Se connecterSetelah kecelakaan dan lumpuh, tunanganku kabur membawa lari seluruh uang keluarga. Aku pikir tidak ada hal yang lebih rendah daripada menjadi perempuan lumpuh yang tidak lagi berguna. Aku salah. Ayahku sendiri, menjual sisa harga diriku demi menyelamatkan saham perusahaan. Aku dipaksa menikah dengan Adji Mahesa—seorang mantan narapidana rendahan yang baru saja menghirup udara bebas. "Mungkin di luar aku memang begitu, Nona Kirana. Tapi di dalam kamar ini... aku adalah pria yang memegang kendali penuh atas dirimu."
Voir plusPandu Pranawa tidak mengubah air mukanya sedikit pun. Tatapan matanya yang setajam elang tetap mengunci sang putri tunggal yang kini tampak begitu rapuh di atas kursi rodanya. Baginya, air mata dan protes Kirana bukanlah sesuatu yang harus didebat, melainkan badai kekanak-kanakan yang harus diredam dengan ketegasan."Keputusanku sudah bulat, Kirana. Tidak ada negosiasi," ucap Pandu, suaranya berat dan dingin, memantul di dinding-dinding paviliun yang mendadak terasa mencekam.Kirana merasakan tenggorokannya tercekat. Dadanya naik turun dengan cepat, menahan gelombang emosi yang akhirnya pecah begitu saja. Air mata yang sejak tadi ia bendung kini luruh membasahi pipinya yang pucat. Rasa frustrasi, marah, dan terhina bercampur menjadi satu, menghancurkan sisa-sisa topeng angkuh yang selama ini ia agungkan."Ayah..." suara Kirana bergetar hebat, pecah oleh tangis yang tak lagi bisa ia bendung. "Ayah menghukumku dengan membuangku bersamanya? Bersama lelaki miskin ini? Bersama mantan narap
"AAAHHHHHH!"Jeritan frustrasi itu lolos begitu saja dari tenggorokan Kirana, membelah keheningan paviliun tak lama setelah langkah kaki Adji menghilang di selasar. Wajah Kirana merah padam karena amarah yang memuncak. Dengan napas memburu, ia menyambar bantal di sampingnya dan melemparkannya ke arah pintu dengan kasar.Ia membenci dirinya sendiri. Ia membenci kenyataan bahwa ia baru saja membiarkan seorang mantan narapidana—pria sewaan ayahnya—menciumnya hingga lemas dan melumpuhkan seluruh logikanya. Pertahanan mental yang ia bangun berbulan-bulan runtuh begitu saja hanya dalam satu kecupan. Rasa bersalah dan penghinaan diri itu membuat dada Kirana terasa sesak.Satu jam berlalu, Kirana mencoba menenangkan diri dengan membaca buku di dekat jendela kamar. Sinar matahari pagi yang jatuh di wajahnya sama sekali tidak mampu mengusir ketegangan yang tercetak di garis rahangnya. Pikirannya masih karut-marut.Mendengar langkah kaki yang familier kembali memasuki paviliun, tubuh Kirana refl
Suasana ruang makan itu mendadak hening setelah kalimat tajam Kirana menghantam Rendy. Pandu Pranawa hanya menyesap kopinya dengan tenang, seolah-olah pertikaian di depannya hanyalah musik latar yang menemani sarapan. Sudah biasa bagi Pandu melihat keluarganya saling gigit.Adji, yang masih berdiri kokoh di belakang kursi roda Kirana, merasakan getaran halus dari bahu istrinya. Ia tahu, meski Kirana terlihat sangat berani, wanita itu sedang menahan emosi yang meluap. Adji membungkuk sedikit, membiarkan dadanya hampir menyentuh punggung Kirana, lalu berbisik sangat rendah di dekat telinganya."Jangan mengganggu anjing yang menggongong.”Kirana tersentak. Sentuhan napas hangat Adji di kulit lehernya membuat tubuhnya meremang. Ia ingin menepis tangan besar Adji yang masih bersarang di bahunya, namun ia tahu semua mata sedang memperhatikan. Ia hanya bisa diam, membiarkan Adji memberikan perlindungan semu yang terasa begitu nyata di tengah ruangan yang dingin ini.Begitu mereka kembali
Cahaya silau membuat Kirana terjaga. Kirana tidak bergerak, tetap membelakangi sudut ruangan.Matahari mulai menembus celah gorden, menandakan pagi sudah tiba. Kirana menahan napas saat mendengar langkah kaki Adji mendekati ranjang. Ia sengaja mengatur irama napasnya seolah masih tertidur lelap, berharap pria itu keluar dan tidak mengajaknya berinteraksi."Sudah bangun? Waktunya bersiap. Pak Pandu menunggu kita," ucap Adji.Sadar aktingnya gagal, Kirana membuka mata dan langsung menatap Adji dengan raut tidak suka. "Aku tidak mau ke sana. Dan aku butuh pelayan. Panggilkan pelayan sekarang."Adji tidak beranjak. Pria itu berdiri tegak di samping ranjang dengan kemeja yang sengaja dibiarkan terbuka sepenuhnya, memperlihatkan garis-garis otot perutnya yang keras. Kirana sekilas melihat bentuk tubuh itu sebelum membuang muka dengan kesal."Tidak ada pelayan di paviliun ini untuk jam sekarang. Ayahmu memberikan privasi penuh, Kirana. Artinya, hanya ada aku di sini," kata Adji datar.Kiran






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.