LOGINDi dunia yang retak oleh sihir dan sejarah yang dibungkam sekian lama, akhirnya kemabli memberontak. Aku, Caesar Atala Raharja, adalah satu dari sedikit remaja yang masih percaya, kalau sekolah sihir itu hanya bergulat pada mantra, atau nilai ujian semata. Tapi ternyata aku salah. Suara asing itu tiba-tiba memanggil nama ku dengan sangat lirih. Suara yang ternyata datang dari dalam darahku sendiri. Dan sejak saat itu, aku terseret kedalam pusaran rahasia tua. Sebuah garis keturunan kono, yang menyebabkan perang antara cahaya dan kegelapan. Artefak legendaris yang telah tertidur selama ratusan tahun, sebuah pedang naga hitam yang sering disebut Valzaryon, kini menyatu didalam nadi ku. Yang katanya, darah ku adalah darah yang tepat, yang membuat ia bangkit dari tidur panjangnya. "Darah mu adalah kunci yang dicari oleh para pengkhianat sihir," "Dia menginginkan mu. Para penjaga terkutuk itu, bahkan arwah yang belum selesai. Semua mengingunkan mu." Sebuah bisikan yang masih aku cari kebenarannya. Sebuah bisikan yang selalu menggema dikepala.
View MoreAku menarik napas panjang, kemudian kembali duduk di samping Alana. Berusaha tidak peduli dengan tatapan Ryuka dan kemblali fokus pada pertarungan. Di dalam sana, Gio dan Alexa sudah memasang kuda-kuda. Matra keduanya menyala. Menapilkan mode-mode sihir masing-masing. Jubah Alexa berwarna pink keputihan dengan ikat kepala putih bersih. Sedangkan jubah Gio, berwarna hitam dengan semburat merah, dan ikat kepala hitam yang dilengkapi mantra kuno di dadanya. Aku bisa melihat, kalau udara di dalam segel itu mendadak berubah berat. Tanah di bawah kaki Gio retak perlaha. Seolah bumi tidak mampu menahan tarikan napasnya yang terlalu padat. Gio menghembuskan napas panjang. Dari mulutnya keluar kabut tipis berwarna kelabu kemerahan. “Mode pernapasan Asura,” gumam Gio pelan. Mendengar itu, bulu kudukku langsung berdiri. Aku belum tahu teknik sihir pernapasan seperti ini. Tapi ketika mendengarnya untuk pertama kali, dadaku sudah ber
“Woy cepetan dong!” teriak salah seorang remaja laki-laki yang berdiri di belakangku. Membuat aku kembali dari alam bawah sadar itu. Aku emnarik napas panjang, menghembuskannya dengan tergesa. Sisik-sisik naga sudah tidak ada lagi. Tapi energi yang tadi kurasakan, masih terasa dan semakin bertambah besar. Aku mengangkat wajahku. Menatap Arvas yang memang lebih tinggi dari ku. Dia tersenyum sembari mengembalikan Pedang Naga Hitam yang sudah diberi tanda. “Gunakanlah tiga jurus itu.” bisiknya, kemudian memanggil peserta yang lain. Aku mengusap wajah, lalu menatap telapak tanganku. Masih tidak percaya dengan kekuatan baru yang kudapatkan. Yang lebih janggal adalah Arvas. Kenapa dia membantuku sampai segitunya. Banyak di khianati membuat sensor kecurigaanku menyala. Aku yakin, dibalik semua kebaikannya, Arvas pasti memiliki rencana. “Ayo!” Alana menarik tanganku. “Ayo kita kesana. Hari ini, kita gak ada pertandingan. Kita bisa l
“Arvas Dantra!” Penglihatan itu tiba-tiba menghilang. Terkalahkan oleh gema suara Naga Hitam yang ternyata sudah berdiri kokoh di belakang Arvas. Tatapan sang Naga penuh amarah. Matanya melebihi ketajaman pedang. Hembusan napasnya, melebihi hembusan angin menjelang badai. Tapi Arvas, dia sama sekali tidak takut. Dia berbalik badan. Berdiri disampingku, walau lebih manju satu langkah di depanku. Kedua tangan Arvas terlipat di depan dada, dengan seringai yang menampilkan barisan giginya yang putih bersih. Naga Hitam mendekatkan wajahnya. Hembusan napasnya membuat anak rambut Arvas bergerak-gerak. “Lancang sekali kau membuka aib itu.” Katanya. “Kau ingin mati untuk ke tiga kalinya?” Arvas terkekeh pelan. Ia menyugar rambutnya, lalu menempelkan keningnya tepat di hidung sang Naga. “Kau mengancamku? Kau lupa, kalau di kematian kedua ku, aku sudah berhasil mematahkanmu dan mengutukmu?” “Mengutuk?” pot
Arvas meraih pedangku. Dia menatapnya lalu tersenyum. Tepat disaat itu, aku seperti ditarik kealam bawah sadar. Aku bertemu dengan Naga Hitam yang sedang merengkol di singgasananya. Dan kali ini bukan hanya aku. Ada Arvas juga disana. Laki-laki itu bahkan sudah berdiri tepat di atas kepala sang Naga. Tangannya menyentuh bagian kelopak Naga yang masih tertutup. “Lama tak bertemu, Naga Hitam,” gumam Arvas pelan. “Lo-loh.., ko bisa?” tanyaku gugup. “Sensei bisa masuk kesini?” tanyaku lagi. Arvas terkekeh pelan. Lalu mengangkat wajahnya perlahan. Tepat ketika Arvas menegakkan kepalanya, tubuhku bergetar. Pijakanku melunak. Dan kini tengkorak-tengkorak yang ada di sekitarku melayang. Aku melihat mata Arvas yang berbeda. “Ma-mata itu. Mata Naga.” Iya. Mata Arvas persis sekali seperti mata Naga milik Yuzi dan milikku, hanya saja semburatnya tidak merah seperti Yuzi, atau hitam seperti milikku. Mata Naga milik Arvas sangat ter
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews