LOGINNatash·Yael's teenage years were marked by academic neglect and a wasted life, primarily due to her mother's passing and her stepmother's jealousy. She even resorted to smoking and pretending to be tough at bars. However, the turning point in Natash·Yael's life came when she encountered Jaclyn·Dills by chance. Jaclyn·Dills' words of wisdom awakened her and inspired her to return to school. As time went on, Jaclyn·Dills was set up for an arranged marriage by her father, and Natash·Yael's father introduced her to Jaclyn·Dills in an attempt to gain favor with Jaclyn·Dills' social circle. However, this blind date led to an unexpected outcome because Jaclyn·Dills was deeply drawn to Natash·Yael. This set the stage for a love story filled with misunderstandings and turmoil. Natash·Yael mistakenly believed that Jaclyn·Dills didn't love her and continued her reckless lifestyle, eventually leading to her pregnancy. In turn, Jaclyn·Dills became cold and volatile due to these misunderstandings. A series of misunderstandings and conflicts eventually led to their separation, with Natash·Yael leaving with her child. However, once Jaclyn·Dills realized the truth of the situation, he was determined to win her back. But the story is far from over, as Jaclyn·Dills' business trip triggers a new round of misunderstandings, making this tumultuous love story even more intricate. Now, he is determined to reunite with his beloved at any cost.
View More“Ahh... kamu gak boleh lakuin ini, Radit…”
Aku menatapnya tanpa ekspresi. Pakaiannya sudah acak-acakan, dada besarnya telah sepenuhnya terekspos, bergoyang pelan mengikuti napasnya yang memburu. Roknya tersingkap tinggi hingga ke pangkal paha, membuat celana dalamnya yang basah oleh rembesan cairan terlihat jelas.
Pemandangan yang sangat indah di ranjangku malam ini. Tubuh matang itu benar-benar menantang insting liarku.
“Tapi, aku gak bisa nahan lagi,” kataku datar, suara beratku terdengar dingin saat tangan mulai menurunkan resleting celana.
Tante Sarah berusaha menutupi tubuhnya dengan tangan, meskipun rasanya sia-sia. Bagian atasnya yang mengeras di balik jemarinya itu justru makin membakar gairahku.
“Radit … jangan …”
Aku tak mendengar ucapannya. Perlahan aku maju, mengulurkan tanganku untuk menyentuhnya.
Telapak tanganku meraba paha dalamnya yang panas. Bagian itu telah sepenuhnya lembap dan basah, sehingga langsung menarik jariku masuk begitu saja ke dalam kehangatan yang menjepit ketat.
Sementara tanganku yang lain mengeluarkan milikku yang sejak tadi meronta, tegang maksimal dan ingin segera bebas dari sangkarnya.
“Hngghh … Radit, berhenti …”
Aku tersenyum puas melihat wajahnya yang memerah antara malu dan nikmat.
Tiga tahun lalu, aku kembali ke rumah pamanku di Jakarta. Dia saudara kembar ayah kandungku. Meski statusnya hanya paman, sejak kecil aku selalu memanggilnya papa.
Setelah ayah dan ibuku bercerai saat aku berusia 10 tahun, aku tinggal di Malang bersama ibu dan suami barunya. Hubunganku dengan keluarga ayah makin jauh, apalagi setelah ayah kandungku meninggal karena sakit.
Sejak itu, hanya papa yang sesekali menanyakan kabarku. Tidak dekat, tapi cukup membuatku merasa masih punya keluarga di sana.
Beberapa kali dia menawariku tinggal bersamanya, dan dulu aku selalu menolak. Sampai akhirnya aku tidak tahan lagi dengan penindasan di sekolah yang membuat gangguan kecemasanku makin parah. Aku pun memutuskan pindah ke Jakarta dan tinggal di rumahnya.
Tinggal bersamanya sebenarnya bukan pilihan yang sangat ideal.
Papa bukan orang yang hangat atau perhatian. Dia jarang bertanya kabarku dan lebih sering membiarkanku mengurus diri sendiri, selama aku tidak merepotkan. Kadang aku merasa keberadaanku hanya penting saat dia butuh bantuan.
Tapi dibanding kembali ke Malang dan bertemu orang-orang yang sama, aku tahu aku tidak akan pernah benar-benar pulih. Di Jakarta, setidaknya aku bisa mulai dari nol.
Lingkungan baru memberiku kesempatan untuk belajar lebih berani dan pelan-pelan mengatasi gangguan kecemasanku.
“Radit, habis ini ada tamu, calon mama baru buatmu. Kamu jangan pergi keluar, ya,” kata papaku yang sedang berdiri di depan pintu kamarku.
Aku menatap papaku sejenak, lalu menggelengkan kepala pelan. “Oke, Pa.”
Papaku memang sudah berusia 47 tahun, tapi posturnya masih terlihat gagah dan kuat. Sejak pernikahan terakhirnya dulu yang juga kandas, dia memang belum menikah lagi. Hidupnya fokus pada usaha desain bangunan yang dia rintis sendiri.
Aku bukan anak kandungnya dan dia juga tidak memperlakukanku seperti anak sendiri sepenuhnya. Lebih seperti tanggung jawab tambahan … atau kadang terasa seperti alat yang bisa dipakai sewaktu-waktu. Disuruh antar dokumen, diminta jaga rumah, atau sekadar jadi “pajangan sopan” saat ada tamu penting.
Kadang dia menyuruh ini itu, mengingatkan hal-hal kecil, tapi jarang benar-benar bertanya apa yang kuinginkan.
“Oke. Nanti jangan pakai kaos ya, gak enak dilihat orang,” katanya lagi, tangannya bersedekap di dada.
“Iya, Pa,” jawabku seadanya.
“Yang ini cantik. Cocok buat papa. Kamu juga nanti pasti setuju,” lanjutnya, seolah pendapatku sudah pasti sama dengan miliknya.
“Matre gak? Nanti ngincar uang doang,” sahutku apa adanya, karena di pernikahannya sebelumnya, istrinya memang hanya mengincar harta.
“Nggak, aman kok. Dia juga punya bisnis sendiri,” jawabnya sambil tersenyum bangga. “Ya udah, papa mau jemput dia dulu. Jangan lupa mandi, pakai baju yang bagus.”
Setelah aku mengangguk, papaku pergi.
Aku bergegas mandi dan bersiap. Sejak pagi, aku memang belum mandi karena ini hari Sabtu. Ditambah lagi, kuliah sedang libur, jadi aku tidak ada kegiatan di luar.
Sejak pindah dan hidup dengan papaku, aku langsung berusaha berubah. Aku semakin rajin olahraga dan ikut gym. Dulu beratku hampir 90 kg. Penampilanku sering dicap culun karena kacamata besarku dan rambutku yang cepak lurus.
Sekarang, berat badanku sudah di angka 75 kg. Penampilanku sudah jauh berbeda. Badanku tampak lebih atletis dengan bahu yang lebar, gaya rambutku juga tertata rapi. Kacamataku pun lebih modis.
Papa angkatku tidak pernah memuji secara langsung, tapi dia juga tidak melarang saat aku meminta uang pendaftaran gym dulu. Itu sudah cukup bagiku.
Setelah masuk kuliah, aku juga mencoba menjadi lebih berani dan perlahan melawan gangguan kecemasanku. Sampai akhirnya, sekarang aku benar-benar merasa menjadi sosok yang baru. Cowok yang punya kendali.
Setelah hampir 2 jam, papaku akhirnya kembali. Aku yang sejak tadi sudah menunggu di ruang tengah langsung berdiri menyambutnya.
“Radit, kenalin ini Tante Sarah,” kata papaku sambil memperkenalkan wanita yang berdiri di sampingnya.
Aku terdiam sejenak menatap wanita itu.
Wow!
Montok!
Penampilannya sangat berbeda dengan wanita-wanita yang papaku bawa sebelumnya. Gaun ketat tali satu yang dikenakannya langsung menyita perhatian karena bahannya yang tipis itu melekat sempurna pada tubuhnya, garis leher rendah yang memperlihatkan belahan dada dalam dan menggoda.
Dadanya besar, bulat sempurna, terdorong ke atas oleh bra yang jelas-jelas dirancang untuk menonjolkan bentuknya, bergoyang lembut setiap kali dia bernapas. Aroma parfumnya yang manis dan tajam menusuk hidungku, memancing saraf bawah sadarku.
Pinggangnya ramping kontras dengan pinggul yang melengkung lebar, sempurna seperti gitar Spanyol, membuat gaun itu tampak dibuat khusus untuk memamerkan lekuk tubuh matang yang begitu memikat dengan satu tali di bahu.
Tante Sarah mungkin sudah berusia 40an, tapi badannya tampak masih kencang dan kenyal.
“Radit,” panggil papaku lagi, langsung membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya pa,” sahutku sambil berusaha bersikap biasa. Aku langsung mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Tante Sarah. “Halo tante, saya Radit.”
“Halo, Radit. Senangnya akhirnya bisa ketemu kamu,” katanya sambil menerima uluran tanganku. Senyumnya lebar dan hangat, tapi matanya seolah memindai tubuh atletisku dengan cara yang aneh.
Aku mengangguk kaku, “Iya tante, saya juga senang.”
“Kita ngobrol sambil makan aja yuk,” ajak papaku akhirnya.
Kami pun bergegas menuju meja makan. Di sana, makanan sudah disiapkan oleh Bi Marni, ART di rumah ini. Aku duduk di seberang Tante Sarah, sementara papaku di sebelahnya.
“Radit ini masih kuliah semester 3. Anak kamu bukannya seumuran ya sama Radit?” tanya papaku pada Tante Sarah.
Tante Sarah tidak langsung menjawab. Dia menatapku sejenak, tatapannya jatuh tepat di dadaku yang bidang sebelum kembali ke mataku, lalu tersenyum. “Iya, anakku perempuan, sekarang masih kuliah semester 3 juga, tapi di Bandung. Besok dia pulang ke sini karena libur kuliah katanya.”
Aku hanya mengangguk. Sampai saat ini, aku memang masih agak kesulitan untuk mudah berbaur dengan orang baru.
“Oh ya? Kalau gitu nanti bisa kita atur pertemuan sama anak kamu itu,” sahut papaku antusias. “Siapa nama anakmu, Sarah?”
“Namanya Rara, Mas Damar,” jawab Tante Sarah sambil tersenyum.
Aku hanya mengangguk diam.
Selama makan, aku melihat Tante Sarah beberapa kali seperti sengaja membusungkan dadanya ke arahku, membuat belahannya makin terlihat jelas setiap kali dia menyuap makanan. Gerakannya lambat, seolah sengaja memancing mataku untuk terus di sana.
Selesai makan, kami berpindah ke ruang tengah untuk mengobrol. Namun, saat itu aku izin untuk ke toilet terlebih dahulu.
Aku berdiri di depan kloset, memegang barangku sambil mengarahkan aliran. Pikiranku tadi sempat melayang ke Tante Sarah, ke cara dia memamerkan dadanya tadi, ke lekuk pinggang dan pinggulnya yang menggoda di balik kain ketat itu.
Tanpa sadar, joni sudah setengah tegang, berdenyut keras menuntut perhatian lebih meski cuma karena imajinasi sesaat. Aku bisa merasakan panas yang menjalar di selangkanganku.
Aku mendengus pelan. “Gila juga ini, cuma liat bentuk luar doang bisa sampai begini.”
Buru-buru aku menggoyang-goyang sisa tetesan air itu, tapi begitu aku membalikkan badan dengan posisi baru akan memasukkan si joni kembali ke celana, pintu toilet dibuka tanpa ketukan.
Aku membeku.
Di ambang pintu berdiri Tante Sarah. Matanya tidak menatap wajahku, melainkan langsung turun ke bawah, mengunci pandangannya pada tanganku yang masih memegang benda berhargaku yang sedang dalam kondisi tegang dan telanjang.
“Tante …”
The usually deserted art gallery suddenly bustled with activity today, as vehicles came and went, occupying the few parking spaces in front. Louis emerged from the war meeting only to find not a single parking spot available. He had to park his car in the underground garage of a nearby office building and walk over. His handsome features, commanding presence, and the military insignia adorning his attire immediately drew the attention of numerous people as he stepped into the art-filled gallery. The juxtaposition of Louis' military resolve with the artistic ambiance of the gallery seemed discordant, yet he paid no heed to the curious glances of others as he made his way straight to the reception desk by the stairs, where two young women in their early twenties stood. One of the girls, her cheeks flushed with excitement, stuttered, "C-Can we help you?" under Louis' direct gaze, her head involuntarily lowering. A flicker passed through Louis' eyes, a slight upward curl at the corner
On a sunny weekend, Jaclyn and Natash decided to host a rare family gathering, inviting some close friends and relatives to spend time together. They prepared a sumptuous lunch and a series of fun activities to ensure that the gathering was filled with joy and meaning.As guests started to arrive, the house quickly became lively. Familiar laughter and greetings intertwined in the air, adding a cozy atmosphere to the entire room. Children ran and played in the garden, while adults chatted in the living room, sipping rich coffee and enjoying leisure time.Jaclyn and Natash busied themselves with entertaining guests while also trying to immerse themselves in the atmosphere of the gathering. They warmly conversed with everyone, sharing their recent news and joys. These friends and family meant a lot to them, and they had spent many wonderful moments together with their support and companionship.Lunchtime arrived, and everyone gathered around the table to enjoy the delicious feast. The ta
Jaclyn povI, Jaclyn Dills, have never been involved in things like chatting on Instagram, but Natash always likes to talk about it. In my opinion, what's the point of chatting with strangers on Instagram? If they're friends, just call them, right? But Natash never tires of it.However, now I have to succumb to this Instagram thing. To deal with this situation, I spent half a day sitting in front of the computer, finally registered for an Instagram account, and then added a friend who could provide fake IDs. When he asked me what documents I needed, I simply replied, "ID card," and then there was silence. After a moment, the other side replied, "We don't provide ID cards." I quickly asked, "Why? I heard you provide all kinds of documents." Then I added, "Money is not a problem."There was silence again for a moment, and finally, he gave me an address to meet in person. I felt strange. Now these fake ID businesses have become like spy activities, but I just wanted an ID card, and I rea
Natasha's POVOne day, Marilyn, Cecilia, and I were playing mahjong at Louis's house. When women get together, private matters are inevitably brought up. Maria glanced at Natasha Yael's swollen belly and asked, "You guys didn't use contraception, huh?" Natasha Yael nodded, "We did."Marilyn chuckled and pointed to her own swollen belly, "Then how did this happen?" Cecilia blinked, "How did it happen?" Natasha Yael explained, "We used a condom the first time with Jaclyn Dills, but somehow, it happened anyway."Marilyn smirked, "You guys must have been too passionate to bother with a condom, hence this little surprise." Natasha Yael blushed, and Cecilia remarked, "Jaclyn Dills seems calm and elegant, unlike Morris, who's so restless. He must be very gentle, right, Natasha Yael?" Maria nodded in agreement.Marilyn snorted, "You guys are so naive. These men are not gentle or elegant; it's all an act. They're wolves in bed. Otherwise, why would Natasha Yael have this belly? They haven't sp
Jaclyn's POVThe autumn sun was bright, streaming into the room through the tall windows and gently illuminating the space through the sheer curtains, making it feel cozy and warm.Perry had set up the swing in the small cabin he had built himself, and as he stood up, he gazed out into the yard before
Jaclyn's POVI raced to her at an astonishing speed, fortunate that it wasn't rush hour. In just fifteen minutes, I delivered the parcel to Natash Yael. The screech of brakes startled Natash Yael, who was deep in thought. As she looked up, I had already stepped out of the car and was walking towards
Jaclyn povThe next day, I obediently went to the company. Luna was giving birth at that time, and I stayed with her for a whole month. The company's affairs were urgent, so I had my assistant handle the non-urgent matters at home. Today, the pile had grown into a mountain, and even though I was not
Annelie's POVAs I approached the room, I was taken aback by Natash Yael's appearance. It was a stark contrast from when she had Perry; back then, she was all thin and gaunt from childbirth, but now she was glowing with health, her cheeks rosy and radiant.Jaclyn Dills was quite tactful. As soon as I












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.