ログインSepanjang perjalanan pulang ke rumah, Fatih mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya.
Ingatan Fatih langsung tertuju pada kejadian tadi malam. Bukankah ia berada di rumah ibu mertuanya? Dan hendak melakukan malam pertama dengan Laras, istri yang ia nikahi tanpa sepengetahuan keluarganya? Saat Fatih berniat meminjam uang kepada bosnya untuk biaya operasi pemasangan ring jantung sang ibu, Bu Rosa bersedia membantu dengan satu syarat—Fatih harus menikahi putrinya yang bisu. Tadi malam, Fatih untuk pertama kalinya melihat wajah cantik Laras, putri bisu pemilik pabrik gula tempatnya bekerja. Selama ini, Laras dikenal sebagai gadis misterius yang jarang terlihat keluar kamar. Bahkan setelah pernikahan mereka yang terjadi begitu mendadak, Fatih hampir tidak pernah benar-benar berinteraksi dengannya. Laras selalu diam, menghindari keramaian, dan lebih sering mengurung diri di dalam kamar. Karena itulah, saat membuka pintu kamar malam itu, Fatih benar-benar terkejut. Laras sudah berdiri di tengah ruangan seolah sedang menunggunya, cahaya lampu temaram jatuh lembut di wajahnya, memperlihatkan paras cantik yang selama ini tersembunyi dari pandangan banyak orang. Dan untuk sesaat Fatih bahkan lupa melangkah. Namun bukan hanya wajah Laras yang membuatnya terpaku, melainkan pakaian yang dikenakannya malam itu, lingerie merah yang membalut tubuhnya tampak begitu kontras dengan kulit putih bersihnya, tidak berlebihan tetapi cukup untuk membuat jantung Fatih berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Ia menelan ludah, tatapannya sulit berpaling dari lekuk-lekuk tubuh indah yang terbungkus kain tipis itu. Sementara itu Laras hanya berdiri diam, tatapannya tidak pernah lepas dari Fatih, tenang dan dalam, dan entah kenapa justru itu yang membuat Fatih semakin gugup. Akhirnya sejak mereka menikah, Laras akhirnya tidak terlihat berusaha menjaga jarak lagi. Sebaliknya, ia seolah membiarkan Fatih melihat dirinya apa adanya, tanpa tedeng aling-aling. Suasana kamar terasa begitu sunyi, hanya ada mereka berdua, dan pelan namun pasti Fatih melangkah mendekat, satu langkah, dua langkah, dan Laras tetap berdiri di tempatnya, tidak mundur dan tidak menghindar, membiarkan jarak di antara mereka semakin menipis hingga Fatih bisa mencium aroma tubuhnya. Fatih bisa merasakan tenggorokannya mengering. Ada sesuatu dalam tatapan Laras yang membuat darah mudanya bergejolak, gadis itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, tetapi diamnya justru terasa lebih menggoda daripada ribuan kalimat. Tanpa sadar Fatih mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh pinggang Laras dengan hati-hati, dan tubuh gadis itu sedikit menegang saat sentuhan terjadi. Namun ia tidak menolak, tidak menjauh, bahkan tatapannya justru semakin dalam, membuat pertahanan Fatih runtuh sedikit demi sedikit. Jantung Fatih berdetak semakin keras, begitu pula dengan Laras— meski tidak bersuara, Fatih bisa melihat jelas bagaimana nafasnya mulai berubah tidak teratur, dadanya naik turun di balik lingerie merah itu. Dalam satu gerakan, Fatih membopong tubuh istrinya ke atas kasur. Laras terkejut sesaat, tetapi kedua tangannya refleks meraih bahu Fatih untuk menjaga keseimbangan. Bobot tubuh mereka berdua jatuh bersama ke permukaan spring bed yang empuk, membuat Laras terhenyak dengan napas tersengal. Lingerie merah yang membalut tubuhnya terlihat semakin menggoda dalam posisi berbaring seperti ini, kain tipis itu nyaris tidak menyembunyikan apa pun dari pandangan Fatih. Fatih menunduk, menatap wajah istri yang baru semalam ia resmikan. Laras balas menatapnya dengan bola mata yang jernih, tanpa rasa takut, tanpa ragu. Hela nafasnya yang memburu membuat dada indah Laras naik turun dengan ritme yang cepat. Tanpa aba-aba, Fatih menurunkan kepalanya dan menanam kecupan pertama di leher ramping Laras- cumbuan yang terasa seperti percikan api di tengah jerami kering. Laras menggigit bibir bawahnya, menahan desahan yang ingin lolos. Kedua tangannya mencengkeram sprei di samping tubuhnya, sementara Fatih terus menimbuni lehernya dengan kecupan-kecupan basah. Bibir Fatih bergerak turun, menyusuri tulang selangka Laras yang jenjang, lalu berhenti sejenak di atas kain merah tipis yang membungkus kedua puncak ranum di dadanya. Fatih tidak terburu-buru. Ia ingin merasakan setiap detik malam pertama ini. Dengan gerakan yang pelan namun pasti, tangannya meraih tali tipis di pundak Laras dan menariknya perlahan. Lingerie merah itu meluncur turun, memperlihatkan kulit putih bersih, mulus dan kenyal yang selama ini tersembunyi. Laras tetap diam, menatapnya dengan penasaran, namun tubuhnya gemetar halus- sebuah getaran yang bisa Fatih rasakan jelas di ujung jemarinya. Dalam keheningan yang hanya diisi oleh helaan napas berat, Fatih menundukkan kepalanya sekali lagi. Kali ini, bibirnya menemukan salah satu puncak ranum Laras. Laras sontak melengkungkan punggungnya, jari-jarinya kini beralih mencengkeram rambut tebal Fatih. Gadis bisu itu tidak bisa berteriak, tidak bisa merintih keras, tetapi dari caranya menarik helai-helai rambut Fatih dengan kuat, dari getaran yang menjalari seluruh tubuhnya, Fatih tahu bahwa istrinya menikmati setiap sentuhan yang ia berikan. "Kamu cantik banget, Laras," bisik Fatih di sela cumbuannya, suaranya serak oleh hasrat yang mulai tidak terbendung. Laras hanya bisa menatapnya dengan mata yang basah dan merah. Di ujung matanya, Fatih melihat kilau genangan air mata haru yang nyaris tumpah. Namun Laras tidak menangis. Ia justru tersenyum, senyum pertama yang pernah Fatih lihat sejak mereka menikah. Senyum yang membuat jantung Fatih serasa melompat keluar dari dadanya. Fatih kembali menunduk, melanjutkan perjalanan bibirnya ke perut Laras yang rata, lembut, dan mulus. Jemarinya merayap turun, menyusuri paha halus sang istri yang sedikit mengembang karena gugup. Kain merah berbentuk segitiga itu menjadi penghalang terakhir— dan Fatih tahu ia akan segera menyingkirkannya. Laras meskipun gugup, mengangkat pinggulnya sedikit, memberi isyarat tanpa suara. Sebuah undangan yang tidak perlu diucapkan. Fatih menarik napas dalam-dalam, lalu meraih tepi kain merah tersebut. Pemandangan yang indah menunggunya, dan sedikit lagi mereka akan resmi menjadi suami istri yang sah. Namun- TOK! TOK! TOK! Suara ketukan keras dari luar kamar langsung memecah keheningan. BERSAMBUNGBeberapa saat kemudian...Fatih telah kembali ke rumah. Langkahnya berat dan pelan saat melangkah masuk ke dalam kamar. Di atas ranjang, Laras tampak masih terpejam, seolah belum terbangun dari tidurnya.Tanpa menunda, Fatih segera membersihkan tubuhnya. Setelah kembali berpakaian bersih, ia berbaring perlahan di samping istrinya. Tangannya melingkar erat memeluk tubuh Laras dari belakang, menyandarkan wajahnya di ceruk leher jenjang itu. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Laras yang menenangkan, bercampur wangi sampo yang lembut menguar dari rambut panjangnya.Namun, tanpa Fatih ketahui, di balik matanya yang terpejam, Laras ternyata telah terjaga sejak tadi. Ia menyadari tempat di sampingnya kosong, menyadari kepergian suaminya di tengah malam yang sunyi. Dan kini, saat pelukan hangat itu kembali menyaputnya, air mata perlahan mengalir deras dari sudut matanya.Laras menahan napas agar tak terdengar sesenggukan. Giginya terkatup rapat menahan rasa perih yang menyayat dadanya. Ia
"Tidak!" seru Fatih seketika.Dengan gerakan cepat ia melepaskan cengkeramannya dari leher Nyai, lalu mundur terhuyung beberapa langkah. Kedua tangannya kini mencengkeram kepalanya erat, napasnya tersengal hebat seolah baru saja dihantam kenyataan yang mematikan.Pikirannya seketika teringat momen kebersamaan bersama Nyai yang terus terulang. Ia selalu terbuai dengan kenikmatan, hingga lupa menahan diri, membiarkan benih kehidupannya menyatu sepenuhnya di dalam rahim siluman itu. Dan kini ... benih itu telah tertanam dan mulai tumbuh."Kenapa, Fatih? Apa kamu terkejut?" tanya Nyai lembut.Perlahan, kedua tangannya terulur mengusap perutnya yang kini bersinar lembut, terlihat denyut-denyut kecil kehidupan yang baru saja tumbuh di sana.Pandangan Fatih seketika menajam, matanya menatap tajam ke arah perut itu."Keluarkan benih itu, Nyai! Jangan biarkan ia tumbuh di rahimmu!" perintahnya tegas namun bergetar.Nyai tersenyum lebar, tak sedikit pun takut."Tidak. Ini adalah benihku dan be
Melihat Nyai terdiam membisu, Fatih perlahan membuka matanya. Di dapatinya, Nyai masih menatapnya lekat dengan pandangan yang nanar dan penuh luka."Kenapa?" tanya Fatih pelan. "Apa jawabanku tadi membuatmu tak suka?"Nyai tersentak, lalu secepat kilat mengubah ekspresinya. Ia mengibaskan tangan seolah mengusir segala pikiran kelam yang sempat singgah."Ah, tidak ... lupakan saja pembicaraan itu. Yang penting saat ini, kita masih bisa bersama. Melalui malam purnama yang indah ini dalam kebersamaan yang akan menambah kekuatan dan kecantikanku," bisiknya halus, seraya tangannya kembali mengusap lembut dada bidang Fatih yang masih berkeringat.Memang tak bisa dipungkiri. Penyatuan yang baru saja mereka lakukan di bawah cahaya bulan purnama itu seolah memancarkan kembali pesona kecantikan siluman wanita itu. Wajahnya kian bersinar bercahaya, dan tubuhnya yang seharusnya terasa lelah justru tampak semakin segar dan bugar.Fatih mendengus pelan, merasa sedikit tak seimbang. "Jadi ... hanya
Mendengar pertanyaan Fatih, Nyai tersenyum lebar, matanya berkilat tajam, namun penuh kepemilikan mutlak. Ia mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya beberapa senti."Selamanya, Fatih," jawabnya tegas namun lembut, seolah itu adalah hal yang paling pasti di dunia ini. "Selama kamu masih bernapas, selama darah ini masih mengalir di tubuhmu ... kamu harus memberikanku satu malam setiap bulan. Tak ada batas waktu, tak ada akhir. Kamu adalah milikku, dan aku tak akan pernah melepaskanmu."Fatih mengerutkan kening, rasa tak percaya bercampur amarah mulai merayap di hatinya."Itu tidak adil. Aku sudah menepati janjiku memberikanmu kepuasan dan menyelamatkan nyawamu dari Handaru. Harusnya perjanjian itu selesai sampai di sana."Nyai menggeleng pelan, lalu bibirnya menyentuh telinga Fatih dengan suara berbisik yang memabukkan."Kamu salah mengerti, sayang ... perjanjian itu bukan sekadar tukar-menukar. Kamu adalah milikku yang kutemukan kembali. Dan kenikmatan yang kuberikan padamu, ser
Fatih tampak gelisah dalam tidurnya. Napasnya memburu, sementara keningnya berkerut seolah sedang bergulat dengan mimpi yang tidak menyenangkan."Fatih ... bangun ... cepat temui aku." Tak lama kemudian, kedua matanya perlahan terbuka saat mendengar suara misterius yang terus memanggilnya.Matanya langsung menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.Namun, belum sempat ia mengumpulkan kesadarannya, telinganya menangkap suara yang begitu dikenalnya.Criing ...Criing ...Criing ...Suara lonceng kereta menggema pelan, disusul ringkikan beberapa ekor kuda dari luar rumah.Degh!Jantung Fatih seketika berdegup kencang.Wajahnya langsung berubah tegang.Barulah ia teringat pada janji yang pernah dibuatnya dengan Nyai.Malam bulan purnama.Malam yang diminta Nyai sebagai haknya dalam setiap satu bulan, dengan taruhan keselamatan dan kebebasan Laras dari cengkraman Bu Rosa.Fatih mengembuskan napas panjang.Perlahan ia turun dari ranjang, berhati-hati agar tidak membangunkan Laras y
Kening Fatih langsung berkerut saat melihat mobil itu. Ia sangat mengenalnya.Fatih hafal betul. Bahkan plat nomornya.Degh!Dadanya mendadak berdebar. "Itu ..." gumamnya lirih.Laras yang menyadari perubahan raut wajah suaminya ikut menghentikan langkah."Kang ... kenapa?"Fatih tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada mobil tersebut."Itu mobil Bu Ayunda."Laras ikut menoleh ke arah mobil mewah itu. "Oh ... bos pabrik tekstil itu?" Fatih mengangguk pelan. "Iya." Ia mengembuskan napas panjang.Baru sekarang ia benar-benar menyadari kesalahannya. Sejak memutuskan berhenti bekerja dan membuka usaha bersama Laras, ia pergi begitu saja dari perusahaan.Tanpa menghadap Ayunda. Tanpa memberikan surat pengunduran diri. Tanpa menjelaskan alasan kepergiannya.Bahkan ponselnya sengaja ia matikan selama beberapa hari agar tidak dihubungi siapa pun."Apa ... beliau datang mencarimu?" tanya Laras."Sepertinya begitu." Fatih mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa kaku.Rasa bersa
Degh! Jantung Fatih berdegup kencang. Tubuhnya langsung membeku. Mata pemuda itu membelalak, sementara pikirannya mendadak kosong.Lagi-lagi. Permintaan itu kembali keluar dari mulut ibunya. Dan lagi-lagi, Fatih tidak tahu harus menjawab apa. Karena hanya dirinya yang tahu kebenaran yang selama i
Gudang di hadapannya tidak gelap seperti ruangan pabrik lainnya. Justru sebaliknya. Puluhan lilin menyala mengelilingi ruangan, sesajen tersusun di atas nampan, sementara aroma kemenyan dan melati memenuhi udara. Di tengah ruangan, beberapa pria berpakaian hitam menabuh gamelan dengan wajah datar.
Fatih tersentak. Alisnya langsung berkerut."Siapa yang mengetuk pintu?" gumamnya dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur.Grep!Tiba-tiba tangan Laras meraih lengan Fatih dengan erat.Fatih menoleh. Kepala Laras menggeleng pelan. Wajahnya yang tadi terlihat tenang kini berubah pucat. Ada
Sedari kecil, Fatih selalu merasa hidupnya sedikit berbeda.Di bahunya terdapat tanda lahir berbentuk bulan sabit. Karena tanda itulah, guru silatnya melatihnya lebih keras daripada siapa pun. Saat anak-anak lain menghabiskan waktu bermain, Fatih menghabiskan harinya mempelajari berbagai jurus dan







