Share

5. Unperfect Husband

Kondisi Caraline bisa dibilang tak baik-baik saja semenjak kepulangannya dari kediaman keluarga Aberald. Hampir sepanjang siang, ia mengurung diri ruangan kerjanya, tak ingin diganggu oleh siapa pun. Aktivitasnya hanya duduk di depan komputer, dan kian larut dalam lamunan. Caraline sama sekali tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan. Oleh karena itu, semua hal yang bersinggungan dengan perusahaan diserahkan pada Helen.

Pukul delapan malam lebih, Caraline masih berada di ruangan kerjanya. Wanita itu sesekali memijat kepala yang teramat pening. Hal itu terjadi bukan semata-mata disebabkan oleh tindakan gilanya hari ini, tetapi karena perutnya yang memang belum diisi sejak siang. Saat Caraline hendak menghubungi Helen, asistennya itu lebih dahulu muncul dari balik pintu.

“Nona Caraline, aku membawakan Anda makan malam.” Helen menaruh nampan berisi satu mangkuk sup ayam panas dan segelas air putih di meja.

Caraline yang berdiri di depan jendela seketika berbalik. Tatapannya langsung tertuju pada makanan di meja. Aroma sup itu menguar ke sekeliling ruangan. “Aku tidak kalau kau bisa membaca pikiranku, Helen.”

Helen mundur beberapa langkah saat Caraline duduk di sofa. “Aku sudah bertahun-tahun bekerja dengan Nona. Jadi, kupikir aku sedikit tahu dengan kebiasaan Nona.”

Caraline mengukir senyum tipis. Apa yang dikatakan Helen adalah kebenaran. Wanita berkacamata itu sudah bersamanya sejak perusahaan yang ia bangun masih menyewa sebuah ruko kecil di pinggiran kota. Namun, ia merasa kalau dirinya adalah partner kerja yang buruk karena sampai saat ini ia bahkan tidak tahu di mana Helen tinggal.

“Nona, aku sudah mengatur ulang jadwal Anda,” kata Helen di keheningan yang mendekap seisi ruangan, “apa yang harus aku siapkan untuk kegiatan Anda besok?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Caraline tiba-tiba tersedak. Dengan segera, ia meneguk minuman hingga tandas. Wanita itu lantas memukul pelan dadanya sendiri, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Mengingat hari esok, sup lezat itu jadi terlihat seperti sampah.

“Anda baik-baik saja, Nona?” tanya Helen sembari merogoh ponselnya di dalam saku rok. “Aku akan menghubungi dokter dengan segera.”

“Helen.” Caraline memberi kode dengan telapak tangan.

Helen secara perlahan menjauhkan gawai dari telinga. “Iya, Nona.” 

Caraline mengembus napas panjang seraya berdiri dari tempatnya duduk. Pandangannya seketika lurus ke arah depan, tetapi pikirannya terbang ke masa pertemuan dengan sosok pria menawan yang takdirnya terikat di kursi roda tadi. Orang bernama Deric itu benar-benar menghantui pikirannya sepanjang waktu. Semakin berusaha dienyahkan, semakin kuat pula pria itu menetap dalam ingatan.  

“Nona Caraline,” ujar Helen dengan mimik khawatir.

Begitu Caraline sadar dari lamunan, ia refleks menggeleng lemah, memusatkan penglihatan pada Helen, lalu menyugar rambutnya seolah tak ada hal berat yang tengah ia pikirkan. “Aku ... akan menikah besok, Helen,” ujarnya dengan embusan napas berat.

“No-nona ... apa yang baru saja Anda katakan?” tanya Helen terbata. Meski raganya mematung karena terkejut, otaknya bekerja dengan cepat untuk menyimpulkan sesuatu dari perkataan Caraline barusan. Senyumnya mengembang begitu menemukan sebuah jawaban. “Aku tidak tahu jika hubungan Nona dan Tuan Diego sudah sedekat itu. Aku turut bahagia mendengarnya. Apa yang bisa—”

“Kau salah, Helen.” Caraline beranjak dari sofa, kemudian melangkah menuju balkon. Angin malam seketika menari di surainya begitu pintu terbuka.

Helen mengikuti langkah Caraline. “Jadi, dengan siapa Nona akan menikah?”

“A-aku ... akan menikah dengan pria yang akui temui di keluarga Aberald tadi. Dia  Jacob Aberald yang selama ini aku cari,” ungkap Caraline. Suaranya gemetar dan tertahan di saat bersamaan.

Helen mundur seketika. Matanya yang terhalang kacamata sontak melebar hingga batas normal. Kabar ini bukan hanya membuatnya terkejut, tetapi juga menghadirkan rasa takut. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Apa ... yang harus aku persiapkan untuk pernikahan Anda, Nona?” Dibanding kian memperkeruh keadaan Caraline, Helen lebih memilih membantu dengan caranya sendiri.

Helen menyadari bila hubungannya dengan caraline hanya sebatas rekan kerja. Untuk itu, ia berusaha tak ikut campur dengan masalah privasi Caraline meski sebenarnya ia ingin bisa membantu sebagai seorang teman.

Caraline memeluk dirinya sendiri. Saat angin malam mengganas, ia kembali masuk ke ruangan. Helen ikut melakukan aksi serupa.

“Helen, aku tak ingin pernikahanku sampai tersebar ke media.” Caraline mewanti-wanti. “Jadi, persiapkan penjagaan ketat di sekitar gedung Mililine Tower 2. Untuk detailnya, aku akan mengirimimu pesan.”

“Ba-baik, Nona.”

Caraline meraih tasnya di atas meja kerja, lalu menggerus lantai ruangan dengan terburu-buru. Saat mendapati Helen membuntuti, Caraline segera berhenti, kemudian berujar,  “Jangan ikuti aku. Aku harus mengunjungi seseorang secara pribadi.”

***     

Pukul tujuh pagi, kamar James tiba-tiba dimasuki Jeremy dan Jonathan secara paksa. Kedua pria itu sudah rapi dengan setelan jas hitam. Sementara itu, si pemilik ruangan masih berusaha membawa dirinya ke alam nyata. Setengah tubuhnya bahkan masih berada di dalam selimut.

“James, cepatlah bersiap! Jangan sampai aku menyeretmu ke kamar mandi!” Jeremy menggeleng saat melihat keadaan James yang masih berada di antara alam mimpi dan nyata.

“Si cacat Deric itu benar-benar membuat hidupku hancur,” ucap James seraya bangkit dari kasur. Matanya memelotot bak akan melahap orang hidup-hidup. Saat hendak berjalan ke kamar mandi, jempol kakinya menabrak kaki meja. “Sial! Kuharap pria itu lenyap selamanya!”

James melompat-lompat dengan satu kaki, lalu berkata lagi, “Kenapa aku harus bangun sepagi ini hanya untuk mendatangi acara tak berguna itu? Bisakah aku tidur lagi dan melanjutkan mimpiku yang terputus karena ketukan kasar kalian di pintu kamarku?”

“Diamlah!” Jonathan setengah membentak. “Kau bisa lampiaskan amarahmu langsung pada orangnya setelah kau keluar dengan setelan rapi. Aku tak ingin mendengar ocehanmu sepagi ini.”

Saat kedua kakaknya beranjak pergi, James segera masuk ke kamar mandi dengan membanting pintu keras-keras. Di dalam guyuran air, pria itu terus memaki Deric seakan jika hal itu tak dilakukannya ia akan mati. 

Sementara itu, Deric baru saja tiba di teras rumah saat melihat Jeremy dan Jonathan baru keluar dari pintu utama. Sejenak pandangan mereka betemu, tetapi ia memilih memutus kontak lebih dahulu, dan menjadikan pagar rumah sebagai pelarian.

“Jangan bercanda!” pekik Jeremy ketika melihat penampilan Deric. Amarahnya tiba-tiba tersulut, tetapi dengan cepat ia kendalikan. “Apa kau bermaksud menghina keluarga Aberald dengan berpakaian seperti gelandangan? Oh, ayolah, cucian kotorku bahkan lebih rapi dibandingkan dengan pakaian yang kau kenakan. Tak bisakah kau bercermin sebelum kau menujukkan wajah penuh kesialanmu pada kami?”

Mendapat penilaian dari Jeremy, Deric segera memeriksa penampilannya. “Butuh waktu setengah jam bagiku untuk menemukan pakaian yang layak,” ujarnya, “apa aku terlihat buruk?”

“Kau dan keburukan itu ibarat sepasang saudara kembar,” ujar Jonathan, “kau lahir dan hidup hanya untuk menerima keburukan.”

“Syukurlah, hari ini aku masih jadi diriku sendiri,” sahut Deric.

“Kau selalu saja membuatku muak!” umpat Jonathan seraya menendang bagian belakang kursi roda Deric.

Kejadiannya amat singkat seperti satu kedipan mata. Tanpa sempat dicegah, Deric sudah tengkurap di tanah dengan posisi tubuh yang tertindih kursi rodanya sendiri.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status