Share

Tugas Tambahan untuk Ibu Susu
Tugas Tambahan untuk Ibu Susu
Penulis: Ungu

Bab 1

Penulis: Ungu
Aku adalah seorang ibu susu. Hari ini aku pergi ke rumah Pak Farid untuk menyusui putranya.

Lantaran payudaraku sedang membengkak karena ASI, belakangan ini aku jarang mengenakan bra. Jika tidak, tekanannya akan terlalu kencang dan selalu terasa nyeri yang samar.

Terlebih lagi, karena terus-menerus diisap dan dijilat oleh bayi, putingku menjadi begitu sensitif. Gesekan sekecil apa pun akan membuatnya menegang, lalu setelah itu ASI akan merembes keluar tanpa bisa dikendalikan.

Aku sudah terlalu sering mengalami situasi memalukan di luar saat bagian dadaku basah kuyup. Tatapan membara dari orang-orang di sekitar membuatku merasa malu sekaligus bergairah. Hal itu justru membuat dadaku makin tak terkendali, hingga akhirnya rembesan ASI menembus seluruh kemejaku.

Saat hendak keluar rumah, aku sengaja memilih kemeja berwarna abu-abu, sehingga meskipun basah, tidak akan sampai memperlihatkan tubuhku di depan umum seperti halnya jika aku memakai kemeja putih.

Siapa sangka cuaca tidak mendukung. Belum sampai di halte bus, hujan badai sudah turun dengan derasnya.

Saat aku tiba di rumah Pak Farid, pakaianku sudah hampir basah kuyup, benar-benar basah kuyup dari kepala hingga kaki.

Ketika aku berdiri di depan pintu rumah bos, aku melirik ke arah tubuhku sendiri dan dalam hati berseru, 'Gawat!'

Aku lupa bahwa ASI berwarna putih. Meskipun kemeja berwarna gelap tidak mudah memperlihatkan bentuk tubuh saat basah kuyup, putingku kini ternoda oleh bekas ASI. Bagian ujungnya tampak putih bersih, bahkan bisa terlihat cairan yang terus merembes keluar tanpa henti dari sana ….

Dengan sedikit panik, aku menggosok-gosok kain di bagian putingku dengan tangan. Namun, hal itu malah menyentuh titik sensitifku. Seketika aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerang pelan di depan pintu. Kakiku terasa begitu lemas hingga hampir saja terjatuh.

Namun, tubuhku ditangkap oleh seseorang.

Aku mengangkat kepala, menatap ke arah depan dengan pandangan sedikit kosong.

Entah kapan pintu itu terbuka. Pak Farid sudah berdiri di sana. Dia mengulurkan tangannya untuk menopangku.

Pak Farid sempat terpaku sejenak melihat penampilanku yang kacau balau. Pandangannya terhenti saat menyapu bagian dadaku yang ternoda ASI. Namun, dia tetap tidak mengatakan apa pun dan memintaku masuk ke dalam.

Berjalan di belakangnya, aku merasa sedikit tidak enak hati. Kemudian, tanpa sadar aku menarik-narik bajuku.

Begitu melirik jam, sepertinya aku sudah terlambat cukup lama.

Aku pun menjelaskan situasiku pada Pak Farid dengan terbata-bata, sambil terus merasa cemas karena bagian dadaku masih terus membasahi kemeja. Akan tetapi, usahaku untuk menutupi dadaku dengan tangan justru membuatnya makin terlihat jelas, hingga memancing Pak Farid untuk terus menatap ke arah sana.

"Nggak apa-apa. Hujan di luar sangat deras, bisa dimengerti."

Pak Farid tersenyum dan memaafkan keterlambatanku. Namun, secara tidak sadar pandangannya tertuju ke arah dadaku.

Di tengah puncak musim kemarau, kemeja yang kukenakan begitu tipis. Pakaian yang basah itu melekat erat di tubuhku, membuat bentuk bulat dari kedua payudaraku terlihat begitu jelas. Pak Farid pasti juga menyadari bahwa aku tidak mengenakan bra.

Pada saat ini, noda ASI putih sudah merembes turun dari bagian putingku, mengalir mengikuti garis payudara dan membentuk lekukan tubuhku dengan jelas di atas kemeja yang berwarna gelap.

Aku merasa sangat malu dan segera menarik-narik bajuku untuk menutupi diri. Namun, anehnya tubuhku justru terasa sedikit panas.

Terus-menerus ditatapi oleh Pak Farid seperti itu membuatku merasa begitu malu hingga rasanya ingin menghilang ditelan bumi. Aku pun berkata dengan gugup, "Itu .… Mana Dodo? Aku mau menyusuinya."

"Nggak perlu buru-buru. Mandilah dulu. Jangan sampai kamu kedinginan dan jatuh sakit," ucap Pak Farid dengan nada penuh perhatian.

Pak Farid menatap kemejaku yang berantakan dengan penuh arti, lalu menambahkan, "Ganti juga baju yang kamu kenakan itu. Akan kucarikan yang baru untukmu."

Hatiku terasa hangat. Aku menatap Pak Farid dengan rasa terima kasih. Namun, aku tetap mengatakan tidak perlu.

Lagi pula, rumah mereka adalah apartemen mewah yang begitu luas dengan dekorasi yang begitu megah. Sebagai seorang wanita, aku merasa sangat sungkan jika harus mandi di rumah mereka.

Pak Farid sepertinya melihat keraguanku. Dia tersenyum dan kembali berkata, "Baiknya mandi dulu saja. Nggak enak juga kan kalau badan anakku jadi ikut basah waktu kamu menyusuinya, 'kan?"

Terdengar nada yang tidak menerima penolakan dalam suaranya, sehingga aku hanya bisa menganggukkan kepala.

Kamar mandi di rumah Pak Farid sangat besar. Luas area toiletnya saja sudah melebihi luas rumah yang aku dan suamiku sewa saat ini.

Aku melepaskan pakaianku yang basah kuyup, lalu berdiri di depan cermin besar yang ada di samping gantungan jubah mandi. Sambil menatap tubuh rampingku di dalam cermin serta bagian dadaku yang berisi dan membanggakan, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengulurkan kedua tangan untuk menopang dan meraba keduanya.

Bagian dadaku yang pada dasarnya memang masih merembeskan ASI menjadi makin tidak terkendali karena gerakanku tadi.

Dua gumpalan payudara yang berisi ini dahulu pernah memberiku kesulitan besar. Waktu masih sekolah dahulu, aku bahkan pernah diejek sebagai "sapi perah" oleh teman-teman sekelas. Tidak kusangka sekarang ini justru menjadi sarana bagiku untuk menyambung hidup, membuatku tidak tahu apakah harus merasa senang atau malah merasa miris.

Akan tetapi, saat teringat bagaimana Pak Farid menatap dadaku dengan mata yang berbinar tadi, jantungku pun tidak bisa berhenti berdegap kencang.

Tepat di saat aku sedang melamunkan hal yang tidak-tidak, pintu tiba-tiba terbuka. Tak disangka-sangka Pak Farid masuk ke dalam dengan membawa satu setel pakaian baru yang cantik di tangannya.

Aku menjerit kaget. Dalam kepanikan aku buru-buru menutupi tubuhku dengan tangan sambil berseru cemas, "Kamu … kenapa kamu masuk? Cepat keluar!"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 9

    Aku menggigit bibir merahku erat-erat, sama sekali tidak berani membiarkan diriku mengeluarkan suara, karena takut akan membangunkan suamiku.Namun, perasaan senang yang luar biasa itu benar-benar terlalu kuat. Suatu sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya saat bersama suamiku.Terlebih lagi, Pak Farid seakan tidak takut jika suamiku terbangun. Dia justru menjadikan suamiku seperti tempat tidur goyang, menyiksaku dengan brutal di atas tubuh suamiku, sambil terus memaksaku untuk menatap suamiku.Di atas tubuh suamiku, aku bersama Pak Farid.Sungguh sangat memalukan, tetapi sekaligus begitu menggairahkan!Akhirnya, aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Gigitanku terlepas dan aku mengeluarkan lenguhan yang memabukkan.Pak Farid menjadi begitu bersemangat. "Ya, benar begitu. Nikmatilah sepuasnya. Suamimu pasti nggak akan terbangun."Aku tidak bisa lagi melawan atau mengontrol apa yang terjadi pada tubuhku. Aku hanya bisa pasrah mengikuti permainan Pak Farid yang begitu liar

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 8

    Aku merasa terkejut di dalam hati. "Jangan!"Baru saja mau memberontak, Pak Farid sudah memperingatkan, "Kalau Aldi sampai bangun dan tahu apa yang terjadi antara kita, bisa gawat urusannya!"Tubuhku sedikit gemetar. Dalam sekejap, saat aku kehilangan fokus, Pak Farid berhasil melancarkan aksinya.Hanya terhalang gaun tidur yang tipis, Pak Farid bertindak semaunya, sehingga membuat sekujur tubuhku terasa panas dan geli.Tanpa bisa dikendalikan, air susuku kembali mengalir, membasahi pakaianku ….Setelah mendapat rangsangan seperti itu dari Pak Farid, tubuhku yang sensitif langsung terasa lemas lunglai dan kehilangan tenaga.Terlebih lagi setelah minum begitu banyak alkohol. Pengaruh alkohol itu melipatgandakan rasa hampa di tubuhku.Begitulah, antara menolak tetapi pasrah, aku membiarkan diriku menjadi sasaran tindakan semena-mena Pak Farid. Bahkan, tangan besarnya mulai meraba masuk ke balik rokku."Sisy, apa kamu biasanya jarang berhubungan intim dengan suamimu? Jangan-jangan dia ngg

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 7

    Akan tetapi, suamiku sudah menyerah. Jika ditotal semua, bahkan tidak sampai dua menit.Suamiku terbaring lunglai di sampingku. Menghadapi tatapan matanya yang penuh penyesalan, aku tidak bicara banyak. Aku hanya menghiburnya seadanya, "Nggak apa-apa, mungkin kamu terlalu lelah belakangan ini."Sebenarnya kami berdua tahu, itu hanya kata-kata untuk menghiburnya saja.Aku pergi ke kamar mandi untuk mandi. Di bawah kucuran air panas, aku tidak tahan untuk tidak menggosok tubuhku dengan keras menggunakan handuk.Perasaan itu terasa begitu kuat.Meski di dalam hati aku begitu mendamba, aku hanya bisa menahannya.Aku takut ketahuan suamiku, karena itu akan membuatnya merasa rendah diri.Setelah selesai mandi, aku kembali ke ruang tamu dan melihat suamiku sudah berpakaian rapi. Dia sedang duduk di sofa sambil menelepon.Saat aku sedang bersiap untuk memakai masker wajah, dia menutup teleponnya dan berkata dengan antusias, "Sayang, sebentar lagi Pak Farid mau datang. Tolong rapikan rumah sedi

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 6

    Ditatap mata Mirna membuat hatiku terasa sedikit gugup dan agak canggung, sehingga secara tidak sadar aku pun menutupi kerah bajuku."Sayang, tadi waktu Sisy datang, bajunya basah kuyup kena hujan. Aku takut dia bakal bikin Dodo basah waktu menyusui. Jadi, aku menyuruhnya mandi dan memberikan baju yang sudah dua tahun nggak kamu pakai untuknya. Kamu nggak keberatan, 'kan?" jelas Pak Farid dengan senyum lebar."Nggak apa-apa, pantas saja rasanya baju itu nggak asing."Barulah ekspresi Mirna terlihat lega. "Pantas saja. Aku tadi membatin, mana mungkin Sisy pakai baju dengan gaya seperti ini? Oh iya, gimana kabar Dodo?""Dia sudah kenyang dan sudah tidur," jawabku dengan cepat. "Kak Mirna, di rumah masih ada urusan. Jadi, aku pamit pulang dulu, ya."Mirna sebenarnya ingin menahanku untuk makan siang di rumahnya. Namun, aku merasa sangat bersalah dan bahkan tidak berani menatap matanya. Aku pun mencari-cari alasan asal-asalan, lalu segera pergi dengan langkah cepat.Begitu sampai di rumah,

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 5

    Hatiku dipenuhi rasa bersalah kepada suamiku. Aku hanya bisa menghibur diri sendiri dengan berpikir bahwa Pak Farid yang memaksaku dan aku tidak berdaya melawannya.Lagi pula, aku sedang bekerja untuknya. Jika aku melawan dan membuat Pak Farid marah, gaji 30 juta itu akan hilang.Demi uang, aku hanya bisa bersabar dan menahannya …."Sisy, kakimu ini sungguh cantik, mulus dan lurus, benar-benar seperti batu pualam …."Pak Farid tidak terburu-buru melancarkan serangan. Tangannya terus bergerak kurang ajar di pahaku.Aku tidak tahu apakah ucapannya itu murni pujian atau dia sengaja menggodaku.Aku bersandar di pelukannya, merasakan pipiku terasa panas membara. Di dalam tubuhku seakan ada api yang berkobar hebat."Jangan menahan diri, Sisy. Hubungan antara pria dan wanita itu hal yang wajar. Tenang saja, setelah semua ini selesai, aku akan memberimu kompensasi yang setimpal …."Kata-kata Pak Farid seakan menjadi penenang bagiku, membuat rasa bersalah terhadap suamiku di dalam hati ini tera

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 4

    Aku merasa seperti tersengat aliran listrik. Rasa kebas dan geli merambat ke seluruh tubuhku, membuatku tidak kuasa menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara."Mmm …."Begitu suara itu keluar, aku langsung tersadar ada yang tidak beres. Aku langsung menggigit bibir merahku sambil mencuri pandang ke arah Pak Farid untuk melihat reaksinya.Tak disangka, Pak Farid sedang menatapku sambil tersenyum simpul. Jelas sekali bahwa dia sudah mendengar suara tidak senonohku tadi."Sisy, kamu sensitif sekali ya? Baru disentuh sedikit saja sudah bereaksi," ucap Pak Farid sambil tertawa lepas tanpa rasa sungkan."Pak Farid, jangan bicara sembarangan … ah!"Sebelum aku bisa menyelesaikan kata-kataku, Pak Farid menambah kekuatannya. Dengan seenaknya, dia mempermainkan putingku yang menegang.Pak Farid menundukkan kepalanya sambil menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.Aku merasa sangat malu dan ingin memintanya berhenti bicara. Namun, di dalam hatiku ada sensasi gairah yang tidak terlukiskan.Aksi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status