Share

Telinga yang Mendengar (2)

Pasar swalayan yang akan kami tuju adalah tempat yang dulu sering aku datangi dengan Radit, baik untuk keperluan pribadi ataupun untuk keperluan pekerjaan. Kami berdua sebelumnya pernah bekerja di tempat yang sama. Pasar swalayan ini tempat yang dulu sering aku datangi dengan Radit, baik untuk keperluan pribadi, ataupun untuk keperluan pekerjaan. Kami berdua sebelumnya pernah bekerja di tempat yang sama selama kurang lebih 1 tahun.

“Mandaaaa lo mau belanja apa nanti? Biar ketauan nih kita perlu mencar apa nggak disana” tanyaku.

“Gue mau beli buah, susu, pasta sama bumbu instan sih kayaknya, tapi mau coba gue list lagi biar sekalian semuanya aja” jawab Manda sambil buru-buru membuat catatan belanja.

“Gue kok nggak ditanyain Sya?” tanya Angga tiba-tiba.

“Ye lo kan tadi bilang mau beli cemilan doang, nggak tau deh maksudnya lo bilang banyak tuh sebanyak apaan” balasku ketus.

“Aduh terharu banget loh gue Sya lo inget gini gue mau beli apaan.”

“Sya kayaknya gue sekalian beli sabun sama shampoo deh nanti, lo ada ke section itu nggak?” potong Manda tiba-tiba.

“Iya ada kok Man, yaudah barengan aja kali ya berarti? Gue tuh harus beli bumbu, daging-dagingan, sayur, buah, roti, pasta, beras, telur, sabun cuci piring, deterjen, sabun mandi, sama shampoo” kataku.

“Terus kalo lo belanja sendiri itu lo bawa langsung semua? Gila lo ya Sya?” tanya Angga kesal.

“Ya dicicil belanjanya, ada juga yang delivery’ jawabku santai. Manda hanya melihat ke arahku dan Angga secara bergantian.

“Sumpah kalo lo beli langsung semua sekaligus gitu sih gue ngamuk banget asli. Bisa-bisanya lo repot sendirian nggak bilang gue sama Manda. Wah nggak tau deh ah gue kesel banget ngebayanginnya” kata Angga yang jelas sekali menahan kesal kepadaku.

Aku hanya diam, lalu melihat ke arah jalanan sambil bersandar. Kami membiarkan alunan musik mengisi kesunyian diantara kami. Aku tahu persis kalau Angga kesal dengan tingkahku, namun Angga tidak tahu kalau sudah lama aku melakukan itu semua sendiri tanpa bilang padanya dan Manda, Angga yang diminta untuk menjagaku oleh keluargaku sendiri pasti merasa kalau aku tidak mengizinkannya untuk membantuku. Bukan begitu, kadang aku hanya ingin pergi sendiri saja.

Manda pun posisinya sekarang serba salah karena dia tahu aku yang ketika butuh waktu sendiri itu artinya kegiatan apapun sebisa mungkin akan aku kerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain. Namun Manda juga mengerti posisi Angga yang berusaha keras menjagaku seperti layaknya keluarga. Ketika kondisi ini terjadi diantara kami, Manda tidak akan berkomentar apa-apa karena Manda percaya kalau hubungan kami bertiga akan baik-baik saja, selalu. Perdebatan tentang apapun hanya akan bertahan sebentar diantara kami.

Aku mengenal Manda ketika ospek jurusan. Manda adalah teman perempuan pertamaku di kampus, saat itu hanya Manda yang mengajakku berkenalan dengan santainya dan kami benar-benar cocok dalam semua hal. Anak-anak lain menganggap aku sombong, mereka menilaiku sepertiku hanya karena wajahku yang memang tidak “friendly”. Aku justru bersyukur karena dengan wajah sombongku ini berhasil menjauhkanku dari orang-orang yang bermasalah.

Banyak rumor yang bilang kalau lebih baik tidak mencari masalah denganku kalau tidak mau tersiksa. Padahal kenyataannya aku hanya akan berbicara fakta dari rumor atau masalah yang menyangkut diriku dan aku akan bilang ke orang yang bermasalah denganku kalau aku tau apa yang dia coba sembunyikan dari orang banyak.

Aku tidak selalu membalas semua orang yang bermasalah denganku. Kalau aku sampai membalas perlakuan tidak menyenangkan dari seseorang kepadaku berarti orang itu sudah sangat keterlaluan dan terang-terangan melewati batas. Aku pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan padaku. Semuanya sama persis.

Ya menurutku itu sudah cukup agar mereka mengerti, jangan pernah melakukan sesuatu yang sekiranya akan membuat orang lain murka apalagi kalau yang mereka lakukan terhadap orang lain pun membuat mereka murka ketika ada yang melakukannya pada mereka.

“Gue rasanya pengen batalin belanja hari ini deh. Ya atau nggak ganti tempat aja” ucapku mencoba memecah hening. Entah mengapa perasaanku memang jauh lebih ringan hari ini. Mungkin aku bisa menceritakan semuanya kepada Manda dan Angga hari ini juga. Sudah 3 bulan juga mereka berusaha mengerti kondisiku tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Kenapa?” tanya Angga singkat.

“Radit.”

“Hmm terus gimana dong Sya? Mumpung macet nih” balas Manda.

“Apa ya? Bingung. Kalo hari ini jadi kesana, ini pertama kalinya gue kesana lagi. Benci banget gue yang kayak gini-gini. Gue sering banget kesana dulu sebelum sama Radit, terus sekarang giliran udah nggak ada Radit gue malah takut kesana lagi” keluhku.

“Ngga kita cari McD yuk. Gue mau es krim niiiih. Duh hari ini kenapa sih panas banget mataharinya? Ga sanggup gue” rengek Manda tiba-tiba.

“Hah? Muter dong? Serius nih lo kepengen es krimnya sekarang banget Man? I mean, SEKARANG BANGET?” tanya Angga sambil melihat ke arah Manda.

Aku yang sedari tadi sedang memperhatikan jalanan tidak tahu apa yang Manda lakukan untuk membujuk Angga sampai-sampai Angga menuruti keinginannya. Angga paling kesal kalau disuruh putar balik, apalagi sekarang ini kami sudah dekat dengan pasar swalayan yang akan kami datangi. Well, dalam hati aku merasa Manda melakukan itu untuk mengulur waktu agar aku bisa berpikir ulang apakah kami tetap berbelanja di pasar swalayan itu atau pindah ke pasar swalayan lainnya.

Angga benar-benar menuruti keinginan Manda rupanya, perlahan-lahan mobil yang membawa kami bertiga pun berjalan ke arah yang berlawanan.

“Makan disana apa drive thru ya enaknya?” tanya Manda.

“Terserah deh gimana lo sama Tasya aja” jawab Angga.

“Gimana Sya?” tanya Manda lagi kepadaku.

“Yaudah makan disana aja nggak apa-apa” jawabku.

Sejujurnya aku ingin berterima kasih kepada Manda, tapi pasti Manda akan mengelak kalau dia tidak melakukan itu untukku. Sepertinya memang benar apa yang aku pikirkan sebelumnya kalau aku butuh berpikir jernih, lagipula aku masih harus mencoba menenangkan diriku kembali agar tidak harus merasa sesak dan gemetaran lagi seperti tadi.

Aku mengeluarkan kotak rokok dan kacamata hitam milikku dari dalam tas. Aku memakai kacamata hitam ini bukan tanpa alasan bergaya, pagi tadi aku menangis cukup lama, lalu aku tetap menggunakan softlens sampai detik ini. Aku menggunakannya hanya karena benar-benar untuk menghindari mataku yang bisa berair terus menerus nantinya setelah melihat dengan kondisi matahari yang terik begini.

“Ngga korek dong” pintaku sambil mengulurkan tangan.

“Barter dong, abis rokok gue” balas Angga sambil memberikan koreknya kepadaku, aku pun menyodorkan kotak rokok milikku ke arahnya.

“Enak es krimnya?” sindirku kepada Manda.

“Ya enak lah panas-panas begini makan es krim ckck kayak nggak pernah aja lo ah” jawab Manda yang menikmati es krimnya sambil bersandar.

Aku menghisap rokok yang kubakar cukup dalam, lalu menghembuskan asapnya-perlahan-lahan. Manda sibuk dengan handphone miliknya dan Angga hanya menatapku. Aku menaikkan kedua alisku seolah bertanya ada apa, Angga hanya membalasnya dengan gelengan kepala.

“Lo inget nggak sih sama Alma? Yang sempet gue kenalin ke Angga waktu itu” kata Manda.

“Yang deketnya cuma 2 minggu bukan sih?” balasku sambil mencoba mengingat baik-baik.

“Kenapa dia?” tanya Angga to the point.

“Iya Sya yang ituuuu! Dia jadian sama Gerald! Itu loh anak jurusan kimia yang jadi ketua panitia tapi defisit gede mampus hahahaha” jawab Manda sambil tertawa puas.

“Anjir demi apa? Hahaha aduh cocok deh tuh berdua, biar pusing duitnya nggak beres-beres” aku menanggapinya benar-benar sambil tertawa puas.

“Gue kalo inget dia rese banget minta beliin ini itu tiap jalan rasanya sakit banget kepala gue. Belum lagi kode-kode di chat minta jalan kesana lah, beli barang ini lah. Dikiranya bokap gue bersin duit kali ye. Untung dia ketauan matre dari awal. Coba kalo nggak, buset drama deh itu pasti. Hiiiih” kata Angga sambil bergidik.

“Man lo kebayang nggak sih kita kalo jadi nyamuknya mereka kayak gimana? Waaaah anjir kacau-kacau ogah banget deh gue” ledekku.

“Amit-amit deh, nggak bisa gue asli. Tapi bakal memorable banget nggak sih? Soalnya selama kita jadi nyamuk kan belum ada kejadian aneh-aneh tuh Sya” Manda membalas ledekanku penuh semangat.

“Sialan lo berdua emang ya puas banget ngeledekin gue” kata Angga diantara aku dan Manda yang sedang tertawa terbahak-bahak.

Kami pun melanjutkan obrolan kami. Perasaan sesak yang aku rasakan tadi sudah hilang sepenuhnya tanpa aku sadari. Melihat bagaimana keresahanku hilang begitu saja berkat adanya Manda dan Angga disisiku membuatku percaya kalau aku akan baik-baik saja untuk berbelanja di pasar swalayan yang biasa aku datangi.

“Guys, ayo belanja sekarang aja biar nggak kemaleman. Ke tempat biasa aja lah, belanja ke tempat lain gue males harus bolak-baliknya kalo stoknya kosong” kataku.

“Sekarang?” tanya Angga.

Aku mengangguk mantap.

Kami bertiga pun melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya. Tidak ada satu pun dari kami yang mengeluarkan suara. Seakan-akan Manda dan Angga ikut tegang karena harus menemaniku dan mengurusiku kalau-kalau ada hal tidak menyenangkan terjadi ketika kami berbelanja nanti. Tidak sampai 15 menit pun kami tiba dan langsung mencari tempat parkir.

Aku menghela napas panjang ketika turun dari mobil, berharap aku akan baik-baik saja selama berbelanja disana karena ada Manda dan Angga disisiku.

We’ll see.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status