Share

Chapter 03 - Leave you

Keesokan harinya.

Luna lebih dahulu membuka kedua matanya saat rasa mual itu semakin tidak tertahankan lagi, sudah lebih dari tiga hari dia seperti ini dan rasa takut itu semakin tinggi, dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, mungkinkah kata temannya itu benar?

‘Hamil?’

Luna segera berlari untuk mengeluarkan seluruh rasa mual itu, sambil membawa alat yang sudah dibeli kemarin, satu hal yang memang harus dipastikan kebenarannya.

Luna memejamkan erat matanya melihat dua garis terlihat jelas di sana, rasa takut semakin menyelimuti hatinya dan Luna tidak tahu harus bagaimana kedepannya. 

Dia tahu jika yang dikatakan kekasihnya itu benar, tapi Luna tidak percaya hingga akhirnya semua ini terjadi, pasalnya dia tidak ingin menyakiti Valery apalagi meninggalkannya sendirian.

“Kakak Valery maafkan aku,” ucap Luna, dia mengambil ponselnya dan menghubungi kekasihnya.

“Aku hamil,” Ucapnya, Luna tak kuasa untuk menahan lebih lama air matanya, dia membiarkan air mata itu mengalir membasahi pipinya.

‘Jika seperti itu ayo kita menikah Luna, aku akan mempertanggungjawabkan kesalahanku, tolong jangan merasa bersalah.’

Tangisan itu semakin dalam, Luna mau menikah tapi dia tidak siap melihat sang kakak terluka, Luan tidak bisa membayangkan betapa hancurnya Valery melihat dirinya dan keadaannya sekarang.

“Lupakan, jangan menghubungiku lagi!” Ucap Luna, mematikan ponselnya dan membuang SIM Card  miliknya. 

Dengan cepat menghapus air matanya, dia akan mengambil jalan agar sang kakak tidak terluka, Luna kembali lanjutkan memakai seragam sekolahnya.

Jam sudah menunjukan pukul 7 pagi tapi sang kakak tak kunjungi mendatangi kamarnya, Luna bergegas keluar dan menuju kamar sang kakak.

Luna terkejut melihat sang kakak masih tertidur, tidak biasanya Valery bangun siang, apakah Valery sakit?

“Kakak Valery, ayo bangun nanti kamu bisa telat bekerja, eh—tunggu kenapa tubuh kakak terasa panas,” ucapnya, Luna terkejut saat dia memegang tangan Valery yang terasa panas, dia mencoba menyentuh keningnya dan benar kakaknya terkena demam.

Valery membuka kedua matanya dengan rasa pusing di kepalanya, tatapannya sayu-sayu pada Luna yang ada dibelakangnya. 

“Luna, ternyata kamu sudah bangun?" tanya Valery dengan lemas entah kenapa hari ini dia merasa lemas, tubuhnya juga merasa begitu sakit dan kepalanya pusing.

"kakak kamu demam, hari ini istirahatlah dulu. jangan memaksakan diri untuk bekerja, aku yang akan menggantimu untuk sementara," ucap Luna yang begitu khawatir jika kakaknya mulai sakit.

Mungkin akan menjadi yang terakhir Luna melihatnya, bahkan dia harus meninggalkan Valery dengan keadaan sakit.

Valery menggelengkan kepalanya, dia berusaha untuk bangun dengan wajah yang begitu pucat.

“aku tidak apa-apa Luna. kamu harus terus belajar dan kamu juga akan segera menghadapi ujian, jadi gunakan waktu yang ada untuk belajar, aku masih mampu untuk berdiri dan bekerja.”

Luna tahu jika pasti Valery akan menolaknya, itulah kenapa membuat dirinya semakin takut, Valery selalu mementingkan dirinya. ‘maafkan aku kakak Valery.’

"tidak! Kakak Valery tolong jangan keras kepala, aku mohon untuk hari ini beristirahatlah untukku, saat nanti aku bekerja aku juga akan belajar, untuk hari ini saja, bukankah kita sudah pernah melakukannya ini sebelumnya?" ucap Luna, dia menahan Valery yang akan turun dari ranjangnya.

"baiklah untuk hari ini saja, besok tidak boleh melakukannya!" Valery tidak bisa menolak jika Luna sudah memohon pada dirinya, apalagi kondisi tidak bisa dikatakan baik.

"siap, aku akan menyiapkan sarapan untukmu"

Valery hanya mengangguk ucapan sang adik.

Luna segera meninggalkan Valery dan menuju dapur untuk membuat sarapan dan setelah selesai dia memberikan pada Valery, dia membuatkan bubur untuk sang kakak walau itu instan.

“aku sudah sarapan, aku minta izin pada Nyonya Ahn dan setelah pulang sekolah aku akan menjaga supermarket, dan ingatlah untuk istirahat yang cukup," ucap Luna berpamitan pada Valery.

"hati-hati dijalan, jangan lupa untuk membawa mantelmu Luna." ucap Valery, dia begitu lemas dan juga lesu untuk bangun pun tubuhnya sangat sulit, dia memutuskan untuk kembali tidur.

“Tentu, kakak Valery aku pergi.” ucap Luna setelah menutup pintu kamar sang kakak, dia tersenyum penuh makna yang berbeda. 

Salam perpisahan yang terakhir.

*******

Disebuah perusahaan ternama yang sangat terkenal di New York perusahaan ini masuk kedalam 3 terbesar di kota itu, bahkan perusahaan ini memiliki gedung tertinggi dengan 25 lantai dengan fasilitas yang sangat lengkap dan teknologinya tidak kalah canggih dengan jepang.

di perusahaan ini tingkat kedisiplinannya sangat tinggi dan karyawan disana harus melewati banyak tes dan ujian jika ingin bekerja, perusahaan ini bernama BS Corp, pimpinan perusahaan BS Corp. ini masih berusia 28 tahun, dia menjalankan perusahaan ini sejak usia yang saat muda yaitu berusia 23 tahun.

Dia bernama Byran Greyson, seorang lelaki yang dikenali dingin dan disiplin, membuat orang yang melihatnya akan selalu menundukkan kepalanya. Bukan hanya itu dia juga sangat tampan dan masuk kedalam 10 lelaki idaman di kota New York, kepintarannya sudah tidak bisa diragukan lagi dia memiliki IQ 173, Byran juga sangat fasih dalam bahasa mandarin dan jepang.

Orang tuanya sudah meninggal saat usianya berusia 12 tahun dan kakeknya-lah yang merawatnya hingga sekarang, dia juga mempunyai Adik yang sangat tampan dan tak kalah pintarnya yang berusia 20 tahun, dia masih duduk dibangku kuliah yang sedang menempuh semester Akhir, namanya adalah Karan Greyson tapi dia hanya fasih dalam bahasa jepang, dan tentu saja dia sangat populer dikalangan wanita.

Dia memiliki sikap yang sangat berbeda dengan Byran, sangat suka memakai barang miliknya dan membuat sang kakak kesal.

“Kenapa dia tidak bisa dihubungi lagi? Akhir-akhir dia terlihat aneh,” ucap Byran yang terus berulang kali menghubungi seseorang, dia tidak suka jika sang kekasih terus mengatakan untuk menjauhi darinya. 

Byran juga tidak bisa memahami apa keinginannya, padahal sejak kesalahan itu terjadi Byran sudah mengatakan akan bertanggung jawab, bahkan siap untuk menghadap orang yang membuat kekasih takut.

“kenapa kamu, Luna?” tanya Byran, dia memutuskan untuk mengirimkan pesan yang mengatakan akan pergi ke rumah jika Luna tak kunjung menghubunginya dan tidak takut untuk membawanya pergi.

Byran menyandarkan kepalanya di kursi, hasil kesalahan membenar-benar mempertemukan dirinya pada gadis yang bahkan mencintainya, Byran sangat menyayangi Luna dan sampai kapanpun dia ingin selalu menggenggam erat tangannya dan hidup bersama sampai matanya terpejam untuk terakhir kalinya.

“Tuan, Ada yang mencari anda, atas nama Luna—,”

Byran langsung terbangun dari kursinya, dia melangkah cepat keluar dan melihat sosok Luna di pintu.

“Luna?”

Byran mendekati sang kekasih dan langsung memberikan pelukan padanya.

“Ran—,”

“Kita berbicara didalam,”

Luna mengangguk, dia membiarkan Byran menarik dirinya ke dalam ruangan itu, Luna sudah mempertimbangankan segalanya, setidaknya Byran harus tahu dan pria itu tak boleh mendekati sang kakak.

“Byran, aku hanya menyampaikan sesuatu, aku datang bukan karena ingin bersamamu.” ucap Luna, dia melepaskan tangan Byran di tubuhnya dan melangkah menjauh sedikit darinya. 

“Aku ingin hubungan ini berakhir, aku tak mau bersamamu. Sebenarnya aku tidak pernah mencintaimu, aku hanya tertarik karena kau memiliki perusahaan besar dan aku hanya berpikir untuk memanfaatkanmu,”

Byran terkejut, entah kenapa kalimat itu benar-benar menyakiti perasaannya dan hal seperti ini kembali terjadi.

“Lalu, tadi pagi kamu mengatakan kamu hamil, itu apa Luna?”

Luna menatap tegas pada pria itu, dia tidak boleh lemah dan terlihat perduli, “Aku bahkan tidak ingin benih itu tumbuh ditubuhku! Aku hanya ingin uangmu tapi kau tidak mau memberikan aku apapun! Jadi lupakan saja hubungan ini!”

Luna membalik tubuhnya dan langsung meninggalkan ruangan, dia berlari kencang menuju lift, sebelum Byran menarik dan menahan dirinya.

Byran hanya terdiam, tatapannya menunjukkan jika dia sangat marah dan kesal, apakah jika dirinya miskin tidak ada yang mau bersamanya? 

“Ternyata kau sama saja dengan wanita diluar sana,”

Byran tidak berniat apapun untuk mengejar gadis itu, sebaliknya dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi temannya.

“Malam ini kita pergi ke club.”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status