LOGINDi dunia yang retak oleh sihir dan sejarah yang dibungkam sekian lama, akhirnya kemabli memberontak. Aku, Caesar Atala Raharja, adalah satu dari sedikit remaja yang masih percaya, kalau sekolah sihir itu hanya bergulat pada mantra, atau nilai ujian semata. Tapi ternyata aku salah. Suara asing itu tiba-tiba memanggil nama ku dengan sangat lirih. Suara yang ternyata datang dari dalam darahku sendiri. Dan sejak saat itu, aku terseret kedalam pusaran rahasia tua. Sebuah garis keturunan kono, yang menyebabkan perang antara cahaya dan kegelapan. Artefak legendaris yang telah tertidur selama ratusan tahun, sebuah pedang naga hitam yang sering disebut Valzaryon, kini menyatu didalam nadi ku. Yang katanya, darah ku adalah darah yang tepat, yang membuat ia bangkit dari tidur panjangnya. "Darah mu adalah kunci yang dicari oleh para pengkhianat sihir," "Dia menginginkan mu. Para penjaga terkutuk itu, bahkan arwah yang belum selesai. Semua mengingunkan mu." Sebuah bisikan yang masih aku cari kebenarannya. Sebuah bisikan yang selalu menggema dikepala.
View MoreKatherine's POV
"Stop the wedding! I won’t let you marry a woman you don’t even love. Love, you told me you’d only marry me. You promised that I’m the only one you would ever love!" My voice echoed throughout the chapel. All eyes turned to me. I admit, this is incredibly humiliating, but I have no other choice. "Who is that girl, Lawrence?" an elderly man asked in a trembling voice. I assume he’s the groom’s father. The groom looked at me and slowly stepped down. He walked closer and closer, and I instinctively stepped back. “Kath.” I froze when he said my name. How does he know me? “Katherine is dead! That’s not Kath, Lawrence! She’s probably an impostor trying to ruin our wedding!” the bride shouted angrily and rushed toward me. “And who told you I’m dead? Can’t you see I’m standing here, talking?” I replied, though my heart was pounding hard. “I’m here to claim what’s mine.” “What nonsense is this? We saw you buried! Lawrence, you must marry my daughter!” another woman spoke as she approached her now-crying child. Honestly, I feel guilty. If it weren’t for the money I desperately need, I wouldn’t have done this. “You’re dead!” The bride suddenly pushed me, shocking my entire system, but Lawrence quickly caught me in his arms. “Don’t you dare hurt her, Abegail!” He pulled her away and glared at her. “The wedding is over,” he said coldly, his voice devoid of emotion. “Are you serious, son? Katherine is dead... we don’t even know who this woman is,” his father said again. Who is this Katherine they say is dead? Do we really look alike that they’re this confused? Now I’m getting nervous. “D-dead? So you all want me dead?” I cried in front of them. Yes, I’m good at acting, maybe I should be an actress. “If that’s what you want… then I’ll give it to you.” That’s the only thing I could think to say in order to escape. I ran out of the church, but Lawrence caught up with me. He embraced me tightly. “Please don’t go, love. I missed you so much.” I couldn’t move. It felt like my feet were paralyzed. My heart was pounding wildly, and then a sudden pain struck my head, forcing me to cling to him for support. “Are you alright?” I saw the worry in his eyes. “I’m sorry, Mr. Lawrence, for ruining your wedding… but I’m not the Katherine you think I am,” I said, then ran away again. I looked back and I saw the deep sadness in his eyes. “Get in, quick!” A black car stopped in front of me. I jumped in, panting. “What happened?” Sir Anthony handed me a bottle of water and some tissue. “I think I ruined everything… not just the wedding,” I said, shaking my head and taking a deep breath. “But the plan worked.” “Very good. Like I said, I’ll pay you one million. That should be enough to pay for your grandfather’s treatment and maybe even your schooling.” I hope they can forgive me for what I’ve done. I promise I’ll come back to clear everything up. But for now, I need to focus on what’s important. “Do you hate them?” I asked Sir Anthony, who was quietly driving, though I could see the satisfaction in his eyes. “Very much. They’re the ones who ruined my life in the past.” “Do you know Katherine too? Do I look like her?” I couldn’t help but ask, knowing he knew that family well. “Katherine… you are Katherine.” I shook my head and laughed. “I mean, Lawrence’s ex-girlfriend, everyone says she’s already dead.” I gripped my seat tightly when he suddenly slammed the brakes. “What happened? Did we hit something?” I asked in confusion, but he just looked at me and shook his head. “I just remembered… my flight back to America is tomorrow. May I have your number? Who knows, when I return, I might hire you as my personal assistant,” he said with a smile. Something feels off. I know he knows something about Katherine, but he doesn’t want to tell me. It was obvious he changed the subject to distract me from asking questions. Just as he asked, I gave him my phone number. His offer was good. Who knows, he might actually keep his word. “Imagine, we just met at a restaurant, and now you’re helping me get revenge on the Llego family.” He smiled and held my hand. “I hope Lawrence doesn’t find you. Move to a different place after your grandfather’s surgery.” “That’s exactly what I’m thinking. I’m scared he might look for me. I don’t even know anything about them. I don’t know what they’re capable of.” “For your information, Lawrence is a billionaire. He’s the only son and his father is in the Mafia.” I was speechless after Sir Anthony dropped me off. The words billionaire and Mafia kept echoing in my head. “Are you alright, my dear?” My grandfather tapped me gently and sat beside me. “If you're worried about the money for my treatment---” “Lolo, I can already pay for your treatment. Your surgery is scheduled for next week, so start getting strong,” I said, which changed his expression. “Katkat… where did you get the money?” His voice broke, and tears welled up in his eyes. “I’d rather die than let you---” “Lolo, someone helped us. Please don’t think too much about it.” I hugged him and gently patted his shoulder. “I’m so lucky to have you. If only your twin were still alive… we could’ve been happier.” My eyes widened at what he just said. I have a twin? “She was still a baby when we lost her. It was stormy when your mom gave birth. I was the only one with her in the hospital… and you were the only one I was able to save. I lost them both. You’re all I have left.”Langit akhirnya kembali seperti semula. Tidak ada lagi retakan merah. Tidak ada lagi cahaya aneh yang mengoyak malam seperti luka yang menganga. Yang tersisa hanyalah hamparan gelap dengan bintang-bintang yang perlahan mulai bermunculan satu per satu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dunia akhirnya terasa normal. Beberapa minggu setelah pertempuran itu, banyak hal berubah. Kerajaan Valzaryon telah runtuh sepenuhnya. Tidak ada lagi sisa-sisa energi berbahaya yang tertinggal di sana. Tanah yang dulunya dipenuhi aura kematian, kini perlahan kembali hidup. Pepohonan mulai tumbuh kembali, udara terasa lebih ringan, dan makhluk-makhluk kecil mulai berani keluar dari persembunyian mereka. Gerbang-gerbang invasi juga telah sepenuhnya tertutup. Tanpa sumber energi dari Veyron, semuanya runtuh begitu saja. Seolah dunia menolak keberadaan mereka sejak awal. Dan di tempat yang jauh dari semua itu, kehidupan kembali berjalan. SMA Sanin kembali ramai seperti biasanya. Lorong-l
Aula itu kembali bergetar. Debu yang belum sempat turun kembali terangkat ke udara. Retakan di lantai semakin melebar, menjalar seperti akar yang merusak pondasi terakhir kerajaan Valzaryon. Aku menarik napas dalam. Satu kesempatan. Kami hanya memiliki satu kesempatan untuk menghabisinya. Di depanku, Veyron berdiri dengan aura yang semakin tidak stabil. Energi hitam, merah, dan emas berputar liar di sekeliling tubuhnya. Tapi sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas. Cahaya kecil di dada yang selama ini dia lindungi tanpa sadar. “Sekarang,” gumamku pelan. Ryuka melangkah maju lebih dulu. “Arvas,” panggilnya tanpa menoleh. Arvas yang sejak tadi menahan rasa sakit, akhirnya berdiri lebih tegak. Pedangnya kembali ia angkat, meski tangannya sedikit gemetar. “Aku masih bisa,” katanya pelan. Ryuka mengangguk tipis. Lalu di detik berikutnya dia kembali menghilang. Mereka berdua langsung melesat ke arah Veyron. Benturan demi benturan kembali memenuhi aula. Ryuka menyerang tanpa jeda
Aula utama itu berubah sunyi dalam sekejap. Bukan karena tidak ada suara, tapi karena tekanan yang memenuhi ruangan itu terlalu berat. Seolah udara sendiri enggan untuk bergerak. Aku masih berlutut, dengan napasku berantakan. Tapi mataku tidak lepas dari dua sosok di depan sana. Ryuka dan Veyron. Dua aura yang sama-sama gelap, sama-sama dalam, tapi terasa sangat berbeda. Veyron menghela napas pelan, lalu menatap Ryuka dengan senyum tipis yang sulit diartikan. “Kamu benar-benar mengejutkanku,” katanya santai. “Kupikir kamu akan tetap menjadi anjing setia.” Ryuka tidak menjawab. Dia hanya mengangkat pedangnya sedikit. Energi hitam pekat mulai mengalir di sepanjang bilahnya, berdenyut seperti jantung yang hidup. “Aku tidak pernah berpihak padamu,” katanya dingin. “Selama ini, aku hanya menunggu.” “Menunggu?” tanya Veyron seraya mengangkat alis. “Lucu sekali. Apa kamu lupa, aku sudah memasangkan sesuatu di dalam tubuhmu?” Ryuka maju satu langkah lagi. Aura di sekelilingnya semaki
BOM! Ledakan itu menghantam tepat di depanku. Tubuhku terpental beberapa meter ke belakang, menghantam lantai batu aula utama dengan keras. Retakan panjang langsung menjalar dari titik benturan, seperti jaring laba-laba yang pecah. Napas tercekat. Dadaku terasa sesak seperti diremas dari dalam. “Caesar!” suara Yuzi terdengar samar. Aku mencoba bangkit. Namun tanganku masih gemetar saat menekan lantai. Pandanganku bergetar, tapi aku bisa melihat sosok Veyron yang berdiri tegak di tengah aula. Tidak, bukan hanya berdiri. Dia bahkan tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Seolah seranganku tadi tidak berarti apa-apa. “Serangan yang menarik,” gumam Veyron santai. Dia mengibaskan sedikit debu dari bahunya. “Tapi masih jauh dari cukup. Naga Hitam memang sudah berkembang sekarang, tapi dia tetap belum sepadan denganku.” Aku menggertakkan gigi dengan rahang mengeras. Mode penyatuan dengan Naga Hitam masih aktif. Energi hitam masih menyelimuti tubuhku. “Serangan kita ngg
Aku memutuskan untuk duduk di sisi yang berdekatan dengan para petinggi. Disana juga ada Yuzi, Haruka dan juga Livo. Karena jujur, selain mereka, atau Alana, Samuel, dan elvian, aku tidak mengenal siapa-siapa. Anak-anak satu kelas ku juga selalu menganggapku asing dan menyebalkan. Padahal, aku ti
Tepat sudah satu minggu setelah perbincangan terakhir aku dengan Alana hari itu, kami sudah tidak lagi bertegur sapa. Aku juga merasa kalau Alana benar-benar menjauhiku. Jangankan menatapku. Ketika kami hendak berpapasan saja, dia selalu saja berputar arah. Dia tidak memberiku waktu untuk bicara
Samuel bediri kaku. Kepalan tangannya bergetar. “Lo semua gak ngerti.” Gumam Samuel pelan. “Kalo Caesar tetap hidup, kita semua yang bakal hancur.” “Akkkhhhh!” Samuel berteriak. Lehernya mengepulkan asap. Sebuah lingkaran merah, seperti baja dipanaskan, mendadak
Aku mendengar suara-suara beberapa orang yang sedang bercakap. Walau samar, tapi aku tahu pemilik dari suara itu. Mereka adalah Alana, Samuel dan juga Elvian. Entah apa yang mereka perdebatkan. Tapi yang jelas, dari suaranya, mereka seperti sedang berdebat. Sampai sesuatu dentuman membuat aku ref






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews