Wanita Kesayangan Tuan Leon
Audrey Willys terjebak dalam sebuah skenario licik yang menghancurkan hidupnya dalam semalam. Tanpa pernah ia rencanakan, ia terbangun di ranjang seorang pria yang tidak ia kenal.
Belum sempat mencerna apa yang terjadi, ia berusaha melarikan diri. Namun, langkahnya terhenti saat melihat puluhan wartawan mendekat, untuk memburu skandal yang siap meledak.
Tidak punya pilihan, Audrey kembali ke kamar dan berhadapan langsung dengan Leon, pria yang menghabiskan malam bersamanya.
Di tengah kekacauan yang semakin membesar, Leon justru menuntut pertanggungjawaban darinya.
Skandal satu malam itu dengan cepat menjadi berita panas yang menyebar luas. Nama Audrey tercoreng, kariernya terancam. Namun secara misterius, berita tersebut menghilang dalam sekejap, seolah tidak pernah ada.
Meski begitu, Audrey harus membuat keputusan besar. Demi kariernya. Demi reputasinya. Dan, demi masa depannya yang kini berada di tangan pria yang seharusnya tidak pernah ia temui.
Read
Chapter: Bab 36Malam harinya, di sebuah gedung terbengkalai yang jauh dari keramaian kota, suasana terasa mencekam. Seorang pria didorong dengan keras hingga tubuhnya menghantam tumpukan kayu. Kayu-kayu itu roboh berserakan, menimbulkan suara gaduh yang menggema di ruangan kosong. "Ugh!" pria itu mengaduh kesakitan, tubuhnya meringkuk di lantai. "A-Ampun, Tuan... Jangan bunuh saya," rintihnya dengan suara gemetar. Sosok di hadapannya melangkah mendekat dengan tenang, lalu berjongkok. Tangannya meraih kartu identitas yang masih tergantung di leher pria itu. "Kau... " gumamnya pelan, membaca tulisan di sana. "Frank, wartawan televisi News." "A-ampun, Tuan!" Frank kembali memohon, tubuhnya semakin gemetar. Sosok itu menatapnya dingin. "Kau tahu siapa aku, hm?" Frank mengangguk cepat. "A-anda, Tuan Andrew dari perusahaan Alexander." Andrew mengangguk pelan, sudut bibirnya terangkat tipis tanpa kehangatan. "Tepat sekali." Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, sorot matanya menekan. "Sekarang, kataka
Last Updated: 2026-03-28
Chapter: Bab 35Michelle dan Audrey tertegun menatap layar laptop di hadapan mereka. Berita itu terpampang jelas, seolah sengaja menusuk tanpa ampun. Di meja, beberapa foto tercetak berjejer rapi, bukti yang sama sekali tidak memberi ruang untuk menyangkal.Audrey menggeleng pelan, napasnya mulai tidak teratur."Ini tidak benar," bantahnya lirih, meski suaranya terdengar goyah.Hendrick mendengus kasar, rahangnya mengeras. Ia ingin mempercayai ucapan itu. Namun, kenyataan berkata lain."Ada sebuah akun yang mengatakan sudah meminta seorang ahli forensik digital sudah memeriksanya," ucapnya dingin. "Dan hasilnya... foto-foto itu asli."Ucapan itu seperti palu yang menghantam keras.Tubuh Audrey menegang. Tangannya perlahan mengepal di atas pangkuannya, kukunya menekan kulit hingga memucat. Ia tidak mungkin mengaku. Tidak sekarang, tidak dalam situasi seperti ini.Jika ia mengiyakan, itu berarti ia melanggar kontrak dengan agensi dan juga perusahaan Alexander. Semua yang telah ia bangun dengan susah p
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: Bab 34Michelle meniup perlahan semangkuk bubur hangat yang baru saja ia buat, memastikan suhunya cukup aman sebelum menyuapkannya pada Audrey."Buka mulutmu."Dengan patuh, Audrey membuka mulut dan menerima suapan itu. Wajahnya tampak pucat, tubuhnya lemah.Michelle menghela napas, menatapnya dengan campuran kesal dan khawatir."Kau ini, sebenarnya apa yang kau pikirkan, hah? Bagaimana bisa sampai sakit seperti ini?""Maaf, Kak... " suara Audrey nyaris tidak terdengar. "Ini salahku. Aku makan buah tanpa makan apa pun lebih dulu.”Michelle menyipitkan mata, jelas belum puas dengan jawaban itu. "Hanya karena itu?"Audrey menunduk, jemarinya saling menggenggam gelisah. "Sebenarnya, aku makan buah asam terlalu banyak."Michelle langsung membelalakkan mata. "Apa?!" suaranya meninggi. "Kau..!"Audrey semakin menunduk, bahunya sedikit gemetar. "Maaf..." bisiknya pelan.Michelle menghela napas panjang, lalu memijat pangkal hidungnya, mencoba menahan emosi."Astaga, Audrey... Bagaimana bisa kau maka
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: Bab 33Rak-rak buah tersusun rapi di dalam toko yang cukup luas itu. Aroma segar dari berbagai buah memenuhi udara, membuat suasana terasa ringan, berbanding terbalik dengan ketegangan yang sebenarnya mengintai. Audrey berjalan santai di antara rak, sesekali berhenti untuk memilih buah. Di tangannya sudah ada beberapa buah, tapi itu belum cukup. Ia masih terus memilih. Di belakangnya, Leon berdiri dengan kedua tangan penuh kantong plastik berisi buah yang rata-rata berasa asam. Ada Lemon, Cranberry, Blueberry, Anggur dan strawberry yang jelas-jelas belum terlalu matang. Bahkan, beberapa buah lain yang terkenal dengan rasa asamnya. Leon menatap isi kantong di tangannya dengan alis yang sedikit berkerut. "Sejak kapan dia suka semua buah ini?" pikirnya. Ia ingat jelas, Audrey bukan tipe orang yang menyukai rasa asam. Tapi hari ini, wanita itu seperti sengaja memilih semua buah dengan rasa yang menusuk lidah. Leon menghela napas pelan. Namun, daripada memikirkan hal itu terlalu jau
Last Updated: 2026-03-17
Chapter: Bab 32Pertemuan para pemimpin dunia bawah akhirnya selesai. Kursi-kursi yang tadi dipenuhi pria-pria berwajah keras kini mulai kosong satu per satu.Mereka berdiri, merapikan jas atau mantel mereka, lalu berjalan menuju pintu keluar.Beberapa di antaranya sempat berhenti untuk berjabat tangan dengan Reymond Hale."Hubungi kami jika kau sudah menyiapkan rencana," ucap salah satu dari mereka."Kita lihat saja apakah rencanamu benar-benar berhasil atau tidak," imbuh yang lain dengan nada penuh arti.Reymond hanya membalas semuanya dengan senyum tenang. Ia bahkan mengantar mereka sampai ke depan pintu aula.Satu per satu pria-pria mengerikan itu mulai berpamitan sebelum akhirnya menghilang di lorong panjang yang redup.Namun, ketika hampir semua orang sudah pergi, seseorang berhenti tepat di depannya.Dia adalah pria yang sejak tadi hanya diam sepanjang rapat. Ia berdiri di ambang pintu, lalu perlahan menoleh, menatap Reymond.Beberapa detik ia hanya menatap dalam diam, kemudian ia berkata deng
Last Updated: 2026-03-16
Chapter: Bab 31Di tempat lain, jauh dari hiruk-pikuk, suasana yang sangat berbeda tengah berlangsung.Sebuah aula besar dengan lampu redup dipenuhi oleh puluhan pria bertubuh kekar. Wajah mereka keras, beberapa dipenuhi bekas luka, sementara yang lain tampak seperti orang-orang yang terbiasa hidup di dunia gelap.Di tengah ruangan, sebuah meja panjang membentang. Semua kursi di sekeliling meja itu sudah terisi.Mereka bukan orang biasa. Mereka adalah para pemimpin dan perwakilan dari berbagai organisasi hitam yang selama ini beroperasi di balik bayang-bayang.Di ujung meja, seorang pria berdiri dengan tenang. Pria itu adalah Reymond Hale.Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya ia membuka pembicaraan."Terima kasih karena kalian semua bersedia datang." Suaranya tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat ruangan itu hening.Beberapa pria saling bertukar pandang. Mereka semua tahu, jika Reymond sampai mengundang mereka ke pertemuan tertutup seperti ini, pasti ada sesuatu yang besar, y
Last Updated: 2026-03-14