Se connecterSavita Arrazka mengira suami yang sangat dicintainya akan memberikan cinta bertubi-tubi saat dokter memvonis dia mengidap kanker. Namun kenyataannya berbanding terbalik. Mahendra Janardana justru membawa pulang wanita lain dan berniat untuk menikahinya. Savita dihadapkan pada dua pilihan, menyerah atau melawan?
Voir plus"Sepuluh miliar, Aveline. Atau saksikan ayahmu membusuk di sel Eldrith besok pagi."
Aeron Devere berdiri membelakangi jendela besar kantor Devere Crown. Cahaya remang kota Eldrith membingkai siluet tubuh tegapnya yang dibalut kemeja hitam mahal. Ia menyesap wiskinya perlahan. Tangannya yang berurat memutar gelas kristal itu hingga es di dalamnya berdenting pelan. Sorot mata tajam Aveline mengarah ke pantulan wajah Aeron di kaca. Napasnya memburu, menahan sesak yang menghimpit jantungnya. "Kau keterlaluan, Aeron! Kau tahu hartaku sudah kau sita habis," desis Aveline. Aveline melangkah maju. Lengkuk tubuhnya tampak jelas dari pantulan kaca. Ia berdiri tepat di belakang Aeron dengan kepalan tangan yang mengeras. "Rumahku, mobilku, bahkan perhiasan peninggalan ibuku! Apa lagi yang kau inginkan, iblis?" Aeron membalikkan badan. Ia menatap Aveline datar sambil meletakkan gelasnya di atas meja marmer. "Aku tidak lagi tertarik dengan sisa hartamu." Ia melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Aveline terdesak ke tepian meja. Aeron merunduk sedikit, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Lalu apa? Kau ingin nyawaku?" Dulu, Valmont adalah penguasa bisnis di Eldrith. Kini, di bawah firma Devere Crown, Aveline hanya memiliki harga diri yang tersisa. Aeron mengulas senyum sinis. Jemarinya terangkat, mencengkeram rahang Aveline hingga gadis itu mendongak paksa. "Aku hanya ingin tubuhmu. Jadilah budakku selama tiga tahun." Aveline tersentak. Ia segera menepis tangan kasar pria itu dengan sisa tenaganya. "Aku bukan pelacur yang bisa kau beli dengan ancaman, Aeron!" Aeron meraih dokumen resmi dari meja dan melemparkannya tepat di wajah Aveline. "Ini bukan tawaran, tapi perintah hukum yang sah!" Aveline mengerjap, lalu membaca isi dokumen. Matanya membelalak, pada poin penyerahan diri secara total. "Ini manipulasi! Kau menggunakan hukum untuk menjeratku!" Aeron merapikan letak jam tangannya dengan tenang. Ia tidak terpengaruh sedikit pun oleh ledakan emosi Aveline. "Pilihannya tetap sama, Aveline. Kamu di ranjangku, atau ayahmu mati di penjara." Avelin mengepalkan tangan, ia ingin sekali meninju pria tinggi di depannya. Ia menatap kosong lantai marmer yang dingin. Desir darahnya meluap penuh kebencian. "Kenapa kau begitu membenciku?" tanya Aveline lirih. Aeron menarik pinggang Aveline hingga tubuh mereka merapat tanpa celah. Ia bisa merasakan detak jantung Aveline yang liar karena takut. "Aku butuh hiburan, dan bisa terwujud dengan tubuhmu." Pria itu melepaskan dekapannya dengan sentakan kasar. Ia meraih kembali gelas wiskinya dan menghabiskan isinya dalam satu tegukan besar. "Malam ini, datanglah ke penthouse Velaris Crown." Jari telunjuk Aeron mengarah ke kunci emas di atas meja. "Jangan buat aku harus menyeretmu dalam keadaan telanjang." Brak! Pintu dibanting keras. Aveline berdiri mematung sendirian di ruangan yang kini terasa sangat luas dan hampa. "Aarrggghhh! Orang gila!" teriak Aveline sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Tangannya meremas kuat kunci akses emas di atas meja hingga telapak tangannya perih "Nikmati kemenanganmu malam ini, Aeron Devere!" Aveline menyandarkan tubuhnya di balik pintu, membiarkan tubuhnya merosot perlahan. Sorot matanya memerah, air matanya menggenang. "Aku benci dia!" pekiknya sambil meneteskan air mata Sementara di dalam mobil, Aeron memantau melalui cctv, ia tersenyum puas melihat Aveline tersiksa. "Aku tidak sabar menunggunya di penthouse. "Tuan, Nyonya Velaris menyuruh Tuan segera kembali ke paviliun. Nona Muda demam tinggi." Rolan menatap Aeron dari kaca spion mobil. Senyum di wajah Aeron seketika lenyap, digantikan oleh gurat kecemasan yang ia sembunyikan rapat-rapat. Ia segera mematikan layar tablet yang menampilkan wajah Aveline. "Putar balik sekarang," perintah Aeron dengan nada yang lebih dingin dari biasanya. Aeron melirik cincin pernikahan yang ia sembunyikan di dalam saku jasnya, bukan di jari manisnya. Di mata publik Kota Eldrith, ia adalah pengacara lajang yang dingin dan tak tersentuh. "Kabari Vela," bisik Aeron pada asistennya. "Katakan pada wanita itu untuk tetap menunggu di sana sampai aku datang. Berapa pun lamanya." Mobil Aeron melenggang pergi dengan cepat, meninggalkan, Aveline yang kini melangkah masuk ke dalam lobi mewah yang sudah disiapkan Aeron, tanpa tahu bahwa pria yang ia benci sedang memeluk seorang anak di tempat lain. Saat ia membuka pintu penthouse dan menemukan pakaian transparan yang sudah disiapkan Aeron, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Aeron : Aku akan terlambat. Telanjanglah dan tunggu di atas ranjangTerima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca cerita ini. yuk ramaikan cerita aku yg lain. judulnya Istri Gadai Marquess Kejam. Terima kasih yaaa. semoga kalian sehat selalu.
“Ivan! Kamu beneran mau naruh ide kampanye semulus ini di meja Direktur? Ini tuh terlalu kalem, nggak ada gigit-gigitnya! Kamu denger nggak sih?”Suara Alea melengking di tengah hiruk pikuk ruang divisi kreatif Arrazka Media. Gadis itu melemparkan map draf ke meja kerja Kaivan dengan bunyiplakyang cukup keras.Beberapa staf lain hanya melirik sekilas, sudah terbiasa melihat "anak magang" bernama Ivan itu menjadi sasaran empuk omelan Alea yang terkenal tanpa filter.Kaivan mengangkat kepalanya, membetulkan letak kacamatanya sambil tersenyum tenang.“Justru itu intinya, Al. Kita nggak perlu teriak-teriak buat narik perhatian audiens. Kadang, pesan yang disampaikan dengan lembut jauh lebih masuk ke hati daripada yang maksa.”Alea mendengus, ia menarik kursi di samping Kaivan dan duduk dengan gaya serampangan. “Lembut itu buat lagu n
“Selamat datang di rumah, Jagoan. Inggris beneran bikin kamu tambah tinggi ya?”Suara lembut Savita menyambut Kaivan tepat saat pemuda itu melangkah masuk ke ruang tengah rumah besar keluarga Arrazka. Savita berdiri dengan anggun, mengenakan tunik sutra berwarna pastel.Wajahnya memancarkan kedamaian yang luar biasa, meskipun garis-garis usia mulai terlihat halus di sudut matanya.Lima belas tahun telah berlalu sejak badai besar itu, dan Savita telah menjelma menjadi salah satu pemimpin media paling berpengaruh di negeri ini setelah berhasil mengambil alih dan melakukanrebrandingtotal Janardana Media Grup menjadi Arrazka Media.Kaivan tersenyum lebar. Diletakkan koper kabinnya dan langsung memeluk ibunya erat-erat. Tubuh Kaivan kini menjulang tinggi, melampaui tinggi Savita.“Kangen banget sama masakan Mama. Di sana cuma makan roti sama past
“Vita, kamu liat mawar putih yang baru mekar di pojok sana? Baunya enak banget, persis kayak parfum yang sering kamu pakai dulu.”Suara Dimas terdengar lembut saat berjalan perlahan di samping Savita menyusuri taman belakang rumah keluarga Arrazka.Sore itu, matahari tidak terlalu terik, sinarnya yang keemasan menyapu ribuan kelopak bunga yang sengaja ditanam oleh Ami dan Maia untuk merayakan kembalinya kehidupan di rumah ini.Taman yang dulu sempat terbengkalai kini berubah menjadi lautan warna-warni yang menyegarkan mata.Savita menghentikan langkahnya dan menghirup udara dalam-dalam.“Iya, Dim. Tante Ami pinter banget milih bibitnya. Aku nggak nyangka rumah ini bisa sehidup ini lagi. Dulu... tiap kali aku liat jendela, yang ada cuma bayangan tembok tinggi.”“Sekarang nggak ada lagi tembok yang ngurung kamu, Vita,” sahut Dimas.Pria itu berdiri tepat di hadapan Savita, menatapnya dengan binar mata yang tidak pernah berubah sejak pertama mereka bertemu. Penuh dengan ketulusan yang mu
“Halo, Maia? Ini Mama. Kamu harus pulang, Nak. Sekarang. Mbak Vita butuh kamu.”Suara Ami bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Dia berdiri di koridor rumah sakit yang sepi, setelah baru saja keluar dari ruang rapat darurat dengan tim onkologi.
“Kaivan … jangan bawa dia… jangan ….”Rintihan lirih itu terdengar. Ami yang sedang duduk di samping tempat tidur Savita, langsung menegakkan punggungnya. Dia mendekatkan telinganya ke bibir Savita yang pucat.“Sayan
“Minggir! Saya suaminya! Saya punya hak melihat istri saya!”Suara arogan Mahendra terdengar menggema di lobi utama RS Kasih Medika malam harinya. Dia berdiri di depan meja resepsionis, diapit oleh dua petugas polisi berseragam.Wajahnya dipas
“HP ini… basah dan kotor. Apa datanya masih bisa selamat?”Ami menatap ponsel yang tergeletak di atas meja di ruang rapat darurat rumah sakit. Benda kecil itu satu-satunya peninggalan dari pelarian nekat Savita dan ditemukan oleh seorang perawat di dalam sa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentairesPlus