Share

BAGIAN 5: RAHASIA TERBONGKAR

“Ku harap lain kali kau lebih berhati-hati,” ujar Brandon.

“Terima kasih,” ujar Anna.

“Reva, kebetulan sekali kita bertemu di sini, kau tampak berbeda dari biasanya,” ujar Brandon, berusaha mencairkan suasana.

“Berbeda? Maksudmu?” tanya Anna yang semakin panik rahasianya dengan Reva akan terbongkar.

“Iyaaa jauh lebih cantik dibandingkan sebelumnya,” ujar Brandon yang tak menyadari kini ia tersenyum menatap Anna. Baginya sangat susah untuk menemukan Anna, sejak pemandangan yang ia lihat sebelumnya saat Anna sedang bersama orang lain, Brandon tak memiliki niatan lagi untuk mendekati Anna, namun rupanya saat ia melihat gadis itu kembali, seketika ia mengubah keputusannya.

“Oh, baiklah kalau begitu aku pergi duluan—“

Dengan cepat Brandon segera menahan tangan Anna.

“Biar aku yang antar, bagaimana?” tanya Brandon. Mau tak mau Anna harus menerima tawaran tersebut, karena jika tidak, Brandon dapat mengikutinya lalu melihat sosok Reva menaiki transportasi umum. Dan ini dapat menimbulkan kesan yang buruk pada keluarga Reva nantinya, pada akhirnya Anna pun terpaksa memberitahu jika tujuannya adalah untuk pergi ke Mall Taman Asri.

“Bagaimana dengan luka di kakimu, sudah mendingan?” tanya Brandon.

“Y-Ya lumayan jika dibandingkan dengan sebelumnya,” jawab Anna.

“Baguslah, dengan begitu kita bisa merencanakan kencan kita yang selanjutnya—“

“T-Tunggu, aku salah, masih sedikit sakit rupanya, namun hari ini kupaksakan diri untuk berjalan pergi keluar,” ujar Anna yang tiba-tiba mengganti jawabannya.

Brandon hanya tertawa melihat tingkah laku Anna.

“Bukannya sekarang harusnya kau sibuk mengurusi perusahaan rumah sakit saat ini? Kudengar akan diadakan pembaruan fasilitas sebentar lagi,” ujar Anna.

“Barusan aku baru saja selesai mengadakan pertemuan dan kebetulan melihatmu di jalan tadi. Namun, rupanya kau cukup mengetahui banyak hal mengenai rumah sakit yang ku kelola,” ujar Brandon yang masih berpura-pura bertingkah seolah gadis di depannya adalah Reva yang asli.

“Tentu, orangtuaku telah memberikan informasi yang cukup banyak mengenaimu,” ujar Anna yang mulai kembali berbicara dengan nada soknya itu.

“Kalau boleh tau, untuk apa kau pergi ke Mall Taman Asri siang-siang begini?” tanya Brandon ingin tahu.

“Oh soal itu…aku sedang berusaha untuk membelikan hadiah bagi seseorang, kau cukup mengantarkanku saja, aku bisa pergi sendiri,” ujar Anna.

“Oooo…bagaimana kalau hari ini kutraktir kau makan setelahnya? Jika kau bersedia menerimanya, anggap saja itu sebagai balas budi karena aku sudah menolongmu kemarin,”

“Oh b-baiklah…” ujar Anna, entah mengapa Anna berpikir mungkin ini bisa jadi kesempatan lain untuk membuat Brandon mulai membencinya.

Beberapa saat kemudian kini Brandon berjalan sedang menemani Anna yang sedang memilih hadiah untuk adiknya. Laki-laki itu menunggu tepat di depan toko, sedangkan Anna sedang membayar di kasir untuk barang yang ia pilih.

Saat gadis itu membalikkan badan, tampak Brandon kini sedang berbincang-bincang dengan seseorang.

“Siapa itu?” pikir Anna sambil melangkah menjauhi kasir perlahan.

Betapa terkejutnya Anna saat ia melihat ada Reva bersamaan dengan kedua orangtuanya sedang mengobrol bersama. Anna seketika kembali membalikkan badannya, ia tak ingin bertemu dengan keluarga Reva di situasi seperti ini.

Namun tiba-tiba Ibu Reva memanggil Anna, karena memang ia sudah tak lagi asing dengan gadis tersebut, secara sejak lama Anna sering sekali bermain ke rumah Reva.

“Reva, lihat temanmu ada di sini juga,” ujar Ibu Reva pada putrinya itu. Reva berusaha memaksakan senyumnya.

Reva dan Anna seketika langsung bertatap-tatapan, tanpa pembicaraan mereka sudah saling tahu jika hal inilah yang sedang mereka hindari sejak perjodohan tersebut dimulai.

“Nah kebetulan kita sekeluarga bertemu calon tunangan Reva, mengapa kau tak ikut makan siang bersama kami?” tanya Pak Surya, Ayah Reva dengan nada lembut.

“T-Tetapi sebaiknya aku pergi saja, tidak enak menganggu acara keluarga kalian,” ujar Anna sopan sambil hendak pergi. Namun Pak Surya tetap menahan Anna, ia ingin sesekali teman baik putrinya itu meluangkan waktu bersama Reva serta keluarganya, sekalian memperkenalkan Anna dengan Brandon calon suami Reva.

Mau tak mau, Anna yang merasa tak enakan jika menolak ajakan Pak surya, terpaksa harus ikut makan siang dengan keluarga Reva, serta Brandon.

Keadaan semakin kacau, suasana di tempat makan siang itu sangat hening, Ayah dan Ibu Reva tak henti-hentinya menanyakan kabar mengenai keluarga Brandon dan memperkenalkan jika Anna adalah sahabat putrinya, Brandon sendiri menjawab seluruh pertanyaan tersebut dengan santai.

Kini ia tahu betul semua ini hanya akal-akalan saja, tetapi entah mengapa hatinya tak merasa keberatan sama sekali selama Anna yang berada di sampingnya.

“Bagaimana kabar kencan kalian sebelumnya?” tanya Pak Surya pada putrinya itu.

Reva menatap Anna penuh dengan kekhawatiran, begitu pun sebaliknya.

“B-Baik, semuanya berjalan dengan lancar,” ujar Reva yang berusaha mengarang. Ia tak tahu apa-apa mengenai kencan tersebut, yang ia tahu hanya sebatas Brandon dan Anna pergi ke berbagai tempat termasuk pasar malam.

“Kau sendiri Brandon, bagaimana kesan pertamamu saat pertama kali bertemu dengan Reva?” tanya Pak Surya lagi.

“Ahh sial, mengapa Ayah harus mengajukan pertanyaan seperti itu sih!” ketus Reva dalam hati. Anna yang mendengarkan pertanyaan tersebut segera mengigit bibirnya perlahan, ia takut jika Brandon membongkar semuanya, Reva akan terkenal masalah besar sepulang dari sini.

“Hmmm…kesan pertamaku saat bertemu dengan Reva, dia orang yang cukup pendiam, namun mungkin lama-kelamaan dia akan berubah seiring berjalannya waktu,” ujar Brandon sambil memikirkan kesan pertamanya saat bertemu Reva yang asli barusan.

Anna lega mendengar jawaban tersebut dan sesekali menatap Brandon, laki-laki itu rupanya terus memandanginya sepanjang pembicaraan.

Usai selesai menyantap makan siang, Anna segera berpamitan untuk kembali pulang terlebih dahulu.

Beberapa menit setelah kepulangan Anna, Ayah dan Ibu Reva meninggalkan putrinya itu berduaan dengan Brandon di tempat makan, mereka berharap dengan begitu keduanya dapat saling mengenal satu dengan yang lainnya lebih dari sebelumnya.

“Sudah, kau tak perlu berpura-pura lagi sekarang,” ujar Reva dingin pada Brandon.

“Berpura-pura? Tidak, aku tak pernah berpura-pura dalam hubungan ini, kesan pertamaku padamu itulah yang kurasakan, juga perasaanku pada Anna,” ujar Brandon.

“Apa? Perasaanmu pada Anna? Biar kuberitahu kau sesuatu, Anna semata-mata melakukan ini semua demi mendapatkan uang yang setimpal, jadi jangan menganggap terlalu serius semua hal yang telah kalian lakukan terutama perasaanmu kepadanya,” ujar Reva yang terlihat muak melihat pria di depannya, secara Brandon sejak kemarin tak segera membatalkan perjodohan mereka.

“Maksudmu? Kau menggunakan temanmu sendiri untuk—“

“Iyaaa, sejak awal aku memang sudah muak dengan perjodohan ini, jika bukan karena pihak keluargamu, perjodohan ini tak akan pernah terjadi,” ujar Reva kesal, lalu ia segera pergi dari hadapan Brandon sambil menelefon kekasihnya, Gerry.

"J-Jadi dia melakukan itu demi...aku harus menemui gadis itu..." pikir Brandon yang masih tak percaya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status