Share

Bab 3

Author: Ungu
Saat aku keluar dari kamar mandi dan menuju ruang tamu, mata Pak Farid langsung berbinar saat melihat apa yang aku kenakan.

Aku merasa begitu malu, sampai-sampai salah satu tanganku terus menutupi bagian dadaku.

Meski aku sudah hidup selama lebih dari 30 tahun, aku belum pernah mengenakan pakaian seseksi ini di depan pria lain.

Pak Farid menatapku dengan begitu tajam. Matanya seakan bisa menembus pakaianku dan melihat tubuhku yang putih berisi, sehingga membuatku merasa sangat tidak nyaman.

Sesampainya di tempat tidur bayi di dalam kamar, Dodo sudah terbangun. Dia terlihat seperti boneka porselen yang berwarna merah muda dan lembut. Dodo mengeluarkan suara "yiyaya" saat mengisap jarinya sendiri.

Aku duduk di tepi tempat tidur dan menarik kerah bajuku sedikit. Kerah V yang dalam ini memudahkanku untuk melakukan proses menyusui.

Rasa sakit karena payudara yang bengkak mulai mereda. Ekspresiku pun tampak linglung dengan rona merah yang masih tersisa di wajah, saat menahan sensasi nikmat sewaktu putingku diisap.

Akan tetapi, hari ini sepertinya si kecil tidak begitu lapar. Setelah menyusu sedikit, dia tidak mau melanjutkan. Alih-alih berhenti, kedua tangan kecilnya justru memegang putingku yang basah dan mulai meremas-remasnya seakan sedang bermain.

Sensasi saat bagian sensitifku dipermainkan membuatku makin tidak tahan. Ditambah dengan rasa sakit karena payudara yang bengkak, membuat sekujur tubuhku langsung gemetar.

Aku pun bisa merasakan dengan jelas adanya rembesan basah di antara kakiku.

Dengan tangan gemetar, aku mengulurkan tangan untuk melepaskan putingku dari genggaman anak itu di tengah suara tawa celotehnya.

Di sela gerakan itu, sepertinya dadaku sedikit tertekan, sehingga aliran cairan menyemprot keluar dan membasahi seprai bayi tersebut.

Aku merasa sangat malu dan gelisah, lalu bergegas menidurkan anak itu. Baru setelah itu aku tersadar bahwa separuh dadaku masih terpampang. Aku pun buru-buru memasukkannya kembali ke dalam baju.

Baju yang tadinya baik-baik saja kini sudah basah. Noda air susu yang membuat orang berpikir aneh-aneh itu membuat bagian dadaku tampak mesum sekaligus menggoda.

Aku merapatkan kedua kakiku, lalu memutuskan untuk pergi ke kamar mandi guna membereskan kondisiku yang kacau saat ini.

Namun, saat berbalik, aku malah melihat sosok tinggi besar itu tengah berdiri di ambang pintu. Apa dia melihat semuanya?

Rasa panik membuatku menarik pakaianku. Akan tetapi, gesekan kain yang sudah berantakan itu pada tubuhku, membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerang pelan.

Garis leher yang memang sudah rendah itu kini makin terbuka lebar, hingga nyaris memperlihatkan putingku.

Pak Farid memalingkan wajahnya sedikit, lalu menunjuk ke arah kamar mandi.

Aku pun mengangguk seperti baru menerima pengampunan, lalu berlari ke kamar mandi seolah sedang melarikan diri.

Begitu masuk ke dalam, aku langsung jatuh terduduk di lantai. Tubuhku gemetar saat mencapai puncak kenikmatan.

Pikiranku sepenuhnya dipenuhi oleh tatapan pria itu tadi. Tatapan yang begitu membara, penuh hasrat dan membuatku benar-benar tidak berdaya.

Tidak bisa, tidak boleh begini …. Aku harus segera menangani kondisiku sendiri.

Aku bersimpuh di samping kloset, mengeluarkan bagian tubuh yang menjadi penyebab kekacauan ini, lalu mulai memerasnya.

Cairan susu memancar keluar dengan deras, sementara tubuh bagian bawahku terasa makin basah karena perlakuan kasar yang kuberikan pada dadaku sendiri.

Sudah begitu lama aku tidak merasakan hal seperti ini, diperhatikan oleh tatapan penuh hasrat dari seorang pria. Bagian bawahku mulai terasa gatal dan hampa, sementara cairan gairah yang memancar keluar meninggalkan jejak di atas lantai.

Satu tanganku memeras payudara, sementara tanganku yang lain mulai membelai tubuhku sendiri.

Tanganku yang gemetar tidak memiliki cukup tenaga. Sensasi nikmat yang dihasilkan terasa tanggung, seakan hanya menyentuh permukaan tanpa memuaskan rasa haus yang sebenarnya. Bukannya memadamkan gairah, hal itu justru membuat tubuhku makin gelisah, begitu berharap untuk dipenuhi sepenuhnya oleh sesuatu.

Aku menggesekkan kedua tungkai kakiku, tidak mampu lagi menahan erangan yang keluar.

Pada saat itu, aku tidak menyadari bahwa pintu kamar mandi tertiup angin hingga terbuka. Pak Farid tengah berdiri di sana, tepat di ambang pintu.

Begitu aku menyadari ada yang tidak beres, tatapannya yang membara sudah terlebih dahulu menjilati seluruh tubuhku tanpa sisa.

Rasa malu yang luar biasa menyergapku. Aku bersimpuh di lantai dan perlahan-lahan meringkuk.

Pak Farid menatap jejak basah yang mengalir berkelok di lantai, lalu tertawa kecil.

"Sisy, apa payudaramu sedang bengkak?"

Pak Farid tidak memarahiku, melainkan bertanya dengan nada yang terdengar ramah.

Wajahku memerah dan aku pun mengangguk pelan.

Pak Farid melangkah maju beberapa langkah dan berdiri tepat di hadapanku. Tanpa sadar, aku ingin menghindar. Namun, tubuh yang sensitif ini sudah kehilangan seluruh kekuatannya. Pada akhirnya, aku hanya sempat meremas dadaku yang masih berada dalam genggaman tanganku sendiri.

Aliran cairan menyemprot keluar dan membasahi ujung celana Pak Farid.

"Pak Farid … maafkan aku. Ah, aku …."

"Jangan takut, biarkan aku membantumu."

Sepasang tangan yang besar menangkup tanganku yang gemetar, lalu melepaskan dadaku dari genggamanku sendiri.

Kemudian, tangan-tangan itu mengambil alih dan mulai meremas payudaraku dengan sesuka hati.

Cengkeraman tangan pria itu sangat kuat. Kedua gumpalan lembutku seakan menjadi adonan bisa diuleni sesuka hati. Tidak butuh waktu lama, bekas-bekas jari Pak Farid sudah memenuhi permukaannya, seakan sudah dipermainkan sepenuhnya.

Pak Farid tersenyum lalu mendekatiku. Dia menghapus air mata di sudut mataku.

"Anakku nggak menghabiskannya. Sebagai orang tua harus bertanggung jawab. Memberi makan siapa pun sama saja, 'kan? Sisy, pekerjaanmu belum selesai."

Setelah berkata seperti itu, Pak Farid menangkup kedua gumpalan lembut itu dan mendekatkan wajahnya.

Begitu merasakan kekuatan yang benar-benar berbeda dari anak kecil, aku memejamkan mata dan menyerah sepenuhnya.

Sementara itu, bagian pribadiku yang basah juga mulai digesek oleh ujung jari pria itu yang kasar.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 9

    Aku menggigit bibir merahku erat-erat, sama sekali tidak berani membiarkan diriku mengeluarkan suara, karena takut akan membangunkan suamiku.Namun, perasaan senang yang luar biasa itu benar-benar terlalu kuat. Suatu sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya saat bersama suamiku.Terlebih lagi, Pak Farid seakan tidak takut jika suamiku terbangun. Dia justru menjadikan suamiku seperti tempat tidur goyang, menyiksaku dengan brutal di atas tubuh suamiku, sambil terus memaksaku untuk menatap suamiku.Di atas tubuh suamiku, aku bersama Pak Farid.Sungguh sangat memalukan, tetapi sekaligus begitu menggairahkan!Akhirnya, aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Gigitanku terlepas dan aku mengeluarkan lenguhan yang memabukkan.Pak Farid menjadi begitu bersemangat. "Ya, benar begitu. Nikmatilah sepuasnya. Suamimu pasti nggak akan terbangun."Aku tidak bisa lagi melawan atau mengontrol apa yang terjadi pada tubuhku. Aku hanya bisa pasrah mengikuti permainan Pak Farid yang begitu liar

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 8

    Aku merasa terkejut di dalam hati. "Jangan!"Baru saja mau memberontak, Pak Farid sudah memperingatkan, "Kalau Aldi sampai bangun dan tahu apa yang terjadi antara kita, bisa gawat urusannya!"Tubuhku sedikit gemetar. Dalam sekejap, saat aku kehilangan fokus, Pak Farid berhasil melancarkan aksinya.Hanya terhalang gaun tidur yang tipis, Pak Farid bertindak semaunya, sehingga membuat sekujur tubuhku terasa panas dan geli.Tanpa bisa dikendalikan, air susuku kembali mengalir, membasahi pakaianku ….Setelah mendapat rangsangan seperti itu dari Pak Farid, tubuhku yang sensitif langsung terasa lemas lunglai dan kehilangan tenaga.Terlebih lagi setelah minum begitu banyak alkohol. Pengaruh alkohol itu melipatgandakan rasa hampa di tubuhku.Begitulah, antara menolak tetapi pasrah, aku membiarkan diriku menjadi sasaran tindakan semena-mena Pak Farid. Bahkan, tangan besarnya mulai meraba masuk ke balik rokku."Sisy, apa kamu biasanya jarang berhubungan intim dengan suamimu? Jangan-jangan dia ngg

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 7

    Akan tetapi, suamiku sudah menyerah. Jika ditotal semua, bahkan tidak sampai dua menit.Suamiku terbaring lunglai di sampingku. Menghadapi tatapan matanya yang penuh penyesalan, aku tidak bicara banyak. Aku hanya menghiburnya seadanya, "Nggak apa-apa, mungkin kamu terlalu lelah belakangan ini."Sebenarnya kami berdua tahu, itu hanya kata-kata untuk menghiburnya saja.Aku pergi ke kamar mandi untuk mandi. Di bawah kucuran air panas, aku tidak tahan untuk tidak menggosok tubuhku dengan keras menggunakan handuk.Perasaan itu terasa begitu kuat.Meski di dalam hati aku begitu mendamba, aku hanya bisa menahannya.Aku takut ketahuan suamiku, karena itu akan membuatnya merasa rendah diri.Setelah selesai mandi, aku kembali ke ruang tamu dan melihat suamiku sudah berpakaian rapi. Dia sedang duduk di sofa sambil menelepon.Saat aku sedang bersiap untuk memakai masker wajah, dia menutup teleponnya dan berkata dengan antusias, "Sayang, sebentar lagi Pak Farid mau datang. Tolong rapikan rumah sedi

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 6

    Ditatap mata Mirna membuat hatiku terasa sedikit gugup dan agak canggung, sehingga secara tidak sadar aku pun menutupi kerah bajuku."Sayang, tadi waktu Sisy datang, bajunya basah kuyup kena hujan. Aku takut dia bakal bikin Dodo basah waktu menyusui. Jadi, aku menyuruhnya mandi dan memberikan baju yang sudah dua tahun nggak kamu pakai untuknya. Kamu nggak keberatan, 'kan?" jelas Pak Farid dengan senyum lebar."Nggak apa-apa, pantas saja rasanya baju itu nggak asing."Barulah ekspresi Mirna terlihat lega. "Pantas saja. Aku tadi membatin, mana mungkin Sisy pakai baju dengan gaya seperti ini? Oh iya, gimana kabar Dodo?""Dia sudah kenyang dan sudah tidur," jawabku dengan cepat. "Kak Mirna, di rumah masih ada urusan. Jadi, aku pamit pulang dulu, ya."Mirna sebenarnya ingin menahanku untuk makan siang di rumahnya. Namun, aku merasa sangat bersalah dan bahkan tidak berani menatap matanya. Aku pun mencari-cari alasan asal-asalan, lalu segera pergi dengan langkah cepat.Begitu sampai di rumah,

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 5

    Hatiku dipenuhi rasa bersalah kepada suamiku. Aku hanya bisa menghibur diri sendiri dengan berpikir bahwa Pak Farid yang memaksaku dan aku tidak berdaya melawannya.Lagi pula, aku sedang bekerja untuknya. Jika aku melawan dan membuat Pak Farid marah, gaji 30 juta itu akan hilang.Demi uang, aku hanya bisa bersabar dan menahannya …."Sisy, kakimu ini sungguh cantik, mulus dan lurus, benar-benar seperti batu pualam …."Pak Farid tidak terburu-buru melancarkan serangan. Tangannya terus bergerak kurang ajar di pahaku.Aku tidak tahu apakah ucapannya itu murni pujian atau dia sengaja menggodaku.Aku bersandar di pelukannya, merasakan pipiku terasa panas membara. Di dalam tubuhku seakan ada api yang berkobar hebat."Jangan menahan diri, Sisy. Hubungan antara pria dan wanita itu hal yang wajar. Tenang saja, setelah semua ini selesai, aku akan memberimu kompensasi yang setimpal …."Kata-kata Pak Farid seakan menjadi penenang bagiku, membuat rasa bersalah terhadap suamiku di dalam hati ini tera

  • Tugas Tambahan untuk Ibu Susu   Bab 4

    Aku merasa seperti tersengat aliran listrik. Rasa kebas dan geli merambat ke seluruh tubuhku, membuatku tidak kuasa menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara."Mmm …."Begitu suara itu keluar, aku langsung tersadar ada yang tidak beres. Aku langsung menggigit bibir merahku sambil mencuri pandang ke arah Pak Farid untuk melihat reaksinya.Tak disangka, Pak Farid sedang menatapku sambil tersenyum simpul. Jelas sekali bahwa dia sudah mendengar suara tidak senonohku tadi."Sisy, kamu sensitif sekali ya? Baru disentuh sedikit saja sudah bereaksi," ucap Pak Farid sambil tertawa lepas tanpa rasa sungkan."Pak Farid, jangan bicara sembarangan … ah!"Sebelum aku bisa menyelesaikan kata-kataku, Pak Farid menambah kekuatannya. Dengan seenaknya, dia mempermainkan putingku yang menegang.Pak Farid menundukkan kepalanya sambil menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.Aku merasa sangat malu dan ingin memintanya berhenti bicara. Namun, di dalam hatiku ada sensasi gairah yang tidak terlukiskan.Aksi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status