Home / Fantasi / VALYZARYON Pedang Naga Hitam / 102. Kedatangan Ryuka

Share

102. Kedatangan Ryuka

Author: Scorpio_san
last update Last Updated: 2026-03-10 22:24:07

Aku berdiri cukup lama di halaman akademi yang masih dipenuhi bekas pertarungan. Tanahnya retak di beberapa tempat, dan batu-batu kecil berserakan seperti sisa badai yang baru saja lewat.

Makhluk gerbang itu sudah hilang. Namun perasaan di dadaku belum benar-benar tenang. Aku masih bisa merasakan sesuatu. Seperti ada panggilan yang terus menarik darahku ke satu arah.

“Apa yang kamu pikirkan?” Suara Yuzi membuatku menoleh. Dia berdiri di sampingku dengan wajah serius seperti biasa.

Aku mengh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   102. Kedatangan Ryuka

    Aku berdiri cukup lama di halaman akademi yang masih dipenuhi bekas pertarungan. Tanahnya retak di beberapa tempat, dan batu-batu kecil berserakan seperti sisa badai yang baru saja lewat. Makhluk gerbang itu sudah hilang. Namun perasaan di dadaku belum benar-benar tenang. Aku masih bisa merasakan sesuatu. Seperti ada panggilan yang terus menarik darahku ke satu arah. “Apa yang kamu pikirkan?” Suara Yuzi membuatku menoleh. Dia berdiri di sampingku dengan wajah serius seperti biasa. Aku menghela napas pelan. “Kerajaan Naga,” gumamku. Yuzi tidak langsung menjawab. Dia menatap ke arah hutan di luar akademi, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu yang lebih berat. Tak lama, Livo datang. Dia membawa botol kecil berisi cairan biru dan langsung meminumnya. “Kalian kelihatan seperti dua orang yang baru saja dapat masalah besar,” katanya. “Ada kemungkinan kita memang dapat masalah besar,” jawabku berusaha biasa saja, tapi aku tahu kalau raut wajahku tidak bisa berbohong lagi. Livo menga

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   101. Kolaborasi Caesar dan Naga Hitam

    Dibelakangku, bayangan naga hitam sudah berdiri sempurna. Aku menatapnya sebentar sebelum akhirnya mengangguk samar. Lagi pula, aku juga akan menggunakannya. Naga Hitam juga tidak seagresif seperti pertama aku menyentuhnya dulu. “Lawan saja dia,” bisik Naga Hitam lagi. “Kekuatanmu bahkan lebih besar dari makhluk jelek itu.” Energi yang keluar dari tubuhku tidak lagi liar seperti sebelumnya. Aku menatap makhluk gerbang di depanku. Walau samar, pergerakan dia ketika mundur satu langkah tidak luput dari penglihatanku. Aku tersenyum sebentar, sadar kalau yang diucapkan Naga Hitam memang benar. Makhluk itu takut pada kekuatan besar ini. “Di mata,” bisikku pada Naga Hitam yang sudah semakin mendekat dengan tubuhku. “Gue lihat Ayah sama Ibu ada di mata lo.” Ucapanku membuat Naga Hitam terkekeh ringan. Hembusan napasnya yang cukup berat, membuat anak-anak rambutku sedikit bergerak-gerak. “Karena mereka memang akan selalu ada bersamaku,” katanya. “Mereka boleh saja mati. Tapi jiwa mereka

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   100. Jadikan Aku Senjatamu

    Aku bisa merasakan semua mata tertuju padaku.Para Dewan yang berdiri di halaman akademi, para guru yang mulai mengangkat perisai sihir, bahkan makhluk raksasa yang baru saja keluar dari gerbang itu.Semua mengarah padaku.Angin berputar di sekeliling tubuhku ketika energi hitam dari darahku mulai keluar tanpa bisa kutahan. Membuat jantungku berdetak lebih keras.Tapi anehnya, aku tidak merasa takut sama sekali. Aku justru merasa lebih hidup dari biasanya. Tubuhku ringan, napasku sudah tidak berat, seolah semuanya baik-baik saja.Makhluk itu menundukkan kepalanya sedikit, matanya yang merah menyala menatapku seperti seorang pemburu yang akhirnya menemukan mangsanya.“Apa dia kenal sama lo, Kae?” bisik Alana yang sudah berdiri tepat di belakangku.Aku tidak menjawab, hanya gelengan kepala samar yang membuat mereka tak bisa berkata-kata lagi.Jujur saja, saat ini di dalam dadaku, sesuatu mulai bergerak. Suara itu kembali terdengar di dalam pikiranku. Suara yang terus mengatakan kalau aku

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   99. Bayangan yang mendekat

    Aku berdiri di tepi lapangan latihan SMA Sanin ketika matahari hampir tenggelam. Udara sore terasa aneh, lebih berat dari biasanya, seolah dunia sedang menahan napas untuk sesuatu yang belum jelas. Sudah tiga hari sejak kejadian di ruang bawah tanah akademi. Dan sejak saat itu, aku bisa merasakan sesuatu. Sesuatu yang bergerak di balik dunia ini. Elvian berdiri di sampingku, dengan tangan yang sudah terselip di saku jaketnya. Wajahnya terlihat santai, tapi aku tahu dia juga merasakannya. “Gerbangnya makin banyak,” katanya pelan. Aku mengangguk lelah. Jujur saja, aku ingin segara mengakhiri semua ini. Aku ingin menangkap Ryuka dan raja sialan itu. “Bukan cuma banyak,” jawabku. “Mereka kayak makin dekat.” Sejak darahku bereaksi di ruang ritual itu, indra sihirku berubah. Aku bisa merasakan retakan kecil di dunia, seperti suara kaca yang hampir pecah, atau gesekan-gesekan kecil yang bahkan semut pun tidak mampu mendengarnya. Tak lama, langkah kaki mendekat dari belakang. “Gue udah

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   98. VEYRON

    Aura di sekelilingnya tidak seperti raja lama yang berat. Aura ini lebih tajam dan terlatih. Hampir sama seperti Ryuka dan Yuzi. Sosok itu tersenyum kecil saat mendarat ringan di lantai batu. “Menarik,” katanya santai. “Gerbangnya belum runtuh.” Arvas langsung membentuk lingkaran sihir di tangannya. Rupanya dia tahu siapa sosok yang kini ada di depan kami. “Veyron,” bisiknya dengan rahang yang sudah mengeras. Pria itu menoleh pelan dengan seringai. “Ah. Penjaga lama masih hidup.” Senyumnya melebar tipis. “Bagus. Aku benci pekerjaan setengah matang." Tak lama, Raze tiba-tiba terhuyung. Dengan tangan memegang dada. Cahaya merah tipis muncul di bawah kulitnya. Veyron meliriknya sekilas, lalu tersenyum samar. “Ah, prototipe gagal,” katanya dengan suara dingin yang mengudara. “Jangan sentuh dia!” pekikku seraya bersiap dengan kuda-kuda. Dan untuk pertama kalinya, Veyron menatapku sepersekian detik, hingga matanya menyipit samar. “Jadi dia yang asli,” katanya, seraya terkek

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   97. Darah yang tidak tercatat

    Cahaya merah itu tidak menyebar cepat, ia menjalar seperti racun yang sudah tahu persis seberapa dalam ia ingin masuk. Seluruh ruangan gerbang menjadi lebih sunyi. Lingkaran inti yang tadi stabil mulai bergetar tipis, bukan karena energi hitam—melainkan karena sesuatu dari luar mencoba menyentuhnya. “Apa pun itu,” gumam Arvas, “dia tahu lokasi ini.” Yuzi berdiri di sampingku dengan tangannya yang masih menempel di bahuku, memastikan energiku tidak meledak lagi. “Itu bukan resonansi Ordo,” katanya pelan. “Frekuensinya berbeda.” Raze berdiri beberapa meter dari kami. Anak itu masih terlihat lemah, tapi untuk kali ini matanya tidak lagi kosong. Ia menatap cahaya merah dengan ekspresi yang sulit ditebak. Seperti orang yang ketakutan, tapi juga cukup terbiasa dengan semua ini. Tiba-tiba lingkaran batu di tengah ruangan memancarkan kilatan berwarna emas lembut. Walau singkat, kami bisa melihatnya dengan sangat jelas. Dan tepat sebelum siapa pun sempat bereaksi, kesadaranku kembali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status