Share

Bab 2

Author: Ungu
"Aku kira kamu belum mandi, makanya aku bawakan pakaian. Ternyata kamu nggak kunci pintunya. Aku akan segera keluar."

Sepertinya karena terkejut oleh reaksiku, Pak Farid buru-buru mundur beberapa langkah dan menjelaskan.

Wajahku menjadi merah padam. Aku bingung apakah harus menutupi bagian dada atau area intimku.

Akan tetapi, bagian dada sialan ini justru menjadi makin sensitif karena tatapan Pak Farid tadi. Sisa air susu menetes, mengalir melewati perut bagian bawah dan akhirnya jatuh tepat ke area intimku.

Tatapan pria itu tampak terpaku, mengikuti tetesan cairan putih itu hingga ke area intimku.

Di saat yang sama, aku menyadari adanya tonjolan yang jelas pada celana Pak Farid.

Wajahku langsung menjadi merah padam.

Menyadari akan situasiku yang memalukan, Pak Farid pun tersadar. Dia meletakkan pakaian itu, lalu berbalik pergi.

"Baju itu dibeli istriku dua tahun lalu. Belum pernah dipakai sama sekali. Semuanya masih baru. Kalau kamu nggak keberatan, pakailah setelah selesai mandi." Suara Pak Farid terdengar dari luar.

“Oh,” gumamku pelan. Punggungku bersandar pada pintu, sementara jantungku berdegap kencang bagaikan suara tabuhan gong dan drum yang bertalu-talu.

Di dalam benakku, bayangan akan “alat” itu masih saja melekat dan sulit untuk dilupakan.

Dengan wajah tersipu malu, aku melirik tubuhku sendiri. Namun, saat tatapanku tertuju pada sisa noda air susu itu, aku tersentak seperti baru tersengat. Aku bergegas berdiri, menyalakan pancuran air dan buru-buru membasuh jejak noda tersebut.

Setelah mandi dengan terburu-buru, aku mengambil pakaian yang sudah disiapkan oleh Pak Farid dan memakainya.

Pak Farid menyiapkan sebuah gaun hitam tanpa lengan. Bahannya sehalus satin. Kuperkirakan harganya mencapai beberapa juta.

Selain itu, juga ada celana dalam motif macan tutul yang masih tersegel.

Setelah membuka kemasannya, wajahku langsung memerah. Celana dalam ini jelas-jelas tipe yang sensual, karena sebagian besar bahannya terbuat dari renda transparan.

Setelah dikenakan, area intimku menjadi terlihat samar-samar. Rasanya jauh lebih menggoda dibanding tidak memakai apa-apa.

Mungkin di rumah bos memang tidak ada pakaian normal lainnya. Lagi pula, ini hanya pakaian dalam, seharusnya tidak masalah.

Dengan wajah memerah, aku mengganti pakaianku. Namun, ternyata hal yang paling gawat bukanlah pakaian dalamnya, melainkan gaun itu.

Gaun ini ternyata memiliki kerah model V dan potongan lehernya terbuka sangat rendah.

Sementara itu, Pak Farid tidak menyiapkan bra untukku. Oleh karena itu, setelah mengenakannya, lebih dari setengah bagian payudaraku yang bulat terpampang, bahkan memperlihatkan belahan dada yang sangat dalam.

Putingku juga menonjol di balik kain yang halus itu, bergetar pelan seiring dengan setiap gerak-gerikku. Sensasi dari gesekan halus itu memberikan gairah yang membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak merapatkan dan menggesekkan kedua kakiku, sementara putingku juga kembali basah.

Ini memang pakaian yang bagus. Akan tetapi, jika begini kondisinya … bagaimana aku bisa keluar?

Aku melihat pakaianku sendiri yang basah kuyup di lantai. Sudah tidak bisa dipakai lagi.

Aku pun menggertakkan gigi. Aku tidak punya pilihan lain selain memberanikan diri.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 9

    Aku menggigit bibir merahku erat-erat, sama sekali tidak berani membiarkan diriku mengeluarkan suara, karena takut akan membangunkan suamiku.Namun, perasaan senang yang luar biasa itu benar-benar terlalu kuat. Suatu sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya saat bersama suamiku.Terlebih lagi, Pak Farid seakan tidak takut jika suamiku terbangun. Dia justru menjadikan suamiku seperti tempat tidur goyang, menyiksaku dengan brutal di atas tubuh suamiku, sambil terus memaksaku untuk menatap suamiku.Di atas tubuh suamiku, aku bersama Pak Farid.Sungguh sangat memalukan, tetapi sekaligus begitu menggairahkan!Akhirnya, aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Gigitanku terlepas dan aku mengeluarkan lenguhan yang memabukkan.Pak Farid menjadi begitu bersemangat. "Ya, benar begitu. Nikmatilah sepuasnya. Suamimu pasti nggak akan terbangun."Aku tidak bisa lagi melawan atau mengontrol apa yang terjadi pada tubuhku. Aku hanya bisa pasrah mengikuti permainan Pak Farid yang begitu liar

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 8

    Aku merasa terkejut di dalam hati. "Jangan!"Baru saja mau memberontak, Pak Farid sudah memperingatkan, "Kalau Aldi sampai bangun dan tahu apa yang terjadi antara kita, bisa gawat urusannya!"Tubuhku sedikit gemetar. Dalam sekejap, saat aku kehilangan fokus, Pak Farid berhasil melancarkan aksinya.Hanya terhalang gaun tidur yang tipis, Pak Farid bertindak semaunya, sehingga membuat sekujur tubuhku terasa panas dan geli.Tanpa bisa dikendalikan, air susuku kembali mengalir, membasahi pakaianku ….Setelah mendapat rangsangan seperti itu dari Pak Farid, tubuhku yang sensitif langsung terasa lemas lunglai dan kehilangan tenaga.Terlebih lagi setelah minum begitu banyak alkohol. Pengaruh alkohol itu melipatgandakan rasa hampa di tubuhku.Begitulah, antara menolak tetapi pasrah, aku membiarkan diriku menjadi sasaran tindakan semena-mena Pak Farid. Bahkan, tangan besarnya mulai meraba masuk ke balik rokku."Sisy, apa kamu biasanya jarang berhubungan intim dengan suamimu? Jangan-jangan dia ngg

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 7

    Akan tetapi, suamiku sudah menyerah. Jika ditotal semua, bahkan tidak sampai dua menit.Suamiku terbaring lunglai di sampingku. Menghadapi tatapan matanya yang penuh penyesalan, aku tidak bicara banyak. Aku hanya menghiburnya seadanya, "Nggak apa-apa, mungkin kamu terlalu lelah belakangan ini."Sebenarnya kami berdua tahu, itu hanya kata-kata untuk menghiburnya saja.Aku pergi ke kamar mandi untuk mandi. Di bawah kucuran air panas, aku tidak tahan untuk tidak menggosok tubuhku dengan keras menggunakan handuk.Perasaan itu terasa begitu kuat.Meski di dalam hati aku begitu mendamba, aku hanya bisa menahannya.Aku takut ketahuan suamiku, karena itu akan membuatnya merasa rendah diri.Setelah selesai mandi, aku kembali ke ruang tamu dan melihat suamiku sudah berpakaian rapi. Dia sedang duduk di sofa sambil menelepon.Saat aku sedang bersiap untuk memakai masker wajah, dia menutup teleponnya dan berkata dengan antusias, "Sayang, sebentar lagi Pak Farid mau datang. Tolong rapikan rumah sedi

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 6

    Ditatap mata Mirna membuat hatiku terasa sedikit gugup dan agak canggung, sehingga secara tidak sadar aku pun menutupi kerah bajuku."Sayang, tadi waktu Sisy datang, bajunya basah kuyup kena hujan. Aku takut dia bakal bikin Dodo basah waktu menyusui. Jadi, aku menyuruhnya mandi dan memberikan baju yang sudah dua tahun nggak kamu pakai untuknya. Kamu nggak keberatan, 'kan?" jelas Pak Farid dengan senyum lebar."Nggak apa-apa, pantas saja rasanya baju itu nggak asing."Barulah ekspresi Mirna terlihat lega. "Pantas saja. Aku tadi membatin, mana mungkin Sisy pakai baju dengan gaya seperti ini? Oh iya, gimana kabar Dodo?""Dia sudah kenyang dan sudah tidur," jawabku dengan cepat. "Kak Mirna, di rumah masih ada urusan. Jadi, aku pamit pulang dulu, ya."Mirna sebenarnya ingin menahanku untuk makan siang di rumahnya. Namun, aku merasa sangat bersalah dan bahkan tidak berani menatap matanya. Aku pun mencari-cari alasan asal-asalan, lalu segera pergi dengan langkah cepat.Begitu sampai di rumah,

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 5

    Hatiku dipenuhi rasa bersalah kepada suamiku. Aku hanya bisa menghibur diri sendiri dengan berpikir bahwa Pak Farid yang memaksaku dan aku tidak berdaya melawannya.Lagi pula, aku sedang bekerja untuknya. Jika aku melawan dan membuat Pak Farid marah, gaji 30 juta itu akan hilang.Demi uang, aku hanya bisa bersabar dan menahannya …."Sisy, kakimu ini sungguh cantik, mulus dan lurus, benar-benar seperti batu pualam …."Pak Farid tidak terburu-buru melancarkan serangan. Tangannya terus bergerak kurang ajar di pahaku.Aku tidak tahu apakah ucapannya itu murni pujian atau dia sengaja menggodaku.Aku bersandar di pelukannya, merasakan pipiku terasa panas membara. Di dalam tubuhku seakan ada api yang berkobar hebat."Jangan menahan diri, Sisy. Hubungan antara pria dan wanita itu hal yang wajar. Tenang saja, setelah semua ini selesai, aku akan memberimu kompensasi yang setimpal …."Kata-kata Pak Farid seakan menjadi penenang bagiku, membuat rasa bersalah terhadap suamiku di dalam hati ini tera

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 4

    Aku merasa seperti tersengat aliran listrik. Rasa kebas dan geli merambat ke seluruh tubuhku, membuatku tidak kuasa menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara."Mmm …."Begitu suara itu keluar, aku langsung tersadar ada yang tidak beres. Aku langsung menggigit bibir merahku sambil mencuri pandang ke arah Pak Farid untuk melihat reaksinya.Tak disangka, Pak Farid sedang menatapku sambil tersenyum simpul. Jelas sekali bahwa dia sudah mendengar suara tidak senonohku tadi."Sisy, kamu sensitif sekali ya? Baru disentuh sedikit saja sudah bereaksi," ucap Pak Farid sambil tertawa lepas tanpa rasa sungkan."Pak Farid, jangan bicara sembarangan … ah!"Sebelum aku bisa menyelesaikan kata-kataku, Pak Farid menambah kekuatannya. Dengan seenaknya, dia mempermainkan putingku yang menegang.Pak Farid menundukkan kepalanya sambil menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.Aku merasa sangat malu dan ingin memintanya berhenti bicara. Namun, di dalam hatiku ada sensasi gairah yang tidak terlukiskan.Aksi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status