LOGINDi dunia yang retak oleh sihir dan sejarah yang dibungkam sekian lama, akhirnya kemabli memberontak. Aku, Caesar Atala Raharja, adalah satu dari sedikit remaja yang masih percaya, kalau sekolah sihir itu hanya bergulat pada mantra, atau nilai ujian semata. Tapi ternyata aku salah. Suara asing itu tiba-tiba memanggil nama ku dengan sangat lirih. Suara yang ternyata datang dari dalam darahku sendiri. Dan sejak saat itu, aku terseret kedalam pusaran rahasia tua. Sebuah garis keturunan kono, yang menyebabkan perang antara cahaya dan kegelapan. Artefak legendaris yang telah tertidur selama ratusan tahun, sebuah pedang naga hitam yang sering disebut Valzaryon, kini menyatu didalam nadi ku. Yang katanya, darah ku adalah darah yang tepat, yang membuat ia bangkit dari tidur panjangnya. "Darah mu adalah kunci yang dicari oleh para pengkhianat sihir," "Dia menginginkan mu. Para penjaga terkutuk itu, bahkan arwah yang belum selesai. Semua mengingunkan mu." Sebuah bisikan yang masih aku cari kebenarannya. Sebuah bisikan yang selalu menggema dikepala.
View MoreAku berdiri cukup lama di halaman akademi yang masih dipenuhi bekas pertarungan. Tanahnya retak di beberapa tempat, dan batu-batu kecil berserakan seperti sisa badai yang baru saja lewat. Makhluk gerbang itu sudah hilang. Namun perasaan di dadaku belum benar-benar tenang. Aku masih bisa merasakan sesuatu. Seperti ada panggilan yang terus menarik darahku ke satu arah. “Apa yang kamu pikirkan?” Suara Yuzi membuatku menoleh. Dia berdiri di sampingku dengan wajah serius seperti biasa. Aku menghela napas pelan. “Kerajaan Naga,” gumamku. Yuzi tidak langsung menjawab. Dia menatap ke arah hutan di luar akademi, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu yang lebih berat. Tak lama, Livo datang. Dia membawa botol kecil berisi cairan biru dan langsung meminumnya. “Kalian kelihatan seperti dua orang yang baru saja dapat masalah besar,” katanya. “Ada kemungkinan kita memang dapat masalah besar,” jawabku berusaha biasa saja, tapi aku tahu kalau raut wajahku tidak bisa berbohong lagi. Livo menga
Dibelakangku, bayangan naga hitam sudah berdiri sempurna. Aku menatapnya sebentar sebelum akhirnya mengangguk samar. Lagi pula, aku juga akan menggunakannya. Naga Hitam juga tidak seagresif seperti pertama aku menyentuhnya dulu. “Lawan saja dia,” bisik Naga Hitam lagi. “Kekuatanmu bahkan lebih besar dari makhluk jelek itu.” Energi yang keluar dari tubuhku tidak lagi liar seperti sebelumnya. Aku menatap makhluk gerbang di depanku. Walau samar, pergerakan dia ketika mundur satu langkah tidak luput dari penglihatanku. Aku tersenyum sebentar, sadar kalau yang diucapkan Naga Hitam memang benar. Makhluk itu takut pada kekuatan besar ini. “Di mata,” bisikku pada Naga Hitam yang sudah semakin mendekat dengan tubuhku. “Gue lihat Ayah sama Ibu ada di mata lo.” Ucapanku membuat Naga Hitam terkekeh ringan. Hembusan napasnya yang cukup berat, membuat anak-anak rambutku sedikit bergerak-gerak. “Karena mereka memang akan selalu ada bersamaku,” katanya. “Mereka boleh saja mati. Tapi jiwa mereka
Aku bisa merasakan semua mata tertuju padaku.Para Dewan yang berdiri di halaman akademi, para guru yang mulai mengangkat perisai sihir, bahkan makhluk raksasa yang baru saja keluar dari gerbang itu.Semua mengarah padaku.Angin berputar di sekeliling tubuhku ketika energi hitam dari darahku mulai keluar tanpa bisa kutahan. Membuat jantungku berdetak lebih keras.Tapi anehnya, aku tidak merasa takut sama sekali. Aku justru merasa lebih hidup dari biasanya. Tubuhku ringan, napasku sudah tidak berat, seolah semuanya baik-baik saja.Makhluk itu menundukkan kepalanya sedikit, matanya yang merah menyala menatapku seperti seorang pemburu yang akhirnya menemukan mangsanya.“Apa dia kenal sama lo, Kae?” bisik Alana yang sudah berdiri tepat di belakangku.Aku tidak menjawab, hanya gelengan kepala samar yang membuat mereka tak bisa berkata-kata lagi.Jujur saja, saat ini di dalam dadaku, sesuatu mulai bergerak. Suara itu kembali terdengar di dalam pikiranku. Suara yang terus mengatakan kalau aku
Aku berdiri di tepi lapangan latihan SMA Sanin ketika matahari hampir tenggelam. Udara sore terasa aneh, lebih berat dari biasanya, seolah dunia sedang menahan napas untuk sesuatu yang belum jelas. Sudah tiga hari sejak kejadian di ruang bawah tanah akademi. Dan sejak saat itu, aku bisa merasakan sesuatu. Sesuatu yang bergerak di balik dunia ini. Elvian berdiri di sampingku, dengan tangan yang sudah terselip di saku jaketnya. Wajahnya terlihat santai, tapi aku tahu dia juga merasakannya. “Gerbangnya makin banyak,” katanya pelan. Aku mengangguk lelah. Jujur saja, aku ingin segara mengakhiri semua ini. Aku ingin menangkap Ryuka dan raja sialan itu. “Bukan cuma banyak,” jawabku. “Mereka kayak makin dekat.” Sejak darahku bereaksi di ruang ritual itu, indra sihirku berubah. Aku bisa merasakan retakan kecil di dunia, seperti suara kaca yang hampir pecah, atau gesekan-gesekan kecil yang bahkan semut pun tidak mampu mendengarnya. Tak lama, langkah kaki mendekat dari belakang. “Gue udah






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews