LOGINAku menggigit bibir merahku erat-erat, sama sekali tidak berani membiarkan diriku mengeluarkan suara, karena takut akan membangunkan suamiku.Namun, perasaan senang yang luar biasa itu benar-benar terlalu kuat. Suatu sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya saat bersama suamiku.Terlebih lagi, Pak Farid seakan tidak takut jika suamiku terbangun. Dia justru menjadikan suamiku seperti tempat tidur goyang, menyiksaku dengan brutal di atas tubuh suamiku, sambil terus memaksaku untuk menatap suamiku.Di atas tubuh suamiku, aku bersama Pak Farid.Sungguh sangat memalukan, tetapi sekaligus begitu menggairahkan!Akhirnya, aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Gigitanku terlepas dan aku mengeluarkan lenguhan yang memabukkan.Pak Farid menjadi begitu bersemangat. "Ya, benar begitu. Nikmatilah sepuasnya. Suamimu pasti nggak akan terbangun."Aku tidak bisa lagi melawan atau mengontrol apa yang terjadi pada tubuhku. Aku hanya bisa pasrah mengikuti permainan Pak Farid yang begitu liar
Aku merasa terkejut di dalam hati. "Jangan!"Baru saja mau memberontak, Pak Farid sudah memperingatkan, "Kalau Aldi sampai bangun dan tahu apa yang terjadi antara kita, bisa gawat urusannya!"Tubuhku sedikit gemetar. Dalam sekejap, saat aku kehilangan fokus, Pak Farid berhasil melancarkan aksinya.Hanya terhalang gaun tidur yang tipis, Pak Farid bertindak semaunya, sehingga membuat sekujur tubuhku terasa panas dan geli.Tanpa bisa dikendalikan, air susuku kembali mengalir, membasahi pakaianku ….Setelah mendapat rangsangan seperti itu dari Pak Farid, tubuhku yang sensitif langsung terasa lemas lunglai dan kehilangan tenaga.Terlebih lagi setelah minum begitu banyak alkohol. Pengaruh alkohol itu melipatgandakan rasa hampa di tubuhku.Begitulah, antara menolak tetapi pasrah, aku membiarkan diriku menjadi sasaran tindakan semena-mena Pak Farid. Bahkan, tangan besarnya mulai meraba masuk ke balik rokku."Sisy, apa kamu biasanya jarang berhubungan intim dengan suamimu? Jangan-jangan dia ngg
Akan tetapi, suamiku sudah menyerah. Jika ditotal semua, bahkan tidak sampai dua menit.Suamiku terbaring lunglai di sampingku. Menghadapi tatapan matanya yang penuh penyesalan, aku tidak bicara banyak. Aku hanya menghiburnya seadanya, "Nggak apa-apa, mungkin kamu terlalu lelah belakangan ini."Sebenarnya kami berdua tahu, itu hanya kata-kata untuk menghiburnya saja.Aku pergi ke kamar mandi untuk mandi. Di bawah kucuran air panas, aku tidak tahan untuk tidak menggosok tubuhku dengan keras menggunakan handuk.Perasaan itu terasa begitu kuat.Meski di dalam hati aku begitu mendamba, aku hanya bisa menahannya.Aku takut ketahuan suamiku, karena itu akan membuatnya merasa rendah diri.Setelah selesai mandi, aku kembali ke ruang tamu dan melihat suamiku sudah berpakaian rapi. Dia sedang duduk di sofa sambil menelepon.Saat aku sedang bersiap untuk memakai masker wajah, dia menutup teleponnya dan berkata dengan antusias, "Sayang, sebentar lagi Pak Farid mau datang. Tolong rapikan rumah sedi
Ditatap mata Mirna membuat hatiku terasa sedikit gugup dan agak canggung, sehingga secara tidak sadar aku pun menutupi kerah bajuku."Sayang, tadi waktu Sisy datang, bajunya basah kuyup kena hujan. Aku takut dia bakal bikin Dodo basah waktu menyusui. Jadi, aku menyuruhnya mandi dan memberikan baju yang sudah dua tahun nggak kamu pakai untuknya. Kamu nggak keberatan, 'kan?" jelas Pak Farid dengan senyum lebar."Nggak apa-apa, pantas saja rasanya baju itu nggak asing."Barulah ekspresi Mirna terlihat lega. "Pantas saja. Aku tadi membatin, mana mungkin Sisy pakai baju dengan gaya seperti ini? Oh iya, gimana kabar Dodo?""Dia sudah kenyang dan sudah tidur," jawabku dengan cepat. "Kak Mirna, di rumah masih ada urusan. Jadi, aku pamit pulang dulu, ya."Mirna sebenarnya ingin menahanku untuk makan siang di rumahnya. Namun, aku merasa sangat bersalah dan bahkan tidak berani menatap matanya. Aku pun mencari-cari alasan asal-asalan, lalu segera pergi dengan langkah cepat.Begitu sampai di rumah,
Hatiku dipenuhi rasa bersalah kepada suamiku. Aku hanya bisa menghibur diri sendiri dengan berpikir bahwa Pak Farid yang memaksaku dan aku tidak berdaya melawannya.Lagi pula, aku sedang bekerja untuknya. Jika aku melawan dan membuat Pak Farid marah, gaji 30 juta itu akan hilang.Demi uang, aku hanya bisa bersabar dan menahannya …."Sisy, kakimu ini sungguh cantik, mulus dan lurus, benar-benar seperti batu pualam …."Pak Farid tidak terburu-buru melancarkan serangan. Tangannya terus bergerak kurang ajar di pahaku.Aku tidak tahu apakah ucapannya itu murni pujian atau dia sengaja menggodaku.Aku bersandar di pelukannya, merasakan pipiku terasa panas membara. Di dalam tubuhku seakan ada api yang berkobar hebat."Jangan menahan diri, Sisy. Hubungan antara pria dan wanita itu hal yang wajar. Tenang saja, setelah semua ini selesai, aku akan memberimu kompensasi yang setimpal …."Kata-kata Pak Farid seakan menjadi penenang bagiku, membuat rasa bersalah terhadap suamiku di dalam hati ini tera
Aku merasa seperti tersengat aliran listrik. Rasa kebas dan geli merambat ke seluruh tubuhku, membuatku tidak kuasa menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara."Mmm …."Begitu suara itu keluar, aku langsung tersadar ada yang tidak beres. Aku langsung menggigit bibir merahku sambil mencuri pandang ke arah Pak Farid untuk melihat reaksinya.Tak disangka, Pak Farid sedang menatapku sambil tersenyum simpul. Jelas sekali bahwa dia sudah mendengar suara tidak senonohku tadi."Sisy, kamu sensitif sekali ya? Baru disentuh sedikit saja sudah bereaksi," ucap Pak Farid sambil tertawa lepas tanpa rasa sungkan."Pak Farid, jangan bicara sembarangan … ah!"Sebelum aku bisa menyelesaikan kata-kataku, Pak Farid menambah kekuatannya. Dengan seenaknya, dia mempermainkan putingku yang menegang.Pak Farid menundukkan kepalanya sambil menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.Aku merasa sangat malu dan ingin memintanya berhenti bicara. Namun, di dalam hatiku ada sensasi gairah yang tidak terlukiskan.Aksi







