LOGINKesepakatan yang dicapai Lona dengan saudara kembarnya membawa ia ke kediaman keluarga Ananta. Berbekal buku catatan sang ibu, Lona berusaha untuk menguak rahasia yang disembunyikan keluarga itu. Namun, diluar dugaannya, lambat laun hal itu malah membuat Lona kewalahan, belum lagi ketika dia harus menghadapi lelaki bermata elang yang selalu membuat suasana hatinya naik turun.
View More'Kalau kamu mau menghindarinya, lakukan tips yang aku berikan. Kalau kamu ingin menghadapinya, aku percaya kamu bisa menghadapinya, Lona.'Lona menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar. Wanita muda itu kemudian termenung menatap layar ponsel pintar yang diletakkannya begitu saja di atas kasur. Ponsel itu dalam keadaan hidup dan sedang tersambung pada panggilan jarak jauh serta berada pada mode speaker.Baru beberapa hari tinggal di atap rumah megah keluarga Ananta, Lona sudah seperti ini. Rasa takut menghadapi masa depan yang akan ia lalui sebagai Sabrina Ananta membuat kepalanya dilanda pusing bukan main. Lona yakin betul, jika Sabrina berada di posisi yang seharusnya, hal ini akan menjadi kewajiban yang tidak perlu ditakutkan, tetapi sayangnya Lona tidak bisa merasa demikian. Alih-alih bersikap santai, masa depan Sabrina malah menimbulkan kekhawatiran bagi dirinya."Sudahlah. Apa sesuatu yang ingin kamu katakan?"Selepas makan malam tadi, Lona memutuskan untuk kembali ke ka
'Tiga bulan lagi kamu akan 'terjun' menjadi bagian dari Ananta Grup. Sebelum hari itu tiba, Oma akan mengatur perkenalan antara dirimu dan orang-orang penting dalam bisnis kita.'Kepala Lona dilanda pusing ketika ia kembali mengingat ucapan Lusiana selepas makan siang tadi.'Bulan depan, Ajeng akan mengadakan pameran seni di galeri seni keluarga kita. Akan ada banyak orang-orang penting yang menjadi tamu VIP, ini kesempatan untuk memperkenalkan kamu kepada mereka, Sabrina.'Bahkan masih terbayang jelas wajah Lusiana yang menatapnya serius ketika mengutarakan rencana yang dibuat untuk dirinya. 'Tapi sebelumnya Oma berencana untuk mengundang dewan komisaris, para direksi serta beberapa pemegang saham untuk makan malam bersama.'Hembusan napas sudah berkali-kali terdengar di dalam ruangan perpustakaan keluarga Ananta. Terdapat satu eksistensi seorang wanita yang tampak dalam kondisi kacau dengan buku-buku terbuka dan berserakan di atas meja.Kurang lebih sudah lima jam Lona berdiam diri
"Ya, mau bagaimana lagi. Dia memaksaku." Suara gelak tawa Sabrina seketika itu juga terdengar di telinga Lona. Kedua bersaudara itu tengah mengobrol jarak jauh melalui ponsel pintar mereka.'Kamu tahu, Lona? Aku paling tidak suka pergi keluar bersama Tante Widya, karena jadinya, yah, seperti kamu.' Lona cemberut, masih mendengar suara tawa mengejek dari seberang."Yang benar saja, apa dia memang selalu begitu?"Masih dengan perasaan setengah dongkol, Lona mengingat kembali kegiatannya hari ini. Tentu saja bersama Widya. Seharian. Awalnya Lona menemani wanita itu menjajahi butik-butik brand besar, kemudian wanita itu membawa Lona untuk diperkenalkan dengan teman-teman sosialitanya. Pokoknya seharian ini dia sibuk membuntuti Widya selayaknya asisten pribadi wanita itu.'Jadi kamu dimarahi Oma, ya?'"Iya, sudah pasti. Kalau aku bersama Ibu, dia juga akan memarahiku. Seharian pergi dari pagi, baru pulang sudah malam begini." Netra Lona melihat ke arah jam dinding yang menunjuk pada angka
"Syukurlah kamu belum tidur. Keponakanku, Tante bawa teh chamomile kesukaanmu." Widya Ananta membawa masuk nampan berisi teko transparan dan segelas cangkir. Dia bahkan tak segan-segan menuangkannya untuk Lona."Teh chamomile memang banyak banget manfaatnya. Kamu ini memang pintar, deh!Pandai jaga kesehatan dan merawat diri seperti Tante. Nih, ayo sambil duduk!" Widya memberikan cangkir berisi teh tersebut sembari menuntun Lona yang setengah kebingungan menuju kursi."Sabrina, Tante mau sekalian ngobrol sedikit sama kamu."Dahi Lona berkerut samar. "Ngobrol apa, Tante?" Lona meletakkan cangkir itu di atas meja."Sudah lama sekali tidak lihat kamu, abisnya kamu selalu sibuk dengan urusan kuliah kamu, sih, sampai-sampai libur pun jarang sekali pulang Tante tuh kangen." Lona memaksa senyum mengembang di wajahnya. Dalam hati meringis kecil mengetahui kenyataan bahwa memang sebelumnya tidak pernah sekalipun ia menapakkan kakinya di rumah ini."Tante maklumi, deh, soalnya kamu pintar dan be






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.