Share

Tuan Muda Tidak Akan Melepaskanku
Tuan Muda Tidak Akan Melepaskanku
Author: Agnes Jocelyn

Tawaran Itu

Author: Agnes Jocelyn
last update publish date: 2026-09-05 14:18:22

Aku hanya seorang pelayan yang bekerja di kediaman keluarga Thorne. Namun, pagi itu, sang tuan rumah memberiku sebuah tawaran yang tak terduga.

"Aurora, mulai hari ini, kamu bisa ikut Orion berkuliah di universitas yang sama dengannya," ucap Tuan Thorne, pria paruh baya itu, saat aku baru saja masuk ke dalam kediaman untuk melaksanakan pekerjaanku.

Tuan Thorne duduk di sofa utama dengan setelan jas abu-abu yang rapi. Di sampingnya, Nyonya Thorne dengan gaunnya yang elegan menatapku dengan sorot mata yang teduh. Pasangan yang merupakan majikanku yang kuhormati.

"Saya... ikut berkuliah, Tuan?" suaraku tercekat. Aku yakin aku salah dengar.

Nyonya Thorne tersenyum tipis dan mengangguk. Melihat keseriusan mereka, tampaknya ini bukan candaan.

"Benar, Aurora. Kau dengar sendiri. Mulai hari ini kau tidak hanya bekerja di sini, kau juga akan menjadi mahasiswi di Havenwood, sama seperti Orion."

Aku berusaha mencerna informasi ini. Aku tahu Havenwood University adalah universitas elit, tempat anak-anak dari keluarga terpandang berkuliah. Itu juga tempat putra tunggal pasangan Thorne berkuliah.

Mana mungkin aku yang hanya pelayan ini kuliah di tempat yang sama dengan tuanku? Belum lagi, dibiayai oleh majikanku sendiri. Bekerja di sini dan digaji dengan layak saja aku sudah sangat bersyukur.

Tuan Thorne melihat raut wajah tidak enakku dan langsung berbicara.

"Aurora, kau bukan cuma pelayan di sini," potong Tuan Thorne dengan suaranya yang hangat dan berwibawa. "Ibumu sudah mengabdi kepada keluarga Thorne selama lebih dari lima belas tahun. Ibumu, Alana, adalah pelayan terbaik yang pernah kami miliki. Dia sudah kami anggap seperti keluarga sendiri."

Nama ibuku disebut, dan itu membuat dadaku terasa bergemuruh.

Sudah tiga tahun sejak ibuku meninggal karena kanker darah stadium akhir. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya di ranjang rumah sakit, ia menggenggam tanganku begitu erat dan berpesan agar aku jangan pernah pergi dari rumah ini. Bagi ibuku, bekerja di kediaman Thorne adalah anugerah, hidupnya menjadi lebih baik sejak ia diterima di sini.

Ayahku sudah lama meninggal sejak aku masih kecil. Setelah ibu meninggal dunia, aku menjadi sebatang kara. Tuan dan Nyonya Thorne merawatku dan menganggapku seperti anak mereka sendiri. Aku hidup menumpang sambil belajar tentang kediaman ini dari para pelayan.

Sebagai bentuk balas budiku pada mereka, setelah aku lulus sekolah dan usiaku sudah legal, aku pun bekerja di kediaman Thorne sebagai pelayan, sama seperti ibuku dulu.

Kami melihat kau anak yang pintar dan rajin, Aurora,” lanjut Nyonya Thorne. “Sayang jika kau hanya menghabiskan waktumu untuk bersih-bersih rumah saja. Bukankah kamu suka sekali membaca buku di sela-sela waktu istirahatmu?”

Tuan Thorne mengangguk dan menambahkan. “Lagipula, Orion juga pasti akan membutuhkan sedikit bantuanmu di kampus. Dia juga bisa mengajarimu banyak hal. Kalian bisa saling melengkapi.”

Aku menunduk dalam, merasa terharu. Bagaimana pun, aku tidak kuasa menolak pemberian mereka. Saat nama Orion, sang tuan muda itu disebut, aku mengangguk antusias.

"Terima kasih, Tuan, Nyonya. Saya tidak tahu harus berkata apa. Saya janji tidak akan mengecewakan kebaikan Tuan dan Nyonya. Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh."

Selepas mengantar Tuan dan Nyonya Thorne ke depan kediaman dan menyaksikan kepergian mereka untuk berangkat bekerja, aku menghela napas pelan dan melangkah menuju lantai dua.

Sejak usiaku tujuh tahun, aku sudah tinggal di sini bersama ibuku. Aku hafal setiap sudut mansion ini. Dinding batu alam krem keemasan, pilar-pilar kokoh, lampu kristal yang berkilau di langit-langit, hingga dapur yang dulu menjadi tempat ibuku mengajariku cara membuat saus. Semua kenanganku ada di sini.

Dan tentu saja, aku sangat mengenal Orion Thorne.

Putra semata wayang keluarga Thorne. Usianya hanya setahun lebih tua denganku, dua puluh satu tahun. Pewaris tunggal kerajaan bisnis Thorne.

Sejak kecil, Orion adalah anak yang pendiam. Merasa khawatir terhadap putra mereka, mungkin itulah yang mendorong Tuan dan Nyonya Thorne agar aku berteman dengannya.

Karena kebiasaan itu, lama-lama aku menjadi pelayan pribadinya. Hal-hal yang berkaitan dengan Tuan Muda, biasanya akan menjadi tugasku.

Menurut para pelayan, sulit untuk melayani Orion Thorne yang tidak bisa dibaca isi pikirannya. Lelaki itu tidak banyak bicara kepada siapa pun. Kepada semua orang, dia memasang batas yang jelas. Batas yang dingin dan tidak bisa ditembus.

Aku pernah mendengar dari mulut Bibi Maria, sang kepala pelayan, bahwa Tuan Muda Orion tidak ingin dilayani oleh pelayan lain kecuali aku.

Meski aku tidak benar-benar yakin, tapi saat itu aku tidak berani menanyakan hal itu secara langsung kepada Tuan Muda. Tapi, setelah aku melayaninya, aku menyadari jika Tuan Muda yang masih kecil itu mungkin tidak suka bicara pada orang dewasa. Dan dia lebih nyaman memerintah aku yang lebih muda darinya.

"Aurora, kamu masih di sini? Cepat temui Tuan Muda. Dia masih berada di kamarnya, pergilah," ucap Bibi Marie saat aku berpapasan dengannya di tangga.

"Baik, Bibi," jawabku cepat.

“Oh, iya, jangan lupa ganti pakaian dengan baju yang pantas sebelum berangkat bersama Tuan Muda,” bisik Bibi Marie sekali lagi, membuat alisku terangkat.

Benar juga. Aku tidak boleh mengenakan baju pelayan saat berangkat ke kampus. Itu artinya, aku harus bergegas membantu Tuan Muda agar punya waktu untuk bersiap-siap sendiri.

Aku berjalan menyusuri koridor panjang menuju tempat kamar Orion berada.

Rutinitas ini memang sudah menjadi kebiasaanku. Aku mengetuk pintu kamar Orion dua kali sebelum bergegas masuk, seperti yang sudah kulakukan sejak kecil. “Permisi, Tuan Muda, saya masuk.”

Karena hal itu, aku tidak menyangka jika aku akan menyaksikan Tuan Muda sedang dalam keadaan setengah telanjang.

Uap hangat tipis dari pintu kamar mandi yang menyatu dengan kamar menguar di udara. Sebelum aku sadar, mataku bertemu dengan tubuh Orion yang hanya berlapis handuk di sekitar pinggulnya.

“A-astaga!” pekikku. Aku langsung berbalik badan menghadap pintu yang baru saja kulewati. “Maaf, Tuan Muda! Saya …”

Di dalam kepalaku, pemandangan tubuh Orion yang atletis dan garis-garis otot di tubuhnya, kulit pucatnya yang sedikit lembap, dan rambut pirang pucatnya masih sedikit basah itu sudah terekam jelas.

“Kau sedang apa?” Suara rendah Orion terdengar, ada sedikit kekesalan di sana. “Cepat bantu aku memakai ini.”

Ah, benar juga. Aku memang di sini untuk membantunya bersiap-siap. Saat aku berbalik lagi, Orion sudah berdiri di depan cermin besar.

“Baik, Tuan…”

Jantungku masih berdegup kencang. Aku mendekat perlahan, dan mulai mengambilkan setelan pakaian yang sudah tergantung rapi.

Biasanya, aku hanya membantunya memakai dasi dan merapikan rambutnya. Tapi, kali ini …

Kapan terakhir kali aku melihatnya sedekat ini? Dulu, saat kami masih kecil, aku sering membantunya memakai seragam sekolah. Tapi sekarang... semuanya berbeda.

Pemandangan itu membuat napasku tercekat.

Tuan mudaku sudah bertambah tinggi. Jauh lebih tinggi dariku. Bahunya yang dulu kurus kini bidang dan lebar. Punggungnya tegak, dan di bawah kulit pucatnya, otot-ototnya terbentuk dengan begitu atletis. Garis rahangnya yang dulu masih lembut kini mengeras dan tegas.

Orion Thorne bukan lagi anak laki-laki berusia delapan tahun yang menarik tanganku kemana-mana dan memerintahku seenaknya.

Dia sudah menjadi seorang pria.

Kesadaran itu membuat pipiku memanas dan aku buru-buru mengalihkan pandanganku ke lantai marmer.

Orion menatapku dari pantulan cermin. Mata birunya yang sedingin salju itu seolah sedang menusukku.

"Kau sedang melihat kemana, Aurora?" tegurnya, membuatku tersentak. “Tatap aku saat sedang melayaniku.”

“Maaf, Tuan Muda…” lirihku.

Aku mengancingkan kemejanya satu per satu dengan jemari yang sedikit gemetar. Satu kancing... dua kancing…

Jarak kami begitu dekat, hingga aku bisa melihat tetesan air yang masih menggantung di lehernya. Aku berusaha untuk tidak menatap dada bidangnya, tapi aroma tubuhnya yang maskulin membuat kepalaku pusing.

Dalam hati, aku berusaha untuk fokus. Orion adalah tuan yang kulayani. Bisa-bisanya aku memikirkan hal tidak pantas tentangnya? Aku menelan ludah.

Saat akhirnya kancing bajunya selesai, aku membantu merapikan kerah dan jasnya. Penampilannya kembali sempurna. Dingin, mahal, dan berwibawa. Sangat cocok untuk seorang Orion Thorne.

"Sudah selesai, Tuan Muda," ucapku pelan sambil menunduk, merapikan sedikit kerutan di jasnya. "Jika tidak ada lagi, saya izin keluar untuk bersiap-siap juga ke kampus."

Aku membalikkan badan hendak pergi. Tapi sebelum tanganku sempat menyentuh gagang pintu, sebuah tangan yang besar dan dingin menahan pergelangan tanganku. Genggamannya erat.

Aku tertegun dan menoleh. Orion sudah berdiri tepat di belakangku. Sorot matanya yang biru menatapku lekat, dalam, dan sulit diartikan.

“Kau belum selesai di sini, Aurora,” ucap pria itu. “Buka pakaianmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Muda Tidak Akan Melepaskanku   Pertunangan Yang Diumumkan

    "Orion Thorne!"Suara melengking Caitlin itu pecah begitu keras hingga memotong alunan waltz di tengah ballroom Hotel Grand Regent.Langkahku dan Orion terhenti seketika.Genggaman Orion di pinggangku mengerat. Begitu kuat hingga gaun champagne yang kupakai sedikit tertarik dan aku meringis pelan. Napasnya yang tadi masih teratur di dekat telingaku, kini terdengar lebih berat.Semua pasang mata di ballroom menoleh ke arah kami. Para pelayan yang membawa nampan sampanye berhenti. String quartet di panggung pun ikut menghentikan gesekan biola mereka. Musik berhenti total.Caitlin berdiri di tepi lantai dansa. Gaun merah menyala yang terbuka di punggung terlihat kontras dengan wajahnya yang kini pucat dan berantakan. Dadanya naik turun menahan amarah. Air mata mengalir merusak riasan sempurnanya yang tadi tampak memukau.Ia menatapku. Lalu menatap Orion dengan tatapan hancur yang dipaksakan."Apa kau tidak ingat, Orion? Bukankah orang tua kita akan mengumumkan rencana pertunangan kita ma

  • Tuan Muda Tidak Akan Melepaskanku   Dentum Di Atas Dada Bidang Itu

    Dada bidang itu terasa begitu kokoh dan hangat saat tubuhku menabraknya.Napasku tercekat di tenggorokan. Aku bisa merasakan detak jantung Orion di balik kaos dalam putih tipisnya, begitu stabil, begitu tenang, berbanding terbalik dengan jantungku yang sudah berdegup tak karuan seperti hendak melompat keluar dari gaun champagne ini.Aroma kayunya yang maskulin bercampur dengan aroma sabun mahal langsung menyergap indraku. Begitu dekat."Ma-Maaf, Tuan Muda..." bisikku terbata, tanganku refleks menahan di dadanya untuk menjaga jarak, tapi sentuhan itu justru membuatku semakin panik karena aku bisa merasakan otot keras di baliknya.Orion tidak melepaskanku. Satu tangannya masih menggenggam lenganku dengan erat, sementara tangan lainnya perlahan turun dan berhenti di pinggangku, menahanku agar tidak jatuh."Kau selalu ceroboh," gumamnya rendah, suaranya tepat di atas ubun-ubunku. Dingin, tapi ada nada berat yang tidak biasa di sana.Aku mengangguk cepat, menunduk dalam-dalam, tidak berani

  • Tuan Muda Tidak Akan Melepaskanku   Bayangan Di Balik Gaun Pesta

    Aku membeku di atas sofa, tidak berani bergerak, sementara di luar jendela besar mansion, langit sore itu mulai berubah menjadi jingga keemasan, memantulkan bayangan aku dan Orion di atas sofa kulit hitam yang besar."Tuan Muda... kita... mau apa di sini?" bisikku akhirnya, suaraku hampir tidak terdengar karena takut.Orion bersandar, tatapan birunya menatap lurus ke depan, ke arah perapian yang tidak menyala. Ia tidak langsung menjawab.Beberapa detik kemudian, ia melirik jam tangan mahalnya."Mereka akan datang sebentar lagi," jawabnya datar."Mereka?"Orion tidak menjawab lagi. Ia hanya mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu dengan singkat.Aku hanya bisa duduk diam di sampingnya, jantungku berdegup tidak karuan. Menemani Tuan Muda duduk tanpa melakukan apa pun adalah hal yang paling canggung yang pernah kurasakan.Tidak lama kemudian, bel mansion berbunyi. Mrs. Agatha bergegas membukakan pintu.Masuklah tiga orang wanita paruh baya dan satu pria muda dengan penampilan yang sanga

  • Tuan Muda Tidak Akan Melepaskanku   Undangan Yang Tak Diinginkan

    Di pintu masuk koridor, Orion berdiri tegak. Tangannya terkepal di sisi tubuh, rahangnya mengeras. Sorot tatapannya yang berubah sedingin es, menatap lurus ke arah kami tanpa berkedip.Suaranya tidak keras. Bahkan hampir pelan. Tapi dinginnya menusuk tulang dan membuat seluruh udara di koridor yang sepi itu membeku seketika.Julian yang masih menggenggam pergelangan tanganku langsung menoleh. Senyum ramahnya masih ada, tapi matanya sedikit menyipit ketika melihat siapa yang berdiri di ujung koridor.Aku bisa merasakan genggaman Julian yang tadinya lembut dan tegas kini sedikit mengendur."Ah, Orion," sapa Julian santai, melepaskan genggamannya pelan-pelan dari tanganku seolah tidak terjadi apa-apa. Ia mengangkat kedua tangannya sedikit. "Santai. Aku hanya ingin bicara sebentar dengan teman barumu. Tidak lebih."Orion tidak menjawab Julian. Ia berjalan mendekat, langkahnya pelan tapi setiap hentakannya terdengar berat di lantai koridor yang lengang.Pria itu berhenti tepat di depanku,

  • Tuan Muda Tidak Akan Melepaskanku   Perhatian Yang Tidak Kuinginkan

    Wajah Orion masih satu jengkal dariku. Tubuhnya tak bergeser. Aku menelan ludah dengan susah payah, tanganku menggenggam ujung rok erat-erat.Aku bisa merasa sangat malu mendengar Orion mengatakannya terang-terangan. Suara jantungku yang berdegup tidak karuan itu pasti terdengar begitu keras di dalam kabin mobil sport yang sunyi ini."Ma-Maaf, Tuan Muda..." bisikku terbata, suaraku hampir hilang. Aku menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata birunya yang sedalam samudra itu. "Saya... saya tidak terbiasa..."Orion tidak langsung menjawab. Ia masih menatapku. Tatapan birunya turun sekilas, bukan ke mataku, tapi ke rambutku.Tatapannya berhenti pada jepit rambut kecil dengan desain cantik yang tadi kupasang di kamar mandinya. Jepit itu menjepit sebagian rambut hitam bergelombangku ke belakang, membuat penampilanku terlihat lebih rapi.Ia menunduk lebih rendah lagi, begitu dekat hingga aku pikir bibirnya akan menyentuh bibirku.Aku menahan napas, seluruh tubuhku kaku, dan aku memeja

  • Tuan Muda Tidak Akan Melepaskanku   Jarak Satu Jengkal Yang Tak Terucap

    Darah seketika berdesir hebat ke seluruh tubuhku, wajahku memerah panas seketika hingga ke telinga. Jantungku berdegup kencang tak beraturan di dada.Aku menatapnya tak percaya, bibirku terkatup rapat tanpa suara. Mataku yang sejak tadi berusaha kutundukkan kini membelalak, kaget dengan apa yang kudengar.Buka pakaian katanya? Kalimat itu jatuh begitu saja dari bibir Orion dengan nada datarnya. Seolah apa yang dia perintahkan adalah salah satu perintah sepelenya yang biasa."Tu-Tuan Muda..."Suaraku tercekat. Tenggorokanku kering. Tanganku yang masih berada di dalam genggamannya gemetar, sampai aku takut dia menyadarinya.Apa yang baru saja ia katakan? Apa maksudnya? Pikiran-pikiranku berlarian tak karuan, bercampur antara malu, takut, dan … sedikit rasa penasaran?Ah! Apa yang kupikirkan?! Aku hanyalah pelayannya. Dia adalah tuan mudaku. Batas itu selalu ada."Tuan Muda, saya... saya tidak bisa," ucapku dengan suara tercekat.Aku melangkah mundur satu langkah, meremas rok seragam pel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status