เข้าสู่ระบบSeperti biasa, sepulang dari bekerja, Tia mampir ke pasar tradisional. Dan seperti biasa pula, kios telur Bu Rini menjadi tujuan terakhirnya."Eh, Tia!" Bu Rini langsung menyambutnya dengan senyum lebar. "Seperti biasa? Dua kilo?"Tia menggeleng"Hari ini tiga kilo, Bu."Bu Rini segera mengambil timbangan. Sambil menunggu, Tia memperhatikan Pak Husin yang sedang sibuk mengangkat beberapa peti telur ke belakang kios.Entah kenapa, pertanyaan yang beberapa hari ini mengganjal di kepalanya kembali muncul."Bu, saya boleh tanya sesuatu?""Tanya aja, Ti," kata Bu Rini sambil memasukkan telur ke kantongan."Kenapa profesi Pak Husin dan Dokter Agnes jauh banget, ya? Padahal mereka saudara kandung." Tia sangat penasaran. Namun ia segera sadar kalau pertanyaannya tidak sopan. "Maaf, saya tidak bermaksud merendahkan." Tia buru-buru meminta maaf.Bu Rini tersenyum kecil."Tidak usah meminta maaf. Bukan cuma kamu yang penasaran. Banyak juga orang-orang di pasar ini yang bertanya demikian," imbu
Begitu shift-nya selesai, Tia segera menuju ruang ganti. Saat masih bekerja tadi Mbak Christine memang memintanya datang ke ruangannya setelah shift berakhir. Katanya, ada sesuatu yang ingin dibicarakan.Setelah mengganti seragam dengan pakaian biasa, Tia segera menuju ruangan atasannya itu.Selain penasaran dengan urusan pekerjaan, ada satu hal yang sejak tadi mengganjal pikirannya.Ia ingin menanyakan siapa sebenarnya yang memberinya libur selama tiga hari. Karena ternyata bukan Pak Khalid lah orangnya.Tia mengetuk pintu."Masuk."Tia melebarkan pintu dan melihat Mbak Christine sedang duduk di belakang meja."Duduk, Tia.""Baik, Mbak."Tia duduk di kursi di hadapan atasannya.Mbak Christine membuka sebuah berkas."Ada kabar baik untukmu. Mulai hari ini selain berstatus sebagai waitress F&B kamu juga dipromosikan ke tim banquet exclusive. Bukan tim banquet yang regular biasa."Pak khalid ternyata menepati janji. Bahwa ia akan dipromosikan."Jadi apabila hotel membutuhkan tambahan te
"Rasakan akibatnya kalau Pak Khalid nanti ngamuk karena rasa jusnya berubah," gumamnya sinis.Tatapannya mengikuti punggung Tia yang semakin menjauh. "Nggak salah kamu membiarkan Tia yang membuat jus, Vi?" Elly staf bagian pantry minuman lainnya bertanya pada Vira."Ntar kalau rasanya nggak enak gimana? Bisa ngamuk Pak Khalid," tukas Elly cemas."Ya kita tinggal bilang kalau jus itu buatan Tia lah," jawab Vira santai. "Gila kamu, Vi. Membuat jus itu job desk kamu. Bukan tugas Tia." Elly menggeleng-gelengkan kepala.Vira tidak mempedulikan ucapan Elly. Ia menyilangkan kedua tangan di dada. Ia malah berharap kalau Tia, si anak emas itu mendapat masalah. Dirinya dan semua staf di Restoran Kenanga ini sebenarnya cemburu pada Tia.Mereka semua sudah bekerja rata-rata tiga sampai lima tahun di restoran ini. Namun status mereka tetap hanya karyawan outsourcing.Sementara Tia yang baru sebulan masuk, sudah menjadi pekerja tetap.Membayangkan Tia dimarahi langsung oleh Pak Khalid membuat sud
Setelah tiga hari libur, pagi ini Tia kembali bekerja. Suasananya masih sama. Rekan-rekan kerjanya masih kerap berbisik-bisik setiap kali ia lewat. Mirip seperti saat Pak Khalid memecat Bu Amel tiga hari lalu. Bedanya, kali ini mereka tidak berani menyindir atau mengonfrontasinya secara terang-terangan. Mereka hanya melirik sekilas, lalu buru-buru mengalihkan pandangan ketika ia menoleh.Tia sadar kalau rekan-rekannya terus bergosip di belakang punggungnya. Namun ia memilih pura-pura tidak tahu. Ia tidak bisa mengontrol mulut orang lain. Namun ia bisa menulikan telinganya. Ia memilih mengabaikan gosip-gosip yang tidak penting.Tepat pukul dua belas siang, Restoran Kenanga mulai dipenuhi pengunjung yang ingin makan siang. Sebagian besar pengunjung adalah para eksekutif muda dan pelancong yang menginap di Hotel Mulia.Suasana berubah sibuk. Piring-piring berdenting, aroma masakan memenuhi ruangan, sementara para waiter dan waitress hilir mudik membawa pesanan.Di tengah kesibukan itu,
"Lho, tumben kamu belanja siang begini, Ti?" sapa Bu Rini ramah. "Eh, kamu bawa siapa ini?" Bu Rini membungkuk hingga ia bisa sejajar dengan Rima." "Iya, Bu. Kebetulan saya sedang libur. Ini Rima adik saya." Tia memperkenalkan Rima."Selamat sore, Bu Rini. Saya Rima, Arima Rahmadsyah. Senang berkenalan Bu Rini. Penjual yang paling cantik se-pasar."Bu Rini langsung tertawa lebar. "Astaga, adikmu ini lucu dan ceria sekali." Bu Rini menjawil gemas hidung bangir Rima. "Berbeda denganmu yang lebih tenang dan pemalu." Tia tersenyum kecil. "Beginilah Rima, Bu. Mulutnya memang manis. Kalah gula.""Nggak apa-apa. Ibu senang kok mendengarnya. Perempuan mana yang tidak suka dipuji cantik walaupun sebenarnya bohong. Makanya banyak perempuan yang tertipu oleh rayuan gombal laki-laki." Bu Rini tertawa kecil. Tia ikut tersenyum. Ucapan Rima sebenarnya tidak berlebihan. Di usianya yang mungkin baru memasuki awal empat puluhan, Bu Rini memang masih sangat cantik. Kulitnya bersih, senyumnya hang
Saat Tia hendak membelokkan mobil ke area lobi hotel, suara Pak Khalid kembali terdengar, kali ini sedikit lebih jelas."Bukan... ke sana."Tia segera mengurangi kecepatan."Maaf, Pak?""Masuk... apartemen."Tia mengangguk."Baik."Tia melewati pintu masuk hotel dan tetap melaju lurus beberapa meter sebelum berbelok ke kiri, menuju area parkir apartemen yang masih berada dalam satu kompleks.Hotel dan apartemen memang terhubung dalam satu kawasan eksklusif.Begitu mobil berhenti, Tia turun lebih dulu. Ia berlari memutari kap mobil, lalu membuka pintu penumpang."Pelan-pelan ya, Pak."Pak Khalid mencoba berdiri, namun lututnya goyah. Refleks Tia menopang lengan pria itu."Terima kasih..." gumam Pak Khalid nyaris tak terdengar.Dengan langkah tertatih, mereka berjalan menuju lobi apartemen.Di depan lift, Pak Khalid merogoh saku jasnya dengan tangan gemetar. Beberapa kali gagal sebelum akhirnya berhasil mengeluarkan sebuah kartu akses berwarna hitam."Ini..."Tia mengambil kartu itu den







