Masuk“Aku nggak mau sentuh makanan kamu.”
Suara yang keluar dari bibir Savita bergetar dengan amarah. Penolakan itu lahir dari insting untuk bertahan hidup. Ditatapnya Gita penuh kebencian. Diabaikannya rasa melilit perutnya yang protes.
Gita yang tadi tersenyum sinis kini berubah menjadi tawa kecil meremehkan.
“Oh, ya? Kuat juga pendirian kamu, Mbak.” cibir Gita lalu bersidekap menatap Savita yang masih diatas tempat tidur. “Oke. Aku udah coba bersikap baik. Malahan udah kasih Mbak pilihan. Kalau Mbak malah lebih memilih mati kelaparan karena pertahanin harga diri Mbak yang nggak ada gunanya itu, silakan aja, Mbak.”
Gita mengangkat bahu seolah keputusan Savita tidak penting daripada memilih warna cat kuku. Ditatapnya Savita. Menunggu reaksi istri pertama Mahendra tersebut. Akan tetapi, Savita yang hanya diam membuat Gita berdecak.
“Terserah k
“Minum sampai habis. Saya disuruh tungguin sampai kosong gelasnya.”Suara Siti terdengar dingin dan tanpa emosi di telinga Savita. Bagaikan suara mesin. Wanita muda itu berdiri menjulang di hadapan Savita yang masih duduk di lantai. Di tangannya, terdapat segelas susu putih.Ini merupakan kunjungan keduanya Siti di hari yang sama. Setelah sebelumnya Savita tidak menyentuh bubur encer yang dibawakan. Kali ini, Siti datang dengan misi yang jelas: memastikan Savita menelan sesuatu.Savita menatap gelas di tangan Siti waspada. Dia tidak bodoh. Setelah insiden Bi Uti tersebut, dia tahu Gita tidak akan biarkannya lolos begitu saja.Matanya kemudian menangkap sesuatu yang aneh pada gelas yang dipegang Siti. Pada pinggiran dalam gelas itu, menempel buih kecil berwarna kuning yang tidak wajar. Hal itu berbeda sekali dengan buih susu biasa.Savita sering membuatkan susu untuk K
“Ampun, Non! Maaf, Non! Saya nggak maksud lancang! Saya kasihan .…,”Suara memohon yang disusul isak tangis itu menembus pintu kamar Savita dan menyentaknya dari tidur gelisah. Itu suara Bi Uti.Jantung Savita berdebar dan dipenuhi firasat buruk. Dia melompat dari tempat tidur lalu menuju pintu. Ditempelkan telinganya di pintu kayu. Savita berpikir bahwa suara itu dari arah dapur.“Kasihan?!” Suara Gita melengking dengan penuh amarah. Nada suaranya layaknya cambuk. “Kamu digaji buat nurutin perintah. Bukannya ngasihanin orang! Kamu pikir kamu itu siapa? Hah? Malaikat? Kamu cuma pembantu yang numpang hidup di sini!”Terdengar suara bunyi gedebuk seperti tubuh seseorang didorong hingga membentur sesuatu yang keras entah mungkin meja, lemari, atau dinding lalu diikuti rintihan kesakitan Bi Uti. Savita dapat membayangkan tubuh tua dan renta itu terhempas tidak b
“Nyalain lampunya, Mbak! Aku tahu kamu belum tidur.”Suara Gita mengoyak keheningan di dalam kamar itu. Pintu kamar itu kemudian dibanting hingga menciptakan suara gebrakan yang membuat Savita tersentak.Gita menekan saklar lampu yang ada di samping pintu kamar. Cahaya yang menusuk mata segera memenuhi ruangan. Cahaya itu menelanjangi setiap sudut kamar.Savita berusaha memejamkan mata rapat-rapat walau jantungnya berdebar kencang hingga terasa sakit. Dia tahu bahwa dia tertangkap. Cahaya layar ponsel itu walaupun redup, pasti terlihat seperti mercusuar di kegelapan dari celah bawah pintu.“Mbak udah selesai main petak umpetnya?” tanya Gita mencibir.Wabita itu berjalan mendekati tempat tidur dengan langkah angkuh dan mengancam. Aroma parfum manis yang dipakai Gita terasa memuakkan bagi Savita.“Aku tadi lihat sinar dari lorong.&
“Bunda, Kok Mama nggak pernah main lagi sama aku sih?”Pertanyaan polos yang penuh kerinduan itu menembus pintu kayu dan menghantam telinga Savita yang duduk memeluk lutut di balik pintu kamar.Suara Kaivan terdengar begitu dekat. Namun, terasa berjarak ribuan kilometer disebabkan dinding pemisah yang dibangun Mahendra.Savita menahan napas lalu berbalik menempelkan telinganya ke permukaan pintu. Air mata merebak di sudut matanya tanpa ditahan.Sementara itu. Di ruang tengah, Gita sedang duduk santai di sofa seraya melihat katalog perlengkapan bayi di ponselnya, ketika mendengar pertanyaan itu hanya melirik sekilas. Kaivan berdiri di depan Gita dengan wajah murung seraya memegang robot mainan yang kakinya patah.“Sayang, mamamu itu lagi butuh istirahat. Jangan diganggu dulu, ya,” jawab Gita pada akhirnya dengan nada santai.Matanya kembali fokus pada layar ponselnya. Jari-jarinya yang lentik dengan cat kuku berwarna merah menyala itu menggeser layar. Dia sedang memilih baju bayi impor
“Pastikan kamu awasi dia selagi aku pergi. Jangan sampai perempuan itu lakuin hal bodoh.”Suara Mahendra terdengar tegas dari balik pintu kamar Savita yang tertutup. Itu merupakan suara seorang komandan yang memberikan instruksi terakhir letnannya sebelum meninggalkan medan perang.Savita yang kini sedang duduk bersandar di dinding samping pintu mendadak menahan napas. Perlahan ditempelkan telinganya ke kayu dingin itu. Dia mencoba menangkap berbagai detail percakapan yang terjadi di luar kamar tersebut.“Tenang aja, Mas,” jawab Gita dengan suara santai nan penuh percaya diri. “Dia nggak akan bisa pergi ke mana-mana. Kunci kamar kan ada sama aku, Siti juga standby di dekat dapur terus. Lagian, lihat aja dia kemarin. Dia nggak punya tenaga buat marah-marah. Kelaparan buat dia jinak.”Savita diam dengan telinga massih menempel di daun pintu. Dia mendengar suara resleting koper yang ditarik, kemudian diikuti bunyi langkah kaki sepatu beradu dengan lantai marmer. Mahendra sudah siap beran
“Bibi ngelihat sendiri?”Pertanyaan itu keluar dengan nada mendesak. Matanya menatap lekat Bi Uti yang diterangi cahaya lampu taman dari jendela.Bi Uti segera mengangguk. Savita dapat melihat wajah Bi Uti dipenuhi ketakutan.“Iya, Nya. Saya lihat sama mata saya sendiri,” bisiknya dengan suara gemetar. “Waktu itu Siti lagi di kamar mandi. Saya lihat Non Gita keluarin botol kecil dari saku bajunya terus tetesin ke mangkuk sup itu. dikira Non Gita nggak ada orang. Makanya dia tetesin nggak tau apaan, Nya.”Pengakuan Bui Uti membuat darah Savita berdesir. Paranoidnya terbukti. Gita bukan sekadar membuatnya kelaparan. Tetapi wanita itu mau meracuninya. Atau bahkan lebih mengerikannya lagi membuatnya tidur selamanya. Mungkin setidaknya cukup sakit sampai tidak bisa melawan. Sup ayam itu kini merupakan senjata pembunuh.“Ya Tuhan,” bisik







