MasukSavita Arrazka mengira suami yang sangat dicintainya akan memberikan cinta bertubi-tubi saat dokter memvonis dia mengidap kanker. Namun kenyataannya berbanding terbalik. Mahendra Janardana justru membawa pulang wanita lain dan berniat untuk menikahinya. Savita dihadapkan pada dua pilihan, menyerah atau melawan?
Lihat lebih banyak"Nyonya Savita, Anda mengidap kanker darah leukimia."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Savita.
Setelah menerima surat rujukan, Savita langsung diarahkan ke dokter hemato-onkologi. Kini, dia duduk di ruang tunggu. Jantungnya berdegup tak menentu dan jemarinya saling meremas dalam diam.
"Savita Arrazka."
Suara lembut seorang perawat wanita membuyarkan lamunannya. Savita mendongak.
"Iya, saya," jawabnya pelan, lalu berdiri dan melangkah masuk ke ruang onkologi.
Dengan kepala menunduk, Savita segera duduk di kursi pasien. Begitu mengangkat wajah, matanya langsung bertemu dengan dokter pria yang sangat dia kenali di manapun berada.
Dimas Samitra.
Berbeda dengan Savita yang begitu terkejut, Dimas tampak biasa saja. Dia bersikap tenang seolah ini adalah pertemuan pertama mereka.
Dimas membuka map berwarna merah yang berisi kertas-kertas pemeriksaan dan mulai membacakan hasilnya.
"Savita Arrazka, 29 tahun. Saya sudah memeriksa hasil pemeriksaannya,” ucap Dimas dengan mata masih menatap map yang ada di hadapannya. “Leukimianya terdeteksi masih bisa sembuh dan peluangnya besar. Kalau bersedia, saya buat jadwal pengobatannya."
Setelah mengatakan itu, Dimas menulis sesuatu di kertas tersebut. Melihat hal itu, Savita menelan ludah. Dia tidak menyangka hari ini akan datang. Penyakit yang tidak pernah disangka olehnya sampai kapanpun.
Setelah hubungannya dengan Dimas berakhir 10 tahun lalu, takdir mempertemukan mereka kembali sebagai dokter dan pasien. Suatu hal yang sebenarnya tidak diinginkan oleh Savita.
Melihat Savita hanya diam, Dimas mengernyit lalu mengangkat kepalanya. "Savita?" panggilnya pelan.
“Ya,” jawab Savita sedikit gelagapan.
Suara Dimas membuatnya tersadar. Savita menghela napas pelan dan mencoba tersenyum tipis. Kedua tangannya mendadak dingin. Leukimia. Kanker yang tidak pernah disangka akan datang di tubuhnya.
"Maaf, aku melamun,” ucap Savita lagi. “Ya, aku setuju."
Dimas menatap Savita cukup lama lalu mengangguk. Dimas kembali menunjukkan ketenangannya. Pria itu kemudian menulis lagi sesuatu di dokumen dan beralih menatap Savita.
"Sebelum mulai pengobatan, saya mau jelaskan prosedur yang perlu kamu siapkan." Dimas berkata dengan suara tenang layaknya pada pasien pada umumnya dan menggunakan bahasa baku.
Lalu, Dimas memaparkan serangkaian langkah yang harus dijalani Savita. Suaranya tenang dan jelas, membuat Savita mudah memahami setiap penjelasan.
Begitu Dimas selesai berbicara, barulah Savita membuka suara. “Terima kasih penjelasannya, Dokter. Kalau begitu saya permisi.”
Saat Savita hendak bersiap untuk berdiri ketika Dimas menahan pergelangan tangannya.
“Tunggu,” kata Dimas.
Sadar dengan apa yang baru saja dilakukan, Dimas buru-buru melepaskannya perlahan.
"Kamu apa kabarnya?" tanya Dimas. Kali ini nada suaranya lebih lembut.
Ini pertama kalinya Dimas berbicara dengan nada informal, setelah sedari tadi bersikap seolah mereka tidak saling mengenal.
"Baik," jawab Savita singkat.
Savita mencoba untuk membuat kenangannya bersama dengan Dimas beberapa tahun lalu.
Ekspresi Dimas berubah. Meski hanya sekilas, ada gurat kesedihan yang sulit disembunyikan di wajahnya. Savita mengetahui itu. Mereka menjalin hubungan tidaklah sebentar.
"Begitu, ya,” angguk Dimas pelan. “Kayaknya Mahendra memperlakukan kamu baik banget."
Ucapan Dimas membuat Savita mengerutkan dahi seraya memandangi pria itu, mencoba membaca maksud dari ucapannya barusan.
"Maksudnya?" tanya Savita. Karena dia tidak paham yang dikatakan Dimas.
Dimas menggeleng cepat lalu tersenyum tipis. "Nggak. Nggak ada apa-apa. Kamu boleh pergi."
Savita memilih untuk tak memikirkan terlalu jauh maksud perkataan Dimas. Dia segera bangkit dan melangkah keluar.
Dimas memerhatikan punggung Savita yang menghilang di balik pintu ruang prakteknya. Dia menghela napas pelan. Diletakkan ballpoint yang sejak tadi dipegangnya sebagai penguat perasaannya yang hampir saja jatuh saat melihat Savita.
“Maaf,” bisik Dimas lalu menunduk.
Savita melangkahkan kakinya menyusuri lorong-lorong rumah sakit Kasih Medika yang berada di pusat kota Bekasi. Savita menghela napas pelan. Dia tidak bisa menyingkirkan begitu saja berita buruk yang diterimanya. Dia mendadak bingung harus berkata apa pada Mahendra dan Kaivan mengenai penyakitnya itu.
Dengan tangan yang tiba-tiba gemetar, Savita mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dicarinya aplikasi taksi daring lalu memesannya menuju rumah. Tertulis di aplikasi taksi dari tersebut waktu tempuh 30 menit sampai ke rumah.
Tidak lama menunggu, taksi tersebut sudah sampai. Tanpa banyak berkata, Savita segera menaiki mobil tersebut. Di dalam mobil, Savita mencoba memejamkan mata mengulang kembali ucapan Dimas di rumah sakit tadi.
“Leukimianya terdeteksi masih bisa sembuh.”
Entah, Dimas hanya menghibur atau kenyataan untuk Savita. Tetapi leukimia merupakan kanker darah yang menurutnya menakutkan.
“Sudah sampai, Bu Savita.”
Suara pengemudi itu membuat Savita membuka mata. Savita mencoba tersenyum. Langkah kakinya mendadak berat saat hendak turun dari mobil itu.
“Terima kasih, Pak. Sudah pakai e-wallet, ya, tadi,” ucapnya lalu perlahan keluar dari mobil.
Savita melangkahkan kakinya menuju rumah. Ditekan bel di samping pintu rumah itu perlahan. Pikirannya masih kacau berusaha merangkai kata untuk Mahendra nanti.
‘Atau langsung saja kuberikan hasil pemeriksaan tadi?’ pikirnya masih bingung.
Begitu pintu terbuka, seorang anak kecil berlari menghampirinya. Dia adalah Kaivan Janardana, putra Savita yang baru berusia lima tahun.
"Mama!" seru Kaivan riang dan segera memeluk Savita.
Savita membalas pelukan Kaivan. Melihat kaivan, hatinya pilu. Dia tidak sanggup mengatakan penyakitnya. Walau masih bisa sembuh, tetapi hanya Tuhan yang dapat menentukan segalanya.
"Mama, Papa juga udah pulang."
Savita mengernyit, alisnya bertaut rapat saat melihat jam tangannya. Pukul 5 sore.
"Oya? Di mana papa sekarang?" tanya Savita. “Mama mau ngomong sama Papa.”
Kemudian Savita menggamit lengan Kaivan bersamanya. Savita mencoba menepis keanehan Mahendra yang pulang cepat. Mahendra biasanya pulang pukul 7 malam atau paling terlambat pukul 10 malam.
"Papa ada di ruang tengah sama tante cantik," jawab Kaivan.
Savita sedikit bingung. ‘Apa maksud Kaivan? Siapa tante cantik yang dimaksudnya?’
“Oh. Teman Papa, ya?” Savita bertanya seraya tersenyum. Berpikir positif diantara kabar buruk mengenai penyakitnya. “Yuk, ketemu Papa.” Ajak Savita lagi tanpa menaruh curiga. Biasanya memang Mahendra menerima tamu di rumah itu.
"Tante cantik bilang, dia lagi hamil adik bayi perempuan," celetuk Kaivan lagi.
Wajah Kaivan bahagia dan bersemangat saat menceritakan tante cantik. Sebaliknya, Savita mulai bingung. Diangkat alisnya menatap Kaivan.
“Hamil?” Savita berbisik lebih kepada dirinya sendiri.
Savita menggeleng pelan. Dia memasang senyumnya. ‘Mungkin mau ajukan cuti,’ pikirnya.
“Ayo, Kaivan.” Ajak Savita lagi ketika langkah mereka hampir sampai di ruang tengah.
Savita merogoh tas tangan yang dibawanya. Dia akan memberikan saja surat pemeriksaan pada Mahendra. Jika Mahendra bertanya, maka dia akan menjawab sejujurnya.
"Kamu sudah pulang?"
Suara bariton terdengar membuat langkah kaki Savita berhenti. Mahendra Janardana berjalan menghampirinya.
Di belakang Mahendra, seorang wanita dengan kulit putih, rambut panjang bergelombang mencapai punggung dan memiliki hidung bangir tersenyum pada Savita. Dia terlihat elegan dan anggun dengan balutan midi dress biru serta sepatu hak tinggi 5 cm warna senada. Mata Savita tertuju pada perut yang masih rata itu.
Kedua alis Savita terangkat saat matanya tertuju pada mata yang memiliki riasan smokey eyes itu. "Gita?"
Ya, Savita mengenalnya.
Gita adalah artis yang berada di bawah naungan perusahaan Janardana Media Grup milik Mahendra. Perusahaan yang bergerak di bidang Media dan Musik. Seingat Savita, Gita belum menikah. Sekarang Gita hamil dan itu membuat Savita bingung.
"Savita, ada yang mau aku omongin," kata Mahendra. Wajahnya terlihat sangat serius.
Savita masih menatap Mahendra. "Apa?"
Perlahan Savita memasukkan kembali surat pemeriksaan itu ke dalam tasnya. Keinginannya untuk memberitahukan Mahendra mengenai penyakitnya batal. Perasaannya mulai tidak enak. Savita merasa ada yang janggal. Karena tidak biasanya Mahendra berekspresi seserius itu saat ingin berbicara dengannya.
‘Sebenarnya ada apa ini?’ tanya Savita dalam hati.
Keraguan tercetak jelas di wajah Mahendra. Savita masih diam menunggu sesuatu yang ingin dikatakan oleh suaminya tersebut. Kemudian, Mahendra menatap Gita yang berdiri di sampingnya. Hal itu membuat Savita semakin penasaran.
"Bilang saja, Mahendra," pinta Savita dengan suara pelan. Dia sudah tidak sanggup bersuara keras lagi.
Mahendra berdeham. "Gita hamil."
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca cerita ini. yuk ramaikan cerita aku yg lain. judulnya Istri Gadai Marquess Kejam. Terima kasih yaaa. semoga kalian sehat selalu.
“Ivan! Kamu beneran mau naruh ide kampanye semulus ini di meja Direktur? Ini tuh terlalu kalem, nggak ada gigit-gigitnya! Kamu denger nggak sih?”Suara Alea melengking di tengah hiruk pikuk ruang divisi kreatif Arrazka Media. Gadis itu melemparkan map draf ke meja kerja Kaivan dengan bunyiplakyang cukup keras.Beberapa staf lain hanya melirik sekilas, sudah terbiasa melihat "anak magang" bernama Ivan itu menjadi sasaran empuk omelan Alea yang terkenal tanpa filter.Kaivan mengangkat kepalanya, membetulkan letak kacamatanya sambil tersenyum tenang.“Justru itu intinya, Al. Kita nggak perlu teriak-teriak buat narik perhatian audiens. Kadang, pesan yang disampaikan dengan lembut jauh lebih masuk ke hati daripada yang maksa.”Alea mendengus, ia menarik kursi di samping Kaivan dan duduk dengan gaya serampangan. “Lembut itu buat lagu n
“Selamat datang di rumah, Jagoan. Inggris beneran bikin kamu tambah tinggi ya?”Suara lembut Savita menyambut Kaivan tepat saat pemuda itu melangkah masuk ke ruang tengah rumah besar keluarga Arrazka. Savita berdiri dengan anggun, mengenakan tunik sutra berwarna pastel.Wajahnya memancarkan kedamaian yang luar biasa, meskipun garis-garis usia mulai terlihat halus di sudut matanya.Lima belas tahun telah berlalu sejak badai besar itu, dan Savita telah menjelma menjadi salah satu pemimpin media paling berpengaruh di negeri ini setelah berhasil mengambil alih dan melakukanrebrandingtotal Janardana Media Grup menjadi Arrazka Media.Kaivan tersenyum lebar. Diletakkan koper kabinnya dan langsung memeluk ibunya erat-erat. Tubuh Kaivan kini menjulang tinggi, melampaui tinggi Savita.“Kangen banget sama masakan Mama. Di sana cuma makan roti sama past
“Vita, kamu liat mawar putih yang baru mekar di pojok sana? Baunya enak banget, persis kayak parfum yang sering kamu pakai dulu.”Suara Dimas terdengar lembut saat berjalan perlahan di samping Savita menyusuri taman belakang rumah keluarga Arrazka.Sore itu, matahari tidak terlalu terik, sinarnya yang keemasan menyapu ribuan kelopak bunga yang sengaja ditanam oleh Ami dan Maia untuk merayakan kembalinya kehidupan di rumah ini.Taman yang dulu sempat terbengkalai kini berubah menjadi lautan warna-warni yang menyegarkan mata.Savita menghentikan langkahnya dan menghirup udara dalam-dalam.“Iya, Dim. Tante Ami pinter banget milih bibitnya. Aku nggak nyangka rumah ini bisa sehidup ini lagi. Dulu... tiap kali aku liat jendela, yang ada cuma bayangan tembok tinggi.”“Sekarang nggak ada lagi tembok yang ngurung kamu, Vita,” sahut Dimas.Pria itu berdiri tepat di hadapan Savita, menatapnya dengan binar mata yang tidak pernah berubah sejak pertama mereka bertemu. Penuh dengan ketulusan yang mu
Alis Maia naik. Dia menoleh cepat pada Dimas.“Apa? dia adiknya Mas Dimas? Dia?!” tunjuknya tidak percaya pada Danang.“Heh, emang kenapa?” Danang menyipitkan mata pada Maia. Jelas tidak suka.“Aneh.&rdqu
“Ini bukan rumah sakitnya ya?”Maia turun dari taksi. Matanya menatap lurus pada rumah sakit lalu kembali pada ponsel yang dia genggam. Sopir taksi menurunkan koper besar milik Maia itu ke sisi jalan.“Mbak kopernya.” Sopir itu men
“Dimas, organnya hatinya sudah mulai shutdown. Kita kehabisan waktu.”Laporan dari Anwar terdengar. Mereka berdiri di ruang monitor di luar ICU. Setelah insiden serangan semalam, kondisi Savita yang tadinya stabil, kini merosot tajam. Stres akibat keributan itu se
“Suster! Ada orang mencurigakan di tangga lantai empat!”Teriakan dari seorang perawat jaga yang sedang berpatroli memecah keheningan malam di koridor ICU. Dimas, yang sedang mencoba memejamkan mata di ruang dokter yang bersebelahan dengan ICU, segera terbangun.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak