เข้าสู่ระบบSorakan kembali pecah. Namun, Tia belum selesai."Tapi, Mas, ada satu hal yang ingin saya tanyakan."Riffat mengangguk. "Tanyakan saja, Sayang?""Setelah menikah nanti, saya tetap ingin berkarier. Saya ingin menjadi advokat dan membantu orang-orang yang membutuhkan keadilan. Saya sudah memperjuangkan pendidikan ini selama empat tahun. Saya tidak ingin cita-cita itu berhenti begitu saja setelah menikah." Tia menatap Riffat lekat-lekat. "Apakah Mas setuju?"Riffat tersenyum. Ia menggenggam jemari Tia lebih erat."Tentu saja saya setuju. Menikah bukan berarti kamu harus mengubur impian-impianmu. Sejatinya menikah itu adalah kita tumbuh bersama, saling dukung demi kemajuan kita bersama pula. Pokoknya apa pun yang membuatmu bahagia, saya akan mendukungnya." Tia menatap Riffat dengan mata berkaca-kaca."Baiklah. Kalau begitu, saya menerima lamaranmu, Mas."Riffat tertawa lega. Ia kemudian mengambil cincin dari kotak beludru itu dan memasangkannya di jari manis Tia.Tepuk tangan kembali men
Empat tahun kemudian.Hari berganti hari bagai berlari. Waktu pun terus berjalan tiada henti. Hingga tanpa terasa, empat tahun telah berlalu sejak Tia pertama kali menginjakkan kaki di Universitas Bumi Nusantara sebagai mahasiswa baru. Perjalanannya sebagai mahasiswi di fakultas hukum akhirnya tiba di penghujung.Hari ini adalah hari wisudanya. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar Sarjana Hukum, gelar yang selama ini ia perjuangkan dengan sepenuh hati. Bukan untuk sekadar untuk membanggakan diri, tetapi karena ia memang bercita-cita menjadi seorang advokat.Ia ingin menggunakan ilmu yang dimiliki untuk membantu orang-orang kecil yang kerap kesulitan mendapatkan keadilan. Ia bertekad berdiri di sisi mereka yang tidak memiliki cukup uang, kekuasaan, atau keberanian untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Pagi ini, aula utama Universitas Bumi Nusantara tampak semarak. Ratusan wisudawan dan wisudawati telah memenuhi ruangan dengan mengenakan toga hitam lengkap dengan atrib
Pagi ini langit masih berwarna biru gelap dan matahari belum menampakkan wajahnya. Namunhalaman kampus sudah dipenuhi ratusan mahasiswa baru. Suara peluit, teriakan panitia, dan derap langkah kaki bercampur menjadi satu, menciptakan suasana riuh yang membuat siapa pun ikut semangat.Tia termasuk salah satu mahasiswa baru yang berdiri di antara kerumunan itu.Peluit panjang terdengar."Seluruh mahasiswa baru, segera berbaris sesuai kelompok! Jangan ada yang salah masuk kelompok!"Tia memindai tulisan di dadanya. Kelompok empat. Ia segera berdiri di kelompoknya.Kegiatan dimulai dengan apel pagi. Mahasiswa baru diminta berdiri tegak, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengikuti pembacaan janji mahasiswa, dan mendengarkan sambutan dari pihak kampus. Setelah itu, mereka dibagi menjadi beberapa kelompok lagi untuk mengikuti rangkaian kegiatan pengenalan lingkungan kampus.Mereka diajak berkeliling mengenali gedung perkuliahan, perpustakaan, laboratorium, ruang administrasi, hingga fasilitas
Tia memandangi pantulan dirinya di cermin dengan wajah semringah. Sesekali ia memiringkan kepala ke kanan dan kiri, mengamati penampilannya yang benar-benar mirip ondel-ondel.Setelah hampir setahun absen dari bangku kuliah karena berbagai persoalan hidup yang bertubi-tubi, akhirnya tahun ini ia bisa kembali melanjutkan pendidikannya. Dan pagi ini, ia akan mengikuti OSPEK alias orientasi mahasiswa baru.Rambutnya dikuncir menjadi dua belas bagian, masing-masing diikat dengan pita warna-warni. Lehernya dikalungi papan nama dari kardus yang digantung menggunakan tali rafia. Di atasnya tertulis nama yang membuatnya ingin tertawa setiap kali membacanya.Upik Babu. Alias plesetan dari Upik Abu.Pintu kamar terbuka. Bu Ambar masuk sambil membawa pakaian yang sudah disetrika. Namun, begitu melihat penampilan Tia, perempuan itu langsung berhenti melangkah."Astaga, Non! Kenapa dandanan Non Tia jadi begini?"Tia menoleh, lalu tertawa lepas melihat ekspresi terkejut ART kesayangannya itu."Kena
Riffat tidak menjawab. Ia terus mengemudikan mobilnya.Tia mengerutkan kening. Beberapa detik kemudian, matanya menangkap deretan bangunan yang terasa begitu akrab. Jantungnya mendadak berdebar ketika menyadari ke mana arah mobil itu menuju."Mas …. " Suaranya tercekat."Bukannya ini jalan menuju rumah saya yang dulu?"Riffat tetap diam.Tia kembali menatap ke luar jendela. Benar saja. Tak lama kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah besar yang pernah menjadi tempatnya tinggal bersama almarhum ayahnya, Pak Aminuddin.Rumah yang sudah lama ia tinggalkan. Rumah yang akhirnya disita Riffat sebagai jaminan atas utang ayahnya.Tia menatap bangunan itu dengan dada sesak. Ia bahkan tidak berani bertanya lebih jauh ketika Riffat membelokkan mobil memasuki halaman. Pintu pagar yang biasanya tertutup rapat ternyata sudah terbuka.Dan saat mobil berhenti, seseorang muncul dari balik pintu gerbang.Tia membeku."Bu Ambar!"Perempuan paruh baya itu adalah Bu Ambar, mantan asisten rum
Palu hakim baru saja diketuk. Suaranya menggema di ruang sidang yang perlahan mulai lengang.Tia mengembuskan napas panjang. Sidang terakhir Bu Rini akhirnya selesai. Perempuan yang baru beberapa waktu lalu diketahuinya sebagai ibu kandungnya itu dijatuhi hukuman empat tahun penjara karena menembak suaminya sendiri, Pak Husein.Hukuman itu lebih ringan daripada tuntutan jaksa yang sebelumnya yaitu tujuh tahun penjara.Di samping Tia, Azzam mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sejak awal persidangan, ia sangat tegang. Baru setelah mendengar putusan hakim, bahunya sedikit mengendur."Syukurlah," gumamnya. "Setidaknya, hukuman Ibu lebih ringan dari tuntutan jaksa."Tia mengangguk pelan. Walau tidak banyak bicara ia juga sangat lega Bu Rini tidak di penjara terlalu lama. "Kita tunggu Ibu di sana yuk?" Azzam menunjuk lorong pengadilan."Nanti Ibu pasti lewat sini." Azzam lebih dulu berjalan. Tia mengekor dari belakang.Banyaknya pewarta dan petugas yang berlalu lalang membuat m







