LOGINTeriakan pendek itu ternyata memicu reaksi berantai yang tak terelakkan. Tak butuh waktu lama, lampu di lantai dua bangunan utama mendadak menyala terang, membelah kegelapan malam. Dari dalam rumah, suara langkah kaki yang tergesa-gesa menggema, disusul suara pintu samping yang dihempaskan terbuka dengan kasar.Empat orang muncul sekaligus dari balik pintu. Dua di antaranya langsung mengangkat senjata dengan sigap, menodongkan moncong hitamnya ke arah kegelapan yang tak pasti, seolah mencoba mengancam bayangan yang bersembunyi di sana."Siapa di sana!" teriak salah satu dari mereka, suaranya parau tertahan ketegangan.Namun, kegelapan tidak memberi jawaban. Alih-alih suara, yang datang justru sebuah serangan dari arah yang sama sekali tak terduga; bukan dari depan, bukan pula dari samping, melainkan dari atas kepala mereka.Adit melompat turun dari loteng teras bangunan dengan gerakan yang hampir tak bersuara. Meski ketinggiannya tidak seberapa, gravitasi memberikan momentum yang cuku
Halaman itu ternyata jauh lebih luas daripada yang terlihat di foto udara. Adit berjalan merapat ke sisi tembok. Ia memanfaatkan bayangan pohon yang jatuh miring di bawah cahaya bulan sebagai pelindung. Matanya menyapu area depan dengan waspada. Di sayap kanan bangunan, ia menangkap satu titik cahaya yang bergerak.Seseorang sedang berpatroli. Orang itu membawa senter kecil yang nyalanya justru lebih mengkhianati posisinya daripada menerangi jalan.Adit berhenti. Ia menunggu dalam diam.Penjaga itu berjalan santai dengan langkah yang tidak waspada. Itu adalah langkah seseorang yang sudah terlalu bosan melakukan rutinitas yang sama setiap malam. Cahaya senternya menyapu dinding, lalu menyapu tanah, dan sesekali berhenti di udara kosong.Ketika penjaga itu memutar badan untuk berbalik arah, Adit sudah berada tepat di belakangnya.Dengan satu gerakan, tangan kiri Adit membekap mulut pria itu dengan kuat, sementara tangan kanannya bekerja di titik saraf yang tepat pada sisi leher. Dalam d
Adit berhenti tepat di bawah sebatang pohon besar yang tumbuh di pinggir jalan. Akar pohon yang perkasa itu menyembul keluar hingga mengangkat permukaan trotoar di sekelilingnya. Cabang-cabang pohon tersebut menjulur panjang ke arah tembok rumah Seno. Meskipun tidak sampai melewati garis tembok, posisi dahan-dahannya sudah cukup dekat untuk dijadikan pijakan.Sebelum memulai aksi, Adit menoleh sejenak ke arah tiga rekannya yang bersiaga di belakang. Tidak ada instruksi verbal yang keluar dari mulutnya. Ia hanya memberikan sebuah anggukan kecil yang langsung dipahami sepenuhnya oleh Arman, Bima, dan Steven sebagai tanda dimulainya penyerbuan.Dengan satu gerakan eksplosif, Adit melompat ke arah pohon tersebut. Tangannya meraih cabang pertama dengan akurasi yang luar biasa, seolah ia sudah mengukur setiap inci jaraknya. Tubuhnya terangkat dengan ringan, kakinya berputar lincah, dan dalam satu gerakan mengalir yang menyerupai air, ia sudah berpindah ke cabang yang lebih tinggi. Tidak ada
Lembaran denah yang sempat terbentang di atas meja itu kini telah terlipat rapi, namun setiap garis dan sudutnya sudah melekat kuat dalam ingatan mereka. Bagi para pria ini, menghafal peta bukan sekadar tugas, melainkan cara untuk tetap bertahan hidup di lapangan.Adit kemudian membentangkan sebuah foto udara yang memperlihatkan kediaman megah milik Seno. Dengan gerakan tenang, ia meletakkan foto itu di tengah meja, lalu menunjuk satu titik spesifik menggunakan ujung jarinya."Perhatikan tembok keliling ini," suara Adit terdengar rendah namun tajam. "Tingginya sekitar tiga meter, kokoh, dan mereka memasang pecahan beling tajam di sepanjang bagian atasnya untuk menghalau penyusup."Jarinya kemudian bergeser perlahan menuju sudut kiri gambar, menandai sebuah struktur kecil yang tampak mencurigakan. "Ada pos jaga tepat di dekat gerbang utama. Berdasarkan tata letaknya, besar kemungkinan ada penjaga tambahan yang bersiaga di sisi bagian dalam gerbang."Di hadapannya, Arman, Bima, dan Stev
Dua hari berlalu dengan ketenangan yang terasa janggal; sebuah jeda yang menipu, seolah badai besar sedang menahan napas sebelum menerjang kembali. Di sebuah titik pertemuan yang terisolasi, drama kemanusiaan tersaji dalam sunyi.Satu demi satu, keluarga para tawanan itu datang.Mereka datang dengan langkah berat, menggenggam amplop tebal atau tas kecil yang dipeluk erat di dada seolah benda itu adalah jantung mereka sendiri. Di dalamnya, tumpukan uang tebusan menjadi tiket tunggal untuk menukar nyawa. Prosedurnya singkat dan dingin: uang berpindah tangan, dan sebagai gantinya, mereka menerima kembali anggota keluarga yang kini tampak asing. Fisik yang layu dan tatapan mata yang kosong menjadi bukti bahwa meski tubuh mereka selamat, jiwa mereka telah tertinggal di ruang-ruang gelap penyekapan."Lima juta per kepala," gumam salah satu penjaga.Angka itu tampak sederhana, namun jika dikalikan dengan seratus lima puluh nyawa, jumlahnya menjadi sangat masif. Tumpukan uang itu segera menga
Renata baru saja mendapatkan puncak kenikmatan yang menyenangkan, yang membuatnya memejamkan mata lama dengan tubuh berkedut-kedut. Adit mengusap bibir dan wajahnya setelah tadi bersarang di lembah panas itu dan ia mendapatkan hadiah percikan surgawi di wajahnya.Kini Renata mulai bergerak dengan dorongan insting yang jauh lebih liar. Meskipun tubuhnya masih terasa ringan dan sisa-sisa getaran energi dari pijatan Adit tadi masih menggelitik saraf-sarafnya, ia memaksakan diri untuk bangkit.Dengan tatapan yang lapar dan penuh damba, ia menekan bahu Adit, memberi isyarat tanpa kata agar pria itu berbaring telentang di atas hamparan seprai yang sudah berantakan. Adit menurut, membiarkan dirinya menjadi pusat perhatian sang ratu malam itu.Dengan gerakan yang sedikit terburu-buru namun penuh gairah, Renata melucuti pakaian Adit satu per satu, membuangnya ke sembarang arah hingga pria itu kini sepenuhnya polos di hadapannya.Mata Renata membelalak kecil, berkilau di bawah temaram lampu kam
Adit yang sudah kehilangan semua pertahanannya, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama.Tangannya bergerak memeluk pinggang Melinda, menarik tubuh wanita itu semakin dekat sampai mereka bersentuhan sepenuhnya; dada ke dada, pinggul ke pinggul.Melinda mengerang pelan di dalam ciuman, tanga
Keesokan paginya, Adit terbangun dengan perasaan yang aneh; campuran antara bahagia dan gelisah. Pengalaman semalam masih terasa sangat nyata di ingatannya. Sensasi melayang, alam yang indah bersama Larasati. Adit seolah menemukan solusi bagaimana mereka pacaran dan melepas rindu tanpa ketahuan ora
Renata tersenyum melihat Adit sedang berpikir, lalu melanjutkan."Dulu aku tidak bisa terang-terangan memberikan hadiah-hadiah menarik untukmu. Aku takut ketahuan suamiku. Tapi kini aku bebas. Aku bisa memberimu posisi bagus sebagai wakilku. Tidak usah bekerja keras. Hanya tinggal menyuruh dan meng
"Tapi..." Adit bersuara pelan. "Ini tantangan juga sih. Dan kayaknya aku butuh pelatih khusus deh buat latihan akting harian. Soalnya tokoh di film ini beda banget sama film pertama."Vera tersenyum tipis. "Itu gampang. Nanti kita carikan acting coach yang bagus. Mungkin bisa latihan sama coach-nya







