Share

Bab 53

Author: Adzlan Airey
last update publish date: 2026-05-04 23:08:35

Malam itu, suasana di kediaman Leon terasa jauh dari kata tenang.

Di sebuah ruangan luas yang gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu sudut, Leon duduk sendirian. Beberapa botol minuman berserakan di lantai, sebagian sudah kosong, sebagian lagi masih setengah terisi.

Ia menggenggam satu botol di tangannya, meneguknya tanpa jeda.

Wajahnya memerah, napasnya berat, namun tatapannya kosong.

Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat kuat itu, tampak kacau.

"Dia sudah tahu semuanya," gu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 55

    Beberapa jam sebelumnya...Pintu ruang rawat Audrey terbuka kasar. Leon melangkah masuk dengan wajah dingin, diikuti Andrew di belakangnya. Aura pria itu terasa begitu menekan hingga udara di ruangan mendadak terasa berat.Namun, langkah Leon tiba-tiba terhenti. Tatapannya menyapu ruangan itu tajam.Suasana di ruangan itu terasa sunyi.Di atas ranjang, seseorang berbaring dengan selimut menutupi tubuh hingga kepala. Rambut panjang terurai, terlihat sebagian saja.Leon menyipitkan matanya. Ada sesuatu yang terasa aneh."Audrey?" panggilnya rendah.Tidak ada jawaban.Leon berjalan mendekat perlahan. Dan, dalam satu tarikan kasar, ia menarik selimut itu dan melemparnya begitu saja.Andrew langsung membelalak."Dokter Grace?!"Wanita itu mengerjapkan matanya, berpura-pura baru saja tersadar dengan tangan yang memijat pelipisnya."Ada apa ini?" gumamnya lirih. "Di mana aku?" Grace melihat sekeliling, lalu tatapannya jatuh pada Leon yang menatapnya tajam.Grace tersentak. Dia buru-buru tur

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 54

    Kafe di Jalan X tidak terlalu ramai siang itu.Aroma kopi memenuhi ruangan, bercampur suara pelan musik yang mengalun lembut. Namun, semua itu sama sekali tidak mampu menenangkan Audrey.Ia duduk di sudut ruangan, masih mengenakan jas putih milik Dokter Grace. Masker menutupi sebagian besar wajahnya, sementara rambutnya sengaja ia gerai untuk menyamarkan penampilannya.Tidak ada seorang pun yang mengenalinya. Namun tetap saja, Audrey merasa seolah semua mata sedang mengawasinya.Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas meja. Jemarinya dingin dan sedikit gemetar. Sesekali ia menoleh ke arah pintu masuk dengan napas gelisah."Cepat, Kak Michelle," gumamnya lirih. "Aku tidak punya banyak waktu."Beberapa menit berlalu terasa begitu lama. Hingga akhirnya, pintu kafe terbuka saat seseorang masuk.Mata Audrey langsung mengenali wanita itu.Michelle. Namun, Audrey tidak langsung bergerak. Ia tetap diam di tempatnya, memperhatikan dengan waspada. Tatapannya mengikuti setiap langkah Mi

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 53

    Malam itu, suasana di kediaman Leon terasa jauh dari kata tenang.Di sebuah ruangan luas yang gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu sudut, Leon duduk sendirian. Beberapa botol minuman berserakan di lantai, sebagian sudah kosong, sebagian lagi masih setengah terisi.Ia menggenggam satu botol di tangannya, meneguknya tanpa jeda.Wajahnya memerah, napasnya berat, namun tatapannya kosong.Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat kuat itu, tampak kacau."Dia sudah tahu semuanya," gumamnya.Suara Audrey kembali terngiang di kepalanya. Tentang siapa dirinya. Tentang darah yang menempel di tangannya. Tentang masa lalu yang ia kubur dalam-dalam. Dan, yang paling menyakitkan tentang kematian kedua orang tua Audrey dan anak mereka.Leon terdiam. Napasnya tertahan. Lalu, perlahan bayangan Reymond muncul di benaknya. Suara itu kembali menggema, menusuk tanpa ampun."Ka-kau mungkin berhasil membunuhku. Ta-tapi… kau juga kehilangan segalanya."Leon menggeram keras. Botol di tanganny

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 52

    Leon kembali ke rumah sakit dengan langkah tenang, namun aura dingin masih menyelimuti dirinya. Di depan ruangan, dua anak buahnya berdiri berjaga. Saat melihatnya datang, keduanya langsung menunduk hormat."Pergi," ucap Leon singkat, tanpa menatap.Keduanya segera menegakkan tubuh, membungkuk sekali lagi, lalu pergi meninggalkan tempat itu.Suasana mendadak sunyi.Leon terdiam di depan pintu. Tangannya perlahan terangkat, menggenggam kenop pintu. Ia menarik napas dalam, seolah menekan sesuatu yang bergolak di dalam dadanya, sebelum akhirnya membuka pintu dan masuk.Di dalam ruangan, Audrey terbaring terdiam di atas ranjang. Tatapannya menoleh ke arah jendela, kosong, seolah pikirannya melayang jauh.Leon mendekat perlahan, lalu duduk di sisi ranjang."Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanyanya pelan.Tidak ada jawaban. Audrey hanya diam.Beberapa detik kemudian, ia memalingkan wajah ke arah lain, menjauh dari Leon, seolah enggan bahkan sekadar menatapnya.Leon terdiam sesaat. Namun, ia t

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 51

    Leon terdiam. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, urat-urat di punggung tangannya tampak menegang. Rahangnya mengeras, napasnya memburu, namun, sekuat tenaga ia menahan emosinya agar tidak meledak di depan Audrey.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan sebelum akhirnya Leon mengalihkan pembicaraan."Tubuhmu masih lemah. Kata dokter, kau harus—""Aku ingin bercerai, Leon," potong Audrey tegas, menatap pria itu tanpa gentar.Leon terpaku. Sorot matanya bergetar sesaat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar."Ja-jangan bercanda, Sayang.""Aku tidak bercanda!" seru Audrey dengan suara yang mulai bergetar menahan emosi. "Aku serius."Kepalan tangan Leon semakin erat. Emosi yang sedari tadi ia tahan perlahan mendidih di dalam dadanya. Namun, beberapa saat kemudian, ia menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap tenang. Perlahan, jemarinya terbuka."Istirahatlah!" Suara Leon terdengar dingin dan datar.Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik lalu

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 50

    Sesampainya di rumah sakit, Audrey langsung dilarikan ke ruang gawat darurat. Pintu tertutup rapat, memisahkan dunia luar dari perjuangan hidup dan mati yang terjadi di dalamnya.Di luar, Leon Alexander berdiri diam. Wajahnya tampak tenang. Namun pikirannya kacau.Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia izinkan sebelumnya. Takut kehilangan.Tatapannya kosong menembus pintu, seolah berharap bisa melihat apa yang terjadi di balik sana. Bayangan Audrey yang terbaring lemah terus berputar di benaknya.Dan satu pikiran terus menghantuinya, jika sesuatu terjadi pada wanita itu, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.Di dalam ruangan, para dokter bergerak cepat.Alat bantu pernapasan segera dipasang. Monitor berdetak tidak beraturan, menunjukkan kondisi yang kritis. Darah yang terus merembes membuat tim medis bersiap melakukan tindakan operasi.Namun, saat pemeriksaan lebih lanjut dilakukan, gerakan mereka perlahan melambat.Ekspresi wajah m

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 44

    Dua hari berlalu, dan belum ada kabar tentang keberadaan Audrey. Namun, itu bukan berarti Leon berhenti begitu saja. Justru sebaliknya, ia kembali menggunakan cara lamanya.Cara yang selama ini membuat namanya ditakuti.Dia dan anak buahnya mendatangi satu persatu markas organisasi-organisasi yang

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 43

    Michelle berdiri di ruang kerja Hendrick dengan wajah tegang. Tangannya masih sedikit gemetar saat ia mencoba menjelaskan semuanya."Tu-tuan, Audrey diculik."Hendrick yang semula duduk langsung bangkit dari kursinya. "Apa?!"Michelle menelan ludah, lalu menceritakan kejadian di lokasi syuting, dar

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 42

    Karena tidak mendapatkan petunjuk, akhirnya Leon memilih mundur. Namun, bukan berarti dia menyerah. Justru, ia semakin gencar mencari tempat persembunyian Reymond. Dan kali ini, Leon tidak kembali ke apartemen Audrey, melainkan ke markasnya. Di ruang luas, gelap, dan sunyi. Hanya cahaya redup dar

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 7

    Siang akhirnya berganti malam yang gemerlap. Tepat pukul tujuh, mobil yang membawa Audrey dan Michelle berhenti di depan gedung stasiun televisi yang menjulang tinggi, dinding kacanya memantulkan cahaya lampu kota seperti lautan bintang buatan. Audrey turun perlahan. Sepatu haknya menyentuh trotoa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status