LOGINAku datang ke rumah bos untuk menjadi ibu susu. Namun, payudaraku yang merembeskan ASI malah membuat kemejaku berantakan. Aku buru-buru mencoba membereskannya, tetapi keadaannya justru makin buruk. Seluruh tubuhku kini penuh dengan noda ASI dan bos sama sekali tidak bisa memalingkan pandangannya dariku. Di bawah tatapan panasnya yang membara itu, aku merasa malu karena tubuhku justru mulai memberikan reaksi. Saat aku berada di dalam kamar mandi dengan tubuh yang lemas tak berdaya, mencoba mengatasi gejolak hasratku, aku justru merasa gairahku makin menjadi kuat. Tiba-tiba, bos muncul di hadapanku dan menangkup lembut payudaraku. "Anakku nggak bisa menghabiskan semuanya, jadi orang tuanya yang akan bertanggung jawab." Setelah berkata seperti itu, dia pun mengulum putingku.
View MoreAku menggigit bibir merahku erat-erat, sama sekali tidak berani membiarkan diriku mengeluarkan suara, karena takut akan membangunkan suamiku.Namun, perasaan senang yang luar biasa itu benar-benar terlalu kuat. Suatu sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya saat bersama suamiku.Terlebih lagi, Pak Farid seakan tidak takut jika suamiku terbangun. Dia justru menjadikan suamiku seperti tempat tidur goyang, menyiksaku dengan brutal di atas tubuh suamiku, sambil terus memaksaku untuk menatap suamiku.Di atas tubuh suamiku, aku bersama Pak Farid.Sungguh sangat memalukan, tetapi sekaligus begitu menggairahkan!Akhirnya, aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Gigitanku terlepas dan aku mengeluarkan lenguhan yang memabukkan.Pak Farid menjadi begitu bersemangat. "Ya, benar begitu. Nikmatilah sepuasnya. Suamimu pasti nggak akan terbangun."Aku tidak bisa lagi melawan atau mengontrol apa yang terjadi pada tubuhku. Aku hanya bisa pasrah mengikuti permainan Pak Farid yang begitu liar
Aku merasa terkejut di dalam hati. "Jangan!"Baru saja mau memberontak, Pak Farid sudah memperingatkan, "Kalau Aldi sampai bangun dan tahu apa yang terjadi antara kita, bisa gawat urusannya!"Tubuhku sedikit gemetar. Dalam sekejap, saat aku kehilangan fokus, Pak Farid berhasil melancarkan aksinya.Hanya terhalang gaun tidur yang tipis, Pak Farid bertindak semaunya, sehingga membuat sekujur tubuhku terasa panas dan geli.Tanpa bisa dikendalikan, air susuku kembali mengalir, membasahi pakaianku ….Setelah mendapat rangsangan seperti itu dari Pak Farid, tubuhku yang sensitif langsung terasa lemas lunglai dan kehilangan tenaga.Terlebih lagi setelah minum begitu banyak alkohol. Pengaruh alkohol itu melipatgandakan rasa hampa di tubuhku.Begitulah, antara menolak tetapi pasrah, aku membiarkan diriku menjadi sasaran tindakan semena-mena Pak Farid. Bahkan, tangan besarnya mulai meraba masuk ke balik rokku."Sisy, apa kamu biasanya jarang berhubungan intim dengan suamimu? Jangan-jangan dia ngg
Akan tetapi, suamiku sudah menyerah. Jika ditotal semua, bahkan tidak sampai dua menit.Suamiku terbaring lunglai di sampingku. Menghadapi tatapan matanya yang penuh penyesalan, aku tidak bicara banyak. Aku hanya menghiburnya seadanya, "Nggak apa-apa, mungkin kamu terlalu lelah belakangan ini."Sebenarnya kami berdua tahu, itu hanya kata-kata untuk menghiburnya saja.Aku pergi ke kamar mandi untuk mandi. Di bawah kucuran air panas, aku tidak tahan untuk tidak menggosok tubuhku dengan keras menggunakan handuk.Perasaan itu terasa begitu kuat.Meski di dalam hati aku begitu mendamba, aku hanya bisa menahannya.Aku takut ketahuan suamiku, karena itu akan membuatnya merasa rendah diri.Setelah selesai mandi, aku kembali ke ruang tamu dan melihat suamiku sudah berpakaian rapi. Dia sedang duduk di sofa sambil menelepon.Saat aku sedang bersiap untuk memakai masker wajah, dia menutup teleponnya dan berkata dengan antusias, "Sayang, sebentar lagi Pak Farid mau datang. Tolong rapikan rumah sedi
Ditatap mata Mirna membuat hatiku terasa sedikit gugup dan agak canggung, sehingga secara tidak sadar aku pun menutupi kerah bajuku."Sayang, tadi waktu Sisy datang, bajunya basah kuyup kena hujan. Aku takut dia bakal bikin Dodo basah waktu menyusui. Jadi, aku menyuruhnya mandi dan memberikan baju yang sudah dua tahun nggak kamu pakai untuknya. Kamu nggak keberatan, 'kan?" jelas Pak Farid dengan senyum lebar."Nggak apa-apa, pantas saja rasanya baju itu nggak asing."Barulah ekspresi Mirna terlihat lega. "Pantas saja. Aku tadi membatin, mana mungkin Sisy pakai baju dengan gaya seperti ini? Oh iya, gimana kabar Dodo?""Dia sudah kenyang dan sudah tidur," jawabku dengan cepat. "Kak Mirna, di rumah masih ada urusan. Jadi, aku pamit pulang dulu, ya."Mirna sebenarnya ingin menahanku untuk makan siang di rumahnya. Namun, aku merasa sangat bersalah dan bahkan tidak berani menatap matanya. Aku pun mencari-cari alasan asal-asalan, lalu segera pergi dengan langkah cepat.Begitu sampai di rumah,
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.