MasukApós a misteriosa morte de seus pais, Elena Evans se muda para Brașov, uma cidade envolta em segredos e perigos. Desesperada e sem dinheiro para sobreviver, ela aceita um casamento contratual com Mason Blake, um Alfa poderoso e CEO arrogante. O que começa como um acordo frio e calculado rapidamente se transforma em uma teia de sentimentos confusos, segredos sombrios e uma conexão sobrenatural que ela não entende. Enquanto tenta desvendar o motivo real por trás do contrato, Elena descobre que Mason é um lobisomem e que sua própria linhagem guarda poderes ancestrais que atraem inimigos mortais. Quando foge ao descobrir que está grávida, ela se depara com revelações devastadoras sobre sua família, seu passado e sua ligação com a profecia que pode salvar ou destruir o mundo dos lobos. Com um filho híbrido que todos desejam e um coração dividido entre o amor e a desconfiança, Elena precisa enfrentar forças sombrias, uma rival inesperada e seu destino como herdeira de um poder lendário. Em um mundo onde paixão e traição andam lado a lado, ela terá que lutar por sua liberdade, sua família e seu futuro.
Lihat lebih banyakTanganku bergetar saat memegang sebuah undangan pernikahan. Di sana tertulis sangat jelas ada nama suamiku. Mana mungkin ada orang yang berbeda dengan nama belakang sama.
“Mila & Aldi Sanjaya." Aku baca ulang nama itu. Bagai dihantam batu besar, sesak dada ini seakan tak bisa bernafas.
Selama ini Mila -- sahabatku -- tidak pernah mengenalkan kekasihnya. Walaupun hubungan kami sangat dekat. Aku mencoba berpikir positif mungkin saja bukan suamiku Semoga saja apa yang ada dalam pikiranku tidak benar."Yu, Ibu minta duit dua puluh juta!" sentak Ibu mertua yang menyadarkanku dari lamunan.Apa? Ibu meminta uang lagi? Bukannya kemarin mas Aldi sudah memberinya dengan jumlah yang sama? Lalu, untuk apa sekarang meminta lagi."Buat apa, Bu? Ayu tidak punya uang sebanyak itu," jawabku dengan lembut, padahal hati ini sangat dongkol ingin sekali berteriak padanya. Namun, aku mencoba sabar dan mengelus dada kalau saja bukan orang tua, akan ku jambak rambut sanggulnya yang sudah ditata rapi itu. Setiap bulan mas Aldi selalu memberinya dua puluh juta hanya untuk kebutuhan dirinya. Akan tetapi, baru sehari beliau meminta lagi. Akhir-akhir ini aku merasa aneh dengan sikap mas Aldi juga Ibu. Entah apa yang mereka sembunyikan. Setiap kali ditanya selalu ada alasannya. Mas Aldi sibuk dengan proyek baru, sehingga dia tidak betah di rumah. Begitupun dengan Ibu dua minggu terakhir jarang di rumah. Katanya, ada saudara sedang mempersiapkan pesta pernikahan. Aku terlalu pusing untuk memikirkan semuanya."Ya, buat kebutuhan, Yu. Bukannya Ibu sudah bilang kalau saudara kita mengadakan pernikahan? Jadi, kita harus menyumbang banyak. Kita kan orang kaya masa enggak kasih duit, sih. Cepatlah berikan! Ibu sudah telepon Aldi katanya minta sama kamu." Mertuaku mengibaskan kipas tangan di wajahnya. Beliau menatapku tajam seakan ingin memakan saja.Astaghfirullah
Sebetulnya uang tabunganku tinggal sedikit, semenjak perusahaan dipegang mas Aldi aku jarang menyimpan uang. Suamiku berkata, buat apa menyimpan uang, lebih baik pakai investasi. Aku menghela nafas kasar rasanya malas untuk berdebat apalagi beliau lebih tua dariku. Aku pun ke kamar mengambilnya."Ya sudah, jangan keluar rumah nanti suami pulang kamu enggak ada," ketusnya saat aku memberikan uang.
"Tapi, Bu! Aku mau ke undangan sahabat ...."Belum sempat menyelesaikan kalimatku, beliau sudah pergi dengan tergesa-gesa. Memangnya mau ke mana? Selama ini Ibu jarang keluar rumah apalagi kumpul-kumpul dengan temannya. Hari ini beliau terlihat aneh, tetapi aku tidak boleh buruk sangka. Mungkin beliau ingin jalan-jalan dan memanjakan dirinya.
Tiba-tiba ponselku berdering memperlihatkan nama suamiku."Halo, Mas," jawabku dengan tersenyum karena sudah dua hari tidak berkomunikasi dengannya."Aku tidak pulang selama seminggu proyek di sini mengalami masalah. Kamu baik-baik di rumah ya, Sayang?" ujarnya dengan lembut.Seketika wajahku muram dan hanya bisa menghela nafas panjang. "Hanya itu saja? Apa kamu tidak kangen sama aku?"Mas Aldi tidak menjawab, melainkan mematikan sambungan telepon. Aku pun melihat penampilan dari atas sampai bawah. Apa aku sudah tidak menarik lagi sehingga suamiku tidak rindu. Aku tersenyum kecut, saat mengingat suamiku pulang ke rumah dan tidak mau menyentuhku. Bahkan, dia pergi lagi ke luar kota untuk memeriksa proyek.
Aku melihat jam yang ada di dinding menunjukan pukul 08.35 sebentar lagi acara pernikahannya akan dimulai. Gegas aku membersihkan diri, setelah itu memoles dengan sedikit bedak tipis.
[Mas, aku mau pergi ke undangan sahabatku]Pesanku masih centang satu, padahal baru saja kami berkomunikasi kenapa tidak aktif. Apa masalahnya terlalu berat? Sehingga tidak mau diganggu? Aku masih mencoba berpikir positif, mudahan masalahnya cepat selesai. Sekitar sepuluh menit aku sudah sampai di gedung. Tempatnya sangat mewah walupun mendominasi putih. Bunga anggrek, mawar putih menghiasi seluruh sudut ruangan. Hatiku melengos saat mengingat pernikahanku dengan mas Aldi yang sederhana.Dulu, Papa memintanya untuk segera menikahi ku di rumah sakit. Karena ternyata umur Papa tidak akan lama, beliau mempunyai penyakit jantung. Dan akhirnya, kami menikah. Setelah lima menit, Papa meninggalkanku selamanya.
“Mila hebat ya bisa menikah dengan pengusaha kaya,” bisik tamu undangan disebelah kiri.
“Heh. Apa kamu tidak tahu kalau si Mila itu terkenal sebagai pelakor. Aku yakin, pria yang menikahinya saat ini memiliki istri.” Wanita dengan rambut sebahu menimpali.
Hatiku langsung nyeri mendengar percakapan dua wanita tadi. Apa mungkin itu benar suamiku?
Di sana sudah ada penghulu juga para saksi. Namun, sayang sekali aku tak dapat melihat wajah calon pria karena duduk membelakangi ku. Saat penghulu mengucapkan ijab kabul, terdengar jelas di telinga suara calon pria tengah menyebut nama Mila--sahabatku.
"Suaranya mirip mas Aldi? Apa ini juga sebuah kebetulan?" tanyaku pada diri sendiri. Aku pun berjalan mendekat tiba-tiba degup jantungku seakan berhenti, melihat pria yang bersanding dengan sahabatku adalah pria yang menelpon tadi. Dia mas Aldi, pantas saja nama dan suaranya tidak asing di telinga.Bagai dihantam baru besar dada ini terasa sesak, bahkan sulit untuk bernafas. Ternyata ini alasannya mengapa suamiku selalu ke luar kota dan jarang pulang."Tega kamu, Mas."Air mataku lolos begitu saja bahu ikut bergetar, tak kuhiraukan orang-orang memperhatikan seperti ini. Rasanya ingin kubanting dua manusia yang tengah berbahagia di atas penderitaanku.
Mataku menyapu sekeliling dan berhenti di samping suamiku ah rasanya jijik aku mengucapkannya. Wanita paruh baya tengah menghamburkan uang lembaran biru kepada para tamu undangan. Sial, mungkin itu uang yang aku kasih tadi. Wajahnya yang sudah keriput tidak ada rasa sesal sama sekali. Uang itu berterbangan di udara, bahkan pecahan lima puluh ribu mengenai wajahku. Mereka tidak menyadari keberadaanku karena tengah asik dengan acara bahagianya."Bu, sawer sini!?" teriak para tamu undangan dengan riuh. Tak terasa tanganku terkepal dengan kuat di kedua sisi tubuh.Tak tahan dengan kelakuan wanita paruh baya itu, dengan mudahnya membuang uang. Aku pergi dan duduk di sudut ruangan, rasanya ingin melabrak pelakor itu berikut mas Aldi pun Ibu. Mereka bertiga telah menipuku, tetapi aku masih sadar tidak akan kukotori tangan ini dengan menyentuhnya.Ting
Suara notifikasi dari aplikasi hijau mengalihkan perhatianku.
Keningku menyerngit. Di sana sangat jelas laporan keuangan yang janggal. Grafik penjualan sangat meningkat,, tetapi pemasukan malah merosot tajam.
“Siapa yang berani membuat kecurangan di perusahaan ku?” Aku mengepalkan tangan apa ini perbuatan suamiku selama ini mas Aldi sudah bermain-main denganku bukan hanya menipuku dia juga memanipulasi data keuangan. Kalau benar itu perbuatannya. Akan kubalas semuanya, sekarang diriku bukan Ayu yang lemah yang hanya bisa kalian manfaatkan begitu saja.
“Aku tak akan membiarkan kalian bahagia.”
Uang telah menggelapkan mata hatinya. Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kalian. Aku menarik nafas menetralkan degup jantungku yang tidak beraturan Tidak ada air mata yang menemaniku hanya kebencian dan amarah. Bagaimanapun caranya akan kubuat kalian menyesal, terutama kamu, mas?
Dois anos depois.Hoje era meu aniversário. Eu nunca imaginei que um contrato me renderia as melhores coisas da vida.Era dificil assimilar que eu tinha o homem que eu amava, dois filhos lindos e saudaveis e uma vida sem guerras, sem inimigos loucos atrás de nós. Eu sabia que tinha um proposito entre mim e Mason.Soube disso desde o dia em que o conheci no beco daquela casa. Soube disso desde o primeiro beijo. E por mais que tivessemos uma relação de amor e ódio, o amor ganhou.O amor sempre ganha.Não importava o quanto Magnus, ou Evangeline,ou seja lá quem fosse tivesse tentado estragar tudo isso. Eu o amava, e era reciproco."Mamã." Melissa puxou a barra do meu vestido." "Oi, meu amor," respondi, olhando para ela enquanto ela olhava para mim com seus olhos grandes e curiosos, o sorriso inocente iluminando seu rosto. "O que foi, querida?""Eu quero sorvete!" ela disse, fazendo um pulo de empolgação.Sorri, acariciando o topo da sua cabeça. "Só um minuto, vamos terminar nossa caminh
Mason BlakeSinto o cheiro de bolo vindo da cozinha. Elena estava aprontando algo.Era tão confortável estar aqui, com ela, felizes e juntos.Entro na cozinha e seguro a sua cintura enquanto ela ajusta a batedeira."Ai que susto." ela sussurra.""Calma querida, não sou o lobo mal. Somente se você quiser, é claro."Ela sorri e passa a mão no avental. "Estou fazendo um bolo de chocolate, seu preferido.""Onde estão as crianças?"pergunto.""Dormindo."Me aproximei mais, a puxando para mais perto, e ela cedeu com um sorriso. Eu acariciei seus cabelos, sentindo a suavidade dos fios contra meus dedos. Cada gesto dela, cada pequeno detalhe, só reforçava o quanto eu a amava.“Eu amo quando você faz essas coisas.” Disse, a voz carregada de gratidão. “Esses momentos são os que mais me importam.”Ela se virou para mim, os olhos brilhando com algo entre alegria e amor. “Você também me faz sentir que tudo tem um propósito, Mason. É por isso que eu faço, por nós.”Ela tomou um gole de seu café, co
Elena Evans Alguns meses se passaram depois que recebi alta do hospital. Benjamin já estava com quatro meses de vida, e a nossa convivência aqui no Colorado era ótima.A babá estava cuidando deles enquanto eu e Mason íamos até o território da matilha. Ele havia se estabelecido muito bem aqui, e aceitamos o acordo com Josh. Eu sabia que a família do Alfa Josh tinha prestígio, e seu filho era um pequeno lobo, um amor. Melissa cresceria ao seu lado, e eles se apaixonariam, pelo menos era como eu imaginava. Eu estava concordando com isso por proteção.Assim que ela fizesse dezoito anos, casaria com seu futuro companheiro.Após verificar como estavam as coisas na reserva, fui até a editora. Eu havia publicado o meu livro, o livro que agora fazia bastante sucesso. Contava a nossa história, com personagens subjetivos é claro. O livro tinha sido um sucesso além das minhas expectativas. Eu nunca imaginaria que, ao compartilhar nossa jornada, eu conseguiria tocar tantas pessoas. É claro qu
Elena Evans Meus olhos se fecharam enquanto eu sentia cada contração mais forte que a outra. Eu tentava segurar,mas a dor era muito forte."Calma Elena, estamos chegando ao hospital."Eu sabia que o plantão hoje estava reduzido por ser natal. Nosso filho era teimoso, deixou para nascer logo no dia de ação de graças.Eu e Mason estávamos tentando decidir pelo nome. Não sabíamos ao certo qual nome daríamos ainda. E agora, realmente não teríamos tempo.A dor se intensificou de novo, fazendo meu corpo se encolher contra o banco do carro. Eu apertava a mão de Mason com força, minha respiração vindo em ofegos. Cada contração parecia querer me esmagar, uma pressão insuportável que fazia meu corpo tremer. Eu queria gritar, mas me concentrava em respirar, em tentar não perder o controle.Mason estava ao meu lado, sua voz suave e firme, mas com a tensão evidente em cada palavra. "Estamos quase lá, Elena. Aguenta só um pouco mais."Eu fechei os olhos, tentando bloquear a dor, mas a sensação era












Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.
Ulasan-ulasanLebih banyak