MasukPintu ganda Ruang Operasi Utama terbuka dengan desis hidrolik yang menciptakan kesan dingin. Suasana di dalam ruangan langsung menyergap indra: aroma tajam cairan antiseptik, kilatan perak dari deretan instrumen bedah yang tertata kaku, dan yang paling dominan; bunyi pip... pip... pip... dari monitor hemodinamik yang beritme cepat dan dangkal, menandakan sebuah kehidupan yang sedang berada di ujung tanduk.Adit melangkah masuk dengan gaun medis hijau tua yang sedikit longgar di tubuhnya. Masker tebal dan face shield yang ia kenakan terasa asing, namun di balik pelindung itu, sepasang matanya menatap tajam ke arah meja operasi. Di sana, seorang bocah berusia sembilan tahun terbaring, dikelilingi oleh empat orang kru medis yang tampak tegang: dua perawat instrumen, satu perawat anestesi, dan seorang dokter asisten muda bernama dr. Rian."Selamat pagi, Dok," sapa dr. Rian dengan nada sangat segan saat melihat Adit masuk bersama dr. Adrian. Di matanya, pria yang mendampingi seniornya ini
Suara klakson sepeda motor di depan pagar membuyarkan lamunan Adit. Tanpa sempat menghabiskan kopinya, ia langsung menyambar jaket dan bergegas keluar. Sepanjang perjalanan di atas motor ojek daring yang melaju zig-zag membelah kemacetan kota, pikiran Adit berkecamuk.Ia tahu, melangkah kembali ke rumah sakit itu artinya ia sedang menyerempet bahaya besar; baik bagi reputasinya yang ingin hidup tenang, maupun bagi hukum medis. Namun, bayangan nyawa yang berada di ujung tanduk tidak membiarkannya diam di rumah.Begitu motor berhenti di lobi depan rumah sakit, Adit langsung turun setelah membayar ongkos.Di dekat pilar besar lobi yang ramai oleh hilir mudik pengunjung, Dr. Adrian sudah menunggu dengan gelisah. Dokter muda itu tidak memakai jas putih kebanggaannya, melainkan hanya kemeja formal yang lengannya digulung hingga siku; tampaknya sengaja agar tidak terlalu memancing perhatian. Mata dr. Adrian langsung berbinar lega saat menangkap sosok Adit."Mas Adit! Terima kasih sudah datan
Di lorong rumah sakit yang dingin, tiga orang yang sejak tadi mondar-mandir dengan wajah cemas langsung berhamburan mendekat. Pak Kades memimpin di depan, disusul oleh sepasang suami istri paruh baya yang matanya sudah sembap karena air mata."Adit! Bagaimana? Bagaimana keadaan Desi, Dit?" tanya Pak Kades, suaranya bergetar, mencengkeram kedua bahu Adit dengan erat.Sebelum Adit sempat menjawab, pintu di belakangnya kembali terbuka. Dr. Adrian melangkah keluar, melepas masker medisnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Wajah dokter muda itu tidak lagi tegang, melainkan dipenuhi sisa rasa takjub yang mendalam."Pak, Bu..." dr. Adrian memotong lembut, menatap orang tua Desi. "Ini... sebuah mukjizat. Kondisi kritis putri Anda sudah lewat. Semua tanda vitalnya kembali normal, bahkan stabil tanpa perlu operasi kraniotomi. Dia sedang beristirahat sekarang."Mendengar hal itu, ibu Desi langsung lemas dan hampir terduduk di lantai jika tidak segera ditangkap oleh suaminya. Tangis yang
Pintu kaca ruangan itu bergeser terbuka dengan desis halus, memutus perdebatan yang baru saja terjadi di sana.Dokter muda itu, dr. Adrian namanya, menatap Adit dengan binar mata yang merupakan campuran antara ketakutan terhadap hal yang tidak diketahuinya, skeptisisme medis yang runtuh, dan sisa rasa takjub dari tubuhnya yang mendadak bugar."Lima menit," bisik dr. Adrian, suaranya parau namun tegas. Ia menahan lengan salah satu perawatnya yang masih hendak memprotes. "Saya akan ikut masuk. Saya yang memegang tanggung jawab atas pasien ini. Jika monitor mendeteksi adanya anomali yang membahayakan, atau jika Anda melakukan satu saja gerakan yang saya anggap mengancam nyawa pasien... saya sendiri yang akan menyeret Anda keluar, persetan dengan bagaimana Anda menyembuhkan mag saya tadi."Adit tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk sekali, sebuah gestur tenang yang memancarkan keyakinan mutlak.Saat melangkah melewati ambang pintu ruang isolasi kritis IGD, aroma tajam alkoh
Perjalanan menegangkan dan menyiksa menuju Rumah Sakit Umum Daerah itu memakan waktu tiga puluh menit. Sepanjang jalan di atas mobil pikap tua milik Pak Hermawan, Adit hanya terdiam menatap keluar jendela, sementara sang Kepala Desa menyetir dengan tangan gemetar dan rapalan doa yang tak putus-putus.Begitu sampai, mereka bergegas berlari melewati koridor rumah sakit yang berbau menyengat antiseptik, menuju ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).Suasana di depan ruang IGD tampak kacau. Sepasang suami istri paruh baya, yang Adit yakini sebagai orang tua Desi, sedang menangis lemas di depan pintu. Di hadapan mereka, seorang dokter muda berkacamata dengan jas putih, didampingi dua orang perawat, sedang menjelaskan sesuatu dengan lembaran dokumen di papan klip."Tapi kenapa tidak bisa sekarang, Dok? Anak saya sekarat!" ratap sang ayah, suaranya serak karena panik.Dokter itu menghela napas berat, wajahnya tampak lelah sekaligus bersalah. "Saya paham pak, bu. Namun cedera di kepala pasien sa
Dua minggu yang berlalu di di desa itu bagaikan sapuan angin laut yang membawa ketenangan bagi Adit.Kini Adit tidak lagi menumpang di rumah Pak Hermawan. Berkat uang kiriman dari Larasati dan tabungan hasil keringatnya sendiri, ia berhasil menyewa sebuah rumah panggung kayu yang cukup lapang di tepi desa. Rumah itu sederhana, namun memiliki halaman luas yang langsung menghadap ke arah matahari terbenam.Adit sengaja tidak membuka bengkel resmi atau memasang papan nama di depan rumahnya. Baginya, itu hanya akan mengundang kerepotan birokrasi dan rutinitas yang mengikat. Ia lebih menikmati statusnya saat ini: seorang montir panggilan yang misterius namun selalu bisa diandalkan. Ia hanya akan datang jika diundang, bergerak dari satu rumah ke rumah lain, menyelesaikan masalah mekanis dengan cepat dan pasti yang tak pernah mengecewakan mereka yang mengundangnya.Hidup seperti itu ternyata terasa begitu mewah bagi Adit. Sungguh santai, tanpa tekanan pasar, Tanpa teriakan ribuan penggemar,







