LOGINYvonne Cassandra Ramirez-Velasquez, the wife of Desmond Kyle Velasquez. She is a woman adored by many men, but the only man in her life is her husband, Desmond. However, their marriage didn't start with a love story, rather, it was a marriage created by greed, money, and selfishness. Yvonne's love for Desmond can conquer anything but will that be enough to win his heart? His heart only beats for Yvonne's sister, Samantha. It seems like a happy ending is not bound to happen in a love story that ended before it started.
View MoreSemilir angin dingin dari AC seolah turut andil membekukan waktu di hari yang mulai merangkak tua. Reva terduduk di bangkunya, menghela nafas panjang dan menatap bosan ke pemandangan di luar jendela yang menggodanya untuk memberontak, keluar dari sana dan bebas. Namun tetap dia urungkan sekuat apapun keinginan tersebut.
Di sisi lain kelas juga serupa, beberapa siswa sudah mendengkur di bangku bagian belakang, dan yang lain diam-diam memainkan gawai di kolong meja mereka. Terkecuali gadis yang duduk sebangku dengan Reva, dia masih setia memasang telinga untuk mendengar ocehan guru di depan kelas, sesekali kepalanya ikut angguk-angguk mengikuti akhir perkataan sang guru.
Mendapati kawannya yang begitu fokus pada pelajaran membosankan ini, Reva hanya bisa kembali menghela nafas panjang, di lembaran buku tulis bagian belakang gadis itu asal mencoretkan isi tinta pulpennya ke sana, menggambar sebentuk rupa dari wajah entah siapa. Kegiatan tersebut membuatnya hanyut dan melupakan jenuh yang sebelum ini dia rasakan, perkataan guru kini hanya terdengar sayup-sayup, begitu pula dering bel pulang sekolah dan sorak riang siswa-siswa.
"Reva," Lara, kawan di samping gadis tersebut menepuk pundaknya, hingga tanpa disangka membuat orang yang dipanggilnya terkejut. "Sedang apa? Serius sekali."
"Bukan apa-apa," seiring dengan perkataan itu Reva segera menutup bukunya. Barulah dia menyadari keadaan kelas yang sudah sepi. "Kemana orang-orang?"
"Ya pulang dong," balas Lara yang baru selesai merapikan mejanya. "Kamu kenapa masih diam saja? Apa kamu mau menginap?"
"Kau saja yang menginap," Reva segera merapikan alat tulisnya, dia lakukan itu dengan cepat dan teliti agar tak ada yang terlewat, bahkan kolong meja pun tak luput dari matanya, sekian kemudian dia dan sang kawan keluar dari kelas mereka.
Kelas XII IPA B tempat Reva dan Lara menuntut ilmu berada di lantai tiga gedung sekolah bagian utara. Kelas yang diapit oleh kelas XII IPA A dan kelas XII IPA C tersebut menjadi kelas populer sebab ada Reva dan Lara di sana, dua gadis jelita dengan tubuh ideal bak aktris Hollywood itu merupakan primadonna di sekolah, terutama Reva dengan rambut merah bergelombang dan iris mata berwarna jingga.
Suasana ramai sepulang sekolah mengapit kedua kawan kita di dalam kerumunan, namun seramai apapun jalur pulang kepadatan itu tak mampu mengalahkan penuh sesaknya area lapangan basket dan sorak sorai yang bersumber dari sana seolah menandakan sedang terjadi peristiwa penting. Hal tersebut pun menarik perhatian Reva dan Lara yang masih berjalan lambat ke gerbang depan.
"Ada apa sih di sana?" Lara bertanya lebih dulu, "jangan-jangan sedang terjadi perkelahian!?"
"Tidak mungkin, kalau iya, pasti akan ada guru yang melerai dan membubarkan mereka," jawab Reva yang tak bisa melepas matanya dari kerumunan itu.
"Benar juga," timpal Lara menyetujui deduksi Reva tadi, kemudian dia menarik tangan kawannya, "ayo kita lihat lebih dekat!"
Walau enggan namun Reva tak bisa mencegah keinginan sang sahabat, dengan sedikit berkilah dan senggol sana-sini akhirnya mereka tiba di barisan depan. Begitu mendapati hal apa yang menarik orang-orang ini terpaku ke lapangan, Reva mendengus,dia merasa bosan dengan ini.
Sebuah pertandingan basket antar kelas sedang memanas, score seimbang di waktu-waktu penentuan menegangkan adrenalin semua pemain dan juga penontonnya. Namun bukan hal tersebutlah yang menjadi alasan para penonton yang didominasi kaum hawa berkumpul di situ dan meneriakkan sebuah nama.
To-bi-as!
To-bi-as!
To-bi-as!
Ya, lelaki remaja itulah yang menjadi pusat tontonan seolah dialah sang pemeran utama dari sebuah drama. Lelaki remaja dengan tinggi 175 itu memiliki bentuk wajah serupa Dewa Adonis dan senyum manis yang pasti membuat wanita meleleh kala melihatnya. Kini lelaki remaja tersebut tengah bergerak lincah di antara tubuh-tubuh lawan dengan tangan yang sibuk men-dribble bola basket, kemudian ia melakukan lay up shoot dan…
Goooll!!
Riuh penonton dan cetak score itu sekaligus menandakan berakhirnya pertandingan, tim Tobias mengungguli dua score dari lawannya sehingga terlihat jelas siapa pemenangnya.
Wasit sekaligus guru olahraga menggut-menggut menyaksikan hasil akhir dari pertandingan, sebuah pertandingan yang tidak hanya untuk pengisi jam pelajaran olahraga, tapi juga sebagai penentu bakat-bakat terbaik guna membentuk tim basket sekolah, yang nantinya akan bertanding di kejuaraan antar sekolah tingkat kota.
Kedua tim saling menjabat tangan, yang kalah mengucapkan selamat kepada yang menang dan yang menang memberi semangat pada yang kalah, kemudian mereka saling memecah diri menuju barang masing-masing yang tergeletak di sisi lapangan basket. Tampak lelaki remaja yang dicap sebagai ‘Most Wanted’ itu berjalan mendekat ke tempat Reva dan Lara berdiri, sontak para kaum hawa yang juga berada di sekitar mereka menjerit tertahan melihat idola mereka mendekat.
Memang Tobias memiliki wajah yang rupawan dan tubuh yang proporsional, terutama warna matanya yang senada dengan warna rambutnya, hitam legam itu selalu tampak menghipnotis orang-orang yang memandang ke sana, namun entah mengapa Reva sendiri merasa janggal dengan mata itu.
“Hai Lara,” Tobias mengembangkan senyumnya setelah berada tepat di hadapan kedua gadis primadonna sekolah, suaranya terdengar lembut dan ramah. “Hai Reva.”
“Hai Tobias,” hanya Lara yang membalas sapaan, sementara Reva justru membuang muka.
“Bagaimana menurut kalian pertandingan tadi?”
“Ker—“
“Mana kami tahu, kami baru saja tiba.”
Lara hanya mampu menelan kembali kata-kata yang sudah terpotong sebelumnya, dan Reva bersikap tak acuh.
“Apa karena pertanyaan itu kau datang kemari?” Reva bertanya dan masih mempertahankan sikap yang sama.
“Tidak juga, aku hendak mengambil barang-barangku di sini,” sambil berkata begitu, Tobias sedikit merunduk untuk mengambil barang yang dia maksud.
Dahi Reva mengkerut melihatnya, ‘bagaimana bisa ada barang di situ? Aku tidak melihat barang apapun sebelumnya.’
“Jadi… Apa kalian mau ikut makan-makan bersama timku?” Ajak Tobias setelah ia merapikan barang-barangnya ke dalam ransel sekolah, dia menatap kedua gadis itu dengan harapan penuh, “untuk merayakan kemenangan kecil ini.”
“Bol—“
“Tidak,” jawab Reva cepat, kembali memotong perkataan kawannya. “Hari ini banyak guru yang memberikan pekerjaan rumah, aku tidak mau menunda-nunda sampai berujung lupa.”
“Oh, oke, tak masalah.” Meski ditolak mentah-mentah Tobias tetap membalas dengan senyum ramah.
“Ayo Lara, kita pulang,” Reva tak bisa menyembunyikan rasa jengahnya pada lelaki remaja di depannya ini, dia bosan dengan dia yang selalu disebut-sebut oleh semua wanita di sekolah, termasuk dengan ibu-ibu kantin.
“Aku tidak bisa pulang bersamamu Reva,” Lara menbalas dengan raut wajah tidak enak hati.
“Kenapa?”
“Aku ada les tambahan, mungkin aku baru pulang di jam setengah empat sore,” Lara menengok jam di gawainya.
“Tapi bukankah kau ingin belajar bersama tadi?”
“Ya, setelah pulang les,” Lara sedikit terdiam sebelum melanjutkan. “Atau mungkin kau bisa ikut dengan Tobias selama menungguku.”
“Mmm, tidak deh,” Reva memutuskan untuk beranjak. “Terima kasih.”
Gadis itu mulai meninggalkan kerumunan sekaligus kawan baiknya di sana, sementara Lara dan Tobias saling lirik menerima perlakuan Reva tersebut.
“Susah juga mendekatinya,” simpul Lara setelah Reva menghilang dari pandangannya, wajah lugu yang sedari tadi terpancar darinya mendadak sirna begitu saja.
“Ya, sudah lebih dari tiga tahun kita berusaha,” balas Tobias, dia bersedekap dengan pandangan mata yang mengawang ke arah Reva pergi, “tapi kita tidak bisa berhenti berusaha.”
Lara hanya mengangguk menyetujui perkataan Tobias dan matanya mengikuti arah pandang lelaki tersebut.
WEEKS had passed since I discovered the truth, and so far…we haven't seen each other again. And for that, I’m thankful.Because if we did—I honestly don’t know how I’d feel. I don’t know how I’d react.I kept telling myself I shouldn’t feel this way.That I need to move on. That I should stop thinking about the what ifs.That’s why I’m grateful that our paths haven’t crossed again. I hope we will never cross paths again.I’m also thankful for Nick and Ally—for putting our safety first, for protecting me and Yandrich when I couldn’t do it alone.“Maybe this is for the best. Maybe there’s a reason why destiny allowed things to happen like this.” That’s what exactly I told myself the day Nick and Ally told me the truth about Desmond.I can’t let these emotions overpower me.I need to protect Yandrich—and to do that, I have to stop myself from feeling whatever this is…this emotion I can’t even name when it comes to Desmond. That's why I can’t see him again….never.Because if I do—I hone
“CAN YOU DRIVE?” he asked, looking into my eyes. “Or do you want me to take you home?” His gaze was deep—too deep. I felt like if I stared too long he’d read right through me.“N-No need.” I stammered. “Thank you, Mr. Velasquez.”I quickly opened my car door and got in. I glanced at him. He was on his phone now, his expression serious again. Then he walked toward my window. I lowered it.“Take care.” he said simply.I nodded, unable to speak.Sh*t…Sh*t…this is so wrong.I can’t feel this way towards him anymore.He’s already moved on, Yvonne!This is all an act. Don't believe him!I HAVE no idea how I got home safe after everything that happened. I still can’t believe how Desmond treated me—like he was the man I used to know.No. Yvonne this is wrong. You moved on… right?As I opened the door to our house, the soft click of the lock echoed. I thought Nick left but he was at the bar counter, his back slightly hunched, a glass of beer in his hand. “He’s asleep. Ally’s with him.” he
SHE GRABBED Desmond’s arm tightly, her voice laced with sugary sweetness.“Babe, I've been looking all over for you.” she poured with a pout. “I already had the paintings I like–for our new house.”Her eyes flicker to me as she says the word our new house, dripping with mockery.Desmond didn't even flinch. “Okay.” he simply replied, calm—but he seems distant for some reason.“Wait for me in the car with mom.”He gently pried her fingers from his arms and turned away—his eyes finding mine with quiet intensity.“I'm not done here.” he said this in a low voice "I still a very important piece i need to deal with Ms. Garcia."Samantha's expression flattered for a brief second. The furry behind her plastic smile barely stayed hidden. Her gaze followed to the painting on the wall—Ocean Eyes.“I want to buy that painting.” Desmond said, his voice steady, his eyes fixed on the canvas.He looked mesmerized by it.I painted it when Yandrich was just two years old—because everytime I looked into
“HE WANTS to buy our painting mommy.” My son innocently said smiling at me.While Desmond looked at my son intently making me want to grab Yandrich and hide him.What if he'll have an idea that Yandrich is his son?“I didn't know Mr. Velasquez had a son.” I heard a guess said when they passed us. “They completely look alike.” I didn't know what to do. From our distance I know that Desmond could also hear what they are saying. Even though he looks like he's paying attention to what Yandrich is explaining about the painting that I wasn't able to hear. Then Desmond's fierce ocean blue eyes looked at me. I froze, afraid of what he would say about my son—our son.For a brief second it felt like time had stopped.“Desmond, it's been a while.” Nick's voice cut through the tension like a blade. I hadn't even noticed him stepping towards them. Desmond’s gaze flickered toward him, but he didn't acknowledge the greeting.I HAD practiced this moment in my head countless times. Thought of every






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.