukan masalah besar. " Sampaikan salam ku pada Aldiksa. " seruny
Siang ini, cuaca cukup panas. Matahari bersinar begitu terik, suara kendaraan yang melesat di jalanan terdengar silih berganti.Di dalam mobil, hening. Keadaannya tidak sepanas di luar, tetap rasa canggung menyelimuti sekitar membuat udara terasa lebih dingin.Briell dan Xavier tertidur di kursi belakang, tampak nyaman juga tidak terganggu sedikitpun. Sementara Callista, dia duduk dengan perasaan bingung. Merasa canggung, sudah bertahun-tahun lamanya dia tidak bertemu dengan pria disampingnya." Kau--" seru keduanya bersamaan.Ethan menoleh sejenak dan tersenyum tipis, dia kembali fokus dengan kemudi dan jalanan di depannya. " Kau duluan. " serunya." Emh, kau apa kabar Ethan? " tanya Callista pelan. Dia takut salah bicara, jangan sampai temannya ini curiga dia bukan dari dunia ini.Pria itu menganggukkan kepala pelan. " Aku baik. Kau terlihat semakin cantik, bagaimana keadaan mu beberapa tahun terakhir ini. " balas Ethan." Hampir tiga belas tahun lebih kita tidak bertemu ataupun ber
[ Al, aku pulang bersama Ethan. Briell tertidur karena kelelahan. ]Aldiksa yang baru saja mengantarkan klien dari ruang konsultasi, saat kembali dia melihat pesan masuk di ponselnya.Pesan dari sang istri, yang mengatakan wanita itu pulang bersama pria lain. " Ethan? " gumamnya.Pikiran Aldiksa menerawang jauh, dia mengingat-ingat nama itu. Tapi, selama ini istrinya tidak pernah menyebutkan nama tersebut, lalu siapa pria itu?[ Dia teman SMA dulu. ]Satu pesan lagi masuk ke ponsel Aldiksa, kini dirinya ingat siapa Ethan yang istrinya maksud. Dia adalah teman SMA istrinya, teman laki-laki yang cukup dekat sebelum mereka bersama.Aldiksa masih ingat, dulu saat dirinya selalu datang menjahili Callista pria itulah yang selalu datang membela." Kau tidak ada tugas lain selain mengganggu temanku? " tanya Ethan, tatapannya yang datar menjurus lurus menatap Aldiksa yang tersenyum tengil." Kau sendiri mau jadi pahlawan kesiangan? Dia mainanku, apa itu masalah bagimu! " balas Aldiksa dengan b
Kegiatan sudah lebih santai, banyak para ibu yang memilih mengobrol bersama teman mereka sambil beristirahat.Mereka tetap tenang, dan tidak berbicara berlebihan. Sama halnya dengan Callista, dia masih penasaran dengan keadaan teman masa SMA nya sekarang." Kak, kau tahu Kak Ethan sangat mencintai istrinya bukan. Sampai sekarang dia belum bisa melupakan istrinya, apalagi setiap melihat Xavier dia akan teringat istrinya. " jelas Valerie. ' Mana kutahu, di dunia ku Ethan itu mafia terkejam yang banyak ditakuti. Jangankan menikah, dekat dengan wanita saja tidak pernah. ' batin Callista." Tapi, apa dia tidak merasa kasihan dengan Xavier? Kau sendiri pasti sudah berkeluarga kan? " cecar Callista, dia masih merasa tidak masuk akal dengan tindakan meninggalkan anak sendirian.Valerie diam beberapa saat, kemudian menggeleng pelan dengan wajah sendu. " Entahlah, dia bilang ada urusan yang benar-benar harus dia selesaikan dulu. " jawabnya dengan lesu." Minggir, kau mengganggu ku! " suara Xav












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.