Accueil / Urban / Tukang Pijat Tampan / Serangan Jahat Pak Rudi

Share

Serangan Jahat Pak Rudi

Auteur: Black Jack
last update Date de publication: 2025-03-28 11:04:24

Ratna menatap Adit dengan sorot mata penuh godaan. Bibirnya membentuk senyum menggoda, sementara jari-jari lentiknya berputar-putar di sekitar gelas minumannya.

Pemuda itu, sungguh ajaib; Ratna masih terngiang dengan sensasi sentuhan Adit, sebuah rasa yang langka dan tak terlupakan. Ia menginginkannya lagi, dan ia ingin tahu lebih banyak dengan melewatkan malam panas dan basah bersama lelaki itu.

Suami yang jauh, dan kebutuhan biologis yang tak terbendung, kadang membuat Ratna serasa gila.

"Jad
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (3)
goodnovel comment avatar
Ade Rukmana
masih iklan juga mana banyak pen ggemar kalau kebanyakan iklan playstor edan
goodnovel comment avatar
Ade Rukmana
di tv aja iklannya ga begitu banyak lama lagi di tv ga lama goblog
goodnovel comment avatar
Herman Tanjuang
Syur kali aku membacanya... lanjutkan bro, semakin seru....
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Tukang Pijat Tampan   Jumpa Fans

    Mobil itu berangkat pukul delapan pagi.Renata duduk di depan bersama sopirnya. Adit dan Vera di belakang, dengan jarak yang sudah menjadi jarak default mereka dalam perjalanan panjang.Vera sibuk dengan ponselnya yang sudah aktif sejak sejam sebelumnya, membalas pesan dari Bu Ria dan tim manajemen yang rupanya juga sudah tidak tidur sejak tadi malam.Sementara Adit dengan jaket gelap dan masker yang sudah ia pasang sejak keluar dari gerbang, memilih untuk menatap keluar jendela dengan ekspresi seseorang yang sedang mencoba meyakinkan dirinya bahwa hari ini tidak berbeda dari hari-hari lain.Adit diam-diam mencoba untuk tidak gugup. Tapi ia tidak berhasil."Kamu sarapan tadi nggak habis," kata Vera tanpa menoleh dari layarnya."Habis.""Apa iya? Kayaknya kamu nggak habis deh sarapannya..." Vera menggodai Adit.Adit tidak merespons. Jiwanya seolah tidak sedangh berada di tubuhnya. Melihat hal itu, Vera memilih untuk tidak melanjutkan.Renata di depan tidak berkomentar, tapi ada sesuatu

  • Tukang Pijat Tampan   Thrailer Sudah Muncul

    Sekian hari berlalu. Proyek pembangunan itu sedang berjalan.Setiap pagi atau sore, Adit dan Vera selalu datang ke tempat proyek itu, kadang sebentar, kadang sampai senja, berjalan mengelilingi ruangan-ruangan yang sedang dikupas dan dibentuk ulang. Para pekerja sudah hafal dengan kehadiran mereka; beberapa menyapa singkat, sebagian besar melanjutkan pekerjaan tanpa banyak interaksi. Kontraktornya, seorang pria pendiam bernama Pak Yusuf, selalu menyambut mereka dengan laporan harian yang ringkas dan langsung ke intinya, cara yang Adit hargai lebih dari basa-basi panjang.Progres bergerak dengan ritme yang konsisten. Dinding-dinding lama sudah dibersihkan, rangka lantai dua dan tiga sedang diperkuat, dan di area yang akan menjadi café, tanda-tanda ruang mulai terbentuk dari garis-garis kapur di lantai beton.Dua minggu berlalu tanpa terasa, seperti waktu yang bergerak lebih cepat ketika ada sesuatu yang sedang dibangun.***Di luar jam memantau renovasi, hari-hari Adit berjalan dalam r

  • Tukang Pijat Tampan   Adit Setuju, Tapi Tidak Mau Gratis

    Mobil meluncur meninggalkan kawasan itu, menembus siang yang mulai condong ke sore, dan bayangan bangunan terbengkalai di balik pagar berkarat itu masih duduk di kepala Adit ketika Renata memecah keheningan."Tidak perlu berpikir lama."Adit menoleh ke arahnya."Bangunan itu terbengkalai dan aku tidak tahu harus berbuat apa dengannya." Renata berbicara dengan nada seseorang yang sedang membahas sesuatu yang sudah lama tidak ia pikirkan dan tidak merasa perlu untuk mulai memikirkannya. "Jadi pakai saja. Balik nama ke notaris. Selesai."Adit menarik napas kecil. "Kak Ren, konsepku itu, aku beli lahan, lalu mendirikan tempat usaha dari uangku sendiri…""Ya sudah, kamu beli saja kalau begitu." Renata mengangkat satu alis dengan ekspresi seseorang yang tidak mengerti di mana letak masalahnya. "Sama saja kan? Kamu beli dari orang lain dan beli dariku, tetap ada namanya kesepakatan, ke notaris, balik nama, dan lain-lain. Prosesnya tidak berbeda."Adit diam sebentar. Logikanya tidak salah."B

  • Tukang Pijat Tampan   Bangunan Peninggalan Pak Darmawan

    Uap air yang tersisa di ruangan itu perlahan menipis, menyisakan keheningan yang nyaman setelah badai gairah yang baru saja mereda. Adit, dengan sisa-sisa napas yang mulai teratur, menunjukkan sisi lembutnya. Ia meraih handuk putih tebal dan dengan telaten mengeringkan tubuh Renata yang masih bergetar kecil karena sisa-sisa stimulasi tadi.Lalu mereka keluar dari kamar mandi. Adit menggendong Renata dan memberdirikannya di depan cermin. Mereka berdua sama-sama menatap pantulan itu; dua sosok yang masih telanjang.“Dit… itumu masih berdiri… sumpah aku udah nggak kuat… jangan minta lagi ya. Ini masih pagi…” kata Renata.“Hehehe. Nggak kok. Tadi udah cukup. Aku bantu kamu pakai baju…”Renata benar-benar seperti boneka kain; ia membiarkan Adit memandu lengannya masuk ke dalam pakaian, bahkan untuk mengancingkan pakaiannya pun ia tak lagi memiliki tenaga. Sentuhan Adit kini murni penuh perhatian, tanpa ada lagi sisa-sisa manipulasi energi yang mengintimidasi.Setelah memastikan dirinya sen

  • Tukang Pijat Tampan   Mengakhiri Permainan Nakal Itu

    Renata mendongakkan kepala, menyandarkannya di bahu Adit yang basah. Matanya terpejam rapat, mencoba menghalau arus listrik yang dikirimkan Adit melalui permukaan kulitnya. "Kamu... curang, Dit. Pakai kekuatan unikmu itu," bisiknya dengan suara yang nyaris hilang ditelan suara air.Adit terkekeh rendah, sebuah getaran maskulin yang terasa langsung di punggung Renata. "Dalam perang dan cinta, tidak ada aturan, Kak. Bukannya kamu sendiri yang bilang mau memastikan semuanya 'bersih'?"Tangan Adit yang tadinya hanya memberikan sentuhan halus, kini mulai memberikan tekanan yang lebih tegas. Energi gaib yang ia salurkan perlahan berubah frekuensinya, dari getaran lembut menjadi sensasi hangat yang menjalar secara konsisten, mengunci kesadaran Renata hanya pada titik-titik sentuhannya.Namun, Renata bukanlah tipe yang mudah menyerah. Meski lututnya terasa lemas, ia menemukan celah. Saat tangan Adit sedikit melonggar untuk berpindah posisi, Renata dengan cepat membalikkan badannya di dalam ku

  • Tukang Pijat Tampan   Bercanda Di Kamar Mandi

    Setelah puas beradu peluh dan ciuman di bawah guyuran air, gerakan mereka perlahan melambat, berganti menjadi ritme yang lebih seduktif. Adit meraih botol sabun cair, menuangkannya ke telapak tangan hingga busa putih mulai melimpah. Dengan sisa-sisa napas yang masih pendek, mereka mulai saling menyabuni, membiarkan jemari masing-masing menari di atas kulit yang licin dan basah.Namun, fokus Renata mulai teralihkan. Tangannya yang semula berada di dada Adit, perlahan merosot turun melewati perut yang keras, hingga jemarinya menemukan apa yang ia cari. Ia menggenggam "tongkat sakti" Adit yang kini telah bangun sepenuhnya, menegang kaku dan berdenyut hangat di tengah dinginnya air shower.Renata tidak hanya menyabuninya. Ia mulai memainkannya dengan gerakan-gerakan kecil yang menggoda, sesekali menekannya dengan lembut, lalu mengelusnya dengan ibu jari dengan ritme yang sengaja dibuat lambat."Kak Ren... ah, jangan sekarang. Aku bisa selesai duluan kalau kamu begitu," protes Adit sambil

  • Tukang Pijat Tampan   Pulang Dan Tidur

    Lima menit berlalu; Lima menit yang terasa seperti berjam-jam bagi semua orang yang menonton dari dalam bus.Clara menatap keluar jendela dengan wajah pucat; tangannya gemetar memegang ponsel. Dia melihat Adit bergerak dengan kecepatan yang melampaui manusia normal, melumpuhkan satu demi satu peram

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-04
  • Tukang Pijat Tampan   Operasi

    Kembali ke ruang tunggu, mereka duduk di kursi yang sama seperti tadi. Kali ini suasananya jauh lebih tenang. Ayunda sudah tidak menangis lagi, wajahnya terlihat jauh lebih damai.Adit menemani Ayunda sampai jam satu pagi; mengobrol sesekali, tapi lebih banyak duduk dalam keheningan yang nyaman. Ay

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-02
  • Tukang Pijat Tampan   Pertemuan Yang Singkat

    Lalu Adit melepaskan pelukan sedikit, cukup untuk bisa menatap wajah Larasati. Tangannya terangkat, mengusap pipi wanita itu dengan lembut, ibu jarinya menghapus air mata yang mulai menetes."Aku mencintaimu," bisiknya dengan suara yang sangat lembut tapi penuh keyakinan.Larasati tersenyum di anta

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-01
  • Tukang Pijat Tampan   Terlalu Sungguhan Sebagai Latihan

    Clara berdiri di tengah ruang tamu, membuka naskahnya ke halaman yang sudah ia tandai dengan sticky note merah. Matanya menyapu teks dengan cermat, lalu ia menatap Adit dengan senyum yang profesional, tapi ada sesuatu yang berkilat di matanya, sesuatu yang lebih dari sekadar niat latihan biasa."Ok

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-01
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status