Se connecterSetelah kecelakaan dan lumpuh, tunanganku kabur membawa lari seluruh uang keluarga. Aku pikir tidak ada hal yang lebih rendah daripada menjadi perempuan lumpuh yang tidak lagi berguna. Aku salah. Ayahku sendiri, menjual sisa harga diriku demi menyelamatkan saham perusahaan. Aku dipaksa menikah dengan Adji Mahesa—seorang mantan narapidana rendahan yang baru saja menghirup udara bebas. "Mungkin di luar aku memang begitu, Nona Kirana. Tapi di dalam kamar ini... aku adalah pria yang memegang kendali penuh atas dirimu."
Voir plus"Dokter!"Suara Kirana memecah keheningan lantai ICU. Ia reflek berdiri sambil terus menggenggam tangan Adji yang baru saja bergerak. Air matanya tak berhenti mengalir.Beberapa detik kemudian, dua dokter dan seorang perawat bergegas masuk."Silakan mundur sebentar, Bu."pinta perawat.Kirana menggeleng panik."Dia menggenggam tangan saya... dia benar-benar menggenggam."Dokter tersenyum menenangkan."Kami akan memeriksa kondisi beliau dulu."dengan langkah berat, Kirana mundur satu langkah. Namun tatapannya tak pernah lepas dari wajah Adji.Dokter menyinari mata Adji dengan senter kecil."Pak Adji... kalau bisa mendengar saya, coba buka mata pelan-pelan."Ruangan kembali hening.Kelopak mata Adji bergetar.Sekali.Lalu perlahan terbuka.Pandangannya masih kabur.Lampu ruang ICU terasa menyilaukan. Ia mengernyit pelan sebelum mengalihkan pandangannya ke samping.Di sana...Seorang wanita sedang menangis sambil tersenyum."Kirana..."suara Adji serak. Nyaris tak terdengar.Mendengar namanya
Malam merambat pelan.Koridor rumah sakit yang siang tadi dipenuhi langkah kaki kini berubah sunyi. Hanya terdengar bunyi mesin monitor dari setiap ruang perawatan dan langkah perawat yang sesekali melintas.Di ruang ICU. Adji terbaring tak bergerak. Selang infus terpasang di punggung tangannya. Perban putih membalut bahu kirinya yang tertembus peluru. Wajahnya tampak jauh lebih pucat daripada biasanya.Tidak ada lagi senyum hangat yang selalu menyambut Kirana. Tidak ada lagi suara lembut yang selalu memanggilnya, "Istriku."Kirana duduk di samping ranjang. Masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat di gudang. Bercak darah yang sudah mengering masih menempel di lengan bajunya.Semua orang sudah memintanya beristirahat.Pandu.Bi Ina.Mario.Bahkan dokter.Namun ia menolak.Ia sudah berjanji untuk tidak pergi kemana-mana. Bukan setelah Adji mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.Perlahan, Kirana meraih tangan Adji yang terasa sangat dingin. Berbeda dengan tangan hangat yang selalu meng
Dokter!"Suara Mario menggema di lorong Instalasi Gawat Darurat.Brankar yang membawa Adji melaju cepat menembus pintu otomatis rumah sakit. Beberapa tenaga medis segera mengelilinginya."Pasien laki-laki, usia tiga puluh dua tahun. Luka tembak di bahu kiri, kehilangan banyak darah!""Tekanan darah turun!""Siapkan ruang operasi!"Kirana hanya mampu memandang dari kursi rodanya. Tangannya masih dipenuhi noda darah Adji.Darah itu mulai mengering di sela-sela jarinya, tetapi ia sama sekali tidak berniat membersihkannya.Baginya...Darah itu menjadi pengingat bahwa Adji benar-benar mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.Pintu ruang operasi tertutup. Lampu merah di atasnya menyala. Seolah menjadi garis pemisah antara harapan dan ketakutan.Kirana menundukkan kepala. Air matanya kembali jatuh, pikirannya kalut saat ini."Non..."Bi Ina yang baru tiba langsung memeluknya dari belakang.Begitu mendengar suara wanita yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri itu, pertahanan Kirana runtuh.Ia
Gudang tua itu dipenuhi bau mesiu. Suara hujan yang menghantam atap seng bercampur dengan napas berat orang-orang di dalamnya.Moncong pistol masih mengarah tepat ke dada Adji. Sementara Adji berdiri kokoh di depan kursi roda Kirana.Meski wajahnya mulai pucat karena kehilangan banyak darah, sedikit pun ia tidak bergeser dari tempatnya berdiri."Apa kamu pikir ,kamu bisa melindunginya dengan keadaan seperti ini Adjie ? "pria paruh baya itu menyeringai. Nadanya jelas meremehkan Adjie"Aku tidak perlu berpikir untuk menyelamatkannya."suara Adji terdengar tenang namun menusuk."Aku memang akan melindunginya.""Kamu rela mati?"Adji tersenyum tipis mendengar pertanyaan bodoh itu. "Kalau itu harga agar dia tetap hidup, aku rela untuk mati."Air mata Kirana kembali mengalir. Tangannya mencengkeram ujung kemeja Adji hingga buku-buku jarinya memutih."Adjie,jangan ngomong sembarangan !"bisiknya."Aku nggak mau hidup kalau kehilangan kamu."lanjut Kirana yang membuat Adjie menoleh sedikit.Tat
"AAAHHHHHH!"Jeritan frustrasi itu lolos begitu saja dari tenggorokan Kirana, membelah keheningan paviliun tak lama setelah langkah kaki Adji menghilang di selasar. Wajah Kirana merah padam karena amarah yang memuncak. Dengan napas memburu, ia menyambar bantal di sampingnya dan melemparkannya ke ar
Suasana ruang makan itu mendadak hening setelah kalimat tajam Kirana menghantam Rendy. Pandu Pranawa hanya menyesap kopinya dengan tenang, seolah-olah pertikaian di depannya hanyalah musik latar yang menemani sarapan. Sudah biasa bagi Pandu melihat keluarganya saling gigit.Adji, yang masih berdi
Cahaya silau membuat Kirana terjaga. Kirana tidak bergerak, tetap membelakangi sudut ruangan.Matahari mulai menembus celah gorden, menandakan pagi sudah tiba. Kirana menahan napas saat mendengar langkah kaki Adji mendekati ranjang. Ia sengaja mengatur irama napasnya seolah masih tertidur lelap, be
PYAR!!!Bunyi pecahan gelas yang menghantam lantai marmer seketika menghancurkan keheningan kamar. Kirana tersentak, napasnya langsung memburu saat menyadari tubuh bagian bawahnya oleng. Dalam hitungan detik, botol air di nakas sudah terguling, menumpahkan isinya hingga membasahi seprai dan pakaia
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.