Share

PENGKHIANATAN

Aku tak menyangka jika Mas Gunawan melamarku secepat ini.

Aku pun bertanya kepadanya, "Terus gimana sama istri dan anakmu?"

"Itu nanti urusan Mas, yang penting kamu nerima lamaran Mas kali ini? mungkin besok-besok Mas nggak akan nawarin lagi," ujarnya.

Aku mengerutkan dahi,  "Kok begitu Mas? aku kan butuh waktu lagian kamu belum bercerai dari istrimu," sangkalku.

Dengan memegang bahuku serta meyakinkanku ia pun berkata, "Yang penting kamu terima lamaran ini dulu Rin, Mas pengen liat keseriusanmu. Soal kapan kita nikah itu bisa kamu yang nentuin."

Tanpa berpikir panjang aku menerima lamarannya, "Aku terima lamaran Mas, tapi aku mau sebelum kita menikah kamu harus ceraikan istrimu dulu!" pintaku pada Mas Gunawan. 

Akhirnya Mas Gunawan pun menyetujui kesepakatan itu, ia langsung mengambil cincin yang berada di kotaknya kemudian mulai memasangkan di jari manis kiriku. 

Setelah cincin itu melingkar di jari manisku tampak berlian itu mengkilap seperti mendukung hubunganku dengan Mas Gunawan. Sembari menyandarkan kepalaku di bahunya, meregangkan jari kiri dan menatap cincin berlian yang telah melingkar di jari manisku. 

Kemudian aku berjalan menuju arah jendela, melihat panorama langit yang indah nan cerah seakan-akan mendukung hubunganku dengan Mas Gunawan yang memelukku dari belakang. Kami menikmati indahnya langit sore berdua. Kami seperti layaknya dua sejoli yang sedang kasmaran. Kami pun berciuman mesra. 

Matahari akan terbenam, akhirnya Mas Gunawan pamit untuk pulang.

"Mas pamit ya?" dengan mencium keningku seperti biasanya. 

"Hati-hati ya Mas." tanganku melambai ke arahnya.

Iya?  Aku adalah seorang wanita perusak rumah tangga orang, bukan tanpa sebab. 

Aku mencintai Mas Gunawan, di sisi lain aku juga memiliki alasan untuk merebut Mas Gunawan dari istrinya. 

Hari sudah menunjukkan akhir pekan, Aku dan Sana pergi berbelanja di mall. 

Sesampainya di mall kami mampir di cafe sejenak, "Hai Stev, apa kabar? kapan lo baliknya? gue kangen sih gila lo ya! malah pergi ke jerman nggak ngabarin gue." Sana menyapa pria yang tampak asing di mataku, tak segan-segan mereka juga cipika-cipiki di depan umum. 

"Seminggu yang lalu San, gue belom sempet maen ketempat lo soalnya sibuk lagi cari apartemen yang cocok buat gue," jawab pria tersebut. 

Mereka tampak dekat, "Eh Rin kenalin ini Stevan temen kecilku dulu, buruan kenalan gih!" Sana menarik tanganku dan mengulurkan ke tangan pria tersebut. 

"Airin," jawabku dengan lirih.

"Stevan, by the way kamu cantik juga ya," goda pria ini tak kunjung melepaskan tanganku dan terus menatap ke arahku, cara menatapnya pun seperti tak biasa. Melihatku dari ujung kaki hingga kepala. Aneh ya? maka dari itu aku segera melepaskan jabat tangan kami, "Makasih," ucapku dengan sedikit keras. 

Karena sedikit risih dengan tatapan pria aneh itu, Aku terburu-buru pergi dengan membawa segelas minuman dan meninggalkan mereka tanpa pamit dahulu. 

"Rin mau kemana?" panggil Sana padaku, tapi aku tak menghiraukan ia memanggilku. 

"Biar apa coba ngeliatin aku dari atas sampe bawah!" aku menggerutu lirih sambil berjalan pergi. 

Tiba-tiba seseorang tak sengaja menabrakku dan minuman yang kugenggam tumpah mengenai blazer berwarna hitam yang kukenakan.

"Aduh, maaf ya mbak saya nggak sengaja," ucap wanita tersebut sambil membersihkan blazer milikku dengan tisunya. 

"Iya nggak papa buk, nanti di cuci juga bersih kok." hati dan mulutku bertolak belakang.

"Matanya dimana sih! jalan kok nggak ngeliatin kalo ada orang." aku bergumam menggerutu dalam hati. Kesal? Iya pasti itu. 

Tapi tak mungkin juga aku memarahi seorang wanita yang lebih tua dariku. Tidak sopan sekali jika aku mengocehinya di depan umum!

Dia yang tengah fokus membersihkan blazerku tersebut, posisi wajahnya yang menunduk membuatku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. 

"Udah lumayan bersih buk! Nggak terlalu keliatan kok nodanya jadi udahan ya bersihinnya," lirihku pada wanita tersebut. 

Kemudian ia pun berdiri tegak dan mengucapkan permintaan maaf sekali lagi padaku, "Sekali lagi saya minta maaf ya, saya nggak sengaja. Lagi banyak pikiran," sahut wanita tersebut. 

Ketika ia berdiri di hadapanku, Aku langsung memundurkan langkahku, wajahnya yang membuatku muak sedari aku kecil, perasaanku meluap hebat. 

Siapakah wanita ini? dia Helena istri dan kekasihku, Mas Gunawan.

Ketika di kampus, meskipun sering berpapasan kami tak pernah menatap wajah satu sama lain. Wajahnya tampak begitu sombong dan angkuh serta membosankan!

Bagaimana bisa Mas Gunawan menikahi wanita seperti ini. 

Sedari kecil aku sudah bertemu dengannya, peristiwa yang tak dapat hilang dari ingatanku sampai saat ini, hingga membuatku trauma untuk mengendarai mobil berkecepatan tinggi. 

'Kau yang membuat hidupku menderita! dan kau tak pernah mengakui kesalahanmu Helena. Maka, akan kubuat kamu menderita!'

Batinku bergejolak hebat. Aku menyebutmu sebagai pembunuh! 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status