Home / Urban / Tukang Pijat Tampan / Bertahan Itu Bukan Hal Mudah

Share

Bertahan Itu Bukan Hal Mudah

Author: Black Jack
last update Last Updated: 2025-08-19 21:39:48

Adit menatap Larasati yang kini hanya mengenakan pakaian dalamnya, berbaring tengkurap pasrah di kasurnya. Cahaya lampu tidur yang temaram melukiskan kontur punggungnya yang halus dan lekuk tubuhnya yang indah. Aroma parfumnya yang lembut kini menguar, bercampur dengan kehangatan napasnya. Adit menarik napas dalam-dalam, merasakan semua indranya memuncak. Namun, hatinya bergejolak. Ia tahu apa yang Laras inginkan, dan ia tahu, ia tidak ingin hal itu terjadi. Ia tidak ingin merusak hubungan mereka. Ia ingin menjaga Laras, dan ia merasa jika ia tidak pantas untuk itu; terlalu kotor untuk Laras yang suci.

Adit mengambil tempat duduk di samping Larasati. Ia menarik napas dalam, dan dengan jari-jari yang gemetar, ia menyentuh punggung Laras. Ia tahu, satu-satunya cara agar ia tidak sampai melakukan sesuatu yang sangat jauh, adalah membuat Larasati puas dan lelah mendapatkan kenikmatan hanya dengan pijatan tangannya.

Adit berkonsentrasi. Dengan pikirannya, ia mengalirkan kekuatan gaib dari
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Pijat Tampan   Akan Bertarung Lagi

    Adit kembali ke dapur setelah berpakaian lengkap, berniat untuk pamit pulang. Namun Dea menghentikannya. Ia sudah memesan sarapan melalui aplikasi, dan sebentar lagi akan datang. Adit tidak bisa menolak. Ia pun duduk di meja makan dapur apartemen itu.Perasaan canggung, khawatir, dan juga gugup bercampur aduk di dalam dirinya. Ia menatap Dea, yang kini juga sudah berpakaian lengkap. Ia terlihat cantik dan anggun, seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka semalam. Adit merasa hatinya berdebar kencang. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap."Kamu mau minum kopi atau teh?" tanya Dea, memecah keheningan."Kopi saja, Kak," jawab Adit, suaranya pelan.Dea mengangguk, lalu membuat dua cangkir kopi. Ia meletakkan satu di depan Adit, lalu duduk di hadapannya. "Kamu kelihatan tegang, Dit. Santai saja.""Eh, iya kak…” Adit merasa salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kak Dea tidak lekas ke kantor?”Dea tersenyum. "Sudah kubilang, perusahaan itu milikku. Aku bisa datang k

  • Tukang Pijat Tampan   Terlambat Bangun

    Adit dan Dea terlelap dengan sangat lelap di atas kasur queen size yang seprai putihnya kini sedikit kusut dan berantakan. Tidak ada alarm yang menyala, tidak ada gangguan dari dunia luar.AC kamar berdengung pelan dengan suhu 22 derajat, menciptakan udara sejuk yang membuat tidur mereka semakin nyenyak. Mereka tidur pulas, tubuh saling bersinggungan dengan alami, seolah waktu berhenti hanya untuk mereka berdua dalam kepompong keintiman yang hangat.Pukul 9 pagi, sinar matahari yang sudah mulai terik berhasil menyusup melalui celah-celah gorden berwarna krem, menciptakan garis-garis cahaya emas yang menari-nari di lantai kamar. Adit terbangun lebih dulu, kelopak matanya berkedip perlahan melawan silau, kemudian mengerjapkan mata beberapa kali untuk membiasakan diri dengan cahaya. Ia menyadari kehangatan yang melingkupinya; bukan hanya dari selimut tipis yang menutupi sebagian tubuh mereka, tetapi juga dari tubuh Dea yang masih tidur dengan damai.Dea masih memeluknya erat, lengan kiri

  • Tukang Pijat Tampan   Tawaran Yanh Sulit Ditolak

    Dea merasa gugup. Di sampingnya, Adit berbaring telentang, kaku dan diam. Ia tidak mengantuk sama sekali. Pikiran dan hatinya terus bergejolak. Ia menginginkan sesuatu, dan ia tahu, Adit adalah satu-satunya orang yang bisa memberikannya. Tapi, sepertinya Adit memang bukan lelaki nakal. Terbukti, setelah lima belas menit berlalu, pemuda itu hanya anteng di tempatnya. Jika ia tidak memulai, maka tidak akan terjadi apa-apa.Dea tahu, Adit pasti belum tidur. Atau belum benar-benar tertidur. Dan ia sadar, jika bukan sekarang, mungkin ia tak akan punya kesempatan sempurna seperti ini.Maka, Dea mulai menggeser tubuhnya merapat ke Adit. Gerakan pelan itu membuat kain selimut bergeser. Adit pun merasakan pergerakan itu. Jantungnya berdetak kencang dan ia hanya membeku berbaring rapi seperti lipatan baju di dalam lemari. Ia menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.Kulit mereka bersentuhan. Kehangatan yang menjalar dari tubuh Adit membuat Dea merasa nyaman. Namun ada sensasi l

  • Tukang Pijat Tampan   Dalam Kegelapan

    "E… oke Kak…" kata Adit pasrah. Suaranya terdengar lelah, namun ada getaran halus yang mengkhianati ketenangan yang ia coba pertahankan."Tapi sebelum itu… aku mau mandi bentar aja. Lalu ganti baju. Eem…Dit, temenin ambil baju tidurku ya…" kata Dea. Ada sesuatu dalam nada bicaranya; lebih lembut dari biasanya."Iya…" jawab Adit singkat, tenggorokannya terasa kering meski tadi dia sudah minum.Dengan mengandalkan senter HP yang cahayanya menari-nari menciptakan bayangan aneh di dinding, Adit menemani Dea masuk ke kamarnya. Setiap langkah kaki mereka di lantai menciptakan derap halus yang terdengar nyaring di tengah keheningan malam. Udara terasa lebih pekat di dalam kamar, bercampur aroma parfum samar dan kehangatan yang tersisa dari aktivitas seharian.Dea mengambil handuk dan baju ganti untuk tidur. Tangannya sedikit gemetar; entah karena dingin atau alasan lain. Baju tidur yang ia ambil bukanlah baju tidur normal. Melainkan gaun tidur cukup tipis meski bukan yang transparan. Bahan y

  • Tukang Pijat Tampan   Terjebak Dalam Apartemen

    Hanya karena hujan turun sangat deras, Adit tak punya pilihan lain selain menunggu. Lagipula, sangat sulit mencari ojek di kala hujan badai seperti itu. Jangan kan hujan, andai hari cerah pun, di jam seperti itu, tidak mudah menemukan ojek. Maka kini Adit masuk ke dalam unit apartemen mewah itu.Suara gemuruh hujan yang menggila di luar jendela menjadi latar belakang canggung bagi Adit yang kini terdampar di tengah kemewahan yang asing baginya. Apartemen Dea terasa seperti galeri seni pribadi yang hidup; setiap sudut ruang tamu tertata dengan presisi yang hampir obsesif. Lukisan-lukisan kontemporer dengan goresan warna berani menghiasi dinding-dinding putih bersih, sementara patung-patung kecil berdiri anggun di rak-rak kaca yang dipasang rapi mengelilingi ruangan. Furniture mewah berwarna netral menciptakan harmoni visual yang menunjukkan betapa Dea memiliki mata untuk estetika dan kantong yang cukup dalam untuk mewujudkannya.Adit duduk dengan postur yang sedikit tegang, tangannya s

  • Tukang Pijat Tampan   Mengantar Dea Pulang

    Adit segera turun dengan langkah terburu-buru. Iwan dan Rendi heran melihatnya.“Ada apaan sih?” tanya Rendi.“Nggak tahu. Dari tadi dia lihatin cewek yang itu. Tadi cewek itu juga ada di ruangannya. Lama loh…”“Oh ya? Siapa ya kira-kira?”“Pacarnya kali… lihat aja deh. Nanti kita juga tahu…” kata Iwan.Sampai di bawah, Adit sudah melihat Dea diapit empat lelaki. Dia terlihat tidak nyaman dan ingin pergi. Namun mungkin karena kepalanya berat, dia tak bisa berbuat banyak saat tangannya ditahan oleh empat lelaki itu. Apa yang ia katakan pun juga tak terdengar; tenggelam oleh suara musik yang keras. Apalagi dia tidak bisa bersuara keras. Kepalanya terasa berat.Adit pun datang ke meja itu, “Mas-mas ini mau ngapain?”“Eh, kamu siapa memangnya?” celetuk satu dari mereka, menatap Adit dengan tatapan tidak suka. Karena Adit tak mengenakan name tag, dan seragamnya berbeda dari yang lainnya, orang-orang itu tidak tahu jika Adit adalah kepala keamanan tempat itu.“Adit… aku mau pergi… ini orang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status