Share

Bab 53

Author: Adzlan Airey
last update publish date: 2026-05-04 23:08:35

Malam itu, suasana di kediaman Leon terasa jauh dari kata tenang.

Di sebuah ruangan luas yang gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu sudut, Leon duduk sendirian. Beberapa botol minuman berserakan di lantai, sebagian sudah kosong, sebagian lagi masih setengah terisi.

Ia menggenggam satu botol di tangannya, meneguknya tanpa jeda.

Wajahnya memerah, napasnya berat, namun tatapannya kosong.

Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat kuat itu, tampak kacau.

"Dia sudah tahu semuanya," gu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 53

    Malam itu, suasana di kediaman Leon terasa jauh dari kata tenang.Di sebuah ruangan luas yang gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu sudut, Leon duduk sendirian. Beberapa botol minuman berserakan di lantai, sebagian sudah kosong, sebagian lagi masih setengah terisi.Ia menggenggam satu botol di tangannya, meneguknya tanpa jeda.Wajahnya memerah, napasnya berat, namun tatapannya kosong.Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat kuat itu, tampak kacau."Dia sudah tahu semuanya," gumamnya.Suara Audrey kembali terngiang di kepalanya. Tentang siapa dirinya. Tentang darah yang menempel di tangannya. Tentang masa lalu yang ia kubur dalam-dalam. Dan, yang paling menyakitkan tentang kematian kedua orang tua Audrey dan anak mereka.Leon terdiam. Napasnya tertahan. Lalu, perlahan bayangan Reymond muncul di benaknya. Suara itu kembali menggema, menusuk tanpa ampun."Ka-kau mungkin berhasil membunuhku. Ta-tapi… kau juga kehilangan segalanya."Leon menggeram keras. Botol di tanganny

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 52

    Leon kembali ke rumah sakit dengan langkah tenang, namun aura dingin masih menyelimuti dirinya. Di depan ruangan, dua anak buahnya berdiri berjaga. Saat melihatnya datang, keduanya langsung menunduk hormat."Pergi," ucap Leon singkat, tanpa menatap.Keduanya segera menegakkan tubuh, membungkuk sekali lagi, lalu pergi meninggalkan tempat itu.Suasana mendadak sunyi.Leon terdiam di depan pintu. Tangannya perlahan terangkat, menggenggam kenop pintu. Ia menarik napas dalam, seolah menekan sesuatu yang bergolak di dalam dadanya, sebelum akhirnya membuka pintu dan masuk.Di dalam ruangan, Audrey terbaring terdiam di atas ranjang. Tatapannya menoleh ke arah jendela, kosong, seolah pikirannya melayang jauh.Leon mendekat perlahan, lalu duduk di sisi ranjang."Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanyanya pelan.Tidak ada jawaban. Audrey hanya diam.Beberapa detik kemudian, ia memalingkan wajah ke arah lain, menjauh dari Leon, seolah enggan bahkan sekadar menatapnya.Leon terdiam sesaat. Namun, ia t

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 51

    Leon terdiam. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, urat-urat di punggung tangannya tampak menegang. Rahangnya mengeras, napasnya memburu, namun, sekuat tenaga ia menahan emosinya agar tidak meledak di depan Audrey.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan sebelum akhirnya Leon mengalihkan pembicaraan."Tubuhmu masih lemah. Kata dokter, kau harus—""Aku ingin bercerai, Leon," potong Audrey tegas, menatap pria itu tanpa gentar.Leon terpaku. Sorot matanya bergetar sesaat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar."Ja-jangan bercanda, Sayang.""Aku tidak bercanda!" seru Audrey dengan suara yang mulai bergetar menahan emosi. "Aku serius."Kepalan tangan Leon semakin erat. Emosi yang sedari tadi ia tahan perlahan mendidih di dalam dadanya. Namun, beberapa saat kemudian, ia menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap tenang. Perlahan, jemarinya terbuka."Istirahatlah!" Suara Leon terdengar dingin dan datar.Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik lalu

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 50

    Sesampainya di rumah sakit, Audrey langsung dilarikan ke ruang gawat darurat. Pintu tertutup rapat, memisahkan dunia luar dari perjuangan hidup dan mati yang terjadi di dalamnya.Di luar, Leon Alexander berdiri diam. Wajahnya tampak tenang. Namun pikirannya kacau.Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia izinkan sebelumnya. Takut kehilangan.Tatapannya kosong menembus pintu, seolah berharap bisa melihat apa yang terjadi di balik sana. Bayangan Audrey yang terbaring lemah terus berputar di benaknya.Dan satu pikiran terus menghantuinya, jika sesuatu terjadi pada wanita itu, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.Di dalam ruangan, para dokter bergerak cepat.Alat bantu pernapasan segera dipasang. Monitor berdetak tidak beraturan, menunjukkan kondisi yang kritis. Darah yang terus merembes membuat tim medis bersiap melakukan tindakan operasi.Namun, saat pemeriksaan lebih lanjut dilakukan, gerakan mereka perlahan melambat.Ekspresi wajah m

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 49

    Pintu depan rumah itu jebol dalam satu tendangan keras. Debu berhamburan dan dalam detik yang sama, suara tembakan langsung memecah keheningan malam. DOR! DOR! DOR! Leon melangkah masuk tanpa ragu. Gerakannya cepat, dan presisi, seolah sudah membaca setiap sudut ruangan bahkan sebelum ia menginjakkan kaki di dalam. Dari sisi kiri dan kanan, bodyguardnya mulai menyapu area. Kilatan peluru beradu, suara benda pecah berserakan di lantai. "Amankan lantai bawah!" perintah Leon singkat. Tanpa menunggu, ia melesat ke dalam, melewati lorong sempit yang gelap. Satu pria muncul dari balik pintu dan— Brak! Leon menghantamnya tanpa ampun. Sikutnya menghantam rahang lawan, disusul tendangan keras yang membuat pria itu tersungkur tak berdaya. Langkahnya tidak terhenti. Di ujung lorong, dua pria bersenjata menghadangnya dan langsung membidik nya. DOR! DOR! DOR! Leon berguling ke samping, menghindari peluru, lalu membalas dengan tembakan terarah. Keduanya roboh hampir bersamaan. Ia terus

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 48

    Baron melangkah cepat memasuki ruangan utama. Di sana, Reymond duduk santai di kursinya, menikmati minuman dengan ekspresi tenang, seolah dunia di luar sana tidak ada artinya, seolah tidak ada yang perlu di khawatirkan. Baron berhenti beberapa langkah darinya, lalu membungkuk hormat. "Sudah tiga hari tapi, kita belum juga bertindak. Apa kau yakin, Leon akan—" "Tentu saja," potong Reymond tanpa ragu. Ia memutar gelas di tangannya, cairan di dalamnya berkilau samar di bawah cahaya redup. "Aku dengar, dia bahkan mulai kehilangan kendali. Menangkap semua pemimpin organisasi." Senyum tipis terukir di bibirnya, dingin dan penuh perhitungan. "Dia pasti sudah sangat putus asa mencari wanita itu. Jadi mulai sekarang, jangan pernah menjawab telepon dari siapa pun. Terutama… mereka," lanjutnya. Baron terdiam. Tubuhnya menegang. Getaran halus tidak bisa ia sembunyikan. Dan, Reymond menyadarinya saat menatap Baron yang tidak kunjung merespon. Perlahan, ia meletakkan gelasnya di meja. Ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status