FAZER LOGINRiffat tidak menjawab. Ia terus mengemudikan mobilnya.Tia mengerutkan kening. Beberapa detik kemudian, matanya menangkap deretan bangunan yang terasa begitu akrab. Jantungnya mendadak berdebar ketika menyadari ke mana arah mobil itu menuju."Mas …. " Suaranya tercekat."Bukannya ini jalan menuju rumah saya yang dulu?"Riffat tetap diam.Tia kembali menatap ke luar jendela. Benar saja. Tak lama kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah besar yang pernah menjadi tempatnya tinggal bersama almarhum ayahnya, Pak Aminuddin.Rumah yang sudah lama ia tinggalkan. Rumah yang akhirnya disita Riffat sebagai jaminan atas utang ayahnya.Tia menatap bangunan itu dengan dada sesak. Ia bahkan tidak berani bertanya lebih jauh ketika Riffat membelokkan mobil memasuki halaman. Pintu pagar yang biasanya tertutup rapat ternyata sudah terbuka.Dan saat mobil berhenti, seseorang muncul dari balik pintu gerbang.Tia membeku."Bu Ambar!"Perempuan paruh baya itu adalah Bu Ambar, mantan asisten rum
Palu hakim baru saja diketuk. Suaranya menggema di ruang sidang yang perlahan mulai lengang.Tia mengembuskan napas panjang. Sidang terakhir Bu Rini akhirnya selesai. Perempuan yang baru beberapa waktu lalu diketahuinya sebagai ibu kandungnya itu dijatuhi hukuman empat tahun penjara karena menembak suaminya sendiri, Pak Husein.Hukuman itu lebih ringan daripada tuntutan jaksa yang sebelumnya yaitu tujuh tahun penjara.Di samping Tia, Azzam mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sejak awal persidangan, ia sangat tegang. Baru setelah mendengar putusan hakim, bahunya sedikit mengendur."Syukurlah," gumamnya. "Setidaknya, hukuman Ibu lebih ringan dari tuntutan jaksa."Tia mengangguk pelan. Walau tidak banyak bicara ia juga sangat lega Bu Rini tidak di penjara terlalu lama. "Kita tunggu Ibu di sana yuk?" Azzam menunjuk lorong pengadilan."Nanti Ibu pasti lewat sini." Azzam lebih dulu berjalan. Tia mengekor dari belakang.Banyaknya pewarta dan petugas yang berlalu lalang membuat m
Malam mulai turun ketika kedua jenazah akhirnya diserahkan kepada keluarga.Hujan gerimis kembali membasahi halaman rumah sakit. Di bawah cahaya lampu yang pucat, petugas membawa kedua brankar menuju ambulans yang sudah menunggu.Tia berdiri di dekat kendaraan, menggenggam tangan Rima.Ketika jenazah Pak Khalid dimasukkan ke dalam ambulans, air mata Tia menetes. Ia baru saja mengenal ayahnya, dan kini harus kehilangannya dalam sekejab mata. Ada rasa bersalah melingkupinya. Karena Pak Khalid tewas demi melindunginya. Sementara ibu kandungnya yang juga baru ia ketahui, harus menjalani proses hukum. Juga karena ingin melindunginya. Keduanya rela berkorban untuknya.Tia menoleh ke samping. Ia melihat tangan Riffat terkepal erat. Walau tidak mengatakan apa pun, Tia tahu, hati Riffat tengah bergolak. Riffat terus menatap pintu ambulans yang perlahan ditutup.Ia tidak menangis keras seperti tadi. Namun, kesedihan yang tertahan di wajahnya jauh lebih dalam daripada yang sanggup ia ungkapkan.
Gerimis belum juga berhenti ketika dua ambulans meninggalkan kediaman Pak Khalid.Di dalam ambulans pertama, jenazah Pak Khalid terbaring di atas brankar dengan tubuh tertutup kantong jenazah. Ambulans kedua membawa jenazah Bu Astri. Kendaraan polisi mengawal keduanya, sementara beberapa mobil milik orang-orang kepercayaan Pak Khalid mengikuti dari belakang.Tidak ada sirene yang meraung sepanjang perjalanan. Hanya lampu rotator yang sesekali memantul pada jalanan basah.Beberapa tetangga tampak mengintip dari balik tirai jendela. Ada yang berbisik-bisik di teras, mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi. Di dalam salah satu mobil pengawal, Tia duduk membisu di samping Rima. Gadis kecil itu terus menggenggam tangan kakaknya. Tragedi beruntun dalam sehari menggentarkannya. Riffat duduk di depan mereka. Lengannya masih dibalut perban dengan sejumlah luka terbuka. Namun ia tidak memedulikan rasa sakit itu. Pandangannya tertuju pada ambulans yang melaju di depan.Pak Khalid telah men
Suara tembakan mengguncang seluruh ruangan. Tubuh ibunya tersentak. Ia terpental dan jatuh ke lantai dapur."Ibu!"Teriak Tia dan Rima bersamaan.Tia berlari menghampiri ibunya, sementara Rima menyusul dari balik lemari. Tangis keduanya pecah seketika.Di saat yang sama, beberapa bentakan terdengar dari berbagai arah. "Jatuhkan senjata kalian!"Pintu-pintu yang sebelumnya dikuasai anak buah Pak Hidayat mendadak dipenuhi orang-orang bersenjata milik Pak Khalid. Alex, Charles, Togar, Pak Martin, dan sejumlah anak buah kepercayaan Pak Khalid muncul secara bersamaan.Mereka rupanya telah kembali dan menunggu kesempatan untuk bergerak.Perkelahian tak terhindarkan. Dalam waktu singkat, anak buah Pak Hidayat dilumpuhkan satu per satu. Alex dan Togar menjatuhkan beberapa lelaki bersenjata di dekat pintu, sementara Charles bersama anak buah lainnya mengamankan Pak Hidayat.Pistol terlepas dari tangan lelaki tua itu. Ia didorong hingga berlutut dan kedua tangannya diborgol.Namun, Riffat tid
Teriakan Riffat menggema di ruang makan, mengoyak ketegangan yang menyelimuti ruangan setelah Pak Khalid ditembak.Pak Hidayat yang semula masih mengarahkan pistolnya ke arah Tia sontak menoleh."Apa kamu bilang?" bentaknya keras."Saya bilang, sayalah yang membunuh Jaka lima belas tahun yang lalu, bukan Pak Khalid."Riffat berdiri tegak meskipun sorot matanya menyimpan luka yang selama ini ia pendam sendirian.Keheningan seketika menyergap ruangan.Tia yang masih berlutut di dekat tubuh Pak Khalid menoleh dengan mata membelalak. Sementara Pak Hidayat menatap Riffat seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil."Ulangi kata-katamu." Suara Pak Hidayat bergetar."Sayalah yang menembak Jaka." Riffat mengulangi kalimatnya lamat-lamat."Bohong!"Pak Hidayat mengacungkan pistolnya ke arah Riffat."Kamu sengaja mengarang cerita demi melindungi ayah angkatmu. Teman Jaka bilang si Rahmatlah yang menembak Jaka!""Dia dipaksa berbohong. Dengarkan cerita saya sampai selesai. Setelah itu, Anda







